Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
31_Gaji Pertama


__ADS_3

...Selamat Membaca...


...************...


“Bayu gak papa kok, Pak. Lagi pula dengan menggendong dan menatap wajah mungil Zahra, rasa lelah yang Bayu rasakan sedikit berkurang,” ucap Bayu membalas perkataan dari Herman, karena sedari tadi ia sudah melihat jika Aisyah tampak tidak nyaman karena mendengar perkataan menohok dari ayahnya itu.


 


“Ya, terserah kamu lah, Yu. Yang penting bapak sudah mengingatkan kamu supaya kamu tidak terlalu memaksakan diri dalam membantu tugas istrimu di rumah. Supaya nantinya kamu tidak terlalu capek. Pekerja pabrik seperti kamu itu, harus lebih banyak beristirahat. Lagi pula kamu jangan terlalu sering memanjakan istri dan anak kamu itu. Nanti malah jadi kebiasaan, dan akhirnya akan menjadi malas,” ucap Herman dengan ketus dan menohok sambil sesekali melirik pada Aisyah. Pernyataan itu memang ia tunjukan untuk menantunya, dan hal itu membuat Aisyah semakin menunduk sedih.


 


Mendengar perkataan ketus dari suaminya, membuat Ambar pun segera menengahi. “Bapak, apa-apaan, sih? Kok, ngomongnya begitu. Ya, wajar lah, Pak, kalau Bayu ingin selalu menggendong Zahra. Wong Zahra itu anaknya. Apalagi Zahra juga lucu dan menggemaskan. Ibu saja kalau tidak terserang flu, maunya selalu berada di dekat Zahra.”


 


“Halah, terserah kalian saja, lah. Yang penting bapak sudah mengingatkan.” Setelah mengucapkan itu Herman pun pergi  meninggalkan Ambar, Bayu, Aisyah dan Zahra, malaikat kecil yang selalu menjadi penyemangat untuk semua orang yang menyayanginya.


 


“Ais, maafin bapak ya, Nak. Bapak kalau ngomong memang suka gitu. Suka enggak dipikir. Jadi jangan masukin ke hati, ya, apa yang bapak bilang barusan.” Ambar mulai menenangkan Aisyah. Ia tahu apa yang suaminya katakan barusan pastilah sangat menyakitkan untuk Aisyah.


 


“Iya, Dek, kamu jangan tersinggung karena ucapan bapak barusan, ya. Mas tahu maksud bapak itu baik. Bapak cuman gak mau kalau mas terlalu capek.” Bayu pun mengusap punggung tangan Aisyah yang berada di sisinya. Ia berusaha membuat hati Aisyah menjadi tenang karena ia pernah mendengar cerita dari teman kerjanya saat di bengkel, kalau istri temannya itu pernah mengalami baby blues pasca melahirkan karena suasana hati yang tidak menentu.


 


Aisyah yang mendapat  support sistem dari Ambar dan Bayu pun hanya mengangguk dan tersenyum getir. Ia masih bingung harus memberikan respon seperti apa untuk Bayu dan Ambar. Yang Aisyah rasakan saat ini hanya sakit yang mendalam atas perkataan Herman barusan.


 


 


...***************...


 


Hari berganti begitu cepat, tanpa terasa satu bulan telah berlalu. Hari ini sudah memasuki tanggal dua puluh lima, yang menandakan bahwa saat ini adalah waktu gajian di pabrik spareparts tempat Bayu bekerja.


 


Hari ini Bayu kebagian shift pertama, jadi Bayu masuk kerja pada pukul tujuh pagi dan pulang pukul empat sore. Saat ini Bayu tengah asyik menyantap makan siangnya bersama dua temannya yang baru ia kenal selama satu bulan ini.


 


“Kamu kenapa, Rif? Dari tadi ngelihatin HP terus. Pacar kamu gak bisa dihubungi?” tanya Bayu dibarengi dengan kekehannya, pasalnya ia tahu kalau Arif adalah pacar bucin yang selalu menanyakan kabar pasangannya.


 

__ADS_1


“Bay, lo lupa ya kalau hari ini tanggal dua puluh lima, yang artinya hari ini kita gajian,” ujar Arif staf bagian produksi yang bekerja bersama Bayu.


 


“Makanya dari tadi gue nungguin notifikasi m-banking. Gue pengen ngajak pacar gue jalan. Kan, biar ngerasain gaji pertama gue,” lanjut Arif lagi.


