
...Selamat membaca...
...************...
Meskipun Aisyah menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan pada Septian, lelaki itu masih betah saja di rumah Aisyah. Septian sepertinya tidak ada niatan untuk pulang dengan segera. Ia ingin berlama-lama dan lebih mengenal keluarga Aisyah.
"Pak Tian, ini udah siang? Memangnya Bapak nggak punya pekerjaan lain?" Untuk kesekian kalinya, Aisyah memberikan sindiran untuk mengusir Septian.
"Aku memang lagi nggak punya pekerjaan penting lainnya. Makanya aku main ke sini. Silaturahmi dengan keluarga kamu," ucap Septian tanpa rasa sungkan.
Aisyah mendengkus kesal. Kedua bola matanya berotasi malas. Ingin rasanya ia menarik paksa tangan Septian agar segera pergi, tetapi Aisyah takut disangka tidak menghargai.
Seperti tawaran Diana sebelumnya, Septian benar-benar menantikan makan siang bersama keluarga Aisyah. Hal itu membuat Aisyah semakin marah, tetapi perempuan itu hanya bisa pasrah.
"Pak Tian, ayo kita makan! Cobain masakan mbak Aish pasti ketagihan," ajak Diana sambil terkekeh menatap kakaknya. Sang kakak pun melotot tidak suka.
"Iya, Nak Tian, masakan Aish itu enak banget, loh!" Agung pun ikut menimpali. Agung dan Septian terlihat sangat akrab, seolah mereka sudah berteman dekat.
"Wah, jadi nggak sabar pengin nyobain rasanya," cetus Septian sambil berdiri dari tempat duduknya.
...*************...
Hawa panas dari teriknya sinar matahari di siang ini tidak membuat Bayu betah di rumah kontrakannya. Ia berniat untuk mengunjungi rumah sang mertua, sekaligus bertemu dengan istri dan anaknya. Semoga saja kali ini hati istrinya akan terbuka dan memaafkan dirinya.
Dengan kendaraan kuda besinya, Bayu menantang panasnya cuaca di kota. Bayu terlihat tampan dengan balutan kemeja berwarna tosca yang dipadukan dengan celana jeans dengan warna beige. Ia harap penampilannya bisa membuat Aisyah mengenang pertemuan pertama mereka. Waktu itu Bayu mengenakan baju yang sama.
"Zahra, ayah datang, Nak." Bayu bergumam sambil mengulas senyuman, saat sepeda motornya mendekati rumah Aisyah. Selain istrinya, Bayu juga merindukan putri semata wayangnya.
Namun, senyuman itu sontak memudar saat ia melihat pemandangan yang membuat rahangnya mengeras ketat. Bayu sudah sampai di depan rumah Aisyah. Emosinya tiba-tiba mencuat lantaran melihat seorang laki-laki yang tidak disukainya berada di teras depan rumah itu. Lelaki itu adalah Septian. Bayu pun sengaja menekan klakson motornya dengan kencang, membuat semua orang yang berada di depan rumah Aisyah menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Mas Bayu." Aisyah berucap lirih. Kedua matanya menangkap raut kemarahan yang tersirat dari sorot mata suaminya tersebut.
"Ngapain mas Bayu ke sini, Mbak?" Pertanyaan Diana yang berbisik di telinganya, membuat Aisyah terperanjat kaget, lalu menoleh pada adiknya tersebut.
"Mana mbak tahu." Aisyah mengangkat kedua bahunya. Terkesan tidak peduli, padahal ia merasa tidak enak hati. Aisyah takut sesuatu akan terjadi.
"Eh, Nak Bayu. Kebetulan kamu datang, Nak. Kita baru aja mau makan siang bersama. Kamu udah makan?" Ucapan Agung memecahkan tatapan sengit yang dilayangkan Bayu kepada Septian. Lelaki itu lantas tersenyum tipis sembari mencium punggung tangan mertuanya.
"Belum, Pak. Bayu ke sini memang sengaja mau makan masakan istri Bayu." Bayu menekankan kata 'istri' pada ucapannya. Kedua matanya menatap tajam ke arah Septian.
"Bukannya sebentar lagi akan menjadi mantan istri," celetuk Septian.
Tatapan Septian pun tak kalah sengit. Kedua lelaki itu terlibat saling tatap dengan arus kebencian yang menyengat di antara keduanya.
Salah satu sudut bibir Septian tertarik ke atas membentuk senyuman miring. Lelaki itu mencibir keyakinan Bayu yang menurutnya terlalu egois.
