Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
56_Indar Lagi


__ADS_3

...Selamat membaca...


...************...


Aisyah menghapus air matanya, "Sudah Aish, jangan nangis. Allah nggak akan memberi ujian kepada hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Jangan sedih lagi, nanti Zahra ikut rewel kalau kamu banyak pikiran," lirih Aisyah, ia menyemangati dirinya sendiri.


 


"Mas Bayu,  untuk saat ini Aish mungkin masih bisa bertahan. Tapi, nanti jika Aish sudah lelah, jangan salahkan Aish, kalau Aish harus menyerah," batin Aisyah, ia menatap sendu  foto pernikahan mereka yang menempel di dinding kamar.


 


Entah beban pikiran apa saja yang kini berkecamuk dalam benak Aisyah, hanya dia yang tahu. Aisyah bingung harus berbagi cerita dengan siapa. Jika dulu saat masih bekerja, ia masih bisa bercerita apa pun dengan Witri. Sekarang, ia merasa sungkan jika harus mengganggu Witri dengan masalah pribadinya. Bagaimanapun Bayu adalah suaminya, ia tak ingin mengumbar aib keluarga.


 


Meskipun Aisyah sudah tidak bekerja, tetapi Aisyah dan Witri masih sering bertukar kabar lewat chat. Bahkan, sesekali mereka juga melakukan panggilan video call untuk melepas kerinduan mereka. Namun, Aisyah selalu bisa menutupi masalah keluarganya. Ia tak ingin membuat Witri khawatir dengan kehidupan rumah tangganya.


...***************...


Siang nyaris usai. Matahari sudah condong ke barat. Menyisakan semburat warna jingga yang menambah keindahan langit senja sore ini. Seperti yang sudah dijadwalkan, hari ini Zahra akan imunisasi. Dengan cekatan Aisyah menggendong Zahra, dan juga menenteng sebuah tas jinjing yang berisi beberapa keperluan Zahra.


 


"Harus mandiri," ucap Aisyah, kata-kata itu yang selalu ia ingat. Aisyah harus membuktikan kepada Bayu jika ia bukanlah wanita manja seperti anggapan Bayu selama ini.


 


Tepat pukul 16.30 WIB, ojek online yang dipesan Aisyah sudah siap di depan kontrakannya. Aisyah pun segera naik dan meminta pengemudi ojek yang kebetulan adalah seorang wanita untuk menuju ke tempat bidan tempat Aisyah melahirkan dulu.


 


Dalam perjalanan, pikiran Aisyah masih berkelana. Meski mencoba abai, nyatanya hati dan perasaan Aisyah tak bisa dipungkiri. Aisyah sangat kecewa dengan sikap Bayu. Bahkan hanya karena Indar, hari ini untuk sekedar memberi kabar lewat pesan saja, Bayu tidak sempat.


 


Aisyah menarik napas panjang, mencoba mencari ketenangan dari semilirnya angin yang berhembus.  "Yang kuat Aish, sedikit lagi, ya! Kamu pasti bisa melewati semua ini," lirih Aisyah. Mungkin sekarang rumah tangganya masih diberi ujian. Aisyah berharap semuanya akan baik-baik saja, demi Zahra putri kecil kesayangannya.


**********


Malam semakin larut, jam dinding di kontrakan Aisyah sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Bayu masih belum pulang, berulang kali ia melihat ponselnya. Berharap ada pesan atau telepon dari Bayu. Namun, tak ada kabar apa pun.


 

__ADS_1


Pikiran Aisyah mulai tak karuan, matanya mulai berkaca-kaca. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan bersama Indar, Mas? Apa kamu nggak mikirin Zahra, Mas? Apa kamu nggak inget aku?" Setetes air mata lolos begitu saja membasahi pipi Aisyah.


 


"Bagaimana bisa kamu menyuruhku berpikiran positif tentang Indar, kalau pada kenyataannya sampai jam segini kamu belum pulang. Tanpa memberi kabar apapun padaku." Aisyah menangis sesegukan, begitu sakit perasaan Aisyah saat ini. Ia benar-benar tak tahan lagi.


 


Beberapa menit kemudian, terdengar suara motor Bayu datang. Aisyah segera keluar dari kamar, setelah memastikan Zahra masih tidur dengan pulas. Bayi mungil ini begitu menggemaskan. Meski habis di imunisasi, ia tidak rewel sama sekali.


 


"Dari mana saja kamu, Mas?" tanpa basa-basi Aisyah langsung menghampiri Bayu yang baru masuk  ke dalam kontrakan.


