Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
74_Dua Penguntit


__ADS_3

...Selamat membaca...


...************...


Sesampainya di kost, Aisyah segera turun dari motor Bayu. "Kenapa baru sekarang, Mas? Seandainya dari dulu kamu mau berubah, mungkin semuanya tidak akan seperti ini," batin Aisyah, ia memandang Bayu yang tengah menurunkan barang-barang bawaannya.


 


"Mas Bayu sebaiknya langsung pulang saja! Ini sudah malam, Mas. Aisyah nggak enak sama tetangga kost yang lain," ucap Aisyah ketika Bayu sudah menurunkan semua barang bawaannya.


 


"Tapi Dek, kita kan masih..." Bayu tidak punya keberanian untuk melanjutkan kalimatnya, apalagi melihat wajah Aisyah yang sepertinya sudah sangat lelah.


 


"Cukup, Mas. Keputusan Aish tetap sama, maafin Aish. Aish sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya sendiri. Terima kasih sudah mau mengantar Aish pulang. Maaf, Aisyah sudah merepotkan Mas Bayu." Aisyah segera berlalu membawa barang-barang bawaannya, ia tak memedulikan Bayu yang masih diam termangu di samping motornya.


 


Bayu hanya bisa pasrah melihat langkah  Aisyah menjauh menuju ke kamar kostnya. Tak tega sebenarnya melihat Aisyah yang kerepotan membawa travel bag dan beberapa barang lainnya.


 


"Maafkan mas, Dek. Mas terlambat menyadari semuanya. Diana memang benar, mas banyak salah sama kamu, Dek. Wajar jika sekarang kamu kecewa dan membenci mas. Tapi sampai kapan pun mas nggak akan melepaskan kamu dan Zahra, Dek. Kalian segalanya buat mas, Dek," ucap Bayu lirih.


 


Setelah memastikan Aisyah masuk ke dalam kamar kostnya, Bayu segera melajukan motor maticnya kembali ke kontrakan. Sepanjang perjalanan ia terus merutuki kebodohannya yang telah abai kepada istri dan anaknya selama ini. Dalam hati ia bertekad akan menebus semua kesalahan itu, ia akan berusaha untuk meluluhkan hati Aisyah. Apa pun akan ia lakukan, untuk membuat Aisyah kembali


***


"Aisyah, kamu sudah datang? Ada enaknya juga, ya, kalau tinggal deket kantor gini, Aish. Jadinya kita bisa hemat waktu juga," ucap Tian.


 


"Eh, iya, Pak. Bisa hemat ongkos juga," kekeh Aisyah.


 


"Oh, iya, Aish, ini saya bawakan salad buah buat kamu. Kebetulan tadi saya beli dua porsi, awalnya mau saya makan sendiri. Eh, ternyata satu porsi saja sudah bikin kenyang dan seger di badan. Jadi, ini buat kamu saja, ya!" tutur Tian, ia meletakkan sebuah bungkusan di atas meja Aisyah.


 


"Oh, iya, Pak. Terimakasih," jawab Aisyah singkat. Sebenarnya Aisyah ingin menolak, tetapi ia tidak mau berdebat dengan Tian.


 


Perhatian Tian pun terus berlanjut setiap hari, melihat Aisyah yang tidak pernah menolak pemberiannya. Hampir setiap hari Tian selalu membawakan sesuatu untuk Aisyah. Tian seolah mendapatkan angin segar untuk kembali mendekati Aisyah.

__ADS_1


 


Aisyah pikir dengan menerima pemberian Tian, semuanya akan baik-baik saja dan berjalan normal seperti biasa. Namun, ternyata Aisyah salah, sikap Aisyah malah membuat Tian salah paham.


 


"Aisyah, nanti pulangnya bareng saya saja. Kebetulan kita searah 'kan?" tanya Tian, saat mereka mulai membereskan meja kerja masing-masing karena sebentar lagi jam pulang kantor tiba.


 


"Nggak usah Pak, Aish bisa pulang sendiri. Lagian jalanan menuju ke kost Aish, jam segini masih ramai Pak. Aish masih berani," jawab Aisyah.


 


Ada rasa kecewa saat lagi-lagi Aisyah menolak tawaran Tian. Ini sudah ke sekian kalinya Aisyah menolak tawaran Tian untuk mengantarnya pulang. Namun Tian tak menyerah, ia akan sabar menunggu dan tetap berusaha untuk meluluhkan hati pujaan hatinya.


