
...Selamat membaca...
...**************...
Linangan air mata pun tak bisa dicegah lagi. Meluncur dengan bebas membasahi pipi. Aisyah tidak menyangka jika suaminya akan menolak permintaannya. Apakah sepenting itu arti seorang sahabat dalam hati Bayu?
"Sudahlah, Mas capek dengan kecemburuan kamu. Mulai sekarang kamu jangan pernah membahas masalah Indar lagi. Mas sudah bosan mendengarkan perkataan ngawur kamu tentang dia. Asal kamu tahu, semua yang kamu katakan itu tidak benar. Sekali lagi Mas tegaskan, Indar cuma sahabat Mas aja, nggak lebih dari itu!"
Kalimat panjang itu begitu menohok di hati Aisyah. Hatinya diliputi amarah. Seorang istri tentu akan cemburu jika melihat suaminya dekat dengan perempuan lain, dan lebih mementingkan perempuan itu daripada istrinya sendiri. Apalagi perempuan itu ada hati terhadap sang suami.
Aisyah tidak mau lagi meladeni perkataan suaminya. Perkataan tadi sudah cukup menjelaskan tentang posisi Indar di hati suaminya. Ia pun melengos pergi tanpa permisi, menemui Zahra yang sudah terlelap tidur di kamarnya. Untuk saat ini, hanya Zahra yang bisa meredam emosinya. Pelipur lara yang seolah mencekik lehernya. Jika bukan karena anak itu, mungkin sekarang Aisyah sudah kabur meninggalkan Bayu.
...*************...
Dua hari setelah pertengkaran hebat itu, Aisyah dan Bayu saling mendiamkan. Aisyah sengaja membentang jarak dengan suaminya, dan membatasi pertemuan mereka. Namun, Aisyah masih tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, dengan menyiapkan segala keperluan sang suami.
Seperti pagi ini, setelah menyediakan sarapan untuk suaminya, Aisyah bergegas kembali ke kamar untuk menemani Zahra yang masih tidur. Bayu tidak berkomentar apa-apa dengan sikap istrinya tersebut. Ia juga merasa malas berbicara dengan Aisyah, karena ia tidak merasa salah.
Sepeninggal Bayu, Aisyah tercenung sambil menatap wajah polos Zahra. Air matanya tiba-tiba mengalir tanpa diminta. Meratapi nasib rumah tangganya yang tiada habis dirundung masalah.
"Ck, merepotkan saja!"
Kalimat itu tiba-tiba terngiang di telinga Aisyah, manakala ia mengenang saat pertama kali Aisyah meminta diantar bekerja oleh Bayu. Hingga sampai dirinya hamil, Bayu juga masih menyuruhnya untuk serba mandiri. Namun, kenapa sikap tegas Bayu terhadapnya tersebut tidak berlaku untuk Indar? Hal itu membuat Aisyah berpikir jika Bayu mempunyai perasaan yang khusus terhadap perempuan tersebut.
Namun, sekali lagi ia tatap wajah anaknya dengan seksama. Rasa bersalah menyergap relung hatinya. Ia tidak tega jika anaknya tersebut akan kehilangan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya, jika mereka harus berpisah gara-gara masalah ini.
"Maafkan Bunda, ya, Nak. Bunda akan mencoba sabar sekali lagi sama ayah kamu. Mudah-mudahan ayah kamu bisa sadar dengan kesalahannya selama ini," lirih Aisyah sambil mengusap puncak kepala Zahra dengan lembut.
...***************...
__ADS_1
Aisyah mencoba melapangkan hatinya untuk memaafkan kesalahan Bayu, dan mencoba memercayai perkataan suaminya itu. Sore ini Aisyah berniat untuk meminta maaf dan berdamai dengan Bayu. Perempuan itu pun sedikit berdandan untuk menunggu suaminya pulang.
"Kita ke warung depan, yuk, sekalian nunggu ayah pulang!" Aisyah mengajak Zahra. Bayi mungil itu hanya bisa tersenyum dan berceloteh dengan bahasanya, tanpa mengerti apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Lucu banget, sih, anak Bunda!" Aisyah mencium pipi Zahra dengan gemas. Tingkah anaknya tersebut selalu sukses membuat hati Aisyah bahagia.
Aisyah membawa putrinya ke warung di depan gang rumahnya. Sebentar lagi suaminya pulang, jadi Aisyah berniat untuk menyambut sang suami di sana. Sekalian mengajak anaknya bersilaturahmi dengan ibu-ibu yang suka berkumpul di warung itu. Sudah lama Aisyah tidak berbincang dengan mereka, walaupun pasti ada sedikit ghibah di dalamnya.
"Eh, Aish. Tumben kamu mau nongkrong di sini. Biasanya juga cuma beli sesuatu, terus langsung pergi," ucap salah satu tetangga Aisyah yang biasa berkumpul saat sore di warung tersebut.
Aisyah tersenyum, "Iya, Mbak. Sekalian nunggu Mas Bayu pulang kerja. Nanti, kan, dia lewat gang sini. Kami bisa ikut naik motor dia untuk pulang."
