
...Selamat membaca...
...***************...
Waktu bergulir sebagaimana mestinya mengikuti garis takdir hingga hari akhir nanti.
Musim pun tutut berganti. Jika beberapa bulan yang lalu adalah musim kemarau. Kali ini hujan setiap hari sudah menjadi teman baiknya. Masa di mana jemuran tiga hari baru kering. Apalagi jika tidak punya mesin cuci dengan pengeringnya.
Ah, jangankan punya mesin cuci. Bisa makan tiap hari saja rasanya sudah begitu berlimpah rasa syukurnya.
Sejak Aisah berbicara dari hati ke hati pada Bayu lima bulan yang lalu, nyatanya sikap Bayu pun tidak ada yang berubah. Selalu mendahulukan kepentingannya bersama sahabat-sahabatnya.
Tidak ubahnya hari ini. Setelah makan bersama, Bayu dan Aisyah duduk-duduk di teras.
"Mas, punya rumah sendiri, gitu. Pasti enak, ya," ucap Aisyah begitu ia melihat genting teras ada yang bocor. Jika hujan, pasti bisa membuat genangan.
"Kamu pikir bikin rumah itu nggak butuh biaya," jawab Bayu sembari menekan tombol play di ponselnya. Ia mulai menggerakkan kedua ibu jarinya, menggerakkan objek agar dapat bergerak taktis dan membuat gol.
"Iya. Maksud Ais, kita harus mulai nabung dikit-dikit mulai sekarang."
"Kamu atur-atur aja," jawab Bayu sekenanya tanpa menoleh ke arah sang istri.
"Ya makanya, Ais bilang ini ke Mas, biar Mas juga tahu, uang gajian Ais tuh mepet banget jika harus buat bayar kontrakan, listrik, air ... " Aisyah sengaja menjeda ucapannya. Menunggu reaksi Bayu. Ia berusaha berbicara agar tidak menyinggung soal uang harian yang diberikan Bayu. Yah, uang yang terbilang terbatas jika untuk makan berdua.
Lagi-lagi, Aisyah masih bisa bersyukur. Setidaknya ia masih berkerja. Ada harapan yang ia gantungkan di akhir bulan nanti.
"Ya udah, jalani dulu apa yang ada. Jangan berharap yang muluk-muluk. 'Ntar malah bikin pusing." Bayu melirik sebentar lalu segera kembali fokus pada layar ponselnya.
Aisyah melirik Bayu yang begitu fokus pada layar di kedua tangannya.
Rasanya ini bukan waktu yang pas untuk membahas hal ini.
Aisyah mengarahkan netranya pada lalu lalang jalan sempit di depan. Banyak pasangan yang melintas. Berboncengan dengan tertawa.
Ada juga yang hanya jalan berdua tapi dengan tangan saling bertautan. Manis sekali.
Aisyah kembali menoleh pada Bayu yang tengah memasang wajah serius. Sesekali mimik wajah itu berubah berbinar. Mungkin ia tengah mencetak gol. Begitu pikir Aisyah.
Kembali, Aisyah tersenyum masam. Dia hanya berharap, waktu berdua seperti ini dapat membicarakan hal-hal atau rencana kedepannya. Seperti membicarakan tentang hunian misalanya. Walau sekedar rencana, paling tidak harus ada, kan? Tidak mungkin, selamanya akan terus tinggal mengontrak.
__ADS_1
Jangankan hunian, harapannya untuk sekedar liburan ke mana atau sekedar rencana motoran sekitar kompleks saja, tidak pernah Bayu kabulkan dengan berbagai alasan.
Ini hanya berbicara soal rencana. Namun, melihat sikap dan tabiat Bayu, semua itu hanya akan menjadi angan.
"Kamu ngelamun, Dek?" tanya Bayu saat melihat ke samping. Di mana ada istrinya yang tengah menerawang.
"Hm?" jawab Aisyah polos. Ia berusaha menyangkal dugaan suaminya.
Ia mencoba bersikap biasa saja saat pertanyaannya diabaikan oleh sang suami.
Aisyah tersenyum kaku dan menautkan kesepuluh jari tangan. "Ah, nggak ngelamun, Mas. Hanya bosan saja."
"Kalau nggak ngelamun, kok kaget, gitu aku panggil," selidik Bayu sambil menekan tombol close di aplikasi game soccer.
Aisyah menghela napas. "Habis, Mas terus menerus sibuk dengan ponsel. Sampai aku di sini seolah nggak ada," ungkap Aisyah dengan lesu.
