Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
11_Maafkan, Aish!


__ADS_3

...*************...


Aisyah masih merasa kecewa dengan ucapan Bayu tadi, apalagi melihat sikap Bayu yang sedikit pun tidak merasa bersalah pada Aisyah.


 


"Mas Bayu sebenarnya sayang sama Aish, nggak, sih?" batin Aisyah saat masih duduk berdesakan dalam angkot yang ditumpanginya. Ia masih teringat kejadian saat di meja makan tadi, yang membuat Aisyah begitu kesal dengan Bayu sehingga ia tidak bisa menahan emosi.


 


"Padahal, kan, tadi pengennya Mas Bayu ngejar Aish, terus minta maaf karena udah nyakitin perasaan Aish. Huft ... sadar Aish, sadar. Ini bukan Novella," monolognya lagi. Aisyah kembali menghela napas panjang, berharap bisa sedikit meredam rasa kecewanya pada Bayu—suaminya.


 


Aisyah sudah sampai di pabrik tempat ia mengais rezeki. Ia pun turun dari angkot bersama dengan beberapa karyawan lain yang kebetulan juga satu angkutan dengannya.


 


"Aish, tunggu!" teriak Witri yang juga baru datang.


 


Langkah Aisyah pun terhenti. Ia menoleh dari jarak yang tidak terlalu jauh, Aisyah melihat Witri yang sedang mencium tangan suaminya. Kemudian suaminya juga mengecup kening Witri.


 


Aisyah terpaku melihat pemandangan yang begitu manis di hadapannya. Terbesit rasa iri melihat Witri dan suaminya yang masih begitu mesra, padahal mereka berdua sudah beberapa tahun menikah.


 


"Aish,” panggil Witri saat berjalan mendekat ke arah Aisyah.


 


"Aish," panggilnya lagi karena tidak ada respons dari sang pemilik nama. Pandangan mata Aisyah terlihat kosong.


 


"Aisyah!" Witri sedikit menepuk bahu Aisyah karena sudah berkali-kali ia memanggilnya, Aisyah masih saja bengong.


 


"Astaghfirullah, Mbak Witri ngagetin aja, deh.” Aisyah tersentak saat Witri menepuk bahunya.


 


"Mikirin apa, sih? Pengantin baru masih pagi udah melamun aja." goda Witri pada Aisyah, "pasti kemarin abis honeymoon, kan? Makanya jadi terbayang-bayang terus sampai di kantor. Eh, Aish, kamu udah keramas, kan?" Witri masih saja menggoda Aisyah.


 


"Mbak Witri apaan, sih? Bisa aja kalo jailin orang," jawab Aisyah sembari tersenyum.


 


"Tumben Mbak diantar? Suami Mbak libur, ya?" tanya Aisyah.


 


"Enggak, Aish. Kebetulan Mas Joko masuk shift dua nanti. Jadi dia nawarin buat antar aku kerja," jawab Witri lalu merangkul bahu Aisyah. "Maklum habis dapat jatah, jadi semangat dia," bisik Witri lagi pada Aisyah.


 


Aisyah yang mendengar itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia kembali teringat dengan Bayu. "Padahal tadi Mas Bayu juga habis dapat jatah, tetapi nyatanya kami malah berantem di meja makan," batin Aisyah.


...*****...


Aisyah masih terjaga di kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 21.15 WIB. Namun, belum ada tanda-tanda Bayu pulang dari bengkel tempatnya bekerja. Berulang kali ia melihat ponselnya, tetapi tidak ada satu pun pesan dari Bayu.

__ADS_1


 


Biasanya jika akan pulang malam, Bayu pasti mengabari Aisyah agar tidur lebih dulu dan tidak usah menunggunya. Aisyah gelisah, tetapi ia juga gengsi kalau harus mengirimkan pesan pada Bayu lebih dulu. Aisyah masih sakit hati karena kejadian tadi pagi.


 


"Mungkin bengkel sedang ramai, jadi mas Bayu nggak sempat mengabari Aish. Ya udah, Aish tidur duluan aja. Biar besok nggak kesiangan." Aisyah mencoba memejamkan mata, karena rasa lelah yang mendera setelah bekerja seharian. Beberapa menit kemudian Aisyah pun sudah terlelap ke alam mimpi.


 


Pukul 22.30 WIB Bayu baru sampai di kontrakan. Aisyah yang mungkin karena kelelahan, tidak mendengar kedatangan suaminya. Bayu pun tak ingin mengganggu istrinya yang sudah terlelap, ia segera membersihkan diri ke kamar mandi. 


 


Setelah melaksanakan salat isya, Bayu segera ikut merebahkan diri di samping Aisyah. Bayu tersenyum tipis melihat istrinya yang tidur begitu pulas.


 


Bengkel tempat Bayu bekerja hari ini cukup ramai, sehingga membuat Bayu harus pulang sampai malam. Apalagi hari ini ada rekan kerja Bayu yang mendadak ijin untuk pulang kampung karena ibunya sedang sakit. Jadi, Bayu terpaksa harus lembur. Tidak berselang lama, Bayu pun sudah ikut terlelap di samping Aisyah.