 


"Kamu kenapa, Dek? Kamu habis nangis? Zahra baik-baik saja, kan?" Bayu mengabaikan pertanyaan Aisyah dan malah balik bertanya. Ia khawatir karena melihat Aisyah yang matanya sedikit sembab. Saat akan mengusap pipi Aisyah. Namun, malah ditepis kasar oleh Aisyah.


 


"Kenapa baru tanya sekarang? Sesibuk itu kamu sama janda genit itu, sampai kamu nggak sempet kasih kabar ke istrimu, Mas?" jawab Aisyah penuh penekanan.


 


"Jangan ngawur, kamu Dek. Kan aku sudah bilang tadi pagi, kalau Indar minta bantuan buat benerin pipa airnya yang bocor. Jangan mikir macam-macam kamu," sahut Bayu sambil menggelengkan kepalanya. Bukannya menyadari kesalahannya, Bayu malah berpikir jika Aisyah yang terlalu berlebihan.


 


 


"Kamu anggap aku ini apa, Mas? Selama ini kamu selalu menuntut aku untuk bisa mandiri. Sementara kamu sendiri sibuk memberi perhatian sama janda genit itu. Mau kamu apa, Mas?" Aisyah menjeda ucapannya, rasanya begitu sesak di dada hingga ia tak kuasa  lagi untuk memendam perasaannya.


 


"Atau jangan-jangan teman masa kecil kamu itu memang sengaja bercerai dari suaminya, supaya bisa mendekati kamu, Mas."


 


"Cukup Aisyah, lama-lama kamu semakin ngelantur saja. Buang jauh-jauh pikiran buruk kamu itu. Indar tidak seperti itu."


 


"Terus saja bela janda itu, sepertinya aku memang sudah nggak berarti apa-apa buat kamu, Mas. Kamu keterlaluan." Aisyah berlalu begitu saja meninggalkan Bayu yang masih termangu mendengar amarah dari Aisyah.

__ADS_1


 


Sepeninggal istrinya, Bayu segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Rasanya begitu gerah setelah pulang dari pabrik tadi langsung ke rumah Indar.


 


Bayu membuka pintu kamar perlahan. Ia mendapati Aisyah memeluk Zahra di atas kasurnya. Bayu segera mengganti bajunya, tiba-tiba saja bayangan bayi mungil itu mengusik pikirannya.


 


Baru saja ia menghampiri Zahra dan hendak menciumnya, Bayu teringat kalimat yang keluar dari mulut Aisyah beberapa menit yang lalu. Ia pun mengurungkan niatnya. Bayu tidak ingin mengusik istrinya yang saat ini memejamkan mata di samping Zahra. Meskipun Bayu tahu, Aisyah tidak benar-benar tertidur.


 


Bayu keluar menuju meja makan. Dibukanya tudung saji yang berada di atas meja. Namun, tak ada apa pun di dalamnya. Bayu tidak berkomentar apa pun. Dia lebih memilih tidur dengan perut kosong di kursi depan televisi.


 


Sementar di dalam kamar, air mata Aisyah kembali berjelalan di pelupuk mata. Mereka berlomba untuk segera keluar dari sudut mata wanita itu. Kenangan masa lalunya kembali berputar-putar dalam benaknya. Di mana ia selalu dituntut untuk bisa melakukan apa pun sendiri.


 


Sebagai wanita, terkadang Aisyah juga ingin bermanja dengan suaminya. Ada keinginan diantar jemput oleh suaminya ketika ia masih kerja. Ingin meminta bantuan suaminya untuk hal-hal sepele dalam rumaha tangganya. Hal itu bukan berarti ia tidak mampu melakukannya sendiri. Aisyah hanya merindukan sedikit perhatian sang suami. Apakah itu salah?


 


Sementara dengan Indar, Bayu selalu siap melakukan apa pun untuknya. "Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu jika aku sudah tidak membutuhkan bantuanmu, Mas. Bukan karena aku mau, tapi karena aku menjadi terbiasa tanpa campur tanganmu. Di saat itu tiba, mungkin aku sudah benar-benar tidak butuh kamu, Mas. Semua karena kamu yang membuatku seperti ini."


 


Aisyah menarik selimutnya hingga menutupi kepala. Kali ini ia memilih abai dengan suaminya. Aisyah sudah benar-benar lelah.


...*************...


...To be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


Hay gaes, karena hari ini, hari Senin, jangan lupa kasih vote ya buat Author. Biar Author yang ketche badai ini makin semangat nulisnya 😘😘


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2