Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
24_Paket untuk Aisyah


__ADS_3

...Selamat membaca...


...***************...


 


Mendekati masa persalinan, Aisyah semakin dilanda cemas mengenai kebutuhan persalinan. Perlengkapan-perlengkapan yang seharusnya sudah ia siapkan menjelang proses persalinan sama sekali belum ia miliki, sedangkan tabungannya hanya cukup untuk untuk biaya persalinan saja. Perutnya pun semakin membesar dan mempersempit ruang geraknya.


 


Dua hari lagi Aisyah akan cuti. Ingin sekali waktunya digunakan untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan, tetapi ia mengingat kembali soal uang tabungannya yang masih jauh dari harapan.


 


Mengeluh pada suaminya pun tidak ada pengaruh yang positif untuknya. Bukannya membantu, justru membuatnya semakin bingung.


 


Perasaan bingung yang Aisyah rasakan sepertinya berdampak pada ramen yang tersaji di depan Aisyah. Mereka seakan ikut merasakan apa yang dirasakan Aisyah, sebab sedari tadi hanya diaduk oleh pemiliknya.  Rasa ramen yang awalnya terasa begitu nikmat, kini berubah hambar.


 


Ya, Aisyah kini berada di Kedai Korea bersama Witri. Sebab itulah kebingungan yang Aisyah rasakan pun tak luput dari pandangan Witri, yang duduk tepat di samping Aisyah. Sebagai sahabat, tentu ia tidak ingin terlalu ikut campur dalam permasalahan rumah tangga mereka. Namun, ia juga ingin sekali membantu Aisyah walaupun hanya sedikit.


 


"Ais ...," panggil Witri.


 


Aisyah menoleh. "Iya, Mbak?"


 


"Sudah mau jadi ibu, kok, masih cemberut, sih? Kasian dedek bayinya, loh," hibur Witri sambil mengusap perut buncit Aisyah.


 


"Masih bingung soal perlengkapan bayi, Mbak."


 


"Memangnya kenapa sama perlengkapan bayi? Bukannya kamu sudah mempersiapkan semuanya? Masih kurang apa? Apa perlu aku bantu carikan?" Witri memberondong beberapa pertanyaan sekaligus.


 


"Bahkan satu perlengkapan pun belum aku beli." Aisyah menunduk sedih.


 


"Kenapa? Kamu belum sempat membelinya?" Aisyah mengangguk menanggapi pertanyaan Witri.


 


"Aku bantu carikan, ya?" tawar Witri.


 


Aisyah mendongak menatap wajah Witri, lalu menggelengkan kepalanya. "Masalahnya bukan cuma belum sempat beli, Mbak, melainkan uang yang kami punya juga belum cukup untuk memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan. Sebenarnya, sih, aku ada sedikit tabungan yang aku kumpulkan dari gajiku, tapi aku rasa itu hanya cukup untuk biaya persalinan. Tau sendiri, sekarang semuanya serba mahal. Biaya persalinan apalagi. Sekarang aku harus bisa memutar otak untuk memenuhi semuanya dengan uang yang ada. Aku bingung, Mbak." Aisyah mengeluh panjang lebar.


 


Witri menatap manik mata sahabatnya dengan sendu. Sungguh ia merasa kasihan dengan perempuan hamil itu. "Sabar, ya, Aish! InsyaAllah rejeki anak selalu ada. Kamu yang sabar dan terus berdoa. Yang penting sekarang kondisi bayi kamu harus tetap dijaga. Kamu jangan sampai stress. Kasian bayi kamu, Aish. Ini, kan, kehamilan pertamamu."


 

__ADS_1


Aisyah menghela napasnya. Ia lupa bahwa ada calon bayi yang kini ada di perutnya.


 


Aisyah kemudian mengelus perut buncitnya. "Maafkan Mama ya, Nak. Mama janji akan menjaga kamu," ucapnya dalam hati.


 


"Kalau aku ada rejeki lebih, InsyaAllah aku bantu."


 


"Nggak usah, Mbak. Tadi aku cuma pengin curhat aja. Nggak bermaksud mau minta bantuan Mbak." Aisyah merasa tidak enak karena mengeluh seperti itu, sehingga mampu menarik simpati Witri.


 


"Iya, aku tahu. Tadi, kan, aku bilangnya kalau ada rejeki lebih," kekeh Witri.


 


Aisyah pun tersenyum, lalu kembali melanjutkan makan ramen di depannya. Entah mengapa, di kehamilannya yang semakin membesar, ia jadi menyukai makanan asal negeri gingseng rersebut. Rasa kuah yang pedas dan segar sangat membantu untuk mengurangi tingkat stresnya.


