Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
69_Kami Bisa Bekerja Lagi Di Sini!


__ADS_3

...Selamat membaca...


...***********...


 


Agung tidak bisa lagi memaksa kehendak Aisyah. Ia masih berharap jika Aisyah akan berubah pikiran, bukan untuknya melainkan untuk Zahra.


 


"Ya sudah, bapak hanya memberikan saran. Bapak masih berharap kamu mau berpikir ulang kembali mengenai keputusan yang kamu ambil. Semoga keputusan kamu yang terbaik untuk semuanya. Jangan lupa berdoa, meminta petunjuk kepada Allah. Bapak yakin, Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk kalian."


 


"Iya, Pak. Makasih nasihatnya." Aisyah kembali ke kamarnya untuk menemani Zahra.


 


Agung berjalan menjauh dari meja makan dan menuju teras rumah. Diambilnya ponsel dari dalam saku dan menghubungi Diana. Barangkali Aisyah akan lebih mendengarkan Diana.


 


"Assalamualaikum, Pak," sapa Diana begitu mengangkat telepon Agung.


 


"Waalaikumsalam, Nak. Gimana kabarnya di sana? Lancar kerjanya?"


 


"Alhamdulillah, Pak, keadaan Diana baik. Kerjaan juga alhamdulillah lancar, tapi masih sering ke sana ke mari biar target Diana tercapai. Bapak sendiri sehat, kan?"


 


"Alhamdulillah, Nak, bapak juga sehat. Ada Aisyah juga nginap di sini."


 


Agung menceritakan semua tentang permasalahan Aisyah dan keputusannya untuk bercerai dengan Bayu. Ia ingin meminta bantuan Diana untuk berbicara kepada Aisyah, agar Aisyah berpikir ulang mengenai keputusannya.


 


"Baik, Pak. Lusa Diana ada jadwal cuti, insyaallah Diana pulang, Diana coba bicara sama Mbak Aisyah. Yang penting sekarang Mbak Aisyah biar tenang dulu, Bapak juga yang sabar dan berdoa."


 


"Iya, Nak. Hati-hati di sana, ya. Assalamualaikum," ucap Agung mengakhiri percakapannya.


 


"Waalaikumsalam."


 


...*************...


Sesuai ucapan Diana kemarin lusa, ia akan pulang hari ini. Ia pun menyiapkan keperluannya agar tidak ada yang tertinggal.


 


Tepat pukul sepuluh pagi, Diana sudah sampai di depan rumahnya. Ia di sambut dengan senyum sang ayah. Sebelumnya ia sudah menghubungi Agung jika ia akan sampai sebentar lagi.


 


"Assalamualaikum, Pak." Diana menghambur ke pelukan Agung.


 


 


Selang beberapa saat, Diana mengurai pelukannya. "Bapak sehat, kan?"


 


"Alhamdulillah, Nak. Ayo, bawa barangnya ke dalam. Mbakmu baru saja masuk ke kamar untuk menemani Zahra," ucap Agung.


 


Diana segera membawa barangnya ke dalam kamarnya. Lalu mencuci tangan, kaki dan mukanya setelah perjalanan jauh.


 


Tok tok tok!


 

__ADS_1


"Mbak, ini Diana. Aku pulang," ucap Diana pelan, takut mengganggu Zahra.


 


Aisyah yang mendengar suara Diana bergegas membuka pintu kamarnya. Ia terkejut saat mendapati tubuh Diana benar berdiri di depan kamarnya. "Kamu pulang, Dek?" tanya Aisyah dengan air mata yang sudah menumpuk.


 


Diana mengangguk pelan dan tersenyum.


 


Aisyah lekas memeluk tubuh adik yang dirindukannya itu. Pelukan erat yang seakan mencurahkan kerinduan dan kesedihan yang ia rasakan. Ingin sekali ia menceritakan tentang semua permasalahannya pada Diana. Meminta solusi atas permasalahan yang ia hadapi.


 


"Kamu kenapa nggak ngabarin Mbak?" tanya Aisyah sesenggukan.


 


Diana meringis. "Ingin memberikan kejutan sama Mbak Aisyah."


 


 


"Mbak seneng kamu pulang. Ayo masuk kamar, Zahra sudah bangun."


 


"Oh iya, sampai lupa aku dengan keponakan baruku." Diana segera masuk dan menggendong Zahra.


 


Sembari menimang Zahra, Diana pun memberanikan diri bertanya tentang hubungannya dengan Bayu. Walaupun ia sudah mengetahui dari ayahnya, Diana hanya berpura-pura tidak mengetahuinya.


 


Air mata perlahan mengalir begitu Aisyah memulai ceritanya. Tidak ada yang ia kurangi atau tambahi. Ia merasa tertekan saat dipaksa harus mengerti dengan keadaan orang lain, sedangkan tidak ada orang lain yang mengerti dengan keadaannya.


