Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
32_Menolak Keinginan Erina


__ADS_3

...Selamat membaca...


...**************...


 


"Ada apalagi ini? Bapak heran, deh, semenjak Aisyah dan anaknya tinggal di sini, pasti selalu ada aja keributan di rumah ini." Herman yang juga baru pulang ikut menimpali obrolan keluarganya. Pandangan lelaki paruh baya itu tertuju pada Aisyah.


 


Aisyah yang sadar langsung menundukkan kepala. Baginya, tatapan itu seperti hendak melahap dirinya.


 


"Ini, loh, Pak. Mas Bayu baru dapat gaji pertamanya, terus Erin cuma minta jatah buat dibeliin baju baru saja, masa nggak dikasih. Tega banget Mas Bayu sekarang sama Erin, Pak. Semenjak menikah, Mas Bayu udah nggak peduli sama keluarganya sendiri. Yang dia pentingkan cuma istri dan anaknya sendiri." Erina langsung mengadu kepada Herman, tentu saja menurut versi gadis itu.


 


Tak ayal Herman langsung emosi. Keriput di lehernya bahkan terlihat semakin jelas, mengusung kemarahan yang membakar hatinya.


 


"Benar begitu, Bayu?" Herman langsung mencecar anak sulungnya itu.


 


"Nggak gitu, Pak. Bayu bukannya nggak mau membelikan Erina baju baru, tapi gaji Bayu yang sekarang mau dipakai buat bayar hutang biaya persalinan Aisyah waktu itu."


 


"Halah, alasan saja. Baju baru adik kamu juga harganya tidak seberapa. Sisihkanlah sedikit buat dia. Kamu jangan terlalu diperbudak sama istri kamu. Dulu, waktu pertama kamu lahir bapak juga masih bisa memberikan keperluan untuk orang tua dan adik-adik bapak. Kenapa sekarang kamu nggak bisa?" sergah Herman.


 


Bayu terdiam. Tentu saja waktu itu Herman masih bisa memberikan yang lebih untuk keluarganya, karena waktu itu Herman sudah bekerja cukup lama di perusahaan tempatnya bekerja dulu. Bahkan jabatan lelaki itu juga sebagai kepala bagian, dengan gaji yang lumayan. Namun, semenjak perusahaannya gulung tikar, sampai sekarang Herman hanya bekerja serabutan. Penghasilannya pun cuma pas-pasan.


 


"Pak, jangan marah-marah sama Bayu! Dia nggak salah." Ambar yang merasa kasihan pada Bayu ikut berkomentar.


 


"Iya, bapak tahu yang salah bukan Bayu, melainkan menantu kita itu." Herman menunjuk Aisyah dengan dagu, "kalau saja dia tidak terlalu manja dan terus menuntut anak kita untuk memenuhi semua keperluannya, anak kita tidak akan pernah seperti itu, Bu," sungutnya lagi.


 


Sakit! Tentu saja. Perkataan kejam sang mertua membuat desakan hangat di pelupuk mata Aisyah tumpah tanpa bisa dicegah. Aisyah tidak bisa menahan tangis. Tuduhan mertuanya sungguh membuat hatinya seperti teriris.


 


"Udah, dong, Pak. Ini juga bukan salahnya Aisyah. Erina saja yang keterlaluan, dia meminta baju baru saat kondisi keuangan Bayu masih pas-pasan."

__ADS_1


 


"Kok, Ibu jadi nyalahin anak kita?" pekik Herman tidak terima anak bungsunya disalahkan.


 


Ambar menghela napas kasar, lalu beralih pada Bayu yang masih terdiam. "Bay, ajak istri dan anak kamu ke kamar. Kamu pasti capek baru pulang kerja," titahnya.


 


Bayu menurut, lalu menggiring tubuh Aisyah yang menggendong Zahra untuk masuk ke kamar mereka.


 


"Ibu itu gimana, sih? Selalu saja belain menantu kita itu. Lama-lama dia pasti ngelunjak, Bu. Dia itu cuma numpang di sini, harusnya dia tahu diri!"


 


Ocehan itu tentu masih bisa terdengar di telinga Aisyah yang baru menjauh beberapa langkah. Linangan air matanya semakin meluncur deras tanpa bisa dicegah. Sakit di hatinya bertambah parah, apalagi mendapati sang suami yang tak sedikit pun membantah perkataan Herman tentang dirinya. Hal itu membuat Aisyah merasa tersudutkan. Suaminya tidak mau membela dan cenderung diam. Mungkin saja, kan, dalam hatinya lelaki itu membenarkan. Begitulah pikiran Aisyah sekarang.


 


...***************...


