Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
37_Meninggalkan Villa


__ADS_3

...Selamat membaca...


...**************...


“Kamu kenapa, kok, murung saja dari tadi?” tanya Bayu saat Aisyah membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang.


 


Aisyah mengembuskan napas dengan kasar sebelum menjawab pertanyaan sang suami. Ia tutup resleting tas ransel sebagai tanda bahwa pekerjaannya sudah selesai. “Indar bakal numpang lagi sama kita?”


 


Bayu menaikkan sebelah alis, menatap Aisyah penuh selidik. “Kenapa memangnya? Kamu keberatan?”


 


Aisyah menatap lekat wajah Bayu. Apakah Bayu sama sekali tidak peka. Sejak bangun tidur tadi Bayu mengabaikannya. Menyerahkan semua urusan Zahra pada Aisyah. Ia lebih memilih asyik bercengkerama dengan teman-temannya. Pun di sana ada Indar yang terlihat selalu menempel di samping Bayu.


 


“Sebenarnya tujuan Mas ngajak Aisyah ke sini untuk apa? Untuk menikmati liburan bersama atau hanya ingin menunjukkan pada Ais bahwa Mas bisa berdekatan dengan wanita mana pun selain Ais?”


 


“Maksud kamu apa, sih? Nggak usah muter-muter nggak jelas kalau ngomong!” sentak Bayu.


 


Wajahnya sudah terlihat mengeras menahan amarah. Ia merasa tuduhan Aisyah tidak berdasar sama sekali. Sedangkan Aisyah sendiri merasa Bayu sama sekali tidak menghargai kehadirannya di sini.


 


“Mas sadar nggak, sejak berangkat ke mari Mas mengabaikan Ais? Mas terlihat lebih senang ngobrol dan bercanda dengan teman-teman Mas dibanding dengan Ais dan Zahra. Bahkan ....”


 


Suara Aisyah terdengar tercekat seakan tidak mampu melanjutkan ucapannya. Sekuat tenaga Aisyah membendung butiran bening yang sudah berdesakkan di pelupuk mata.


 


“Bahkan Mas memilih tidur bersama teman-teman Mas. Kumpul jadi satu dengan wanita yang bukan muhrim.”


 


Gagal. Butiran bening itu meluncur begitu saja saat kalimat itu keluar dari bibir Aisyah. Bahkan suaranya pun terdengar bergetar.


 


“Kenapa masalah seperti itu saja kamu ributkan? Kami tidur rame-rame. Pikiran kamu terlalu picik Aisyah.” Bayu benar-benar marah dengan ucapan Aisyah.


 


Aisyah tertegun. Dadanya berdenyut nyeri. Tidak mengertikah Bayu akan norma dan batasan?


 


“Masalah seperti itu kamu bilang, hah?” Aisyah tersulut emosi. Nada suaranya pun ikut meninggi, “kamu benar-benar keterlaluan, Mas! Di mana adab kamu? Apa seperti itu kelakuan yang pantas bagi laki-laki yang berstatus sebagai suami? Aku kecewa sama kamu, Mas.”


 


Aisyah menghapus air matanya dengan kasar. Ia lalu mengambil Zahra yang tengah tertidur di ranjang. Membawanya dalam gendongan. Tidak lupa ia pun mengambil tas yang tadi sudah disiapkan. Tanpa banyak bicara, ia keluar dari kamar.


 


“Ais, tunggu!” Bayu segera mengambil jaketnya dan menyusul Aisyah. Langkahnya yang tergesa sampai menabrak seorang temannya.


 


“Sorry, ya, Dul. Bilang sama yang lain gue duluan,” katanya pada temannya yang bernama Abdul.


 


“Ada masalah, Bay?”


 

__ADS_1


“Sedikit. Gue duluan, ya,” pamitnya.


 


“Okey. Hati-hati.”


 


Bayu bergegas menyusul Aisyah. Langkah lebarnya memudahkan untuk mengejar istrinya. Dilihatnya Aisyah di tepi jalan. Ia pun segera meraih siku Aisyah saat istrinya hendak berlari meninggalkannya.


 


“Masuk ke mobil!” titahnya tidak ingin dibantah.


 


“Aku mau pulang sendiri,” tolak Aisyah. Ia menatap suaminya dengan nanar.


 


“Aku bilang masuk, Ais!” Bayu sedikit menyeret Aisyah menuju mobil di mana ia parkir.


 


Tidak ingin menarik perhatian teman-teman Bayu, ia pun menurut. Naas, saat hendak masuk ke dalam mobil, Indar muncul begitu saja.


 


“Loh, Bay.” Indar meraih lengan Bayu, “kamu mau pulang sekarang?” Bayu hanya mengangguk sebagai jawaban. “kalau gitu tunggu aku sebentar, biar aku beberes.”


 


“Sorry, Ndar. Lo pulang bareng sama yang lain aja. Gue ada urusan.”


 


Bayu bergegas meninggalkan Indar yang melongo mendengar jawabannya. Mobil yang dikendarai Bayu mulai meninggalkan kawasan vila. Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam. Aisyah membuang pandangan ke luar jendela. Tidak berniat sama sekali memulai obrolan.


 


 


Namun, saat netranya menangkap sosok mungil dalam dekapan Aisyah, ia baru sadar jika sejak kemarin ia belum menggendong putrinya sama sekali. Ia merutuki dirinya sendiri yang abai pada malaikat kecilnya. “Maafin ayah, ya, Nak,” katanya dalam hati.


