
''Hah??'' Aisyah menampakkan wajah bingung tak paham maksud Kenan.
''Kau menolong bapak itu dan anak kecil itu, kan?'' tanya Kenan membuat Aisyah tersenyum.
''Kau benar, bapak itu menjadi tulang punggung keluarga dengan susah payah menghidupi anaknya. Anak kecil itu juga tidak mudah menjalani hidup pasti di antara anak seusianya sering terjadi deskriminasi di anatara sesamanya, oleh sebab itu dia takut dengan orang lain,'' ucap Aisyah dengan mata sayu dan mengucapkannya dengan lembut.
''Aku juga menolong penjual siomay itu, ku dengar dia punya ibu yang sakit dan hampir semua penjualannya untuk membiayai rumah sakit ibunya, makanya dia tidak bisa membuka rumah makan padahal siomaynya sangat enak. Aku membantunya membuka jalan, memberinya sebuah tokoh kecil tidaklah sulit, cepat atau lambat dia juga akan berhasil,'' ucap Aisyah menatap Kenan, kemudian tersenyum.
Kenan tidak menyangka Aisyah akan memiliki hati yang begitu baik, walau dia memiliki sikap yang kekanak-kanakan tapi hatinya bersih. Kenan menatap Aisyah seperti memiliki sayap tak terlihat dibalik sosoknya tersebut.
''Pftt, Kau percaya?'' tanya Aisyah menahan tawanya.
Kenan menatap Aisyah bingung seperti orang bodoh. Aisyah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Kenan yang benar-benar lucu.
''Buahahahah, masa Kau percaya, sih!!'' ucap Aisyah menunduk tertawa lepas.
''Aiayah menolong bapak itu agar yang kau bayar semakin banyak!!! Aisyah menolong tukang siomaynya agar tidak pusing lagi nanti kalau nyari siomay yang enak!!" ucap Aisyah menjelaskan maksudnya.
Kenan menatap Aisyah penuh arti. Mungkin Kenan kesal dengan Aisyah atau menganggap Aisyah ingin menutupi kebaikkannya.
''Hah ... seterah Aisyah sajalah,'' ucap Kenan tidak ingin berdebat dengan Aisyah karna akan semakin panjang bila Kenan bertentangab dengan Aisyah.
Aisyah melanjutkan makannya dengan wajah riang. Kenan menatap Aisyah yang makan dengan lahap teringat kejadian direstorants.
''Aisyah ... kenapa gak bilang alergi makanan laut?'' tanya Kenan membuat Aisyah terkejut.
Pupil mata Aisyah bergetar begitu juga tubuhnya. Kejadian di restorants mengingatkannya dengan permintaan Kenan tentang mahar pernikahannya.
''Aisyah tidak ingin banyak yang mengetahuinya,'' ucap Aisyah tersenyum, namun matanya mendelik Kenan dengan tatapan tajam.
''Orang taumu tau?'' tanya Kenan.
''Engak!!!'' ucap Aisyah cukup keras. Aisyah menunduk dan makan dengan cepat. Kenan tidak peka sama sekali bahwa Aisyah tidak ingin membahasnya.
''Kalau kau sangat lapar tidak makan yang kuberikan?''
Aisyah tersenyum kikuk dan memainkan jarinya menunduk. ''Sudak ku makan semua.'' Kenan menatap Aisyah tak percaya, dia baru saja makan porsi tiga orang, sekarang Aisyah makan siomay porsi 5 orang dewasa.
''Kau makan lalapannya?'' Kenan teringat kata-kata dokter yang melarang Aisyah memakan cabe dan makanan yang dibelinya terdapat lalapan disana yang terbuat dari cabe.
''Eh, maaf habis enak. Juga Aisyah lupa masalah ini makanya gak sengaja pesen seblaknya dikasih pedes,'' ucap Aisyah menggaruk kepalanya yang tak gatal dan tersenyum lebar.
''Jangan kasih tau abbi dan ummi, yah?'' ucap Aisyah mengatupkan tangannya memohon kepada Kenan.
''Huft, baiklah. Aku tidak akan kasih tau mereka,'' ucap Kenan menghela napas dan tersenyum kecil.
''Hehehhe, terima kasih,'' ucap Aisyah kemudian memberikan sekotak siomay kepada Kenan
''Ini buatmu, tidak perlu berterima kasih' ucap Aisyah. Kenan memang tidak perlu berterima kasih karna uang untuk membeli siomay itu uang Kenan.
__ADS_1
''Tapi jangan jadikan ini sebagai senjatamu memintaku menarik maharku,'' ucap Aisyah menujuk Kenan dengan sendok dan melanjutkan makannya.
Kenan menelan salivanya. Awalnya Kenan memang ingin melakukannya. Mahar yang diminta Aisyah benar-benar diluar kemampuan manusia, bahkan mungkin tidak ada sama sekali.
''Hahah, tidak Aku tidak akan melakukannya,'' ucap Kenan. 'Aku memang tidak melakukannya tapi awalnya aku berniat begitu,' ucap Kenan dalam hati dan memakan siomay yang diberikan Aisyah.
…
''Nona ini es krim pesanan Nona,'' ucap Seorang Pelayan menaruh sebuah es krim besar didepan Aisyah.
''Terima kasih,'' ucap Aisyah, setelah menghabiskan siomay yang ada dimulutnya. Pelayan itu tersenyum kemudian pergi.