Dengan segera, Bayu merangkul bahu istrinya seraya tertawa. "Kamu itu kalau merajuk begini jadi lucu, tau. Kaya' kamu nggak suka main hape saja."
Aisyah pasrah saja saat Bayu menyentuh dagunya. Rupanya, Bayu berusaha merayu.
Aisyah melepaskan tangan Bayi dari bahunya. Ia ingin mengambil ponselnya yang sedang di charge dan bersikap sama seperti yang Bayu lakukan.
Coba! Gimana rasanya di depan mata, tapi sibuk sendiri dengan dunianya! Baru saja Aisyah akan beranjak. Ponsel Bayu berdering nyaring, tanda panggilan masuk.
Aisyah berhenti sejenak untuk mendengarkan suaminya berbicara dengan penelpon. Biarkan, dikatakan menguping. Baginya, tidak ada yang harus ditutup-tutupi antara suami-istri.
"Hallo, Gus." Sapa Bayu pada seorang di panggilan telepon.
"...."
Bayu melirik Aisyah yang masih berdiri menungguinya. "Iya. Bisa kok, bisa."
"...."
"Istriku ...." Bayu kembali melihat Aisyah yang kini sudah memalingkan wajahnya, "nggak masalah, Gus. Bentar lagi palingan dia juga sudah tidur."
"...."
__ADS_1
"Oke. Habis ini ganti baju langsung gas ke sana." Tepat saat Bayu selesai bicara, Aisyah sudah masuk ke dalam. Tidak tahu saja, sang istri sudah menahan kesal sejak tadi.
"...."
"Oke."
Bayu segera masuk untuk mengambil jaketnya. Ia masuk ke kamar dan melihat Aisyah sudah berbaring miring sambil fokus pada ponselnya.
"Dek! Mas mau keluar sebentar. Kamu tidur aja duluan, ya. Nggak usah nunggu aku pulang."
"Memang mau ke mana lagi, Mas."
"Seperti biasa ngumpul sama yang lain." Satu per satu Bayu mengancingkan kancing jaket Levisnya . Jaket kebesarannya, yang sudah terlihat usang karena di makan usia. Jelas saja, jaket itu dibeli sudah lima tahun yang lalu.
"Kalau aku larang, apa kamu tetap mau pergi, Mas?"
Bayu menaiki kasur sambil mencolek dagu Aisyah. "Dek, jangan mulai, deh. Bentaran doang. Paling nggak nyampe tengah malam udah bubar nanti."
Aisyah diam dan tidak menyahut lagi sedangkan Bayu yang mendengar ponselnya kembali berdering segera beranjak. "Dek, kuncinya aku bawa, ya. Kamu udah nggak ke mana-mana, kan?" Bayu sudah keluar tanpa menunggu jawaban Aisyah.
Tidak lama, suara motor Bayu terdengar di telinga Aisyah yang kini sudah terisak.
"Meskipun aku melarang, nyatanya kamu tetap pergi juga kan, Mas. Lalu untuk apa masih bertanya! Biar terlihat minta ijin Begitu!"
Lama Aisyah meratapi sikap Bayu, jadi semakin sakit saja rasa yang ada di dadanya. Ia membuka aplikasi novel di ponselnya. Setidaknya, dengan membaca dia jadi sedikit terhibur.
Perlahan, rasa marah yang sejak tadi menguasai diri, mulai memudar. Bab demi bab, Aisyah baca. Ada kalanya ia terkekeh saat merasa lucu yang begitu menghibur. Namun, beberapa bab berikutnya adalah part yang mengaduk perasaan.
Bukan hanya sekali, dua kali Aisyah sampai ikut terisak manakala apa yang ia baca penuh dengan duka lara. Ia diam sejenak. Menjauhkan ponselnya. Beginilah gambaran orang hidup di dunia ini. Setiap jiwa yang hidup pasti punya duka citanya masing-masing.
Sabar. Adalah kunci hidup di dunia yang fana ini. Asalkan Aisyah bisa mengendalikan egonya, rumah tangganya akan tetap terjaga keutuhannya. Jika ia tidak mengalah dan mencoba maklum, pasti setiap hari pertengahan akan menjadi teman baiknya.
Dalam setiap sujudnya, Aisyah terus bermunajat semoga Bayu bisa berubah seiring berjalannya waktu yang akan mendewasakan pikirannya.
...****************...
...to be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift 🙏
__ADS_1