Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
61_Ingin Kembali Bekerja


__ADS_3

...Selamat membaca...


...**************...


Tidak ada yang dapat merasakan kepedihan hati ini, selain diri sendiri. Sebab aku tahu kamu bukan sedang peduli, tetapi kamu sedang mencari sela keburukanku.


..._ Aisyah Khumairah _...


 


"Sabarkan dirimu, Nak. Itulah rumah tangga, banyak suka dan duka yang terjadi di sana. Tetapi kamu harus bertahan walau terkadang sakit. Perceraian memang diperbolehkan. Namun, Allah sangat membenci hal itu, coba kamu pertimbangkan lagi perkataanmu itu, Nak. Apa kamu mau Zahra tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya?" ujar Agung menenangkan anak perempuan cantiknya. Ia harus bisa membuat Aisyah melupakan perkataannya itu.


 


"Sekarang ini suamimu sedang salah jalan, Nak. Sudah sepantasnya kamu mendampingi dirinya, jangan sampai malahan semakin salah arahnya, dengan membiarkan dia sendiri di sana. Dirmu pun pasti ada kesalahan, hanya saja Allah sedang menutup aib-aib mu, Nak." Agung terus saja memberikan masukan kepada ibu beranak satu itu, agar semuanya dipikirkan kembali dengan kepala dingin.


 


...*************...


 


Di sepertiga malam ini Aisyah bangun, ia ingin mengadukan segalanya kepada Sang Maha Pencipta, ingin berkeluh kesah lewat angin malam nan syahdu dan tenang. Ia hamparkan sajadah berwarna hijau itu lalu dipakainya mukena pemberian Bayu kala menikah dulu. Mukena berwarna hijau muda itu sudah ia kenakan dan ia pun melakukan segala aktifitas sholat malamnya dengan khusuk, meminta petunjuk untuk kelangsungan rumah tangganya. Dalam sujud panjang ia berintraksi kepada Sang Maha Agung, memohon segalanya.


 


"Ya Allah, berikan kemudahan agar aku bisa menjalani kehidupan ini dengan caramu. Ya Allah, terkadang aku lelah dengan segala kelakuan suamiku, tetapi aku masih begitu mencintainya, ialah laki-laki yang bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali tanpa paksaan." Aish bermunajat kepada Rabb-nya dengan penuh keikhlasan dan ketulusan.


 


"Ya  Allah, seandainya Mas Bayu adalah jodohku yang kau tulis di Lauhul Mahfudz, dekatkanlah selalu. Namun kalaupun bukan ia, aku berharap ialah yang tertulis di sana." dalam bersimpuh di tadahkan kedua tangannya dengan penuh keharuan.


 


...****************...


 


Pagi menjelang, setelah menunaikan semua kewajibannya sedari sholat malam hingga subuh, Aisyah kembali menjalankan segala rutinitasnya. Memasak sarapan untuk Bapak dan Zahra yang telah mengenal MPasi. Dengan cekatan ia mempersiapkan  semuanya sendiri.


 


Itulah Aisyah selalu dapat mengatasi semua kerepotannya sendiri. Setelah selesai ia pun membangunkan Zahra si bocah gembul itu, dengan mencium pipi anaknya.


 


"Zahra sayang bangun ayo, Nak. Kita mandi terus sarapan ya," ujar Aisyah sambil membuka jendela kamarnya, agar cahaya matahari dapat masuk dengan leluasa. Menurut sebagian orang sinar matahari pagi banyak manfaatnya.


 


Bocah yang menggemaskan itu pun bergerak dan membuka sedikit matanya dengan lucu, dan mulai mengoceh pelan. Digendong  sang anak menuju pintu kamar hendak memandikannya.


 


""Eh, cucu kakek yang lucu sudah bangun, mau mandi ya?" seru Agung sambil menoel pipi gembul cucu nya.


 


"Iya, Kakek," suara itu Aish yang menjawabnya.

__ADS_1


 


...**************...


 


Di ruangan yang dipenuhi berkas dan file-file pekerjaan, wanita cantik itu sibuk dengan segala aktifitasnya, dialah Witri Anggraeni sahabat dari Aisyah Khumairah. Setelah sang sahabat memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan itu, ia selalu sendiri. Witri tidak mudah bergaul dengan karyawan lainnya, kurang nyaman saja.


 


Entah mengapa beberapa hari ini ia selalu kepikiran tentang Aisyah, sedang apa wanita itu dirumah? Apakah ia telah melupakan sahabatnya sendiri? Sebab setelah resign tidak ada kabar yang jelas,  walau terkadang bertukar pesan lewat si aplikasi hijau dan melihat status Aisyah sepertinya ia bahagia, menikmati peran sebagai ibu muda.