''Aisyah belum kenyang?'' tanya Kenan melihat es krim Aisyah yang dua kali lipat besar tangannya.
''Hah? mana kenyang makan es krim begini. ini tuh cemilan!! C.E.M.I.L.A.N,'' ucap Aisyah menekan kata cemilan sambil menyendok es krimnya.
Kenan menelan salivanya melihat Aisyah yang baru saja menghabiskan siomaynya dan sekarang Aisyah memakan es krim porsi besar.
Drtt,drtt,drtt.
Kenan mengambil handphonenya dan melihat siapa yang menelponnya.
''Siapa?''tanya Aisyah dengan wajah belepotan.
''Abbi,'' ucap Kenan kemudian menujuk pipinya.
Aisyah memegang pipinya dan terdapat es krim disana. Wajah Aisyah seketika memerah, Aisyah buru-buru mengambil tissu ditasnya dan mengelap wajahnya.
''Iya, hm ... Baiklah.'' Kenan menutup telponnya dan menatap Aisyah. Kenan melihat tempat es krim Aisyah yang sudah kosong.
''Erghh~" Aisyah langsung menutup mulutnya dengan wajah yang memerah.
''Sudah selesai?'' tanya Kenan dan diangguki oleh Aisyah.
''Kita pulang sekarang, Abbi nyariin,'' ucap Kenan berdiri, lalu segera berjalan menuju parkiraan rumah sakit. Aisyah mengikuti Kenan dari belakang sambil memaki dirinya, bisa-bisanya da bersendawa depan Kenan.
'Ahkkkk, malu banget!!! Mau ditaruh diman ini mukaku!!!' ucap Aisyah dalam hati menutup wajahnya.
Brakk
''Ahhh, maaf-maaf,'' ucap Aisyah melihat Kenan yang berbalik menatapnya.
''Jalan hati-hati, didepan itu jalan raya,'' ucap Kenan kemudian berbalik lagi menyebrangi jalan. Aisyah segera mengikuti Kenan sambil mengigit bibir bawahnya. Wajah Aisyah benar-benar merah seperti tomat.
Kenan berhenti saat sudah menyebrangi jalan dan berbalik. Aisyah segera berhenti sebelum menabrak Kenan lagi. 'hampir saja,' ucp Aisyah memegang dadanya.
''Aisyah kenapa? wajah Aisyah merah sekali? Aisyah sakit?'' tanya Kenan memperhatikan wajah Aisyah.
Deg.
__ADS_1
Jantung Aisyah berdetak dengan cepat. Bisa-bisanya dia ketahuan bahwa wajahnya memerah. Wajah Aisyah tambah merah akibat pertanyaan Kenan.
''E … nggak," ucap Aisyah gugup.
''Aisyah sakit, yah? apa gara-gara makan es krim?'' ucap Kenan sambil berpikir.
'Gawat!!'
''Aku gak apa-apa, sudah. Katanya abbi nyarii!!'' ucap Aisyah berlari kecil menuju mobil Kenan.
…
Selama perjalan tidak ada percakapan diantara mereka. Aisyah sibuk dengan pikirannya dan Kenan sibuk fokus mengemudib walau pikirannya masih terbayang-bayang dengan permintaan Aisyah.
'Hah ... tadi kenapa Aku bisa berada dirumah sakit?' pikir Aisyah setelah berpikir cukup lama Aisyah berpikir mungkin dia ditolong oleh Kenan dan dibawa oleh para suster rumah sakit.
'tadi aku makan berduaan dengan kenan ... berdua, berdua, berdua ... ,' kata berdua terus terbayang-bayang dalam pikiran Aisyah.
'Astagfirullah Aisyah, kamu telah berbuat zina!!!' ucap Aisyah dalam hati yang teringat kata gurunya bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh berduan dengan bukan muhrim.
Aisyah menampar pipinya agar tidak memikirkannya lagi, namun kata berduaan masih terbayang-bayang dalam pikirannya.
Brakk
Aisyah membenturkan kepalanya kedasbor mobil. Kena terkejut dan melirik Aisyah.
''Aisyah gak apa-apa?'' tanya Kenan khawatir.
''Aku gak apa-apa,'' ucap Aisyah menatap Kenan dan tersenyum.
''Hm ... kaya nya, Aisyah memang sakit ... ,'' ucap Kenan menepikan mobilnya.
''Kagak!!! Aisyah gak sakit!!'' ucap Aisyah cepat.
''Gak, minum obat ini!!'' ucap Kenan menyerah beberapa obat berbeda kepada Aisyah.
''Gak!!! gak mau!!!'' ucap Aisyah tegas.
''Minum!!!'' ucap Kenan tak kalah tegas.
Aisyah tampak kesal. Aisyah diam tak bekutik tidak ingin minum obat. tapi Aisyah juga agak takut kepada Kenan.
''Aisyah minum obatnya ... ,'' ucap Kenan dengan lembut namun terlihat hawa tidak menyenangkan keluar dari tubuh Kenan.
Glek.
'Serem.'
Aisyah mengambil obat itu dan segera meminumnya. 'Hik, pahit!!!' Aisyah menatap keluar jendela mobil menahan rasa pahit dan ingin muntahnya.
__ADS_1
''Nih, makan permen,'' ucap Kenan memberika permen rasa jerek kepada Aisyah, kemudian menjalankan mobilnya. Aisyah memakan permen itu dan perlahan-lahan rasa pahit itu hilang. Aisyah tersenyum tanpa di sadarinya.