
...Selamat membaca...
...************...
Hari pertama bekerja setelah beberapa waktu off membuat Aisyah kewalahan. Begitu banyak pekerjaan yang harus dia cek sebelum ia laporkan kepada Pak Arseno. Memang selama ini ada yang menggantikan tugas Aisyah, tetapi karena rasa tanggung jawabnya, Aisyah harus meneliti kembali berkas-berkas yang menumpuk di meja sebelum ia serahkan kepada supervisor.
Sejak pagi, Aisyah terlihat begitu serius membuka dokumen. Sesekali fokusnya tertuju pada layar datar di hadapannya. Tangannya dengan cekatan merevisi beberapa bagian yang dirasa kurang sesuai. Selama ini Pak Arseno menyukai kinerja Aisyah. Sebab Aisyah adalah orang yang begitu teliti.
Pukul sepuluh Septian bangkit, ia melewati meja Aisyah. Pandangannya tidak bisa dicegah untuk tidak melirik wanita yang sedang sibuk di depan layar monitor. Dalam hatinya berkata, wanita itu tetap cantik meskipun dalam kondisi penuh beban pekerjaan. Hal itu tentu membuatnya tersenyum.
Sekitar lima belas menit, Septian kembali ke ruangan dengan membawa 2 cup kopi panas. Dia berhenti sejenak di depan meja Aisyah.
"Serius amat. Nih, ngopi dulu biar relaks." Belum sempat Aisyah membalas, Tian sudah melesat dan kembali ke mejanya.
Aisyah hanya bengong memandang cup kopi yang masih mengepulkan asap panas. Pandangannya beralih ke arah Septian. Dilihatnya lelaki itu sedang menyesap kopinya. Kemudian matanya tertuju pada Aisyah. Sejenak mereka saling pandang. Aisyah mengucapkan terima kasih. Hal itu terlihat dari gerak bibirnya meskipun tanpa suara. Sedangkan Septian membalasnya dengan anggukan ringan dan senyum simpulnya.
Jam makan siang telah tiba. Aisyah buru-buru membereskan mejanya. Witri yang melihat hal itu pun bergegas membereskan meja kerjanya yang berantakan.
"Aish, ke kantin, yuk! Sudah waktunya aku memperbaiki gizi," ucap Witri yang masih sibuk dengan berkas di meja.
"Iya, Mbak. Tapi aku ke toilet dulu, ya. Dari tadi rasanya sudah sakit. Aku mau pumping dulu. Ntar aku nyusul ke kantin."
Aisyah berlalu begitu saja. Sudah sejak tadi dia menahan sakit akibat *********** yang mengeras.
"Aisyah mau ke mana, Mbak? Kok, buru-buru gitu?" Septian yang penasaran akhirnya bertanya kepada Witri.
"Oh, biasalah mahmud."
"Biasa gimana, Mbak? Aisyah nggak kenapa-napa kan?" selidik Septian.
"Eh, kamu punya istri kan? Coba ntar tanya sama istri kamu, apa yang terjadi sama wanita yang masih menyusui," jawab Witri enteng.
Hal itu membuat Serptian bungkam. Lelaki itu menarik napas dalam-dalam. Ada rasa sesak yang ia rasakan, rasa yang selama ini membuatnya sulit untuk tersenyum.
__ADS_1
"Kok bengong, jangan-jangan kamu jatuh cinta sama Aisyah, ya?" goda Witri yang melihat Septian tiba-tiba saja terdiam.
"Ngomong apa, sih, Mbak. Nggak mungkinlah. Aisyah itu istri orang. Ayo ke kantin! Kali ini aku yang traktir." Septian melangkah begitu saja. Dia tidak ingin mendapat pertanyaan yang bisa membuatnya terpojok.
...************...
Aisyah keluar dari toilet wanita dengan rasa lega. Tas berisi ASI yang baru saja ia pompa, ia jinjing menuju kantin. Aisyah berpikir, jika ia membawa tas itu kembali ke ruangannya, pasti waktu makan siangnya keburu habis. Lagi pula Aisyah tidak ingin Witri menunggu terlalu lama.
"Aish, di sini." Terlihat Witri melambaikan tangannya begitu melihat Aisyah melewati pintu kantin.
Aisyah bergegas menghampiri Witri. Di sana Septian sudah duduk sambil menikmati es jeruk. Aisyah segera bergabung bersama mereka.