 


Namun rasa kangennya tidak dapat dibendung lagi. Setelah semua pekerjaan selesai, wanita cantik berkemeja motif bunga itu pun menelepon Aisyah. Setelah beberapa kali menekan tombol, akhirnya tersambung juga dengan sahabatnya itu.


 


"Hallo, Asalamualaikum, Aish," sapa Witri di ujung teleponnya.


 


"Waalaikusalam Mbak Witri, apa kabar. Tumben, nih, tetepon aku, pasti kangen ya,"  ledek Aish di seberang sana.


 


"Pasti kangenlah sama ibu muda nan cantik ini," celoteh Witri menggombal.


 


"Ada apa, nih, Mbak Wit?" tanya Aisyah.


 


 


"Alhamdulilah, Aish baik-baik saja, Mbak," jawab Aishyah.


 


Setelah berbicara ngalur ngidul, Aisyah pun bertanya tentang lowongan pekerjaan di pabrik itu.


 


"Kamu mau kerja lagi Aish?" tanya Witri heran.


 


"Iya, Mbak. Aish bingung di rumah mau ngapain," keluh Aish.


 


"Kalau nanti kamu kerja lalu Zahra sama siapa di rumah, Aish?" tanya Witri heran.


 


"Iya juga sih, Mbak." tutur Aish pelan.


 

__ADS_1


"Ada apa Aish, kok kamu mau bekerja kembali? Kalau kamu nggak keberatan boleh cerita ke aku," ucap Witri penuh rasa ingin tahu.


 


Setelah didesak oleh Witri, akhirnya Aisyah menceritakan kenapa ia ingin bekerja kembali. Tentang Bayu, Indar serta kelakuan Ayah dan adik iparnya yang selama ini ia tahan demi kebahagiaan rumah tangganya. Namun semua yang telah ia korbankan tidak satu pun yang dihargai.


 


Tidak terasa  ceritanya mengalir tanpa dapat dibendung. Aisyah menangis. Tangisnya terdengar pilu di telingga Witri. Ternyata sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.


 


"Lalu apa yang kamu ingin lakukan, Aish," tanya Witri pelan. Ia pun menahan tangisnya di seberang sana.


 


"Ya, seperti yang aku bilang tadi Mbak, aku mau kerja kembali untuk kebutuhanku dan Zahra. Biarlah Mas Bayu dan keluarganya serta si janda genit itu, aku ikhlas, Mbak," suara Aisyah terdengar serak dan sesak.


 


"Aku nggak janji, Aish. Tapi aku coba usahakan permintaan kamu itu, semoga rezeki Zahra ya," ceteluk Witri menghibur Aisyah. "Kamu yang sabar ya, Aish. Nanti aku kabarin ada nggaknya pekerjaan itu," imbuh Witri.


 


Sebagai sahabat yang telah lama mengenal Aisyah, Witri pun memberikan begitu banyak nasihat agar ibu muda itu tidak salah dalam mengambil keputusan. Semoga semuanya akan baik-baik saja.


 


Setelah telepon diakhiri, Aisyah pun sedikit lega sebab sedikit beban di hatinya telah ia cerita kepada seseorang yang bisa dipercaya. Menjauh bukan berarti sudah tidak ada cinta, daripada dekat tetapi saling menyakiti dan hati tergores luka.


 


"Apakah benar keputusan yang aku ambil ini?" Aisyah termangu dalam kamarnya. Ia tatap putri kecilnya yang terlelap. Aisyah sengaja menjauh dari kasur Zahra agar ia tidak mengusik tidur siang putrinya.


 


Di kamar ini Aisyah menumpahkan segala perasaan. Ia berpikir, jika ia benar-benar berpisah dari Bayu maka ia harus memperolah pekerjaan secepatnya. Ia tidak ingin menelantarkan Zahra. Namun, sekali lagi ia harus berpikir keras. Siapa yang akan mengasuh Zahra jika ia bekerja? Mungkinkah ia minta sang ibu untuk mengasuh Zahra?


 


Aisyah mengacak rambutnya. Ia benar-benar bingung dengan posisinya saat ini. Ditambah bayangan Bayu yang selalu membela Indar kembali berkelebat dalam benaknya membuat Aisyah semakin memantapkan niatnya.


 


"Tenang sayang. Allah sudah merencakan yang terbaik untuk kita. Kita tidak perlu khawatir akan rezeki yang sudah Ia janjikan." Aisyah menghampiri Zahra. Ia tersenyum menatap putri kecilnya yang menggeliat lucu.


...*************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2