Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
76_Datang Menemui Aisyah


__ADS_3

...Selamat membaca...


...************...


 


 


“Ish, mbak Aish, kok, malah melamun sih. Ayok, masuk!” ajak Diana mengagetkan lamunan Aisyah.


 


“Di, mau cerita banyak, nih, soal perkembangan Zahra selama seminggu ini. Eh, mbak Aish malah asyik melamun di sini.”  Diana terkekeh seraya mencubit gemas pipi gembul milik Zahra yang berada di dalam gendongan Aisyah.


 


“Ih, siapa juga yang melamun coba? Mbak?” Aisyah menunjuk dirinya sendiri diselingi dengan tawa dan diangguki oleh Diana.


 


“Hahaha. Ya, nggak mungkinlah mbak melamun. Ngapain juga mbak melamun pagi-pagi gini,” elak Aisyah. Sejujurnya hatinya sedang bertanya-tanya, siapakah seseorang yang dibicarakan Diana barusan.


 


“Iya-iya, Di percaya. Ya, udah. Yuk, kita masuk! Di juga kangen, nih, sama masakannya Mbak Aish. Tar Mbak Aish masak yang banyak, ya,” ucap Diana kemudian memasuki rumah dengan beberapa kantung plastik yang tadi dibawa oleh Aisyah diikuti langkah kaki Aisyah di belakang tubuh Diana.


 


Sementara di ujung gang tak jauh dari rumah milik Agung, seorang pria tengah duduk termenung di atas sepeda motornya. Ia sedang merutuki sikap bodohnya karena sudah menguntit seorang wanita. Wanita pujaan hatinya yang sulit ia gapai. Pria itu merasa bodoh karena hampir saja ketahuan. Iya, pria itu adalah Septian.


 


 Sedari subuh hari Tian sudah bersiap di depan kos-kosan  Aisyah. Pasalnya, sedari kemarin Tian sudah mencuri dengar obrolan antara Aisyah dan Witri yang tengah asik bercerita tentang kepulangan Aisyah di weekend ini untuk menemui putri kecilnya.


 


Entah dapat inisiatif dari mana, seusai salat Subuh, Tian sudah bersiap dan bergegas menunggu keberangkatan Aisyah di depan kamar kos milik wanita itu. Namun, ia tersadar ketika notifikasi ponselnya berbunyi. Ajeng mengingatkan janji mereka untuk bertemu. Hingga mau tidak mau, Tian berlalu dari tempat itu untuk menemui mantan istrinya.


 


...************...


 


“Sekarang apa yang harus aku lakukan?” tanya Tian pada dirinya sendiri.


“Apakah aku harus pulang ...?" Sejenak Tian terdiam memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan. "Iya, aku harus pulang. Apa kata Aisyah nanti jika mendapatiku ada di tempat ini,” gumam Tian lagi menjawab pertanyaannya sendiri.


Namun, baru saja lelaki itu menghidupkan mesin motornya, tiba-tiba otaknya kembali berpikir, “Tidak. Aku tidak akan pulang. Aku sudah pergi sejauh ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan baik ini," ucapnya lagi. Sedari tadi ia sudah merasakan dilema yang mendalam. Kali ini ia meyakini kalau keputusannya mengikuti Aisyah sudah benar.


Setelah terjadi perang batin antara hati dan pikiran Tian, pria itu akhirnya memutuskan untuk datang ke rumah orang tua Aisyah. Walau dengan detak jantung yang bergemuruh kencang, Tian tetap berusaha seolah-olah ia tenang.


 


“Assalamualaikum,” ucap Tian.


 


“Waalaaikumusalam,” jawab Agung yang sedari tadi duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi panas dan pisang goreng.


 


“Cari siapa, Nak?” tanya Agung ramah.


 


“Aishnya ada, Pak?” jawab Tian.


 


“Oh, temannya Aish, toh. Bapak kira temannya Diana. Aishnya ada di dalam. Ayok sini, masuk dulu!” ajak Agung yang melihat Tian masih berdiri di depan pagar.


 


“Iya, Pak. Saya Tian. Saya teman kerjanya Aisyah,” jawab Tian setelah memasuki pagar rumah Agung kemudian menyalami Agung dengan sopan.


 


“Silakan duduk dulu, Nak Tian!" Agung mempersilakan Tian duduk dengan ramah.


 


“Terima kasih, Pak,” jawab Tian kemudian mengambil tempat duduk di kursi sebelah Agung yang hanya bersekat meja bundar di tengahnya.


 

__ADS_1


Sesaat keheningan pun tercipta di antara keduanya. Baik Tian maupun Agung tidak ada yang berusaha memulai pembicaraan. Agung sibuk berpikir dan mempertanyakan tentang siapa Tian. Serta Tian yang terus berpikir apakah Agung adalah orang tua yang galak atau tidak.


 


Hingga beberapa saat keheningan pun terpecah karena pertanyaan dari Agung.


 


“Tadi katanya Nak Tian ini teman kerjanya, Aish, ya?” tanya Agung


 


“Benar, Pak,” jawab Tian singkat.


 


“Teman satu kantor?” tanya agung lagi.


 


“Iya, Pak.” Kali ini Tian menjawab pertanyaan Agung dengan perasaan gugup. Pasalnya, Tian merasa seperti sedang diinterogasi.