"Oh, begitu." Perempuan tadi mengangguk mengerti, sedangkan satu perempuan lain mengambil alih Zahra dari gendongan Aisyah. Ia merasa gemas dengan bayi kecil itu.
"Aish, anak kamu lucu banget, sih. Cantik," seru perempuan tersebut yang bernama Fatimah. Aisyah tersenyum melihat Fatimah mencium pipi gembul Zahra dengan gemas, kemudian berbincang-bincang dengan ibu-ibu lainnya.
"Mungkin suamimu lembur, Aish. Coba WA aja!"
"Aku nggak bawa HP, Mbak. Lupa," jawab Aisyah pada Fatimah yang bertanya, lalu mengambil alih Zahra dari pangkuan perempuan tersebut, "kami pulang aja, deh. Nunggu Mas Bayu di rumah," imbuhnya.
Namun, saat Aisyah hendak melangkah, perkataan heboh Fatimah kembali menarik perhatiannya.
"Eh, Aish. Bukannya itu suami kamu, ya? Kenapa dia lurus? Terus dia boncengin siapa itu?"
Pandangan Aisyah langsung tertuju pada arah telunjuk Fatimah. Benar saja, ia melihat Bayu berboncengan dengan Indar. Tanpa rasa malu perempuan itu berpegangan dengan memeluk tubuh Bayu, dan sepertinya Bayu tidak menyadari keberadaan Aisyah di warung tersebut. Lelaki itu terlalu fokus mengemudikan motornya.
Aisyah begitu sakit hati. Rasanya seperti dihantam benda keras bertubi-tubi. Baru saja ia bertekad untuk percaya pada sang suami, tetapi suaminya malah mengulang kesalahannya lagi. Namun, sekuat tenaga Aisyah menahan air matanya agar tidak mengalir di pipi. Ia tidak ingin masalah rumah tangganya jadi gunjingan para tetangga di sini.
__ADS_1
"Oh, itu teman sekantornya Mas Bayu, Mbak. Rumahnya memang tidak jauh dari sini. Dia udah nikah, kok. Mungkin nggak ada yang jemput, jadi ikut pulang sama Mas Bayu." Aisyah berbohong, berusaha menutupi kesalahan suaminya. Beruntung para tetangganya itu percaya. Aisyah pun melanjutkannya niatnya untuk pulang ke rumah.
...**************...
Sesampainya di rumah, Aisyah sudah tidak sabar untuk bertemu Bayu. Dadanya begitu sesak menahan amarah yang ia tahan sejak tadi. Hingga suara deru mesin motor terdengar, amarah itu pun semakin berkobar. Aisyah segera melangkah ke luar.
"Kamu kenapa? Nangis lagi?" Bukannya mengucap salam, Bayu malah bertanya demikian, saat melihat kedua mata Aisyah yang sembab bahkan masih menyisakan genangan cairan bening di sudut matanya.
"Kamu tadi pulang sama Indar, Mas?" Aisyah membalas dengan pertanyaan juga.
Kening Bayu pun berkerut. Mungkin ia bingung kenapa Aisyah bisa tahu tentang hal tersebut.
"Iya. Tadi Indar WA. Katanya dia kerja nggak bawa motor, makanya mau ikut pulang sama Mas. Kebetulan jam pulang kerja kami sama, jadi sekalian aja," terang Bayu apa adanya.
"Bukannya tempat kerja dia jauh dari tempat kerja Mas, ya? Rumahnya juga jauh dari sini. Kok, Mas mau menjemput dia dulu, dan mengantarkan dia sejauh itu? Sedangkan waktu itu Mas selalu malas mengantarkan Aish kerja gara-gara tempat kerja Aish nggak searah dengan tempat kerja Mas. Mas bilang itu boros bensin, kan? Kenapa sama Indar Mas nggak keberatan?"
Suara Aisyah meninggi di akhir kalimatnya. Ia sudah benar-benar lelah dengan semua sikap Bayu yang sama sekali tidak menghargainya, sedangkan Bayu tidak bisa menyangkalnya. Ia terpaku melihat Aisyah berbicara keras kepadanya.
"Aish mau pulang ke rumah bapak, Mas. Aish butuh menenangkan diri."
"Kamu ngomong apa? Mas nggak setuju kamu pulang ke rumah bapak. Nanti mereka berpikir yang nggak-nggak." Bayu mencoba mencegah, tetapi Aisyah sudah teramat lelah. Tekadnya sudah bulat untuk pulang ke rumah orang tuanya.
"Aish udah capek, Mas. Kalau memang Mas begitu berat meninggalkan janda genit itu, biar saja Aish yang pergi. Aish juga nggak peduli kalau kalian memutuskan untuk bersama. Aish do'akan semoga kalian bahagia."
Perkataan itu sontak membuat Bayu terperangah. Ia benar-benar tidak menyangka jika Aisyah nekat ingin berpisah.
...*************...
...To be continued...
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