Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
68_Penyesalan Bayu


__ADS_3

...Selamat membaca...


...*************...


"Kenapa Bapak bilang kayak gitu? Hargai perasaan Bayu, dong, Pak! Harusnya Bapak mendukung pernikahan mereka. Jangan membuat Bayu tambah stress dengan perkataan Bapak tadi." Ambar meninggikan volume suaranya agar Herman yang pergi menjauh, bisa mendengar perkataannya tersebut. Namun, yang diajak bicara tetap berjalan pergi tanpa memedulikan perkataan Ambar.


 


"Pak! Bapak! Dengerin ibu dulu! Ibu belum selesai bicara, Pak," teriak Ambar lagi. Kerutan di keningnya semakin kentara melukiskan kemarahan yang mencuat di kepalanya.


 


"Udahlah, Bu. Jangan berdebat sama bapak. Yang penting, kan, Bayu nggak mau bercerai dengan Aisyah. Bayu akan tetap berusaha untuk mempertahankan rumah tangga Bayu dengan dia," cetus Bayu sambil menahan tubuh ibunya yang hendak berdiri. Ambar berniat untuk menyusul suaminya, dan menyuruhnya untuk kembali.


 


Ambar menatap sendu wajah Bayu, lalu memegang pundak anaknya tersebut, dan mengusapnya dengan lembut. "Ibu bangga sama kamu, Bayu. Kamu tidak terpengaruh dengan omongan bapak kamu. Kamu juga mau mengakui kesalahan kamu, dan berusaha untuk memperbaiki semuanya. Ibu harap kamu tetap sabar untuk mengambil hati Aisyah lagi, ya," ucapnya menasihati.


 


Bayu menganggukkan kepalanya. Senyuman pahit tersemat di bibirnya. Sebenarnya dia tidak yakin bisa meluluhkan hati Aisyah, mengingat sikap  Aisyah yang terlihat kekeuh dengan keputusannya untuk bercerai dengan Bayu.


 


...************...


 


Langit sudah menggelap ketika Bayu sampai di kontrakannya. Tugas sang mentari sudah digantikan oleh rembulan untuk menyinari bumi. Rembulan itu hanya sendiri, tak ada satu pun bintang yang menemani. Seperti sosok Bayu sekarang ini. Tanpa ditemani sang istri, hidupnya terasa hampa dan sepi.


 


Bayu tak lantas membersihkan diri setelah seharian beraktivitas di luar rumah. Setelah memasukkan motornya ke dalam rumah, Bayu pergi ke kamar, lalu merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Pikirannya kacau balau, menyertai hatinya yang sedang galau.


 


"Maafin Mas, Dek!" monolognya dengan lirih. Kepalanya menoleh ke arah kiri. Tempat biasanya Aisyah tertidur di sampingnya. Ia rindu dengan sosok istrinya, pun dengan Zahra—anaknya.


 


Bayu menyesali sikapnya selama ini, dan berniat untuk berubah menjadi seorang suami dan ayah yang lebih baik lagi. Ia juga sudah mengabaikan Indar. Ia tak ingin memikirkan wanita lain selain istri, anak, ibu, juga adiknya. Hanya mereka perempuan yang berhak mendapatkan perhatian dari Bayu sekarang. Tidak boleh ada perempuan lain yang bukan muhrimnya yang bisa merecoki kehidupan Bayu lagi.


 


Bayu memiringkan tubuhnya, lalu mengusap bantal kecil milik Zahra. Bibirnya mengulas senyuman, tetapi hatinya begitu terluka. Tanpa terasa air matanya mengalir dari pelupuk mata. Bayu benar-benar merindukan anak dan istrinya, dan menyesali semua kelakuan labilnya selama ini.


 


...**********...


 

__ADS_1


Awan kelabu menghiasi langit di ufuk Timur pagi ini. Menghalangi sinar mentari yang hendak menyinari bumi. Rintik hujan pun menghiasi jendela kamar milik Aisyah. Tanah dan pepohonan di luar pun menjadi basah.


 


Aisyah biasanya langsung berkutat dengan pekerjaan di dapur selepas menjalankan salat subuh, tetapi kini perempuan itu malah kembali tidur sambil memeluk putri semata wayangnya. Hawa dingin membuatnya malas melakukan pekerjaan.


 


"Nduk, kamu belum bangun?" Suara ketukan pintu diiringi panggilan dari Agung membuat kedua mata Aisyah mengerjap. Perlahan kedua matanya terbuka setelah terdengar panggilan kedua dari bapaknya.


 


"Iya, Pak. Sebentar!"


