Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
86_Datang Melamar


__ADS_3

...Selamat membaca...


...************...


"Astaga ... jadi kamu diterima kerja di perusahaan itu juga?" Tian mendengus tertawa. "Selamat, ya. Semoga betah menjadi partner kerja saya," lanjutnya sambil membalas tangan Diana yang mengajaknya bersalaman. Tawanya sudah reda, berganti dengan senyuman tipis yang memperlihatkan lesung pipinya.


 


Tentu saja hal itu terlihat istimewa di mata Diana. Perempuan itu pun sibuk dengan tatapan memujanya. Ia begitu terpukau dengan wajah tampan yang membuat hatinya tidak karuan. Diana jatuh pada pesona sang Duren—Tian, tetapi tidak berani mengungkapkan.


 


"Di, kenapa kamu bengong?" Guncangan di tangannya membuat Diana terjaga.


 


"Eh, kenapa, Pak?" tanyanya kikuk. Tangannya langsung ditarik dengan gugup.


 


"Kamu bengong aja lihat wajah saya. Apa ada yang salah?" Tian meraba wajahnya. Takut ada sesuatu yang aneh di sana. Atau mungkin penampilannya kurang sempurna? Begitu isi pikiran Tian.


 


"Eng—enggak, kok, masih tampan. Malah sangat tampan ... ups!" Diana yang keceplosan langsung menutup bibirnya dengan telapak tangan. Rasa malu menyerang wajahnya, sehingga jadi bersemu merah.


 


Senyum tertahan pun tersemat di bibir Tian. Entah kenapa sikap Diana hari ini begitu menggemaskan.


 


"Jadi kamu yang menggantikan posisi Aisyah? Kemarin pak Arseno sempat bilang sama saya. Katanya nanti ada yang menggantikan posisi Aisyah setelah dia dipindah bagian."


 


Aisyah memang dipindahkan ke bagian admin exim. Sudah beberapa hari ini dia belajar di bagian itu, dan mulai besok Aisyah resmi pindah.


 


"Mbak Aish memang pernah cerita kalau kerjaannya akan dipindah, tapi saya nggak nyangka kalau saya yang jadi penggantinya. Saya beruntung banget, ya, bisa kerja satu ruangan sama Bapak," papar Diana antusias. Sikap perempuan itu memang terlalu polos. Ia kerap menunjukkan sikap yang energik. Terkadang apa yang ada di pikirannya selalu terlontar tanpa dicerna lebih dulu.


 


"Haduh, Di ... kamu keceplosan lagi," lirih Diana pelan sekali, seraya menepuk dahi.


 


"Kamu kenapa lagi?" Tian yang semakin gemas dengan sikap Diana hanya bisa mengulas senyuman. Sengaja memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Diana yang menoleh ke arah samping.


 


Saat Diana menoleh lagi ke arah Tian, ia tidak tahu jika kepala Tian berada di jarak yang sangat dekat dengannya. Wajah mereka kini saling berhadapan. Kedua matanya mendadak lupa berkedip saat beradu dengan netra legam milik Septian.


 


"Astaga, jantungku!" Perempuan itu berjengit, lalu mundur sambil memegang dada. Dia merasa jantungnya dalam keadaan bahaya. Bisa mati mendadak jika terus menerus dipacu dengan kencang. Pemicunya tentu saja adalah dekat dengan Septian.


 


"Maaf, Pak. Sepertinya saya harus pergi. Saya duluan, ya."


 

__ADS_1


Tanpa mendengarkan jawaban Septian, Diana langsung lari tunggang langgang. Ia tidak memedulikan panggilan Septian yang berulang-ulang.


 


Merasa panggilannya tidak dihiraukan, Septian menghela napas kasar. Kedua sudut bibirnya melengkungkan sebuah senyuman. Tatapannya berbinar, memperhatikan punggung Diana sampai menghilang di pintu masuk kamar kost-kostan. Ada rasa hangat yang menyergap hatinya, kala ia menatap perempuan tersebut.


 


...***********...


 


Di hari Sabtu yang cerah, Diana yang seharusnya libur masih harus pergi bekerja. Dia ditugaskan oleh pak Arseno untuk mengecek data hasil produksi yang akan dikirim dua hari lagi. Pak Arseno meminta agar semuanya bisa terkirim sesuai jadwal pengiriman yang diminta customer. Sehingga harus ada admin produksi yang masuk hari ini.


 


Sebenarnya pak Arseno juga meminta Septian untuk menemani Diana, tetapi lelaki itu mengatakan tidak bisa. Septian beralasan hendak pergi berkunjung ke rumah kerabatnya, sehingga Diana terpaksa lembur seorang saja.


 


Sekitar pukul sembilan pagi Septian pergi membawa kuda besinya melintasi jalanan yang ramai lancar. Hari yang cerah membuat senyumnya selalu merekah. Septian hendak menuju ke rumah seorang perempuan. Walaupun ia tahu jika perempuan itu tidak ada di rumahnya, Septian tetap ke sana.


