
...Selamat membaca...
...************...
...Jangan pernah membuat seseorang menyesal karena pernah mengenalmu, tetapi buatlah ia menyesal karena dia telah kehilangan sosok sepertimu...
...🌹Aisyah Khumairah 🌹...
"Jangan seperti itu, Mbak. Kita ini bersaudara, jadi sudah seharusnya saling membantu. Iya, kan," ujar Diana sambil memeluk tubuh kakaknya yang lebih kecil dibandingkan dengannya.
Aisyah hanya tersenyum penuh kasih sayang, itulah yang selalu diajarkan oleh kedua orang tuanya sedari dulu. Seorang bapak yang bijak dan sosok ibu yang penuh kasih sayang. Gambaran keluarga yang harmonis.
"Aku selalu berdoa semoga Mbak Aish sehat dan kuat menhadapi cobaan ini," ucap Diana lagi.
"Makasih, ya, Di. Kamu juga, semoga sukses selalu dan bahagia," balas Aish memberikan semangat kepada adik perempuannya itu.
...***...
... ...
Malam semakin larut dan para penghuni bumi terlelap dalam tidur panjangnya.
Setelah jarum jam berputar mengikuti putaran waktu. Tibalah saatnya suara ayam jantan berkokok menandakan bahwa sang surya akan segera menunaikan tugas di pagi cerah ini.
Senin pagi menyambut hari baru Aisyah dengan cuaca cerah, langit pun kebiruan bersentuhan dengan mentari. Semua itu menciptakan rona bahagia kepada mahluk ciptaan Tuhan yang cantik dan selalu energik. Aisyah Khumairah telah siap dengan setelan kerjanya. Terlihat binar ceria di wajah mungil itu. Hari ini adalah hari di mana ia akan memulai aktifitasnya bekerja kembali di kantor yang sama seperti beberapa waktu lalu.
Dengan sigap ia melaksanakan semua kewajiban terlebih dahulu. Memandikan putri gembulnya, membuatkan Mp-Asi agar makannya tetap terjaga walau sang Ibu kembali bekerja, semua harus berjalan sesuai apa yang dia harapkan.
Setelah semuanya selesai ia serahkan Zahra kepada adiknya. Aisyah memberitahukan apa saja yang menjadi kebiasaan sang anak selama seharian nanti.Ia jelaskan secara detail kepada Diana.
"Zahra, sayang. Bunda berangkat kerja dulu, ya, Nak. Kamu yang pinter sama tante, ya," ucap Aisyah kepada putrinya.
"Siap Bunda, aku akan bersama ante dan aku janji tak akan merepotkan ante cantik ku," balas Diana seolah mewakili suara bayi mungil itu.
"Mbak titip Zahra, ya, Di. Semoga Zahra nggak rewel jadinya kamu nggak dibuat repot sama keponakanmu ini." Suara Aisyah sedikit bergetar, rasanya berat meninggalkan Zahra di rumah walau bersama sang adik.
"Siap Mbakku sayang. Bekerjalah dengan tenang, percayakan Zahra padaku," ucap Diana.
"Ya sudah, Mbak berangkat dulu, ya, khawatir macet dan terlambat. Masa, sih, hari pertama bekerja terlambat," jawab Aish sambil membawa tas serta bekalnya untuk nanti sarapan jika waktu masih memungkinkan.
__ADS_1
...*************...
... ...
Aisyah berjalan kaki ke depan gang Dahlia untuk menunggu angkot di halte.
"Ya, Allah, takdirmu jauh lebih indah dari semua rencana-rencana yang telah kubuat. Semua hal terindah akan datang jika masanya tiba." Aisyah memberikan tekad dalam hatinya.
Tak lama angkot pun datang dan membawa wanita cantik itu kearah yang dituju.
Setelah kurang lebih tiga puluh lima menit menaiki angkot, ia pun sampai di depan gerbang nan kokoh itu. Wanita itu melangkah dengan pasti. Impiannya hanya satu, ia ingin mengapai semua harapan di masa depan bersama Zahra.
Aisyah terkenal ramah, selama melewati beberapa ruangan di koridor perusahaan tersebut, ia pun tak segan menyapa beberapa karyawan dari bagian lain. Baik yang ia kenal ataupun tidak.
