
...Selamat membaca...
...***************...
Rasa kecewa masih menyelimuti hati Aisyah pagi ini, sikap Bayu masih belum bisa diterima oleh akal sehatnya. Bagaimana mungkin Bayu bisa sesantai itu, sedangkan Aisyah merasa sangat tidak nyaman dengan sikap Tian.
Aisyah pikir dengan bercerita kepada Bayu, bisa membuat pikirannya sedikit tenang. Aisyah berharap Bayu mau memberikan solusi atau masukan untuknya. Namun, nyatanya semua itu hanya angan semata. Jangankan memberi solusi, Bayu seolah tak acuh dengan masalah yang dihadapi Aisyah. Lelah, bukan hanya raga Aisyah yang lelah, tetapi batinnya juga ikut lelah.
Aisyah merasa berjuang sendirian dalam rumah tangganya. Bayu yang Aisyah harapkan bisa menjadi tempatnya berbagi dan bersandar, nyatanya seolah tak mau peduli. Bayu masih asyik dengan dunianya sendiri, mementingkan kesenangannya sendiri. Tanpa memikirkan perasaan Aisyah.
Sejak awal pernikahan, sampai Aisyah hamil, dan kini sudah ada Zahra di tengah-tengah keluarga kecil mereka. Sikap Bayu masih sama, membuat Aisyah merasa diabaikan.
"Aisyah harus bagaimana, Mas? Bahkan masalah sebesar ini, kamu bilang biasa. Apa sedikit pun kamu nggak khawatir dengan istrimu. Lalu, bagaimana caraku bertahan, jika hati yang kutitipkan padamu tak pernah kamu jaga, Mas?" lirih Aisyah, ia menghela napas panjang sambil memandang wajah suaminya yang masih tertidur pulas.
Setelah puas memandang wajah suaminya, Aisyah pun beranjak ke kamar mandi. Terdengar suara Azan Subuh sudah berkumandang, Aisyah segera mengambil wudhu dan menunaikan kewajibannya. Selesai salat, Aisyah melipat mukenanya.
Aisyah kembali memandang wajah suaminya. Ia teringat sebuah novel yang pernah ia baca, yang mana sang tokoh pria selalu mengajak istrinya untuk salat subuh berjamaah.
"Kapan Mas, kamu akan menjadi imamku saat salat subuh?" lirihnya dalam hati. Aisyah tersenyum miris, ia menggelengkan kepala menyadari kehaluannya.
...***************...
Sudah dua hari ini, Aisyah selalu menjaga jarak dengan Tian di kantor. Meskipun mereka bekerja dalam satu ruangan, Aisyah hanya bicara seperlunya saja. Aisyah benar-benar membentengi dirinya, agar Tian tidak semakin mendekat dan menaruh harapan kepadanya.
Urusan rumah tangganya dengan Bayu saja, sudah sangat membuat Aisyah kelimpungan. Ia tidak ingin menambah pikirannya lagi dengan meladeni keinginan Tian yang tak masuk akal.
__ADS_1
Dua hari merasa diabaikan oleh Aisyah, membuat hati Tian semakin resah. Awalnya, Tian mencoba memahami keinginan Aisyah. Ia pun mencoba meredam perasaannya untuk Aisyah. Namun, apa daya rasa kagumnya kepada sosok Aisyah semakin menjadi. Semakin Aisyah menjaga jarak dengannya, Tian semakin tertantang untung menaklukkan hati Aisyah.
Kehidupan rumah tangga Tian yang bisa dibilang sudah tidak normal, membuat Tian harus segera mengambil keputusan.
"Aisyah, mungkin kamu menganggap perasaanku padamu hanya sebuah pelarian semata. Kamu salah, Aish, aku akan buktikan jika aku benar-benar serius mencintaimu. Tunggu saja, aku tidak akan membiarkan Laki-laki itu lebih lama membuatmu tersiksa Aisyah." ucap Tian sambil memandangi foto Aisyah yang ada di ponselnya.
