Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
58_Jauhi Dia, Mas!


__ADS_3

...Selamat membaca...


...************...


 


Setibanya di rumah kontrakan, air mata yang sedari tadi dikeluarkan Aisyah tak kunjung reda. Namun justru malah semakin deras. Perasaan marah, sakit, kecewa dan benci kepada suaminya kini semakin menyelimuti dinding hati Aisyah. Sebegitu perhatiannya Bayu kepada Indar, hingga ia tega mengabaikan Aisyah dan Zahra yang menyambutnya di bibir pintu. Bahkan saat itu Bayu belum sempat menjejakkan kakinya di hadapan Aisyah, Bayu langsung pergi meninggalkannya begitu saja tanpa berpamitan.


 


Setelah menghapus sisa tetesan air mata dan menaruh Zahra yang tengah terlelap dalam gendongan ke atas tempat tidur, Aisyah gegas mencuci wajahnya yang sembab karena terlalu lama menangis. Aisyah menatap nanar pantulan dirinya di depan cermin.


 


“Mas Bayu, sebegitu perhatiannya kamu pada Indar. Hingga kamu dengan rela sepulang bekerja mengantarkannya pulang. Tapi kenapa jika Aish yang meminta, kamu selalu mengatakan jika Aish adalah wanita manja, dan istri yang tidak mandiri. Tahukah kamu, Mas, kalau Indar itu sebenarnya menaruh hati padamu. Janda gatel itu berusaha merebutmu dariku dan Zahra, Mas,” gumam Aisyah. Tangannya meremas sisi rok yang ia kenakan begitu keras, ia menahan amarahnya.


 


...************...


 


Selama di perjalanan menuju ke rumahnya, Indar selalu saja merapatkan duduknya di atas boncengan motor Bayu. Seolah-olah ia sedang mencari kenyamanan di atas bahu bidang milik Bayu. Tidak banyak percakapan yang tercipta di antara keduanya, mungkin karena Bayu yang memang sedang lelah sepulang bekerja. Namun, bagi Indar itu tidak masalah. Ia cukup puas karena Bayu lebih memilih mengantarkannya pulang ketimbang menghampiri Aisyah dan putrinya yang berada di ambang pintu.


 


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya sampailah Bayu dan Indar di depan rumah kontrakan milik Indar.


 


“Bay, masuk dulu, yuk!” ajak Indar.


 


“Makasih, In, tapi ini sudah hampir magrib. Aku harus pulang,” jawab Bayu.


 


Mendengar Bayu yang kekeh ingin pulang, Indar bisa apa. Akhirnya dengan perasaan kecewa karena permintaannya telah di tolak oleh Bayu, Indar pun memasang wajah sedihnya.


 


“Yah, jadi mau pulang nih. Padahal aku mau cerita banyak loh sama kamu, Bay. Tapi karena kamu mau pulang, ya, sudahlah. Lain kali aja deh aku ceritanya.” Indar memasang mata puppy eyes di hadapan Bayu, berharap Bayu akan luluh dengan tatapan matanya yang seolah ingin di kasihani. Namun, harapan Indar hanyalah harapan semu. Karena ternyata Bayu tetap memilih untuk pulang.


 


“Maafkan aku, In. Lain kali aku akan mampir. Sekarang aku benar-benar lelah dan ingin beristirahat. Lagi pula saat ini Aisyah dan Zahra pasti sedang menungguku,” jawab Bayu dengan gurat lelah di wajahnya.


 


“Ya sudah kalau gitu, kamu hati-hati di jalan, ya,” pinta Indar yang membuat Bayu tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya kemudian segera pergi menggunakan motor bebeknya.


 


...************...


 


“Assalaamualaikum,” ucap Bayu saat masuk ke dalam rumah orang tuanya.


 


“Waalaikumusalam,” jawab semua orang yang berada di dalam rumah.

__ADS_1


 


Melihat tidak ada istrinya di antara mereka membuat Bayu penasaran. Pasalnya kebiasaan di rumah ini, jika menjelang Maghrib, seluruh orang yang ada di dalam rumah akan berkumpul di ruang keluarga. Tidak akan ada seorang pun yang berada di dalam kamar termasuk Aisyah.


 


“Loh, Aish mana, Bu?” tanya Bayu heran karena tidak melihat istri dan anaknya.


 


“Aish tadi pamit pulang tidak lama setelah kamu pergi mengantarkan Indar, Nak,” terang Ambar menjawab pertanyaan Bayu.


 


“Loh, kok, nggak nungguin Bayu, sih, Bu. Paling enggak seharusnya Aisyah izin dulu sama Bayu.” Bayu mulai di landa kesal.


 


“Memang istri kamu itu, Bay. Nggak ada sopan-sopannya. Pulang ke rumah main pergi-pergi saja tanpa izin dari suami. Coba si Indar, sudah baik, berpendidikan, tidak pelit, sopan lagi kalau sama orang tua. Beda banget sama Aisyah. Sudah perhitungan, kalau memberi bapak dan ibu pakaian pasti beli di pasar dengan harga yang murah,” sahut Herman.


