
Aisyah membuka matanya secara perlahan, samar-samar ia mendengar suara keributan.
''Sampai seorang ayah menyadari bahwa yang ia perbuat salah.''
''Papah tidak pernah menyesal membesarkan anak Papah menjadi seperti ini. Buktinya ia tetap sukses seperti yang Papah inginkan.''
''Pa-''
''Ugh.''
Muslim mengalihkan perhatiannya menatap sang adik.
''Kamu gak apa-apa Aisyah?''
Aisyah memijit kepala-nya yang terasa berdenyut. Aisyah ingat terakhir kali ia dipersidangan.
Muslim langsung memimijit kepala Aisyah mengambil alih. Papahnya memanggik dokter disaat bersamaan Hamara masuk.
Aisyah menatap Mamanya lalu berucap pelan, ''P-persi ... dangannya?''
Hamara menghela napas panjang lalu mendekat putrinya.
''Persidangan ditunda sampai esok. Tapi Sepertinya hakim sudah membuat keputusan.''
Aisyah terlihat begitu sedih, ia membalikkan tubuhnya kearah mamanya membelakangi kedua laki-laki yang saling menyerukan permusuhan.
Tok, tok.
Pintu kamar terbuka, seorang dokter masuk dengan seorang suster disebelahnya. Suster perempuan yang bersamanya menyelip diantara mereka untuk memeriksa Aisyah.
Setelah selesai ia memberitahu sang dokter.
"Pasien tidak apa-apa hanya shock juga kurang gizi, sebaiknya pasien sering mengonsumsi buah dan sayur untuk menjaga k-"
PRAK!
Aisyah menjatuhkan kaca disebelahnya dengan sengaja. Aisyah menunduk dan mulai menangis tersedu-sedu.
"Nak, Aisyah gak apa-apa?" khawatir kedua orang tuanya.
Aisyah memberi kode pada Kakaknya untuk segera menarik sang dokter. Muslim mengangguk lalu menarik dokter tersebut keluar. Muslim merobek hasil laporannya lalu menatap mereka.
"Maaf. Tapi jangan bertahukan siapapun adikku hamil. Persidangan penceraiannya akan kacau. Sebaiknya kamu menurutiku, hilangkan bukti apapun dan katakan adikku shock saja.''
Meski tidak terlalu paham sang dokter mengangguk, menjaga kerahasiaan tentang pasien juga adalah salah satu tugasnya. Bila pasien tidak setuju pihak manapun tak berhak mengumbar penyakit atau privasi pasiennya.
...
"Hadijah yang melakukannya! Lalu kenapa? Bukankah bagus? Kita bisa menikah tanpa orang ketiga dirumah tangga kita!"
"DIAM!! Aku tidak akan menikahimu!!"
"Kau sudah janji Ken!!! Kau tidak punya pilihan!!"
"Punya!!! Kamu tidak sakit lagi Dijah!!! Kamu cuma kelelahan!!! Berhenti berbohong!!! Saat diluar negeri aku melihatmu memalsukan riwayat penyakitmu!!!"
"Lalu kenapa??!!! Saat aku sakit keras kau menikahi perempuan itu!! Saat aku koma kamu merakit rumah tangga yang indah!!! Bahkan disaat aku terbangun dengan jantung yang baru kamu tidak datang melihatku!!! Untuk apa aku memberitahukan-nya?!! Bila penyakitku mengikatmu, aku tidak akan pernah melepasnya!!"
''Tapi aku tak pernah mencintaimu.''
Degh.
"Bohong!!! Kita sudah lama bertunangan!! Kamu pasti mencintai-ku!!"
"Faktanya aku tidak bisa mencintaimu!! Tekanan dan perbuatan yang kulakukan bukan keinginanku!!"
"BERISIK!!"
"Aku melakukannya demi orang tuamu!!"
__ADS_1
"Aku tidak mau dengar!!!"
"Pulanglah Dijah ....''
Degh.
Hadijah menatap Kenan untuk melihat apa ia sungguh-sungguh.
Degh, degh, degh.
Jantung Hadijah berdetak dengan cepat. Tak ada keranguan dimata Kenan. Jadi, apa selama ini hanya ia yang menganggap kenangan mereka itu adalah kenangan yang indah. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, satu tahun ada 365 hari. Hadijah telah menghabiskan 3,650 hari dengan kebohongan, mencintainya 4,380 hari dengan waktu 24 jam hanya untuk memikirkan-nya.
''KAMU TIDAK BISA MENGUSIRKU!!! KAMU YANG MEMBUATKU JATUH SEMAKIN DALAM AKAN KUBUAT JATUH BERSAMAKU!!!''
Bugh.
...
Aisyah duduk dibangsal rumah sakit sambil menyilangkan kakinya. Muslim terus menyuali adiknya dengan buah-buahan, sudah hampir dua jam ia jadi babu si tukang makan yang gak kenyang-kenyang. Muslim sendiri heran Aisyah sering makan banyak bukannya berat badannya naik lantaran sudah berbadan dua beratnya malah turun.