 


Aisyah beranjak dari tempur tidur, lalu berjalan menuju pintu lantas membukanya.


 


"Kamu kesiangan?" Agung langsung melontarkan pertanyaan saat pintu itu terbuka.


 


"Nggak, Pak. Tadi setelah salat Subuh Aish tidur lagi."


 


"Oh ... bapak kira kamu kesiangan. Tumben kamu tidur lagi, biasanya bikin sarapan," kekeh Agung. Sebenarnya lelaki itu sudah lapar, tetapi merasa sungkan jika menyuruh anaknya membuatkan sarapan.


 


 


Beberapa menit berselang, Aisyah sudah selesai memasak nasi goreng untuk sarapan dirinya dan sang bapak. Keduanya pun makan bersama, mumpung Zahra belum terbangun dari tidurnya.


 


"Nduk, apa bapak boleh bicara?"


 


Aisyah mendongakkan pandangan dari piring ke wajah ayahnya. "Dari tadi, kan, Bapak udah bicara," kelakarnya.


 


Agung tersenyum. "Bicara yang lain. Sedikit serius."


 


Aisyah menatap wajah Agung sambil mengernyitkan keningnya. Mulutnya yang penuh dengan makanan pun berhenti mengunyah sejenak, lalu menenggak air minum untuk menelan langsung makanan tersebut.

__ADS_1


 


"Mau bicara apa, Pak?" tanya Aisyah penasaran.


 


"Masalah rumah tangga kamu dengan Bayu. Apa kamu serius mau bercerai dengan dia?"


 


Aisyah menghela napas kasar. Ia sudah mengira jika ayahnya pasti akan membahas hal tersebut. "Aish serius, Pak. Dari awal pernikahan, sikap kasar Mas Bayu memang sudah kelihatan. Dulu, Aish mencoba sabar. Mungkin memang sikap dasarnya seperti itu, tegas dan keras. Tapi ternyata Aish salah, karena sikap keras Mas Bayu itu ternyata cuma berlaku buat Aish aja. Aish lihat sendiri sikap mas Bayu terhadap perempuan itu sangat berbeda dengan sikapnya terhadap Aish, Pak. Mas Bayu selalu mengalah dan bersikap lembut terhadap Indar, sedangkan Aish selalu dituntut untuk mandiri.


 


"Aish ini istrinya, seharusnya mas Bayu lebih perhatian sama Aish daripada perempuan itu, bahkan mas Bayu juga mengabaikan Zahra jika perempuan itu sudah meminta bantuannya. Aish sakit hati, Pak. Mas Bayu nggak adil pada kami. Bagaimana Aish nggak berpikir kalau mereka tidak punya hubungan apa-apa, sedangkan mas Bayu selalu membela dia." Aisyah menangis ketika mengungkapkan rasa kesalnya selama ini terhadap Bayu.


 


Agung hanya diam saja mendengarkan keluh kesah anaknya. Satu sisi ia merasa kasihan kepada Aisyah yang merasa tertekan, tetapi satu sisi ia memikirkan nasib Zahra. Anak itu masih terlalu kecil, jika kedua orang tuanya berpisah. Dia masih membutuhkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.


 


"Tapi bapak perhatikan, kemarin Bayu sepertinya sangat menyesal dan tidak mau bercerai dengan kamu, Aish. Mungkin dia sudah belajar dari kesalahan setelah kamu tinggalkan. Apa kamu tidak mau memberikan kesempatan?" ujar Agung.


 


"Mas Bayu itu plin plan, Pak. Sikapnya seringkali berubah-ubah. Aish juga bingung dengan sikapnya." Aisyah masih berkeras hati. Seolah hati dan pikirannya sudah dipenuhi dengan kejelekan Bayu saja. Perempuan beranak satu itu sudah mantap untuk bercerai dengan suaminya.


 


"Tapi, Nak, coba kamu pikirkan lagi keputusan kamu itu. Kamu nggak kasihan sama Zahra? Dia masih kecil, Nak." Agung mencoba membujuk Aisyah. Ia yakin jika keputusan anaknya tersebut itu salah, karena walaupun perceraian itu mubah, tetapi tidak disukai oleh Allah.


 


"Justru karena Zahra masih kecil, jadi Aish yakin untuk bercerai dengan mas Bayu. Kalau menunggu Zahra besar, mungkin dia akan mengerti dan ikut sakit hati dengan kelakuan ayahnya."


 


Pintu maaf Aisyah seolah tertutup untuk Bayu. Baginya sudah cukup kesabarannya selama ini. Ia tidak ingin terus menerus sakit hati.


...**************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2