Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
16_Kecewa


__ADS_3

...Selamat membaca...


...************...


~ Kala aku menjelaskan sesuatu padamu dan aku menangis. Tolong dengarkan aku, karena itu benar-benar menyakitkan ~


               Aisyah Khumairah


 


Sore ini langit sedikit gelap. Aisyah turun dari angkot dengan wajah murung ia masih menyimpan rasa kesal pada Bayu, dengan mudahnya ia berkata sedang nongkrong dengan teman-temannya. Apakah mereka lebih penting dari pada Istrinya sendiri. Yang dia minta kepada kedua orang tuanya dengan baik-baik.


Melangkah lesu masuk kedalam rumah yang telah ia buka kuncinya, Aisyah merasa Bayu abai sebagai seorang suami, tidak pernah mau mengerti tetapi hanya ingin selalu dimengerti perasaannya. Lalu ia harus bagaimana menghadapi semua sikap Bayu. Marah. Tapi Bayu seolah tidak pernah peka dengan apa yang ia rasakan.


 


“Mas Bayu menyebalkan,” ucap Aisyah dengan air mata yang tertahan.


...*************...


Walau hati Aisyah sedang kesal, tetapi wanita cantik berambut hitam legam itu tetap saja memasak makanan dan menyajikannya untuk Bayu.  Suami tercinta, yang memiliki perasaan yang  tidak peka sama sekali. Hanya sayur tumis sawi, telur dadar, serta sambal yang ia hidangkan. Keuangannya sudah semakin menipis. Terkadang uang yang diberikan Bayu padanya tidak cukup untuk satu hari, tetapi Ais tetap berusaha agar semuanya terlihat baik-baik saja.


 


Sekitar jam tujuh malam terdengar suara deru motor Bayu. Aisyah seolah enggan membukakan pintu untuk suaminya itu, hatinya lelah sama seperti raganya.


 


Pintu diketuk dari luar dan terdengar suara Bayu memanggil istrinya dan mengucap salam.


 


"Assalamualaikum, Dek," panggil Bayu pelan.


 


Aisyah hanya mendengarkan saja ia malas untuk beranjak dari rebahannya. Beberapa kali Bayu memanggil, ia tetap diam. Setelah ketukan yang ketiga, akhirnya ia bangkit dari kasur lalu berjalan gontai ke arah pintu depan dan membukakan pintu untuk suaminya itu.


 


"Waalaikumsalam,” jawabnya sambil memutar kunci dan menekan knop pintu. Dengan wajah yang masih kesal, Aisyah meraih tangan Bayu dan menciumnya dengan takzim.


 


"Lama banget sih, Dek. Kamu ngapain aja di dalam!  Nggak tahu apa aku capek banget seharian kerja," sarkas Bayu kesal dengan ulah Aisyah.


 


“Lama. Capek. Mas pikir aku nggak capek? Mas yang belum sampai tiga menit aja nungguin aku bukain pintu, langsung marah. Gimana dengan aku, Mas? Yang sudah nungguin kamu berjam-jam di kantor buat nungguin jemputan dari kamu, tapi kamunya malah nggak datang dan memilih nongkrong sama teman-teman kamu. Aku nggak pernah marah, Mas. Kerja seharian, bukannya tadi kamu bilang kalau kamu lagi nongkrong sama teman-teman kamu?” Ingin rasanya Aisyah berkata seperti itu. Namun, Aisyah hanya dapat berkata dalam hati. Ia lelah kalau harus bertengkar dengan Bayu lagi. Batin Aisyah kesal.


 

__ADS_1


 


"Ditanya bukannya jawab malahan bengong aja." Bayu kembali bertanya dengan suara yang sedikit meninggi.


 


Aisyah tetap diam tak menjawab, ia berlalu ke arah dapur untuk menyiapkan makan malamnya.


 


"Mas mau mandi dulu atau langsung makan?" tanya Aisyah dengan suara pelan.


 


"Mas mandi dulu. Nanti kita makan bareng, tunggu sebentar!” titah Bayu sambil  berlalu ke arah kamar mandi dengan mengalungkan handuk hadiah dari merk oli ternama.


 


Setelah kurang lebih sepuluh menit akhirnya acara mandi Bayu pun selesai. Bayu sudah terlihat  lebih segar dan rapi dengan rambut basahnya. Setelah mengeringkan rambut Bayu memakai kaos berwarna  merah serta sarung kotak-kotak hadiah THR dari pemilik  bengkel di mana ia bekerja.


 


"Masak apa, Dek?" tanya Bayu pelan,  tanpa mempedulikan wajah Aisyah yang sudah terlihat masam.


 


"Seperti yang Mas lihat di meja," jawab Aisyah dengan sedikit ketus.


 


 


“Aku nggak kenapa-napa, Mas. Aku hanya sedang lelah dan lapar karena terlalu lama menunggu,” ucap Aisyah sambil menyendokkan nasi ke piring Bayu. Tidak lupa ia menaruh sayur dan telur dadar dan sedikit sambal Pada piring tersebut.


 


“Oh gitu ya, Dek. Mas kira kamu lagi marah sama mas.” Setelah mengucapkan itu tanpa menunggu jawaban dari Aisyah, tanpa babibu lagi Bayu langsung melahap makanan yang ada dihadapannya, tidak melihat ke arah Aisyah lagi karena perutnya sudah terlalu lapar. Karena di tempat tongkrongan tadi ia hanya memesan segelas kopi saja.