 


“Ada perlu apa, Nak Tian dengan Aish. Apa tidak bisa dibicarakan di kantor?” tanya Agung lagi dengan tatapan penuh curiga.


 


“Saya hanya–.” Belum sempat Tian menjawab, tiba-tiba Diana muncul dari dalam rumah karena mendengar suara ayahnya sedang mengobrol.


 


“Bapak lagi ngobrol sama siapa?” tanya Diana di ambang pintu. Sejenak Diana memperhatikan pria tampan yang sedang berbicara dengan ayahnya.


 


“Ini nak Tian, katanya sih temannya mbakmu,” jawab Agung singkat.


 


“Bukannya ini mas-mas yang memperhatikan mbak Aish waktu mbak Aish baru sampai tadi, ya," batin Diana.


 


“Loh, Di, kok kamu malah melamun, sih?” tegur Agung yang seketika membuyarkan lamunan Diana.


 


 


“Oh, temannya mbak Aish, ya. Kalau gitu sebentar ya, Mas. Nanti biar Di panggilkan mbak Aishnya,” ucap Diana dengan ramah.


 


“Makasih, ya,” jawab Tian yang hanya diangguki oleh Diana.


 


Setelah kepergian Diana yang masuk ke dalam rumah, pembicaraan antara Agung dan Tian yang awalnya canggung pun berjalan dengan baik, tidak ada lagi perasaan canggung dan kaku di antara keduanya.


 


Sementara Diana yang melihat jika ada laki-laki berwajah tampan yang mengunjungi kakaknya pun merasa sangat bahagia dan antusias.


 


“Mbak, Mbak Aish. Mbak Aish di mana, sih?” panggil Diana dengan sangat antusias.


 


“Apa sih, Dek? Kok, kamu teriak-teriak, sih? Zahra, kan, jadi takut,” jawab Aisyah dengan sedikit kesal.


 


“Mbak, Mbak tau gak di depan ada siapa?” tanya Diana.


 


“Gak tau. Kamu kan belum cerita,” kekeh Aisyah yang melihat wajah kesal adiknya.


 


“Iih, mbak Aish nggak asyik, deh,” kesal Diana.


 

__ADS_1


“Dih, ngambek. Jangan ngambek dong, nanti cantiknya hilang, loh ... memang di depan ada siapa, sih? Kok, kayaknya kamu eksaited banget,” tanya Aisyah lagi.


 


Setelah teringat akan ketampanan pria yang bersama ayahnya tadi, kesadaran Diana pun kembali dan kekesalannya pun seketika menghilang.


 


“Itu loh Mbak, ada cowok ganteng yang nyariin Mbak Aish,” jawab Diana.


 


“Cowok ganteng? Siapa?” tanya Asiyah sambil berpikir.


 


“Di nggak tau, Mbak. Katanya, sih, orang itu temannya Mbak Aish,” jawab Diana.


 


“Kamu ini, ngasih informasi kok gak jelas banget sih, Di.” Aisyah geleng-geleng melihat kelakuan adiknya.


 


“Coba, deh, Mbak Aish lihat sendiri, ntar kalau mbak Aish sudah lihat, pasti Mbak Aish bakal suka.” Diana yang melihat kakaknya yang hanya bersikap santai saja, akhirnya memilih untuk menarik tangan Aisyah keluar menuju kursi teras yang tadi diduduki oleh Agung dan Tian.


 


Betapa terkejutnya Aisyah ketika sampai di teras rumah, karena mendapati Tian sedang berbicara santai bersama orang tuanya. Septian—orang yang selama ini coba ia hindari, kini berada di hadapannya bersama dengan orang tuanya tengah tersenyum bahagia.


 


“Pak Tian. Sedang apa Bapak di sini?” tanya Aisyah dengan ekspresi terkejut.


 


“Selamat pagi, Aish. Maaf, ya, tadi saya mengikuti kamu. Saya merasa khawatir kalau kamu harus pergi jauh seorang diri,” jelas Tian.


 


“Daebak! Pak Tian sweet banget, sih,” ucap Diana dengan senyum manisnya yang langsung disikut oleh Aisyah.


 


“Sekarang saya sudah sampai dengan selamat, Pak. Bapak boleh pergi,” tegas Aisyah.


 


“Loh, kenapa nak Tiannya disuruh pergi, Aish. Kasihan nak Tian sudah jauh-jauh datang kemari.” Agung berusaha menengahi.


 


“Biarkan nak Tian makan siang dulu di sini. Dia pasti lelah karena perjalanan yang cukup jauh,” lanjut Agung lagi.


 


“Iya, Mas, jangan dengerin kata-katanya mbak Aish, ya. Mas ikut makan siang aja dulu di sini. Masakan buatannya mbak Aish enak, loh.” Setelah mengucapkan itu Diana seketika mendapatkan tatapan maut dari Aisyah yang langsung dibalas dengan senyum polos milik Diana.


 


Sikap baik dan santun yang ditunjukkan oleh Tian seketika membuat Agung dan Diana menyukainya. Namun, berbeda dengan Aisyah yang justru muak dan menunjukkan rasa ketidaksukaannya.


...************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2