
...Selamat membaca...
...**************...
Habis sudah kesabaran Tian selama ini. Ia sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Ajeng. Namun, ia merasa usahanya sia-sia. Sebab selama ini Tian hanya berjuang sendiri. Ajeng sedikit pun tidak merasa bersalah hingga ia tidak berusaha memperbaiki sikapnya.
Entah berapa lamanya Tian mencoba untuk memahami sikap Ajeng. Gadis yang dulu begitu ia puja dan ia cintai, ternyata berubah setelah mendapatkan posisi yang jauh lebih baik darinya. Ajeng lalai akan tugasnya sebagai istri. Bahkan ia selalu saja meremehkan Tian.
Sampai di kantor, Tian langsung menuju ke kantin. Ia mencari sarapan agar tubuhnya tidak drop ketika bekerja nanti. Hari ini ia benar-benar kacau. Di kantor pun ia tidak fokus dengan pekerjaannya.
Witri yang melihat gelagat aneh pada rekan satu timnya merasa kasihan. Desas-desus tentang keretakan rumah tangga Tian, sedikit banyak sudah sampai di telinganya. Witri sudah menganggap Tian sebagai adiknya hingga ia pun turut prihatin. Ia teringat Aisyah. Kasusnya mirip dengan kejadian yang menimpa Aisyah.
"Kamu sakit? Kalau sakit sebaiknya nggak usah ngantor." Witri mendekati Tian. Ia melihat Tian tidak fokus pada pekerjaannya.
Tian mendongak, ia menatap sosok wanita yang selama ini menjadi teman curhatnya. Sosok yang selama ini ia anggap sebagai kakaknya. Sosok yang selama ini sering menyampaikan petuah ringan padanya.
"Enggak, Mbak. Aku baik-baik saja," jawab Tian.
"Kamu mikirin apa? Nggak biasanya kamu kacau seperti itu."
Tian hanya membalas ucapan Witri dengan senyuman. Ia bingung, apakah hal seperti ini pantas ia ceritakan. Namun di sisi lain, hatinya begitu sesak memendam masalah rumah tangganya sendirian.
"Baiklah kalau kamu belum siap cerita. Cuma, ingat satu hal. Kalau kamu sudah benar-benar lelah, istirahatlah di rumah. Ambil cutimu!"
"Siap, Mbak." Tian menatap kepergian Witri dengan pikiran yang masih kacau. Sejelas inikah kekacauan yang terpancar di wajahnya, hingga wanita itu bisa membaca pikirannya?
...************...
Seperti saran Witri kemarin, hari ini Tian mengambil cuti. Semalam ia mempertimbangkan dengan matang tentang keputusan menjatuhkan talak kepada Ajeng. Hari ini Tian ingin segera mengurus perceraian mereka. Tian tidak ingin lebih lama lagi mengikat Ajeng. Jika dengan cara ini membuat Ajeng bahagia, ia rela melepaskan wanita yang pernah menjadi ratu dalam hidupnya.
Pagi sekali Tian mendatangi kantor Pengadilan Agama. Ia menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan untuk proses perceraiannya. Selanjutnya, ia pergi ke kafe tempat ia bekerja paruh waktu semasa kuliah dulu.
__ADS_1
Tian menghabiskan waktunya di sana. Ia ingin mengenang untuk yang terakhir kalinya. Di tempat inilah pertama kali ia bertemu dengan Ajeng dan di kafe inilah cinta mereka bersemi. Ajeng memang gadis ambisius. Gadis itu berhasil meluluhkan hati Tian hingga mereka berakhir di pelaminan.
"Hai, Bro. Apa kabar!"
Sapaan itu menarik jiwa Tian yang sesaat lalu berkelana. Tian memandang lelaki itu. "Hai!"
Lelaki itu menghampiri Tian, mereka saling berjabat tangan.
"Lama nggak ketemu, lo tambah keren aja," ucap lelaki itu. Mereka kemudian duduk di meja yang sama. Lelaki itu memesan secangkir kopi kepada pelayan.
"Lo sekarang di mana?" tanya Tian.
"Gue buka percetakan, Bro. Banting stir dari profesi kita dulu." Lelaki itu tertawa.
Tian pun terlibat percakapan yang begitu akrab dengan lelaki itu. Dia adalah teman di kafe ini. Mereka dulu sama-sama bekerja sebagai barista di sini. Bahkan, lelaki itu dulu mengagumi Ajeng. Namun, Ajeng tidak pernah menggubrisnya karena Ajeng lebih menyukai Tian.