 


Melihat kelakuan Bayu yang seperti itu, membuat Aisyah bertambah kesal saja. Pasalnya Aisyah sudah menunggu Bayu untuk makan malam bersama sedari setengah jam yang lalu hingga saat ini. Bayu yang makan seolah Aisyah tidak terlihat olehnya. Dengan lesu ia pun makan dengan hati yang kesal dan marah.


 


Setelah selesai makan, mereka bersantai di depan tv yang beralaskan karpet motif macan.


 


"Mas, tadi nongkrong di mana? Sama teman-teman mas yang mana?" tanya Aisyah. Lebih tepatnya Aisyah sedang mengintrogasi, dengan pertanyaan yang sedari tadi sudah ia tahan.


 

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Aisyah seketika membuat Bayu menatap wajah Aisyah tidak percaya, karena istrinya itu sudah mulai bertanya-tanya mengenai apa yang ia lakukan di luar sana


 


“Kenapa Aish menanyakan itu?”


“Cuma pengen tahu aja.”


"Oh itu, tadi mas diajak sama anak-anak bengkel. Di pertigaan yang nggak jauh dari bengkel, ada café baru yang lagi ngasih promo besar-besaran. Katanya, sih, lagi grand opening gitu. Kebetulan juga si bos yang traktir kita-kita. Gak enak, kan, Dek kalau mas tolak. Nanti dikira nggak menghargai bos." Bayu menjelaskan pada Aisyah.


 


"Mas, sepertinya kita harus berbicara dari hati ke hati. Ais ingin tahu apa, sih, keinginan Mas Bayu dalam pernikahan ini. Kalau Ais, maunya menikah itu sekali seumur hidup dan ada rasa saling percaya juga saling membutuhkan antara pasangan itu sendiri. Ais berharapnya itu terjadi sama Mas Bayu. Sebab menikah itu adalah ibadah terpanjang dan pahalanya luar biasa. Ais ingin mendapatkan terus pahala itu."  Aisyah menceritakan tentang apa yang ada dalam hatinya dan segala keresahan jiwanya.


 


Bayu hanya terdiam tanpa kata. Ia masih bingung apa yang harus ia jelaskan kepada istrinya. Menikahi Aisyah adalah impiannya. Gadis baik, santun dan lemah lembut. Itu saja menurut Bayu. Selama ia tidak bertindak kasar dan selalu menafkahi Aisyah lahir dan batin sudah cukup buat Bayu.


 


"Mas, sudahlah cukup membuat orang lain bahagia. Aku yang notabene adalah istri Mas pun ingin bahagia dengan rumah tangga yang baru kita bina. Berharap langgeng dan Ais harap, Mas Bayu sedikit peka dengan perasaan Ais." Buliran bening di mata Asiyah pun sudah mulai terlihat di bola matanya. Entah harus bagaimana lagi menghadapi sikap Bayu yang seolah masa bodo itu.


 


"Mas cinta sama Ais nggak, sih? Aisyah lelah Mas, berjuang sendiri. Sedangkan Mas hanya diam tidak ada sedikit pun rasa untuk meraih cinta itu. Ais harus bagaimana Mas?” Dengan derai air mata, ia hanya memandangi laki-laki yang sudah beberapa bulan sah menjadi suaminya. Bayu membawa istrinya  ke dalam pelukan dengan rasa bersalah.


"Maafkan mas, ya, Dek. Mas belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu. Semoga kedepannya, mas bisa merubah kebiasaan yang kurang bagus ini." Bayu berucap pelan di atas kepala Aisyah.


Aisyah hanya memukul-mukul lengan tangan Bayu, sambil masih terus sesegukan menahan tangis. Ia tidak dapat menahan rasa sesaknya.


"Ais mau kalau ada apa-apa, mas juga mendengarkan pendapat Ais, Mas. Aku kan bagian dari hidup mas Bayu juga. Jadi harus saling tahu apa yang terjadi, nggak sendiri-sendiri gitu." Ais menjelaskan dengan suara parau.


"Hargai juga kehadiran Aisyah, di hati Mas Bayu." Hidung Aisyah sudah memerah akibat sering disapu dengan tangannya.


Bayu hanya terdiam saja. Seegois itu kah dirinya, sehingga istrinya menangis dengan segala perlakuannya atau inikah ujian cintanya kepada sang istri.


"Ais kecewa sama Mas Bayu, tapi bagaimana pun kamu suamiku, Mas. Imamku yang aku pilih. Aku menerimamu apa adanya dengan semua baik burukmu, Mas." Terus saja Aisyah mengungkapkan isi hatinya kepada sang suami. Semoga Bayu dapat memikirkan semua apa yang Aisyah utarakan tadi. Aisyah berharap semoga ia tidak salah dalam mencintai seseorang.


Aisyah merasa ini adalah ujian dalam rumah tangganya. Sekecewa apa pun Aisyah terhadap Bayu tetap saja ia begitu mencintai lelaki berkulit gelap itu. Bayu adalah lelaki pertama setelah sang ayah yang ia cintai. Lelaki yang berani menghadap ayah untuk menjalin hubungan yang lebih serius.


Terkadang  Aisyah lelah kalau harus terus mengalah dan diam. Seiring berjalannya waktu semuanya dapat terlihat dengan jelas bagaimana sifat dan sikap Bayu terhadap Aisyah.


...****************...


...*to be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏*


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2