Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
62_Keputusan Aish Sudah Bulat!


__ADS_3

Bab 62


...Selamat membaca...


...*************...


"Terkadang, rasa kecewa akan membuatmu lebih kuat."


            _  Aisyah Khumairah _


 


Saat ini Zahralah kekuatan bagi Aisyah,  sebab bayi itu yang bisa membuatnya selalu bahagia di tengah sakit yang jelas terasa. Zahra adalah mataharinya, yang memberikan kekuatan untuk jiwa dan raganya. Aisyah tidak bisa membayangkan apabila tak ada Zahra di sisinya.


 


Dua hari berlalu semenjak kedatangan Aisyah di rumah orang tuanya. Wanita itu kini terlihat lebih tenang. Agung pun mencoba untuk kembali mengajak Aisyah berbicara.


 


 Dengan hati-hati, Agung bertanya mengenai Bayu. Sebagai orang tua, sebenarnya Agung tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga putrinya. Namun, ia hanya ingin membantu memberi jalan keluar. Sebab Aisyah dan Bayu bukanlah anak kecil lagi. Tidak seharusnya rumah tangga mereka dibuat mainan.


 


“Sedang apa, Nduk?” tanya Agung pada Aisyah yang terlihat sibuk di dapur.


 


“Eh, Bapak. Ini Aish sedang mencoba membuat kue brownies coklat, seperti yang sering dibuat ibu dulu,” jawab Aisyah yang sedang mengaduk semua bahan menggunakan mixer.


 


“Wah, benarkah itu, Nduk. Sepertinya kue buatan kamu akan enak seperti kue buatan almarhumah ibumu,” kata Agung antusias dengan apa yang sedang dilakukan oleh Aisyah.


 


“Sudah lama bapak ingin makan kue brownies coklat seperti buatanmu dan ibumu, tapi bapak tidak pernah menemukan rasa yang sama,” lanjut Agung dengan wajah sendu mengenang mendiang istrinya.


 


“Bapak jangan sedih, ya. Aisyah janji, Aisyah akan membuatkan bapak, kue brownies yang sama seperti yang sering dibuat ibu dulu.” Aisyah memberikan senyum hangatnya. Ia berusaha menenangkan hati sang bapak.


 


Melihat senyum putrinya yang berselimutkan luka membuat Agung kembali pada tujuan awalnya.


 


"Nduk, sudah kamu pikirkan kembali semua perkataanmu kemarin tentang perceraian," tanya Agung. Lelaki paruh baya itu mengambil posisi duduk di samping Aisyah yang sedang membuat kue.


 

__ADS_1


"Keputusan Aish yang mana, Pak?” tanya Aisyah pura-pura tidak mengerti.


 


“Keputusan kamu ingin berpisah dari suami kamu, Bayu.” Agung menatap nanar wajah sendu putrinya.


 


“Keputusan Aish sudah bulat, Pak. Aish sudah lelah dengan semua sikap Mas Bayu dan keluarganya. Aish lelah, Pak. Aish selalu salah di mata bapak dan adiknya mas Bayu. Yah, walau ibu mertua Aish baik, itu semua gak cukup buat Aish. Selama sikap mas Bayu masih sama seperti sekarang. Lebih baik Aish memilih untuk berpisah." Aisyah menegaskan egonya.


 


"Lelah boleh, Nduk. Tapi kamu jangan menyerah dengan keadaan ini, terkadang inilah ujian kedewasaan kamu dalam berumah tangga. Ujian dalam berumah tangga itu macam-macam, Nduk. Ada yang karena suami, mertua, anak atau soal keuangan. Jadi tinggal kitanya saja sebagai manusia harus pandai menyikapinya."  Agung mencoba memberi wejangan dengan lembut. Namun, terdengar tegas di telinga Aisyah. Agung berharap  agar anaknya memikirkan kembali semua yang akan ia lakukan.


 


"Maaf, Pak. Tapi keputusan Aisyah sudah bulat. Aish, sudah tidak ingin merasakan sakit hati lagi karena sikap mereka terhadap Aish. Sebesar apa pun Aish berbuat baik terhadap mereka, di mata mereka, Aish selalu salah,” tegas Aisyah.


 


Agung yang mendengar luapan isi hati putrinya mulai mengembuskan nafas dengan kasar. Seolah-olah ikut merasakan sakit yang selama ini di rasakan oleh putrinya.