"Ini minuman kamu. Ibu menyusui nggak boleh terlalu banyak minum es. Jadi, Mbak pesenin jeruk anget saja." Witri mendorong gelas berisi jeruk hangat ke arah Aisyah.
"Terima kasih, Mbak. Mbak Witri memang orang paling baik sedunia," ucap Aisyah dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. "Tapi, Mbak. Kenapa ini makanan banyak banget?"
"Selera Mbak Witri berubah, ya?" selidik Aisyah yang menatap Witri penuh curiga.
"Ck! Enggaklah. Ini gegara dia." Witri menunjuk ke arah Septian dengan dagunya.
Aisyah yang tidak paham hanya memandang Septian dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ya, kan tadi kita nggak tahu kamu ke toilet berapa lama. Jadi kupikir untuk menghemat waktu, kita makan di kantin aja." Septian mencoba menjelaskan. Pasalnya tadi Witri mengusulkan untuk makan nasi padang di warung seberang kantor mereka.
"Sebanyak ini?" Aisyah mencoba mencari kepastian.
"Tenang. Ini aku yang traktir, kok. Anggap saja untuk merayakan pertemuan dan pertemanan kita." Septian hanya nyengir membalas tatapan Aisyah.
"Bohong, Aish. Tian, tuh, udah kayak emak-emak. Dia lebih cerewet dari aku. Dia bilang, kalau makan nasi padang tuh nggak bagus buat ibu menyusui. Karena apa? Karena kamu sering khilaf sama sambelnya. Kasihan debaynya dia bilang," terang Witri panjang lebar sembari menikmati makanan gratisnya.
__ADS_1
"Gitu, ya?"
"Kamu harus makan makanan bergizi. Ini semua sumber protein yang sangat baik untuk ibu dan bayi. Sudah makanlah, jangan banyak bicara!" seru Septian.
"Tuh, kan. Dia udah kayak suami kamu aja. Ngatur ini, ngatur itu. Eh, jangan-jangan kamu beneran naksir Aish, ya?"
"Uhuk ... uhuk ...."
Septian mendadak kesulitan untuk menelan makanannya. Sedangkan Aisyah memelototi Witri yang justru tertawa melihat tingkah Septian.
"Emang aku nggak boleh berteman sama Aisyah, Mbak?" tanya Septian tenang.
"Siapa bilang? Boleh, kok. Bahkan boleh banget. Dan akan sangat boleh sekali kalau kamu sering traktir kita makan siang kayak gini. Iya, kan, Aish?"
Aisyah yang merasa tidak enak menjadi salah tingkah. Pasalnya dia baru saja bertemu Septian hari ini dan Aisyah belum bisa akrab seperti sikap Witri dan Tian.
"Mbak Witri jangan gitu. Nggak baik kita manfaatin kebaikan orang untuk kepentingan pribadi." Aisyah menyenggol siku Witri. "Maafkan saya, Pak Tian. Tidak seharusnya Bapak memperlakukan saya seperti ini."
Mendengar ucapan Aisyah, Witri tertawa semakin keras. "Aish, aduh, Aish. Kamu nggak usah sopan-sopan ke dia. Tian itu 11 12 sama kita. Jadi, ya, anggap saja teman lama."
"Benar, Aish. Jangan terlalu formal. Jangan sungkan juga. Besok juga lama-lama kamu paham gimana saya. Sudah, ayo habisin makanannya! Ntar keburu habis waktunya."
Aisyah mengangguk, mereka pun melanjutkan makan siang dengan tenang. Aisyah begitu bersyukur jika kehidupannya di pabrik dikelilingi orang-orang baik.
"Andaikan Mas Bayu, Bapak, dan Erina bersikap baik seperti Witri dan Pak Tian, aku rela menjadi pengangguran di rumah mertua dan fokus mengurus Zahra," harap Aisyah dalam hatinya.
Aisyah tersenyum getir mengingat perlakuan ayah mertua dan adik iparnya. Ditambah sikap Bayu yang selalu menyalahkan dirinya tanpa mau mendengar penjelasannya. Aisyah menghela napas dalam. Ia mencoba menyembuhkan luka yang berkali-kali berdarah.
Tanpa ia sadari, sepasang mata yang mengawasinya di tengah hiruk-pikuk denting alat makan itu mampu membaca setiap luka yang Aisyah rasakan.
...***************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
Gaes, karena hari ini, hari Senin. Jangan lupa kasih vote buat author ya😊 biar othor makin semangat nulisnya😘😘
__ADS_1