 


Witri pun dengan semangat selalu menemani Aisyah saat Asiyah ingin makan sesuatu saat jam istirahat. Bahkan, tak jarang Witri yang menraktir Aisyah, walaupun pada saat itu yang mengajak adalah Aisyah.


 


...**************...


 


Tepat hari minggu setelah Aisyah memasak dan berberes rumah, ia merebahkan tubuhnya di atas kursi ruang tamu. Sedangkan suaminya sudah keluar untuk nongkrong dengan teman-temannya.


 


 


Tok tok tok!


 


"Iya, tunggu sebentar," ucap Aisyah sambil berjalan.


 


Saat Aisyah membuka pintu, terlihat seorang lelaki bertopi dengan beberapa barang di belakang tubuhnya. Lelaki itu terlihat membawa secarik kertas yang dijepitkan di atas papan ujian dengan bolpoin yang menggantung di lehernya.


 


"Dengan Ibu Aisyah, benar?" tanya kurir.


 


"Benar, saya sendiri. Ada apa ya, Mas?" tanya Aisyah kebingungan.


 


Kurir pun membaca kertas yang ia bawa. "Kami dari kurir Happy Baby and Kids Shop ingin mengirimkan beberapa barang dari ibu ... Witri. Ya, di sini tertulis pengiriman untuk Ibu Aisyah dari Ibu Witri."


 


"Karena Ibu adalah Ibu Aisyah, jadi mohon untuk tanda tangan di bawah sini, di bagian penerima. Dituliskan juga nama terangnya ya, Bu," imbuh kurir sambil menunjuk dan menyerahkan surat jalan tersebut.


 

__ADS_1


Aisyah pun segera tanda tangan dan mennyerahkan kembali pada kurir. Ingin sekali ia menanyakan dulu pada Witri tentang barang-barang tersebut. Namun, ia tidak ingin membuat kurir itu lama menunggu. Pasti banyak yang harus ia kerjakan selain hanya mengantar barangnya yang super banyak.


 


Setelah mengucapkan terima kasih, kurir pun segera pergi meninggalkan rumah Aisyah. Sedangkan Aisyah langsung menelepon sahabatnya itu.


 


"Halo, Assalamualaikum, Mbak," sapa Aisyah saat ponselnya tersambung.


 


"Iya, Ais. Wa'alaikumussalam. Ada apa?" tanya Witri.


 


"Mbak, ini ada barang datang, katanya pengirimnya Mbak Witri. Ini Mbak beneran kirim barang ke alamat rumahku? Mbak Witri nggak salah alamat?"


 


 "Udah datang ya, barangnya? Berarti lebih cepat dari yang aku kira. Bagus kalo gitu. Aku jadi lega. Soalnya infonya kemarin untuk pelayanan delivery full pick up. Jadi harus nunda besoknya lagi. Tapi kalo sekarang udah sampai di rumah kamu, ya Alhamdulillah," ucap Witri menjelaskan.


 


"Ini semua Mbak Witri nitip barang dulu, gitu, ke rumah Ais?"


 


Witri tertawa, "Enggak, Ais. Aku nggak bermaksud nitip barang. Itu beneran aku kirim untuk calon bayi kamu yang artinya calon keponakan aku."


 


"Mbak Witri untuk apa kirim semua barang ini? Ini banyak banget loh, Mbak. Aku jadi ngerasa nggak enak, deh."


 


"Nggak apa Ais, ini rejeki anak kamu. Kamu jangan nolak, ya. Aku marah kalo sampai kamu tolak semua barang itu.".


 


"Ya Allah, Mbak, terima kasih ya, Mbak. Aku ga tau gimana caranya balas kebaikan mbak Witri."


 


"Caranya, dengan menjaga calon keponakan aku dengan baik. Jangan sampai stres dan harus jaga kesehatan, ya?"


 


Aisyah pun menahan isak tangisnya. Ia merasa terharu dengan kebaikan Witri. Ia merasa tidak enak sebab selalu merepotkan sahabatnya itu.


 


Aisyah mengingat kata ibunya. 'Tak perlu banyak sahabat yang mengelilingimu. Cukup satu, yaitu dia yang selalu bahagia saat kamu memiliki sesuatu dan sedih bila kamu kehilangan sesuatu.'


 


Setelah perbincangan selesai, Aisyah pun masih membiarkan barang-barang tersebut tergeletak di depan rumah, sebab ia masih terlalu capek untuk memindahkannya. Biarlah ia minta tolong pada suaminya saat pulang nanti.


...*************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 

__ADS_1


 


__ADS_2