 


Esok harinya, cuaca cerah melingkupi alam raya di pagi hari. Sinar hangat seolah memberikan semangat. Aisyah sudah bangun sebelum sinar itu merangkak naik di ufuk timur. Kejadian kemarin membuatnya sulit untuk tertidur.


 


 


Setelah sibuk berkutat di dapur, Aisyah ingin mengajak putrinya untuk berjalan-jalan santai, sekadar untuk menikmati hangatnya sinar mentari di pagi hari. Ia sudah menyiapkan sarapan untuk semua orang, tak lupa juga meminta izin kepada suaminya yang tengah bersiap untuk bekerja. 'Hanya sebentar saja', itulah kalimat yang Aisyah katakan agar Bayu mengizinkannya keluar jalan-jalan.


 


Senyuman cerah terbit di bibir Aisyah saat keluar dari rumah. Menyambut hangatnya sinar mentari yang menyapanya di pagi ini. Namun, senyuman itu seketika sirna saat ia mendengar suara seseorang menegurnya dari arah belakang. Aisyah sangat kenal dengan suara tersebut.


 


"Mau ke mana kamu?"


 


Kepala Aisyah menoleh mendengar pertanyaan ketus yang terlontar dari mulut bapak mertuanya itu.


 


"Mau ajak Zahra jalan-jalan pagi, Pak," jawab Aisyah sopan.


 

__ADS_1


Herman berdecak. "Pagi-pagi udah kelayapan. Bukannya nyiapin keperluan buat suaminya kerja. Bukannya suami kamu masuk pagi hari ini? Lagipula Zahra masih terlalu kecil buat diajak ke luar rumah, di luar banyak debu. Kalau cucuku sakit bagaimana?" cecar Herman tidak suka.


 


"Aish udah nyiapin semua keperluan Mas Bayu, Pak. Lagian cuma sebentar aja Aish mengajak Zahra jalan-jalan. Nggak akan kenapa-kenapa. Udara pagi malah bagus untuk kesehatan. Aish juga udah izin sama Mas Bayu, sebelum dia berangkat, Aish akan pulang."


 


Herman menggelengkan kepalanya. Ia tidak suka menantunya membantah, membuat Aisyah kurang nyaman dan langsung menundukkan kepala. Ia pun urung pergi jalan-jalan, dan memutuskan untuk kembali ke dalam.


 


Namun, sebelum tubuh Aisyah melewati pintu rumah. Kedatangan Erina yang baru pulang dari berolahraga pagi membuat langkahnya tertahan. Aisyah membalikkan badan saat adik iparnya tersebut menyapa mereka berdua.


 


"Pagi, Semua." Wajah semringah seolah tanpa dosa berbinar di hadapan Aisyah.


 


Kening Aisyah mengernyit tatkala memindai penampilan Erina dari kaki sampai kepala. Sungguh mengganggu indera penglihatannya dan membuat hatinya bergemuruh tidak terima. Bagaimana tidak, adik iparnya tersebut dengan lancang sudah memakai sepatu miliknya tanpa izin, pun dengan jam tangan yang dia kenakan. Ia pun milik Aisyah.


 


"Itu, kan, sepatu sama jam tangan Mbak. Kenapa bisa sama kamu, Erina?" Aisyah langsung menegur adik iparnya tersebut.


 


Erina menatap bagian kaki dan tangannya yang menjadi tempat barang-barang Aisyah berada. Lalu mendongak lagi menatap wajah kakak iparnya.


 


"Iya, aku tadi pinjam saat Mbak Aish masak di dapur. Gimana? Lebih cocok dipakai sama aku, kan?" jawab Erina merasa tidak ada yang salah dengan perbuatannya, yang meminjam tanpa meminta izin pada si empunya.


 


"Harusnya kamu bisa bilang dulu sama Mbak. Bukan main pakai saja kayak gitu," protes Aisyah.


 


"Pelit banget cuma pinjem doang. Apalagi kalau diminta." Erina mencibir.


 


"Iya, nih. Adik ipar kamu cuma pinjam saja. Jangan pelit-pelit kalau kamu masih mau tinggal di sini. Kamu, kan, cuma numpang. Anggap saja sebagai bayaran tinggal gratis." Giliran bapak mertua Aisyah yang menimpali.


 


Hati Aisyah semakin kesal. Baru beberapa menit yang lalu dirinya dilarang jalan-jalan, sekarang ditambah oleh perilaku adik iparnya yang kurang ajar. Aisyah pun berpikir ingin segera pergi dari rumah itu. Ia tidak tahan terlalu lama satu atap dengan adik ipar dan  bapak mertua yang selalu menyakiti hatinya tersebut.


...*************...

__ADS_1


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


__ADS_2