 


“Maaf, Pak. Aish mau nanya, sebenarnya Aish ini anak Bapak bukan, sih? Kenapa seolah Aisyah ada di pihak yang bersalah. Kenapa Bapak membela Mas Bayu yang jelas-jelas salah dalam kondisi ini," sarkas Aisyah kesal dengan sikap Agung yang seakan-akan membela Bayu.


 


 


“Sudah terlalu sakitkah hatimu, Nduk.” Batin Agung seakan merasakan sakit yang di rasakan oleh putrinya.


 


"Buat apa bertahan bila selalu merasakan sakit, Pak. Apa Bapak tidak merasakan sakit setelah apa yang Aish ceritakan kemarin, mereka menyerang mental Aish, Pak," papar Aish.


 


"Untuk Aish, perceraian adalah jawaban dari semuanya. Perpisahan agar tidak ada lagi rasa sakit yang akan Aish terima," cetus Aisyah.


 


"Bapak tahukan, kalau Aish begitu mencintai Mas Bayu dan Aish berharap pun, sebaliknya.  Mas Bayu, dapat mencintai Aish dengan tulus, tapi perlakuan dia ke Aish yang terkadang membuat hati ini sakit, Pak," ucap Aisyah menatap ke depan dengan pandangan kosong.


 


"Aisyah diharuskan mandiri, nggak boleh manja hingga kehamilan Zahra yang sudah membesar pun masih saja bekerja dengan naik angkot, bisa Bapak bayangkan seperti apa?" imbuh Aisyah. Bulir bening mulai bercucuran membasahi pipi mulus milik Aisyah.


 


 “Sedangkan dengan wanita itu dia sebegitu pedulinya, Pak. Bahkan mas Bayu rela meninggalkan Aisyah berdua dengan Zahra di tengah malam demi membantu memperbaiki antena tv milik Indar yang katanya kabelnya digigit tikus.” Aisyah menjeda kalimatnya. Ia menghela napas sekedar mencari kekuatan untuk melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


 


"Ini semua, tuh, seperti nggak masuk akal kan, Pak. Dia itu hanya teman kecilnya Mas Bayu. Tidak lebih. Dia bukan siapa-siapa, tapi mengapa Mas Bayu begitu perhatian sekali pada wanita itu. Antar jemput kerja, kadang ada hal-hal kecil yang mungkin bisa dikerjakan oleh orang-orang sekitarnya, tapi Mas Bayulah yang dihubungin untuk datang ke rumahnya." Aisyah terus saja berceloteh dengan lancarnya meluapkan seluruh kekesalannya.


 


"Aisyah ini wanita, Pak. Bisa melihat mana yang benar-benar butuh tenaga dan mana yang sedang mencari perhatian,"  ujar Aish yang terdengar pasrah dengan tangis yang semakin menjadi.


 


Agung hanya terdiam mendengar semua perkataan Aisyah. Benar, ia pun merasakan sakit hati yang sama setelah mendengar semua yang putrinya ceritakan. Namun, Agung tidak bisa kalau hanya mendengarkan hanya dari sisi Aisyah saja. Ia harus mendengar dari kedua belah pihak. Termasuk dari versi Bayu.


 


“Maafkan bapak, ya, Nduk, kalau pertanyaan bapak barusan membuatmu kembali terluka. Bapak tahu semua keputusan ada di tanganmu. Bapak hanya ingin yang terbaik untuk putri bapak,” terang Agung.


 


“Maafkan Aish juga, ya, Pak. Karena membuat Bapak ikut memikirkan masalah Aish.” Aisyah menunduk malu.


 


Pembicaraan pun harus berakhir karena terdengarnya suara tangisan Zahra yang terdengar hingga ke dapur.


 


***


 


Langit sore ini begitu cantik. Warna jingga keemasan di atas dasar yang mulai gelap sungguh merupakan lukisan alam yang benar-benar indah.


 


Aisyah dan Zahra sedang bersantai di teras rumahnya. Ia berusaha melupakan segala kegalauan hatinya. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Ia selalu meyakini hal itu.


 


Aisyah sedang berusaha menyembuhkan luka yang sudah terlanjur menganga dan berharap akan ada pelangi setelah hujan. Aisyah juga berharap jika suatu hari nanti, Zahra putri kecilnya tidak akan mengalami hal perih sama seperti yang ia rasakan saat ini.


...************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


Hay readers tersayang, karena hari ini hari Senin, jangan lupa untuk kasih vote, ya. biar Author makin semangat lagi nulisnya 😘


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2