 


Aisyah juga bercerita jika semenjak peristiwa ini, Aisyah merasa trauma akan pernikahan.


 


 


"Sepertinya Zahra menyukaimu, Dek. Dia tidak rewel, bahkan sekarang malah ketiduran saat kamu gendong." Aisyah pun tertawa melihat tingkah Zahra yang dengan mudah tertidur di gendongan Diana, walaupun mereka jarang bertemu.


 


"Sudah cocok jadi ibu ya, Mbak," timpal Diana dan mereka pun tertawa.


 


"Ssstt! Nanti Zahra kebangun. Kasian kamu, baru sampai dan harus istirahat. Mbak juga masih harus nyuci baju."


 


Diana menahan dirinya agar tidak tertawa kencang. Setelah itu ia menaruh kembali Zahra di atas tempat tidur.


 


Melihat Zahra tertidur pulas, ia merasa kasihan dengan Aisyah, begitu sakit yang ia rasakan hingga mengalami trauma akan pernikahannya.


 


Lalu, bagaimana dengan Zahra? Anak sekecil ini belum tahu apa-apa tentang permasalahan orang tuanya, tetapi sudah menanggung akibatnya.


 


"Mbak, apa pun keputusan Mbak Aish, Diana harap itu menjadi keputusan yang terbaik untuk semuanya. Diana mendukung apa pun yang Mbak Ais lakukan, asalkan tidak ada sebuah penyesalan di akhir. Diana tahu, sebelum Mbak memutuskan untuk bercerai, pasti sudah pertimbangkan matang-matang. Ais hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Mbak."


 


Diana mengusap pelan bahu Aisyah untuk menenangkannya. Memberi kekuatan seakan mengatakan bahwa semua baik-baik saja.


 


"Makasih ya, Dek, sudah mengerti Mbak. Semoga laki-laki yang mendapatkanmu adalah laki-laki yang mampu bertanggung jawab dan bisa memahami keadaanmu."


 


"Aamiin. Rencana Mbak Aish selanjutnya bagaimana?"

__ADS_1


 


"Setelah ini, Mbak mau cari kerja. Bagaimanapun Mbak nggak bisa menggantungkan hidup ke Bapak."


 


"Lalu Zahra?"


 


"Nah, itu yang masih Mbak pikirkan. Siapa yang akan menjaga Zahra? Mbak nggak mungkin meminta bapak untuk menjaganya, kan?" keluh Aisyah.


 


"Ya udah, nanti biar Diana yang jagain Zahra. Mbak tenang aja. Kasian bapak juga, Mbak. Beliau sudah sepuh," usul Diana.


 


"Kalo kamu yang jaga, kerjaan kamu gimana, Dek?" Sebenarnya usul Diana bisa dipikirkan, tetapi ia tidak bisa egois. Hanya demi dirinya, akan mengganggu pekerjaan Diana.


 


"Mbak tenang saja, aku nanti coba ngomong sama atasanku. Mungkin aku bisa minta untuk pindah tugas di sini saja."


 


"Beneran, Dek?" tanya Aisyah ragu.


 


Diana mengangguk. Walaupun ia belum tahu apakah permintaannya disetujui atau tidak, yang penting Zahra masih dalam tahap pengawasan.


 


"Alhamdulillah, terima kasih, Dek. Mbak coba hubungi teman Mbak," ucap Aisyah antusias.


 


...*************...


 


Sebelumnya Aisyah sudah minta bantuan Witri untuk mencari lowongan pekerjaan dan sudah mendapatkan di beberapa tempat. Hanya saja, Aisyah belum merasa cocok untuk bidang yang Witri tawarkan.


 


Hari ini Aisyah mendapat pesan dari Witri dan mengabarkan bahwa ia sudah berhasil membujuk Pak Seno agar Aisyah kembali bekerja di perusahaan.


 


Aisyah masih tidak percaya dengan ucapan Witri, ia pun langsung menghubunginya. "Benar Mbak? Aku bisa bekerja lagi di sana?"


 


"Iya, Aish. Kamu bisa bekerja lagi di sini Senin depan. Aku seneng kita bisa kerja bareng lagi," ucap Witri.


 


"Alhamdulillah, Mbak. Aku juga seneng bisa kerja lagi di sana."


 


Begitu selesai telepon, Aisyah pergi ke kamar Diana. Melihat Diana yang masih bermain ponsel, ia pun menghampirinya.


 


"Di, Mbak sudah dapat kerja lagi di tempat yang dulu. Mulai Senin mbak sudah kerja."


 


"Alhamdulillah, Mbak. Ini aku juga udah dapat kerja di sini. Tempat kerjaku kemarin tidak menyetujui permintaanku, jadi terpaksa resign."


 


"Maafin Mbak ya, Dek. Mbak merepotkan banyak orang, kamu juga kena imbasnya," ucap Aisyah penuh penyesalan.


...************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2