Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Skandal


__ADS_3

'Berapa banyak lagi luka yang akan kau taruhkan dihatiku? Apakah setara menjaga hubungan ini dengan deritaku? Apa pada akhirnya aku harus tetap berbagi? Aisyah bukan orang yang pelit ... Apa Allah mengujiku untuk melihat seberapa dermawan hatiku hingga mau berbagi suami?'


Aisyah tertawa pilu, menghapus air matanya.


''Kak ... Apa setelah pulang kau akan mengatakan ia istrimu juga sekarang.''


Aisyah memegang perutnya sambil tersenyum. ''Nak jangan benci Mama yang membenci papahmu.''


Sebaik apapun seorang perempuan ia akan tetap cemburu melihat suaminya dengan perempuan lain. Sepengertian apapun istrinya ia akan tetap tersakiti bila dipoligami. Status istri pertama dengan suami yang memiliki dua istri adalah penderitaan. Maka merelakan yang menyakitkan lebih terasa nyaman dari pada hidup dengan makan hati.


...


Drrttt.


''Aisyah ... Kamu dimana?''


Aisyah tersenyum kecut mendengar suara khawatir para sahabatnya. Sepertinya rumah tangganya akan hancur. Cepat atau lambat, mertua juga papah, mama-nya akan tau.


''Jessica ... Aisyah lagi dirumah. Maaf Aisyah gak mau kemana-mana.''


''Ak-''


Tut.


Aisyah menjatuhkan kepalanya. Berita tersebut heboh dimana-mana, apakah perlu mengumbar informasi berita rumah tangga orang? Tapi ini media dengan teknologi informasi. Berita yang diingankan orang-orang pasti akan selalu tersiarkan.


''Kakak akan marah ... Semuanya akan jadi runyam ... Apa yang akan kau lakukan Kenan?''


...


Presdir HK groub terlihat dibandara negara dengan pasangannya. Ap-


Tiing.


Aisyah mematikan TV yang hanya menyiarkan berita tentang suaminya dengan tunangannya.


Dimana-mana tersebar beritanya. Aisyah memandang foto pernikahan meraka, betapa bahagianya ia dulu saat awal-awal pernikahannya. Apa kenan bosan dengannya?


Aisyah berjalan membuka laci dimeja riasnya. Gelang yang begitu ia cintai kini ia ragukan.


''Apa saat itu kamu melakukannya agar aku semakin jatuh padamu? Jadi meski kau menyakitiku aku tetap tak bisa meninggalkanmu ... Mulutmu sangat manis. Tapi prilakumu menusuk.''


Tin ton.


Bel rumah berbunyi, Aisyah tak menghiraukan-nya ia tak bisa menerima tamu sekarang.


Tin ton.


Tin ton.


Bel rumah terus berbunyi. Aisyah mau tak mau harus turun membuka pintu. Aisyah turun dengan tampilan seadanya, ia tak pernah berpikir yang datang adalah mertua juga orang tuanya.


''Aisyah!!!''


Mereka memandang Aisyah yang keluar membuka pintu dengan tampilan keacakan. matanya sembab, wajahnya pucat, mimik wajahnya terlihat kecewa.


Kedua besan itu tampak saling bermusuhan.


''Kenan mana?'' tanya Abbynya.


Aisyah menggeleng pelan yang membuat mereka memalingkan wajahnya.


''Nak, ayok kita pulang. Kamu gak usah disini lagi. Kamu pulang karna masalah ini-kan?''


''Mah, Pah, Abby, Umi, kalian gak usah khawatir, itu cukup gosip.''


''Gosip? lalu apa ini?'' Chandra melempar foto-foto Kenan dengan hadijah. Putrinya tetap membelanya meski mengalami semuanya.


''Pah mungkin itu gak sengaja. Bisa jadi ia rekan bisnis Kenan, Pah.''


Papah Aisyah pergi menjauh lalu memukul sebuah pohon hingga tangannya berdarah.


''Tidak perlu banyak penjelasan lagi ... Aisyah ayok pulang, Nak.''

__ADS_1


''Gak, Pah! Aisyah akan disini.''


''Menunggunya menyakitimu?''


Jleb.


Aisyah meremas gamisnya, ia harus tetap bertahan.


''Adnan!!! Begini caramu mengajari putramu!!''


''Cih.''


''Aku tau putraku salah ... Tapi aku kemari bukan untuk itu. Kita butuh Kenan untuk menjelaskannya.''


''Apa lagi yang perlu dijelankan?!''


''Kau pikir rumah tangga tak akan ada yang menganggunya? ingat kamu juga pernah terlibat skandal perselingkuhan saat awal menikah!''


''Jangan membahas masa lalu!! Aku tak pernah mengkhianati Hamara!!!''


''Lalu putraku? Aku sendiri yang akan mendengar apa yang akan ia katakan.''


''Seharusnya aku tidak setuju.''