 


Sesampainya di rumah, Bayu membangunkan Aisyah yang masih terlelap. Aisyah yang masih marah mengabaikan Bayu. Kali ini ia tidak ingin mengalah. Ia ingin Bayu sadar akan kesalahannya.


 


Ambar menyambut dengan senyum lebar. Aisyah pun membalas senyuman sang mertua.  Untung saja ia tidak bertemu dengan Erina maupun bapak, sehingga Aisyah tidak harus menguras energinya lagi untuk mendengar ocehan unfaedah dari mereka.


 


“Dek?” Bayu mendekati Aisyah yang tengah membongkar barang bawaannya. Sedangkan Zahra sedang bersama Ambar. “Kamu jangan berpikir macam-macam. Meskipun kami tidur rame-rame kami tidak melakukan apa pun yang melanggar norma.” Bayu mencoba menjelaskan penuh kelembutan setelah berhasil meredam emosi.


 


Aisyah melirik sinis ke arah Bayu. Suaminya itu ternyata masih belum mau mengakui kesalahannya. Sungguh keras kepala. Mirip dengan Bapak dan juga adiknya.


 


“Dek?” Bayu memutar tubuh Aisyah agar berhadapan dengannya.


 


Dengan malas Aisyah akhirnya memberikan atensi pada suaminya. “Mau kamu apa, sih, Mas? Menurutmu aku bakal terima begitu saja dengan cara berpikir kamu yang seperti itu?”


 


“Memangnya kenapa kamu tidak bisa menerimanya? Toh aku nggak macam-macam.” Bayu kembali sedikit tersulut emosi.


 


“Kamu pikir saja sendiri. Tanya pak Ustadz kalau perlu,” sinis Aisyah, “apa pantas seorang laki-laki yang memiliki status sebagai kepala keluarga bersikap seperti itu? Mau jadi apa anak kamu nanti kalau bapaknya aja seperti ini? Apa kamu mau, jika Zahra sudah besar menganut kebebasan seperti yang kamu lakukan?”

__ADS_1


 


Bayu terdiam. Ia merasa tertohok saat nama putrinya disebut. “Apa kamu lupa kita hidup dengan adat ketimuran? Kalau kamu mau menganut kebebasan seperti budaya barat, aku rasa kamu salah memilih istri seperti aku.”


 


Puas mengeluarkan unek-uneknya, Aisyah pergi meninggalkan Bayu yang termangu. Ia menghampiri Ambar dan juga Zahra yang tengah berada di ruang tengah.


 


...**************...


... ...


Pertengkaran kemarin dengan Bayu membuat Aisyah tidak fokus sama sekali. Ia masih mengabaikan Bayu.


 


“Kamu kenapa Ais? Dari tadi aku lihat kamu banyak melamun?” tanya Witri saat jam istirahat. Mereka tengah makan di pantry. Aisyah yang tidak nafsu makan merasa malas pergi ke kantin. Ia pun hanya makan sepotong roti yang diberikan Witri.


 


“Mbak?” Netra indah Aisyah sudah mulai mengembun. Rasanya ia tidak sanggup lagi menahan semuanya sendiri. Dadanya terasa sesak. Ia butuh seseorang yang bisa menguatkannya. Tidak mungkin ia bercerita pada bapak ataupun Diana. Ia tidak mau membuat mereka khawatir.


 


Witri yang mengerti Aisyah sedang tidak baik-baik saja, menepuk-nepuk lembut punggung tangan Aisyah. “It’s okey, Ais. Ada aku. Kamu nggak perlu ragu buat cerita sama aku kalau kamu mau. Aku janji bakal jaga rahasia.”


 


Hanya mendengar kalimat dari Witri, Aisyah langsung menumpahkan tangisannya. Witri membiarkan Aisyah meluapkan kesedihannya. Hingga beberapa saat, Aisyah mulai tenang.


 


“Maaf ya, Mbak. Aku cengeng.”


 


Witri hanya tersenyum sendu menanggapi perkataan Aisyah, “Udah mendingan?” tanya Witri.


 


Aisyah mengangguk ragu. Hening kembali menyelimuti saat Aisyah menghapus sisa air matanya dengan tisu yang diberikan Witri.


 


“Mau cerita? Siapa tahu aku bisa bantu?” tawar Witri.


 


Aisyah pun akhirnya menceritakan semuanya. Tentang sikap Bayu selama ini, tentang bapak mertua juga adik iparnya. Pun tentang pertengkaran mereka kemarin. Biar lah Aisyah dikata tidak bisa menjaga marwah. Ia hanya tidak ingin menjadi gila dengan memendam semuanya sendiri.


 


Witri tampak geram mendengar cerita Aisyah. Ia tidak mengira jika Aisyah melalui itu semua. Ia pikir Aisyah baik-baik saja selama ini dengan pernikahannya. Tanpa mereka sadari seseorang turut mendengarkan semua permasalahan Aisyah. Ia mengepalkan tangan kuat. Tidak terima rasanya Aisyah mendapat perlakuan seperti itu.


 


“Sayang kita terlambat bertemu, Ais. Seandainya saja kita bertemu lebih awal. Aku pastikan akan membuat kamu bahagia. Sungguh beruntung laki-laki brengsek itu mendapatkan kamu sebagai istrinya.” Batin laki-laki itu.


...***************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2