 


"Assalamualaikum," ucap Septian di depan rumah pujaan hatinya.


 


"Waalaikumsalam." Pintu terbuka dan menampakkan seorang perempuan yang sedang menggendong anaknya.


 


"Aish? Kamu di sini?" Septian sedikit terkejut karena Aisyah ada dirumah yang ia kunjungi itu. Setahunya, setelah Aisyah berbaikan dengan Bayu, perempuan yang pernah menempati takhta hatinya itu tinggal bersama suaminya di rumah kontrakan.


 


 


Septian menggaruk pelipisnya untuk mengurai sedikit rasa gugupnya. "Ehm ... maaf. Soalnya yang saya tahu kamu udah nggak tinggal di sini semenjak berbaikan dengan suamimu," timpal Septian.


 


"Saya sekeluarga lagi main aja di sini, Pak. Nanti sore juga pulang. Pak Tian ke sini mau perlu sama siapa? Sepertinya bukan sama saya," lanjut Aisyah.


 


"Oh ... saya ke sini mau ada perlu sama bapak."


 


"Sama bapak?" Aisyah mengulang perkataan Septian, takut telinganya salah dengar. Septian membalas dengan anggukan.


 


"Saya ke sini mau bicara penting sama Pak Agung, tapi kalau juga ada kamu malah lebih bagus lagi. Biar sekalian saya ngomongnya," seloroh Septian membuat Aisyah sedikit penasaran, tetapi ia tidak berani bertanya lebih banyak. Nanti saja kalau sudah ada bapaknya.


 


"Kalau gitu, silakan duduk, Pak. Tunggu sebentar di sini! Saya mau panggilkan bapak." Aisyah menyuruh Septian untuk menunggu di kursi tamu yang berada di teras depan rumahnya.


 


Kerutan halus di dahi Aisyah menandakan dirinya sangat penasaran dengan kedatangan Septian. Ada apa gerangan lelaki itu ingin bertemu dengan bapaknya? Tumben sekali menurutnya.

__ADS_1


 


Beberapa saat menunggu, Agung datang berbarengan dengan Bayu. Kedua lelaki berbeda generasi itu tengah berbincang di dekat kolam ikan di belakang rumah, ketika Aisyah mencari ayahnya.


 


"Loh, Nak Tian nggak kerja? Kata Diana kalian satu kerjaan. Diana kerja, loh, sekarang," tanya Agung sambil bersalaman dengan lelaki jangkung itu.


 


"Saya nggak ikutan lembur, Pak. Ada perlu," jawab Septian.


 


Agung ber'oh' tanpa suara sambil menganggukkan kepalanya. Ia pun mendudukkan tubuhnya di kursi kosong di sebelah Septian, sedangkan Bayu duduk di kursi yang lainnya. Tak lama Aisyah datang membawakan minuman dan cemilan sebagai pelengkap teman ngobrol mereka, setelah itu Aisyah duduk di kursi kosong sebelah suaminya. Mereka duduk berempat mengelilingi satu meja bundar seperti hendak melakukan rapat.


 


"Nak Tian ada perlu apa sama bapak?" Agung bertanya setelah keheningan tercipta beberapa saat.


 


Septian sedikit gugup dikelilingi oleh keluarga Diana. Ia seperti sedang dihakimi oleh mereka.


 


"Saya ke sini hendak meminta putri bapak untuk menjadi istri saya, Pak," ucap Septian dengan tegas.


 


"Maksud kamu apa?" Bayu yang berpikir jika Septian masih mengincar istrinya langsung meradang. Tubuhnya bangkit dan hendak memukul Septian.


 


"Mas, kamu apa-apaan, sih? Kenapa marah?" Aisyah langsung menahan tubuh suaminya.


 


Bayu menoleh dan menatap tajam Aisyah. "Dia mau melamar kamu, tentu saja aku marah," sungut Bayu. Semenjak berpisah dengan Aisyah waktu itu, otaknya selalu buntu jika ada Septian hadir di antara mereka. Bayu selalu takut jika Aisyah akan berpaling pada lelaki itu.


 


"Tapi saya ke sini untuk melamar Diana, bukan Aisyah."


 


Pernyataan menohok itu seperti air yang disiramkan ke wajah Bayu. Membuat otaknya jadi dingin dan tentu saja malu.


 


"Oh, Diana." Dengan wajah yang memerah menahan malu, Bayu pun duduk kembali, sedangkan Aisyah dan Agung hanya terkikik geli.


 


Ya, tanpa Diana ketahui, Septian meminta restu kepada Aisyah dan Agung untuk memperistri Diana. Ia sudah yakin dengan pilihannya. Menurutnya, Diana adalah perempuan yang cocok untuk menjadi istrinya.


...************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 

__ADS_1


__ADS_2