Semua mata langsung tertuju pada Umi Fatimah. Ia yang paling mendukung perjodohan ini, ia juga yang paling menyayangi Aisyah dibanding anaknya.


''Mah, Pah, Umi, Abby. Hiks ... Jangan bertengkar ... Aisyah tidak akan kemana-mana. Aisyah akan menunggu suami Aisyah pulang.''


Aisyah menangis didepan meraka, menyaksikan keluarganya saling bertengkar membuat hatinya tersayat-sayat. Lalu bagaimana bila mereka juga tau Aisyah hamil.


Mereka terdiam, saling memandang lalu merenung. Mereka terlalu gegabah hingga bertengkar didepan Aisyah.


''Maafkan kami Aisyah.''


Aisyah mengangguk pelan lalu masuk kedalam rumah. Terserah mereka akan masuk atau pulang.


''Kenan dimana sekarang?''


Apakah Kenan tau? Ia tidak tau sama sekali. Ia terlalu sibuk untuk mengecek HP-nya sedangkan Azka juga sibuk. Hadijah? ia tentu tau dan ia senang membaca setiap berita yang tertulis. Meski sedikit kesal karna mereka mengira ia adalah Aisyah.


...


''Ken makasih sudah mengantarku pulang,'' Hadijah tersenyum sumringan. Ia melihat rumahnya lalu tersenyum masam.


''Ken kalau kita menikah belikan aku rumah yang besarnya lebih dari ini, harus ada kolam renangnya! Kamu kenapa belikan aku rumah yang kecil begini?''


''H-''


BUGH!


''KEN!!!''


Kenan tersungkur kebelakang, sudut bibirnya berdarah, Kenan mengangkat kepalanya melihat siapa yang memukulnya.


Degh.


''Kakak ipar.''


''Kakak ipar? baru sekarang kau memanggilku begitu. Terlambat! Ternyata begini caramu menjaga Aisyah ... Begini caramu menepati perkataanmu?''


''Ke-''


Plak.


Muslim tak sengan-sengan menampar Kenan.


''KYA!!! APA YANG KAU LAKUKAN!!!''


Hadijah berdiri didepan Kenan melindunginya.


''Minggirr!!''


''Gak!!'' Hadijah tak gentar karna ia yakin laki-laki didepannya tak akan menyakitinya.

__ADS_1


Dhuk.


Muslim tidak peduli, ia mendorong Hadijah hingga tersungkur.


Hadijah begitu syok, hingga ia hanya terdiam.


Plak.


Plak.


Plak.


Plak.


Muslim menampar wajah Kenan berulang kali. Namun Kenan terlihat tak ada niatan untuk membalas ataupun menggertak.


''Maaf.''


Muslim berhenti lalu mundur beberapa langkah. ''Aisyah pasti membencimu.''


Degh.


'A-ais-syah mem ... benciku?'


Melihat Kenan terkejut mendengar ucapanya Muslim tersenyum miris.


''Kau pikir Aisyah tak akan mampu membencimu? Kau pikir adikku akan terus mencintaimu? Hahahahah.''


Muslim tertawa lepas lalu berbalik pergi, langkahnya terhenti tak jauh dari sana.


''Mau tak mau bersiaplah bertemu dipengadilan.''


Degh.


''Muslim!''


Muslim semakin jauh. Kenan terduduk dilantai, pandangannya langsung tertuju pada Hadijah yang masih syok.


''Dijah kau gak apa-apa?'' tanya Kenan menghampirinya.


''Iya aku gak apa-apa.''


''Makasih kamu perhatian.''


Kenan memalingkan wajahnya. Tangannya tiba-tiba dipegang oleh Hadijah, Kenan melepasnya secara perlahan dengan mata yang melotot.


''Heheh ... Bukankah begini juga bagus. Setelah kalian bercerai kita akan menikah. Kau akan menikahiku-kan? Kau sudah berjanji-kan?'' Hadijah menatap Kenan penuh harap.


"Saya ....''


...


''Aisyah ... Mama masak opor ayam. Ayok makan.''


Aisyah ikut dengan ibunya, mereka berada dimeja makan saling memandang lalu menghela napas.


''Nih, makan yang banyak,'' ucap Mama Aisyah menuangkan opor ayam dipiring Aisyah.


'Hugh.'


Aisyah merasa perutnya bergejolak, perutnya seperti diaduk-aduk.


''Aisyah gak apa-apa?'' tanya Papanya.


Aisyah, mama dan Papahnya diduduk dimeja makan untuk makan siang. Hari ini mamanya yang memasak dikarenakan Aisyah sedang kurang sehat.


''Gak ap-''


Aisyah langsung berlari ke wastafel memuntahkan seluruh isi perutnya.


''Huekkk!!!''


Mama dan Papah Aisyah saling memandang lalu menghampiri putrinya.

__ADS_1


__ADS_2