
...Selamat membaca...
...*************...
Punggung Aisyah makin menghilang ditelan gelapnya malam. Namun, perih yang ia rasakan di setiap embusan napasnya semakin menyakitkan. Tidak tanpa alasan Septian memiliki rasa yang tidak semestinya. Lelaki itu paham betul bagaimana perasaan Aisyah. Ya, sebab dia pun setiap hari mengalaminya.
"Tidak, tidak, tidak."
Septian memukul kepalanya sendiri. Berkali-kali ia menggeleng. Septian berusaha keras menolak setiap denyut yang menganggunya ketika melihat Aisyah tersakiti. Akan tetapi, seberapa keras dia berusaha menepis rasa itu, justru bayangan Aisyah semakin lekat dalam benaknya. Hingga akhirnya, Septian menyerah dan pasrah menjalani takdir yang sudah terlukis untuknya.
Tiba di sebuah rumah minimalis nan asri, Septian segera memasukkan motornya ke garasi. Di sana sudah terparkir Honda Jazz putih milik istrinya.
"Tumben, biasanya jam segini baru pulang. Ini kenapa sudah ada di garasi?" batin Septian.
Tidak ada sambutan hangat ketika dirinya memasuki rumah. Salamnya pun tidak ada yang membalas. Ruang tamu sudah gelap. Hanya lampu temaran dari ruang tengah menjadi sumber cahaya yang terlihat dari pintu utama.
Begitu Septian akan memasuki kamarnya, dia terusik oleh ruangan di sebelah kamar yang masih tampak terang. Septian urung membuka pintu kamar dan beralih ke ruang sebelah yang tidak lain adalah ruang kerja istrinya. Diketuinya sekali dan perlahan ia putar handle pintu. Di dalam, terlihat wanita itu masih fokus di depan laptop hingga tidak menyadari kehadiran Septian.
"Tumben sudah pulang. Jam segini, kok, masih kerja?" Septian melirik penunjuk waktu yang menempel di dinding.
"Eh, sayangku sudah pulang?" jawab wanita itu dengan senyumnya.
"Kamu terlalu sibuk dengan kerjaanmu, sampai suara motorku tidak terdengar olehmu." Septian menarik napas dalam-dalam. Ia sudah tidak bisa lagi untuk marah. Karena ia terlalu mencintai wanita yang sudah bertahun-tahun menjadi pendamping hidupnya.
"Maaf, sayang. Aku tadi pulang awal habis rapat di hotel dekat kantor kamu. Sampai rumah aku ketiduran. Baru jam sepuluh terbangun dan keingat belum bikin laporan untuk aku presentasikan besok di kantor."
Septian sudah terbiasa dengan jawaban sang istri yang seperti itu. Ia memahami jika istrinya adalah seorang workaholic. Jadi percuma berdebat dengannya, karena pada akhirnya Septianlah yang akan kecewa.
"Mau kubuatin kopi?" tawar Septian.
"Nggak usah, sayang. Aku tadi minum ini." Tolak wanita itu sambil mengangkat kopi kemasan dalam kaleng.
"Kalau begitu aku istirahat dulu, ya. Selamat malam." Septian menutup pintu ruang kerja istrinya tanpa menunggu balasan selamat malam darinya.
Tubuhnya begitu lelah. Pun dengan pikirannya. Ia segera mengguyur tubuhnya dengan air hangat dan ingin segera rebahan di atas ranjangnya yang terasa dingin.
Malam semakin larut, tetapi Septian tidak dapat memejamkan mata sekalipun tubuhnya lelah. Bayangan wajah Aisyah ketika diperlakukan dengan tidak sopan di depan matanya tadi begitu menganggu. Ia teringat kejadian beberapa tahun lalu ketika dirinya menerima perlakuan yang sama.
__ADS_1
...*************...
... ...
Hari ini Septian masih mendapat shift dua bersama Aisyah dan Aldi. Dia sengaja berangkat lebih awal untuk mampir ke minimarket.
"Benar kata Witri, aku harus mempunyai ini sebagai senjata di saat darurat," ucapnya dalam hati. Septian membeli beberapa biskuit dan roti untuk bekal di kantor.
Udara panas siang itu terasa begitu menyengat. Septian berhenti di perempatan ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Tanpa sengaja ia menangkap sosok Aisyah berada di dalam sebuah angkot. Wanita itu berdesak-desakan bersama beberapa pengguna angkot lainnya.
Septian merasa kasihan dengan wanita itu. Apalagi ketika mengingat kejadian semalam di halte depan pabrik. Selama ini Septian hanya mendengar dari cerita Aisyah ketika dia mengatakan kepada Witri. Namun setelah melihat kejadian semalam, Septian mengambil kesimpulan jika selama ini Aisyah tertekan.