''Habis ini belikan Aisyah gado-gado.''
''Hnm.''
Muslim hanya dapat berdehem, tenaganya benar-benar terkuraa oleh si bumil.
Aisyah tersenyum senang, meski ia bersedih ia juga ingin makan dan jadinya ia menjadikan makan sebagai pelampiasan.
''Naikin berat badanmu. Nanti anakmu sakit gara-gara kurus.''
''Anak siapa?''
Degh.
Muslim juga Aisyah tiba-tiba terkejut melihat Abby Kenan datang.
Adnan menatap Muslim lekat-lekat.
''Kakaknya Aisyah?''
''B-''
''Muslim sudah gede yah. Udah nikah?''
Aisyah menatap Kakaknya yang menghindari tatapan Aisyah.
''Belum Om.''
Abby terkekeh pelan, '' Lalu anak sia ... pa?''
Pandangan mata Abby tiba-tiba tertuju pada Aisyah dengan wajah terkejut.
''Anak tetangga Muslim!!'' ucapnya cepat.
''Oh.'' Abby terlihat kecewa. Ia meletalkan sebuah makanan diatas meja. Wangi semerbak martabak membuat Aisyah langsung mengambilnya lalu memakannya hingga habis.
''Pffft, Aisyah lapar banget.''
Degh.
Tawa Abby begitu mirip dengan Kenan, bahkan ucapannya hampir sama. Rasa rindu juga sesak menghampirinya, Aisyah jadi tidak mood untuk makan.
Kruuuuk.
Perut Aisyah berbunyi kelaparan. Mendengar perut bersuara membuat Muslim menatap adiknya dengan tatapan yang mengatakan, 'Dasar ratu makan.'
Mau tak mau Aisyah memakan martabak yang tadi ingin ia berikan pada Muslim.
Abby pamit setelah melihat kondisi Aisyah.
__ADS_1
''Kakk belikan aku Coklat manis dengan almond didalamnya.''
Muslim menghela napas, ia beranjak lalu segera pergi. Orang tuan Aisyah pulang lebih dulu lantaran ada masalah yang harus mereka selesaikan.
...
Kenan memegang kepalanya yang berdenyut. Ia melihat seisi ruangan yang penuh, tempatnya sedikut berdebu namun terlihat habis dibersihkan walau tidak menyeluruh. Kenan berjalan kearah pintu berusaha membukanya.
Cklek, cklek, cklek.
'Pintunya dikunci!!!' Kenan beralih kearah jendela. Kenan tak mungkin bisa lewat sana sebab besi digunakan untuk jendelanya tak muat tubuhnya ia lewati. Diatas kepalanya adalah tembok, jalan satu-satunya adalah pintu.
Kenan menghela napas berat. Ia tiba-tiba menangkap sebuah kertas dibawa kakinya.
Aku akan melepasmu ketika kamu sudah bercerai dengannya. Pernikahan kita biar aku yang urus-dari kesayanganmu, Dijah.
Kenan meremas kertas itu, ia memegang kepalanya yang sudah dibaluti kain kasa. Hadijah benar-benar sudah tidak waras. Dibanding cinta, yang ia lakukan lebih miril obesesi.
...
Abby duduk diruang tamu bersama Umi Fatimah.
''By, Kenan kok belum pulang?''
''Biarkan saja. Abby sudah tak peduli.''
''Tapi ia anakmu, Umi khawatir.''
''Telpon saja.''
''Gak diangkat!''
Umi Fatimah semakin khawatir tentang anak satu-satunya. Perasaannya tidak enak sejak tadi, seperti terjadi sesuatu dengan anaknya.
''Hufhhtt Abby akan cari. Umi jangan terlalu khawatir.''
Adnan keluar dari rumah mengendarai mobilnya mencari sang anak.
...
''Rendy ....''
Rendy menatap Bilal yang menatapnya.
''Kenapa kau melakukannya?''
''Apa maksudmu?''
''Skandal Aisyah perbuatanmu-kan?!!''
''Kenapa kau berpikir begitu?''
''Jangan bohong!!! Aku tidak bodoh. Hanya kamu yang punya foto Aisyah yang ini.'''
Umar mengambil handphone Randy lalu memperlihatkan foto yang digunakan Rendy untuk membuat skandal ada digalerinya. Foto Aisyah melihat bunga dengan topi putih berhiaskan pita pink dengan gamia biru navy.
''Lalu?''
Brak!!
''Kenapa? Aisyah-kan penyelamat kita!!!''
''Tapi adikku butuh uang untuk kuliah!!!''
Bilal tersenyum sinis.
''Apa kau pikir ia akan senang dengan pengorbananmu? Bila aku jadi adikmu, aku akan sangat kecewa. Kakakku melakukan hal jahat dengan alasan diriku. Aku pasti akan membencimu.''
Rendy mengalihkan pandangannya. Hatinya terluka sebab apa yang dikatakan Bilal adalah benar.
__ADS_1