 


Meskipun matanya fokus menatap layar televisi, tetapi mulutnya dengan lantang ikut masuk dalam obrolan Bayu dan Ambar. Apalagi itu mengenai Aisyah. Sang menantu yang tidak sesuai dengan harapannya.


 


“Benar begitu, Bu?” tanya Bayu pada Ambar.


 


“Tentu saja benar, Mas. Masa Mas nggak percaya sama omongan Bapak.” Erina yang tengah asik menyantap lapis legit yang tadi di bawa oleh Indar pun ikut menyahut.


 


 


 “Lagi pula kalau menurut ibu, Aish adalah istri yang sempurna. Dia wanita yang rajin dan pintar. Bahkan jika menginap di sini, Aishlah yang membantu ibu mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini.” Ambar berbicara dengan suara yang sedikit meninggi. Ambar ingin suami dan putrinya yang manja itu mendengar semua ucapannya. Hal itu membuat Herman dan Erina langsung melengos tidak suka.


 


“Kalau gitu Bayu pulang dulu, Bu,”  ucap Bayu dengan semburat kesal di wajahnya.


 


“Ini sudah mau adzan Maghrib, Nak. Nanti saja setelah sholat Maghrib baru kamu pulang. Sekarang kamu masuk dan mandi dulu," titah Ambar pada putranya yang langsung dituruti oleh Bayu.


 


Akhirnya setelah menunaikan sholat Maghrib Bayu pun pamit pulang kepada kedua orang tuanya dan juga Erina yang tengah asyik menikmati makan malam. Bahkan Bayu menolak ajakan makan malam bersama karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya.


 


 


...**************...


 


Selesai sholat magrib, Aisyah duduk terdiam dengan tangan menyilang di depan dada. Ia sudah tidak sabar lagi ingin segera bicara dengan suaminya. Ia ingin meminta ketegasan dari Bayu agar tidak lagi menemui janda gatel itu.


 


Tidak lama Aisyah menunggu, ternyata yang di tunggu pun tiba. Setelah membuka pintu dan memberi salam, Bayu menatap wajah Aisyah dengan tatapan kesal dan marah. Aisyah yang juga diliputi kekesalan pun membalas tatapan Bayu. Pun tanpa babibu lagi Bayu langsung mencecar Aisyah dengan berbagai macam pertanyaan.

__ADS_1


 


“Dek, kenapa kamu pulang dari rumah ibu tanpa seizinku? Sekarang kamu mau mencoba menjadi istri yang durhaka terhadap suami. Karena pergi tanpa pamit dan tanpa izin suami!” Bayu berbicara dengan suara yang lantang yang membuat Aisyah terlonjak kaget. Namun, cepat Aisyah tutupi ketakutannya dengan rasa marah.


 


“Seharusnya kemana pun kamu pergi, kamu harus minta izin dulu sama aku. Aku ini suami kamu, Dek. Aku yang berhak atas dirimu dan aku juga yang berhak mengatur hidupmu,” ucap Bayu dengan wajah merah dan kesal. Namun, semua itu hanya dibalas oleh senyum sinis Aisyah.


 


“Sudah selesai bicaranya, Mas? Sekarang biarkan Aish yang bicara. Mas hanya cukup mendengarkan apa yang Aish ucapkan. Sama seperti Aish yang mendengarkan semua perkataan dari Mas.” Ucapan Aisyah seketika membuat Bayu terdiam. Pasalnya ia tidak pernah melihat istrinya akan setegas ini.


 


“Mas minta aku buat izin ke mana pun aku pergi. Tapi Mas pernah izin nggak ke mana Mas akan pergi? Apa mas pernah bertanya, apa Aish kecewa atau enggak terhadap sikap mas Bayu yang selalu akrab dengan janda gatel itu. Aish kecewa, Mas. Sangat kecewa,” ucap Aish dengan kesal.


 


“Namanya Indar. Bukan janda gatel,” jawab Bayu, yang tidak terima jika istrinya menjelekkan sahabatnya.


 


 “Bela terus Mas, bela! Pernah nggak mas Bayu membela Aish. Pernah nggak mas Bayu perhatian sama Aish. Mas selalu, selalu, dan selalu meminta Aish untuk mandiri. Tapi nyatanya Mas Bayu selalu saja memanjakan perempuan itu.  Sekarang Aish minta sama Mas Bayu untuk tegas sama perempuan itu. Aish mau Mas jauhi dia. Aish nggak suka melihat kalian terlalu dekat. Kalian itu bukan muhrim, Mas. Apa kata orang kalau melihat seorang lelaki beristri jalan berdua dengan seorang janda.” Teriakan Aisyah memenuhi ruang tamu. Ia mengungkapkan seluruh kekesalan yang ia selama ini ia pendam.


 


Namun, jawaban Bayu sungguh membuat hati dan jiwa Aisyah sangat sakit, bagai di hujam belati besi.


 


“Maafkan mas, Aish. Mas nggak bisa menuruti semua permintaan kamu. Indar adalah sahabat mas, dia di sini sebatang kara. Mas kasihan sama dia. Jadi tolong kamu mengerti Aish. Karena mas gak akan pernah menjauhi dia."


...*************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2