Pertanyaan yang begitu menohok membuat Tian merasa perih. Hal lumrah yang ditanyakan oleh teman ketika mereka lama tidak bertemu. Akan tetapi, bagi Tian pertanyaan itu bagaikan sembilu yang menyayat hatinya.
"Allah belum kasih kepercayaan ke gue. Lo sendiri gimana?" balas Tian.
"Jagoan gue udah dua, Bro. Yang besar 2 tahun. Yang kecil baru 5 bulan," jawab lelaki itu. Kentara sekali kebahagiaan terpancar dari sorot matanya.
"Gila lo! Kayak kejar setoran aja." Tian tertawa lepas.
Ia turut bahagia mendengar teman seperjuangannya dulu telah sukses. Terutama sukses dalam rumah tangga. Tidak seperti dirinya, rumah tangganya hancur di tengah jalan.
Tanpa terasa, mereka sudah terlalu lama berada di kafe tersebut. Akhirnya, lelaki itu pun pamit setelah mendapat telepon dari istrinya. Tidak lama kemudian, Tian ikut berlalu dari tempat itu.
__ADS_1
...************...
Setelah mengajukan gugatan cerai, Tian kembali bekerja seperti biasa. Ia tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun. Tian hanya menjadi orang yang lebih pendiam dari sebelumnya. Tian pun lebih sering lembur di kantor. Ia memilih pulang malam hari dan langsung tidur begitu sampai di rumah.
Selama ia mengajukan gugatan cerai, Ajeng tidak pernah sekali pun menghubunginya. Tian juga tidak ambil pusing, ia sudah terlalu lelah dengan sikap Ajeng.
Sidang putusan pengadilan akhirnya tiba. Hari ini Tian kembali mengambil cuti dengan alasan mengunjungi saudaranya yang punya hajat. Begitu tiba di pengadilan, terlihat Ajeng sudah berada di sana.
Ajeng selalu terlihat anggun di mana pun ia berada. Wanita dengan blaser warna sage dan celana hitam itu sudah duduk di dalam ruangan. Tidak menunggu lama, putusan pengadilan pun ditetapkan. Sejak detik ini, Ajeng sudah bukan lagi tanggung jawabnya.
Ada gurat sesal di wajah Tian, mengapa ia tidak bisa membimbing Ajeng. Namun melihat senyumnya merekah, rasa sesal itu seketika sirna.
"Terima kasih sudah melakukan semua ini. Andai saja dari dulu kamu mau melepaskan aku, mungkin kamu tidak akan menderita sejauh ini." Ajeng berkata dengan sombongnya ketika mereka berada di tempat parkir.
Tian tidak mau menanggapi. Ia memilih diam. Bukan karena ia tidak berani, tetapi ia takut akan berbuat sesuatu di luar kendalinya jika ia membalas perkataan Ajeng. Tian berjalan menuju motornya yang terparkir tidak jauh dari mobil Ajeng.
"Ops, satu lagi. Aku akan segera mengurus harta gono-gini. Aku tidak mau dicap sebagai wanita yang mencari keuntungan dari kasus ini. Meskipun sebenarnya hartaku lebih banyak dari hartamu," ucap Ajeng masih dengan sombongnya.
Tian berhenti, kali ini ia merasa benar-benar habis kesabarannya. "Kamu tidak perlu membagi harta itu. Aku ikhlas. Ambil saja rumah itu untukmu." Rahang Tian mengeras, tangannya mengepal kuat. Hingga di sini ia masih mencoba bersabar.
"Oh, tidak bisa begitu. Rumah itu kamu yang beli dengan uang tabunganmu kan. Aku akan kembalikan. Siapa tahu harta itu akan berguna di kemudian hari. Bisa juga untuk memberi mahar calon istrimu kelak. Aku bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih sempurna dari kamu. Lelaki yang bisa memenuhi segala kebutuhanku. Lela--."
"Cukup, Ajeng! Kamu tidak perlu mengatakan semua itu!" Tian memilih pergi dari sisi Ajeng. Ia bergegas menuju ke motornya.
"Jangan khawatir, aku akan segera transfer ke rekeningmu!" seru Ajeng sebelum ia menuju ke mobilnya.
Tian benar-benar kacau. Ia merasa keputusan menceraikan Ajeng adalah keputusan yang tepat. Sebab, di mata Ajeng ia sama sekali tidak mempunyai harga diri.
...**************...
...To be continued...
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