 


Selama Aisyah mendapatkan shift siang,  setiap malam Bayu selalu menyempatkan waktu untuk menjemput Aisyah di depan kantor tempat Aisyah bekerja. Namun, Aisyah selalu menolak tawaran Bayu untuk mengantarnya pulang. Aisyah memilih tetap berjalan sendiri, meskipun ia tahu jika Tian dan Bayu selalu mengikutinya dari kejauhan.


 


Aisyah tak peduli, yang terpenting bagi Aisyah sekarang adalah bagaimana caranya ia mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya sendiri untuk mencukupi semua kebutuhan dirinya dan juga Zahra. Ia tak mau bergantung dengan Bayu jika mereka sudah bercerai nanti. "Harus mandiri," batin Aisyah. Ucapan itu tak pernah hilang dari ingatan Aisyah.


 


"Dek, Mas mau bicara."


 


 


"Mau bicara apalagi, Mas. Bukankah semuanya sudah jelas. Mas Bayu bukan anak kecil kan yang harus dikasih tahu berulang-ulang baru paham," jawab Aisyah ketus. Ia menatap Bayu dengan penuh kekecewaan.


 


"Tapi, Dek. Mas nggak mungkin bisa jauh dari kamu dan Zahra. Tolong jangan siksa Mas seperti ini, Dek. Ayo kita pulang! Mas janji akan berubah, Dek. Mas akan selalu melindungi kamu dan Zahra. Mas menyesal, Dek. Tolong maafkan mas," ucap Bayu dengan tatapan sendu.


 


"Maaf itu mudah, Mas. Tapi untuk menyembuhkan luka yang sudah berulangkali menganga, tak semudah membalikkan telapak tangan. Tolong Mas, lepaskan Aisyah. Biarkan Aish menyembuhkan luka ini sendiri. Aisyah mohon, segera urus perceraian kita secepatnya,"  ucap Aisyah dengan mata yang berkaca-kaca. Ia pun segera masuk ke dalam kamar kost, tanpa memedulikan Bayu.


 


"Aisyah, tunggu! Buka pintunya aku belum selesai bicara." Bayu berusaha mengetuk pintu kamar kost Aisyah. Namun, pintu itu tetap tertutup.


"Sampai kapan pun aku nggak akan pernah menceraikan kamu, Aisyah. Kamu dan Zahra selamanya akan menjadi milikku. Aku akan perjuangkan kalian kembali, kita akan selalu bersama." ucap Bayu penuh penekanan.


Sementara itu, Aisyah bersandar di balik pintu. Hatinya sangat terluka dengan sikap Bayu. Jujur, sebenarnya dalam hati kecil wanita itu, ia tidak ingin berpisah dari suaminya. Aisyah masih mencintai suaminya. Akan tetapi, bayangan Bayu dan Indar kembali memenuhi benaknya. Membuat luka di hatinya kembali menganga.

__ADS_1


"Tolong, Mas. Jangan buat Aish bimbang akan sikapmu. Jangan buat Aish menjadi manusia plin-plan sepertimu. Biarkan Aish sendiri," lirihnya yang tentu saja tidak terdengar oleh Bayu.


Bayu masih saja bergeming di depan kamar kost istrinya. Ia berharap, Aisyah berubah pikiran dan bersedia kembali ke kontrakan bersama dengannya. Namun, hingga dua puluh menit Bayu menunggu, Aisyah tidak juga membuka pintunya.


Bayu pun memilih mundur. "Mungkin Aish masih butuh waktu untuk berpikir kembali. Mas akan menunggu, Dek. Sampai kamu siap untuk bicara tanpa rasa emosi. Yang jelas, mas tidak akan pernah menceraikan kamu," lirihnya dalam hati.


Bayu kembali ke motornya, ia segera melaju membelah gelapnya malam. Bayu tidak memedulikan udara dingin yang menyentuh kulitnya. Lelaki berkaos hitam tipis tanpa jaket itu benar-benar tidak memperhatikan dirinya sendiri.


Tian yang memperhatikan sedari tadi, segera bersembunyi di balik pohon ketika Bayu keluar dari halaman kost Aisyah. Ada sedikit rasa iba di hatinya. Bagaimanapun Tian seorang lelaki yang gagal dalam berumah tangga, ia bisa merasakan bagaimana perasaan Bayu ketika istrinya meminta untuk segera menceraikannya.


...*************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2