Diam-diam, Tian ternyata sering mengambil foto Aisyah dengan ponselnya. Bahkan foto saat Aisyah sedang menguap pun tak luput dari jepretan kamera ponselnya.
***
Tian sengaja menunggu istrinya di ruang tamu, ia sudah tak tahan dengan kelakuan istrinya yang keras kepala dan tak pernah mau berubah. Ia ingin mencoba kembali berbicara dari hati ke hati.
Sekitar pukul 20.10 WIB terdengar mobil Ajeng sudah memasuki area parkir rumah mereka. Tak lama berselang yang ditunggu pun tiba. Ajeng membuka pintu dan terlihat begitu lelah seperti biasanya.
"Aku lelah, Mas. Aku ingin segera mandi dan istirahat," jawab Ajeng ketus
"Sepertinya memang rumah tangga kita sudah tidak ada artinya untuk kamu. Aku pun lelah jika harus selalu seperti ini, Ajeng. Aku sudah mencoba bersabar, tapi sepertinya kamu tak pernah punya keinginan untuk berubah." Tian memejamkan matanya, lalu menghela napas panjang. Berharap itu bisa meredam emosinya. Bagaimanapun Ajeng pernah menjadi wanita yang paling istimewa di hatinya, ia tak ingin sampai gelap mata dan berbuat di luar batas kewajaran.
"Sudahlah, Mas, sekarang mau kamu apa? Kalau kamu menyuruh aku untuk berhenti bekerja dan fokus ngurusin kamu, maaf, aku nggak bisa. Gaji kamu nggak akan cukup, jika aku harus jadi ibu rumah tangga saja." ucap Ajeng yang kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Septian.
Ucapan Ajeng benar-benar membuat Tian kecewa, sepertinya memang rumah tangganya sudah tak bisa dipertahankan lagi. Tak ingin membuat pertengkaran lagi, Tian memilih tidur di kamar tamu. Ia ingin menenangkan diri sebelum mengambil keputusan untuk kelanjutan rumah tangganya.
...***************...
Pagi ini Tian dan Aisyah sudah berada di ruangannya, mereka berdua berangkat lebih awal karena harus mempersiapkan meeting yang akan dilaksanakan pukul 08.00 WIB nanti.
__ADS_1
Melihat keadaan yang masih sepi, Tian segera menghampiri Aisyah.
"Aisyah, boleh saya bicara?" tanya Tian.
"Tentang...?" sahut Aisyah tanpa mengalihkan pandangannga dari layar monitor di depannya.
"Tentang kita, Aish," jawab Tian.
"Maaf, Pak. Saya sudah tegaskan berkali-kali, hubungan di antara kita hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih. Tolong Pak Tian harus profesional," jawab Aisyah tegas.
"Aisyah, kamu harus percaya. Bahwa perasaan saya ini benar-benar tulus. Kamu jangan berpikir jika saya seperti laki-laki hidung belang yang suka mengobral rayuan pada banyak wanita. Saya bukan tipe laki-laki seperti itu. Akan saya buktikan kalau saya serius ingin menjalin hubungan sama kamu. Rumah tangga saya sudah tidak bisa dipertahankan, saya akan menceraikan istri saya. Supaya saya bisa menikahi kamu, dan kamu tidak akan di cap sebagai perebut suami orang." tutur Tian panjang lebar. Tatapan Tian penuh harap pada Aisyah.
"Cukup, Pak. Anda lupa jika saya adalah wanita yang sudah bersuami. Buang jauh-jauh pikiran gila anda itu. Saya tidak akan pernah mau menerima kegilaan Bapak." sahut Aisyah.
Tak ingin meladeni Tian lebih lama, Aisyah memilih berlalu ke kamar mandi. Ia harus menenangkan diri, untuk meeting nanti. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Bayu. " Mas Bayu, Aisyah harus bagaimana. Aish, nggak nyaman Mas. Rasanya Aish ingin berhenti kerja saja." batin Asiyah.
...**************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
Untuk readers tersayangnya Author. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Semoga di bulan penuh Rahmat dan berkah ini kita selalu di beri kesehatan, rezeki yang banyak halal 🙏🙏.
__ADS_1