 


“Bang, gaji pertama itu seharusnya untuk diri sendiri atau untuk keluarga. Ini malah untuk pacar. Kayak gue dong, Bang. Gaji pertama gue mau gue jadiin DP motor, biar besok-besok ada cewek yang kecantol sama gue,” timpal Eko salah satu teman Bayu yang makan bersama mereka.


 


“Lah, lu kan belum punya pacar Eko, makanya lu ngebet beli motor, biar bisa dapat gandengan, kan, lu? Beda sama gue. Gue kan udah punya motor. Gue di sini juga perantauan, yang gue punya cuman pacar doang. Wajar, dong, kalau gue milih nyenengin pacar gue,” sahut Arif yang tidak ingin kalah.


 


“Kalau elu, Bay, gaji pertama lo mau buat apaan?” tanya Arif beralih pada Bayu.


 


“Gaji pertama aku, mau buat kebutuhan anakku yang baru lahir dua bulan yang lalu, Rif,” jawab Bayu dengan senyumnya dan diangguki oleh kedua temannya. 


 


“Nah, ini baru yang disebut gaji pertama untuk keluarga,” terang Eko yang diberi acungan jempol oleh Arif.


 


 


Saat mengambil uang di ATM di daerah pabrik, Bayu berjanji dalam hatinya, jika ia pulang nanti ia akan membawakan keluarganya sekotak martabak manis sepesial dan martabak telur spesial. Ia juga berniat membelikan putrinya mainan kerincingan yang bisa berputar untuk meningkatkan keterampilan motorik pada Zahra.


 


Sesampainya di rumah, Bayu memarkirkan motornya. Bayu segera mencuci kakinya dan menaruh sepatu kerjanya di rak sepatu di teras rumah. Setelah sampai di depan pintu Bayu pun lekas memberikan salam.


 


“Assalamualaikum,” ucap Bayu memberikan salam kemudian mulai memasuki rumah.


 


“Waalaaikumusalam,” jawab semua penghuni rumah secara bersamaan.


 


“Wah, Mas Bayu bawa apa?” tanya Erina dengan antusiantusias dan langsung merampas barang bawaan Bayu tersebut, lantas membukanya.


 

__ADS_1


"Bayu bawa martabak manis dan martabak telur. Martabaknya yang spesial lagi, Bu.” terang Erina dengan senyuman lebarnya. Bayu hanya diam sambil geleng-geleng kepala.


 


“Kenapa kamu beli makanan banyak sekali, Nak?” tanya Ambar pada Bayu.


 


“Alhamdulillah, hari ini Bayu gajian, Bu. Bayu ingin ibu, Bapak, dan Erina bisa merasakan gaji pertama Bayu,” jawab Bayu.


 


Mendengar bahwa Bayu sudah gajian, membuat Erina yang sedang membuka keresek makanan yang dibawa oleh Bayu pun mendekat.


 


“Mas Bayu sudah gajian?” tanya Erina dengan binar di matanya.


 


“Iya, Rin, mas sudah gajian. Makanya mas bisa membeli makanan sebanyak ini,” tunjuk Bayu pada makanan yang berada di hadapannya.


 


“Wah, kalau gitu Erina boleh minta jatah, dong, buat beli baju baru? Kan, gaji Mas Bayu yang sekarang jauh lebih gede,” pinta Erina sambil menengadahkan kedua tangannya di hadapan Bayu.


 


“Lain kali, ya, Rin. Sekarang kebutuhan mas jauh lebih banyak dari yang sebelumnya,” jawab Bayu.


 


“Kok gitu, sih, Mas? Zahra saja mas belikan mainan. Masa Erin minta buat beli baju gak dibelikan.” Tunjuk Erina pada mainan yang tadi dibelikan oleh Bayu untuk Zahra. Erina merasa cemburu karena Bayu lebih memprioritaskan Zahra ketimbang dirinya.


 


“Bukannya mas gak mau membelikan kamu baju, Rin, tapi uang gaji Mas yang sekarang hanya cukup buat membayar hutang biaya lahirannya Mbak Aisyah. Kemarin saat mbak Aisyah melahirkan mas gak punya simpanan sama sekali, maka dari itu mas meminjam uang milik Diana, adik dari Mbak Aisyah,” terang Bayu panjang lebar, yang semakin membuat Erina memberengut kesal.


...************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2