"Anda sebagai laki-laki seharusnya jangan terlalu egois! Kalau memang istri Anda tidak merasa bahagia dengan pernikahan kalian, lebih baik dilepaskan."
"Brengsek! Jangan sok tahu, kamu!" Bayu tersulut emosi. Ia langsung mencengkram kerah baju Septian, lalu menghadiahkan satu pukulan di wajah tampan lelaki itu.
Tubuh Septian terhuyung ke belakang, dan tertahan pada dinding dekat pintu. Merasa tidak terima dengan pukulan Bayu, Septian balas menyerang dan memberikan pukulan yang sama pada pipi Bayu. Pertengkaran antara Bayu dan Septian pun tidak terelakkan.
"Aisyah itu istri saya. Kamu jangan berani mendekati dia!" sungut Bayu di sela pertikaiannya dengan Septian. Kedua tangannya mencengkram bahu kiri Septian, lalu satu pukulan melayang ke bagian perut lelaki itu.
"Ugh!" Septian kesakitan sambil memegangi perutnya yang terhantam bogem mentah. Tubuhnya mundur beberapa langkah. Namun, hal itu tidak membuatnya merasa kalah. Ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan Aisyah.
__ADS_1
"Mas Bayu, Pak Tian, udah! Kalian ini apa-apaan, sih? Kayak anak kecil aja berantem kayak gini!" pekik Diana mencoba melerai pertikaian dua lelaki itu, sedangkan Aisyah hanya memandang nanar kedua pria yang tengah adu jotos tersebut. Hatinya merasa kecewa, karena dua lelaki yang menurutnya dewasa, kini bertingkah seperti anak kecil saja.
Tidak mengindahkan perkataan Diana, Bayu dan Septian masih melanjutkan pertarungan mereka. Berbagai jurus dan ilmu kanuragan sudah mereka keluarkan, tetapi hasilnya masih saja imbang.
"Pak, gimana ini? Mereka nggak mau berhenti." Diana meminta bantuan Agung, padahal sedari tadi lelaki tua itu juga ikut melerai perkelahian antara Bayu dan Septian. Namun, dikarenakan kondisi tubuhnya yang sudah tidak memiliki kekuatan, Agung tidak bisa melerai.
"Panggil pak RT, Di! Minta bantuan dia buat melerai mereka." Agung menyuruh Diana memanggil tetangganya yang menjabat sebagai aparat desa. Diana pun segera pergi melakukan titah bapaknya.
Tak lama pak RT datang bersama tiga orang laki-laki yang merupakan tetangga mereka juga. Dengan bantuan mereka, perkelahian antara Bayu dan Septian pun akhirnya dapat dihentikan.
Lebam biru dan darah segar menjadi hasil dari pertengkaran itu. Dada mereka kembang kempis dengan napas yang memburu. Wajah mereka dihiasi lukisan penuh luka. Sungguh miris dipandang mata.
"Kalian ini nggak tahu malu! Sudah tua masih suka berantem." Agung langsung mengomel setelah tubuh Bayu dan Septian dihadang oleh masing-masing dua orang.
Agung menghadap pada Bayu. "Bapak kecewa sama kamu, Bayu. Harusnya kamu memberikan contoh yang baik kepada Zahra. Sebagai seorang ayah, kamu adalah imam untuk dia sebelum dia menikah. Begini cara kamu menyelesaikan masalah? Pantas saja Aisyah ingin berpisah, itu karena kelakuan kamu memang seperti bocah!" lanjut Agung dengan rasa kesal yang menggunung.
Bayu menundukkan kepalanya, merasa bersalah. Ia menyesal karena terbawa amarah. Begitupun dengan Septian, lelaki itu juga memasang wajah muram. Ia pun menyesal.
"Pak, saya minta maaf atas kejadian memalukan ini. Ini semua kesalahan saya, karena pertengkaran tadi tidak akan terjadi jika saya tidak menyulut emosi pak Bayu. Sekali lagi saya minta maaf." Septian mengakui kesalahannya pada Agung. Tatapannya begitu sendu, tersirat rasa malu.
"Bayu juga minta maaf, Pak." Bayu ikut bersuara.
Agung menghela napas kasar. Mau melanjutkan marah juga percuma, karena kedua lelaki yang mengejar cinta anaknya tersebut sudah menyesali perbuatannya.
"Baiklah. Kalau begitu, ayo, salaman!" Agung menyuruh Bayu dan Septian bersalaman. Mereka pun melakukannya, walaupun dalam hati tak sepenuhnya memaafkan. Setelah itu, Septian memutuskan untuk pulang.
...************...
...To be continued ...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1