"Ais, bareng sampai tempat parkir, yuk!" ajak Septian ketika mereka tiba di depan pabrik.
"Nggak usah, Pak. Terima kasih." Aisyah menolak tawaran Septian dengan halus.
Melihat Aisyah berlalu, Septian bergegas menuju tempat parkir. Dia segera mengejar Aisyah setelah memarkir motornya. Langkah lebarnya dengan mudah menyejajari Aisyah.
"Ini aku yang terlalu awal apa kamu yang kesiangan, Ais?" canda Septian mencoba menghidupkan suasana kaku di antara mereka.
Aisyah yang canggung akibat Septian melihat dengan jelas kejadian semalam, merasa malu bertemu Septian.
"Ais, bisa nggak, sih, kamu jangan panggil aku bapak? Aku kan jadi sungkan," Septian menggaruk tenggkuknya meskipun tidak terasa gatal.
"Sudah benar untuk mendekati kamu, Ais," batinnya.
"Anak kamu sakit?" tanyanya.
Aisyah tersenyum, " Pertama karena posisi Bapak lebih tinggi ketimbang saya. Kedua karena kita belum lama bertemu. Dan ketiga, anak saya sedikit demam, Pak."
Mendengar hal itu Septian tertawa hingga matanya menyipit, "Kamu lucu Aish. Baru kali ini aku bertemu dengan orang seperti kamu. Apa karena kamu sudah terkontaminasi sama Witri, ya?"
Ujung alis Aisyah mengkerut, dia bingung di bagian mananya yang lucu.
...***********...
... ...
Jam tujuh malam, seperti hari-hari yang lalu adalah jam untuk Septian minum kopi. Ia bangkit dari kursinya dan merengganggkan otot pundak yang terasa kaku.
__ADS_1
"Ada yang mau kopi buatanku?" teriaknya.
"Kalau tidak merepotkan, Pak." Aldi mengangkat jarinya tinggi-tinggi sambil nyengir ke arah Septian.
"Kamu mau Aish?" Septian menoleh ke arah Aisyah yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
Aisyah mengalihkan atensinya, " Boleh, Pak. Sepertinya saya sudah mulai ketularan Aldi."
"Emang kopi buatan Pak Tian itu nyandu, Mbak Ais. Dulu waktu saya SMA, saya sering nyisihin uang jajan cuma buat ngopi di kafe Cangkir," kenang Aldi akan masa lalunya. Hal itu membuat ketiga orang di ruangan itu tertawa.
...*************...
... ...
Aisyah berjalan tergesa menyusuri lorong. Sebagian ruangan-ruangan dalam kantor itu sudah gelap. Namun tidak sedikit yang masih terang. Hal ini menandakan bahwa di ruangan itu masih ada yang lembur ataupun mendapat shift dua.
"Ais, kenapa buru-buru?" tanya Septian masih terengah akibat mengejar langkah Aisyah.
" Di sini susah sinyal, Pak. Saya harus segera memesan ojol. Takut kemalaman," jawab Aisyah.
"Suami kamu nggak jemput?" selidik Tian.
"Enggak, Pak. Suami saya dapat shift tiga."
"Aku antar, ya, Aish." Spontan tangan Septian meraih tangan Aisyah.
Sontak hal itu membuat Aisyah terkejut dan menghentikan langkahnya. Aisyah memandang tangannya yang berada dalam genggaman Septian.
"Ops, maaf. Maafkan saya." Septian yang segera tersadar langsung melepas tangan Aisyah. Dia salah tingkah mendapat tatapan Aisyah yang sulit diartikan. "gimana, Aish. Aku antar, ya. Daripada kamu kelamaan nunggu ojol."
"Terima kasih atas kebaikan Bapak. Ini saya sudah dapat driver." Sekali lagi Aisyah menolak dengan lembut.
"Ya, sudah. Aku temani sampai driver-nya datang. Kamu nunggu di halte, kan? Aku ambil motorku dulu." Septian berlari begitu keluar dari pabrik.
Sedangkan Aisyah berjalan menuju halte. Seperti halnya semalam, Septian duduk bersama Aisyah hingga ojol datang membawa Aisyah pergi. Tanpa sepengetahuan Aisyah, Septian mengikuti dari belakang. Sejujurnya Septian mengkhawatirkan Aisyah. Septian pun paham jika Aisyah pasti akan menolak tawarannya. Hanya dengan mengikutinya Septian merasa tenang. Setidaknya, lelaki itu bisa memastikan Aisyah selamat sampai di rumahnya.
...**************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1