...*****...


Pagi ini di meja makan, Bayu dan Aisyah masih saling diam. Mereka berdua fokus dengan makanan mereka masing-masing. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang sesekali terdengar.


 


Aisyah sebenarnya tidak tahan jika harus saling diam seperti ini, tetapi dia masih kecewa dengan sikap Bayu yang masih saja tidak menyadari kesalahannya. Bahkan seolah masih saja menyalahkan Aisyah.


 


"Mas Bayu nggak peka banget, sih, jadi suami. Udah tahu istrinya ngambek malah diem aja. Ya Allah, beri hamba kesabaran yang lebih. Semoga hamba kuat Ya Allah. Semoga Mas Bayu segera dapat hidayah. Aamiin,”  batin Aisyah,


 


Setelah selesai sarapan, Aisyah langsung mencuci piring kotornya  seperti biasa. Lalu ia segera bersiap-siap untuk berangkat bekerja.


 


 


Setelah beberapa menit menumpahkan tangisnya, Aisyah kembali merapikan make up yang sedikit luntur Karena air matanya. Meski tidak bisa mengurangi ketegangan yang terjadi antara dia dan Bayu, setidaknya hatinya merasa lebih lega. Saat di rasa cukup rapi, ia segera keluar dari kamar, mengingat sudah pukul 06.50 WIB, ia tak ingin terlambat sampai di kantor tempatnya bekerja.


 


"Mas Bayu mana, ya? Kok udah nggak ada di meja makan. Aisyah masih menoleh ke sana-ke mari mencari keberadaan Bayu. Hingga terdengar dari luar suara motor Bayu yang semakin menjauh dari kontrakan. Itu artinya Bayu baru saja berangkat ke bengkel.


 


"Mas Bayu, kenapa nggak pamit sama, Aish?" lirih Aisyah. Mata Aisyah sudah mulai berkaca-kaca, hingga akhirnya cairan bening itu kembali membasahi pipinya. Begitu sesak dada Aisyah. Pernikahan yang baru beberapa Minggu dilaluinya, kenapa begitu menguras kesabarannya.


 


"Ya Allah, maafkan, Aish. Mungkin Aish, kurang bersyukur. Maafkan, Aish," Aisyah segera menghapus air matanya. Bukan saatnya meratapi nasib. Ia harus segera berangkat bekerja, supaya tidak sampai terlambat masuk kerjanya. Karena kalau sampai ia terlambat, konsekuensinya adalah gajinya akan dipotong.


...*****...


Aisyah sudah duduk bersantai di ruang televisi. Setelah tadi  berkutat di dapur menyiapkan makan malam untuk dirinya juga suaminya.


 


"Semoga nanti Mas Bayu pulang cepet," gumam Aisyah. Setelah hampir dua hari ia saling mendiamkan dengan Bayu, akhirnya Aisyah memutuskan untuk meminta maaf pada Bayu. Ia tak tahan jika terus-menerus saling diam seperti itu. Apalagi, mereka hidup dalam satu atap.


 


Bayu dan Aisyah masih saling diam saat mereka makan malam bersama. Suasana masih tegang sama seperti saat sarapan tadi pagi.


 

__ADS_1


"Aduh, gimana ya cara ngomongnya? Mas Bayu masih aja jutek gitu," batin Aisyah, ia sesekali mencuri pandang ke arah Bayu.


 


"Tapi kalau Aish nggak segera ngomong sama Mas Bayu, kapan baikannya. Aisyah nggak bisa kayak gini terus," monolognya dalam hati, "bukankah tujuan pernikahan adalah saling melengkapi kekurangan pasangan dengan kelebihan masing-masing?” lanjutnya lagi.


 


"Mas Bayu." Asiyah spontan memanggil Bayu yang sudah menyelesaikan makan malamnya dan beranjak berdiri.


 


Bayu hanya menoleh ke arah Aisyah, tanpa menjawab sepatah katapun.


 


"Aish, mau ngomong."


 


"Hm," jawab Bayu datar.


 


Aisyah segera berjalan mendekati Bayu, dengan sedikit malu-malu ia merangkul tangan Bayu. "Maafin Aisyah, ya, Mas! Aish akan berusaha jadi istri yang lebih baik lagi. Mas Bayu jangan marah lagi sama Aish.” Ia menyandarkan kepalanya pada  lengan kekar Bayu.


 


"Iya, Dek. Tapi ada syaratnya." Bayu tersenyum tipis sambil mengusap bahu Aisyah.


 


"Apa, Mas?" Aisyah mendongak ke arah Bayu.


 


"Mas," pekik Aisyah saat mendapati tubuhnya melayang.


 


Bukannya menjawab, Bayu malah langsung membopong tubuh Aisyah masuk ke dalam kamar mereka. Sehingga terjadilah sesuatu yang tidak boleh dijelaskan. Wkwkwkwk.....


...****************...


...to be continued ...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2