Aisyah berdiri di depan pintu berwarna coklat, ia pun hendak mengetuk pintu tesebut. Namun, bersamaan dengan terbukanya pintu itu dari arah dalam.
"Aisyah, ya Allah ... ini ... beneran kamu?" teriak Witri begitu terkejut dengan kehadiran Aish di hadapannya.
"Iya, Mbak, aku Aisyah," jawab Aish tak kalah terkejutnya.
"Apalagi aku, Mbak. Senang tak terkira, loh, Mbak Wit," ujar Aisyah gembira.
"Ayo, sini masuk! Kamu banyak hutang cerita sama aku, loh, Aish," ujar Witri.
"Iya nanti aku cerita deh, Mbak. Tapi nanti pas kita istirahat makan siang," jawab Aisyah.
Dari meja yang lainnya, laki-laki hitam manis itu hanya memandang Aisyah saja. Aisyah pun masih merasa canggung. Namun, ia berusaha bersikap biasa saja dengan laki-laki itu.
Sementara Tian hanya tersenyum masam melihat sikap Aisyah yang sedikit berubah dengannya.
"Apa kabar Aisyah?" sapa Tian sambil mengulurkan tangannya, "bagaimana kabar Zahra si gembul," lanjutnya saat tangannya sudah tersambut tangan Aisyah.
"Alhamdulillah baik, Pak. Bagaimana kabar Pak Tian?" balas Aisyah seraya bertanya kabar Septian.
"Syukurlah, kalau semuanya baik," ujar Tian.
__ADS_1
"Selamat datang di ruangan ini kembali, semoga kita bisa bekerja sama dengan kompak." Tian memberikan semangat kepada Aisyah.
"Siap, Pak Tian. Kita satu tim lagi sekarang," ujar Aisyah berusaha mengurangi kecanggungan. Sementara itu Witri hanya memandang Septian dan Aisyah bergantian.
Mereka pun memulai pagi itu dengan semangat yang luar biasa. Hari pertama bekerja memberikan begitu banyak hal positif yang membuat Aisyah begitu bahagia.
Jam makan siang pun tiba, Aisyah dan Witri berencana makan siang di luar lingkungan kantor. Mereka hendak makan di rumah makan lesehan khas daerah tersebut.
Aisyah hanya memesan air teh hangat dan sayur saja, sebab bekal yang niat nya ia makan di waktu sarapan tadi masih ada di dalam tasnya.
"Aish, apa kamu sudah tahu tentang kabar perceraian Septian dengan istrinya? "tanya Witri memulai pembicaraan.
Tidak bisa dipungkiri pertanyaan Witri membuat Aisyah terkejut. "Mana aku tahu, Mbak. Selama ini aku hanya fokus sama Zahra saja dan tidak memikirkan hal lain," jawab Aisyah.
"Tapi biarlah, Mbak. Itu permasalahan rumah tangga mereka, kita hanya tahu luarnya saja, dalamnya kan hanya mereka yang tahu," ujar Aisyah.
"Iya, sih, Aish. Namun, yang aku dengar istrinya itu selalu saja meremehkan dan merendahkan Septian dalam hal apa pun," seru Witri dengan sedikit sok tahunya menceritakan hal yang belum tentu kebenaranya.
"Jangan asal ucap, Mbak. Nanti jatuhnya fitnah. Kalau salah kita malahan ngeghibah, loh," ucap Aisyah sambil tersenyum kecil.
"Iya ya, kenapa aku segitu keponya sama kehidupan rumah tangga orang lain. Belum tentu juga rumah tangga ku baik-baik saja." Witri sadar dengan ucapannya.
Setelah makan siang bersama, mereka pun kembali ke pabrik untuk melanjutkan semua pekerjaan yang tertunda.
Hingga waktu pulang pun tiba. Sambil berjalan menyusuri sekitar kompleks pabrik, Aisyah berencana untuk mencari indekos. Matanya mulai mengabsen daerah sekitar pabrik.
Untuk Zahra, Aisyah berencana menitipkan pada Diana. Sementara ia akan menempati kost, bila ia mendapatkan shif siang saja. Tidak mungkin dia akan meninggalkan Zahra sepenuhnya pada Diana.
Naluri alami sebagai seorang ibu, yaitu tidak ingin kehilangan banyak waktu menemani tumbuh kembang Zahra.
...*************...
...To be continued...
Jangan like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1