
Aisyah duduk diruangannya dengan cangung. Dia dirias seperti sebuah boneka, dari dia bangun sampai sekarang, mereka sudah sibuk membuat Aisyah menjadi yang paling cantik.
''Akhirnya ... maha karyaku yang cantik!!!'' ucap periasnya dengan senyum bangganya.
Aisyah membuka matanya dan menatap pantulan dirinya, dia seperti orang lain.
Tok,tok.
Dari ujung pintu kamar Aisyah berdirilah Uminya dengan wajah bahagia, bercampur kesedihan.
Uminya menghampirinya dan mengenggam tangan putrinya.
''Mari ... .''
Aisyah berdiri secara perlahan dan melangkahkan kakinya keluar, dibawah sudah ada beberapa kerabat mereka. Aisyah duduk ditengah-tengahnya menunggu selesainya akad mereka.
Beberapa pujian terdengar dari bibir mereka. Kerabat yang tak pernah Aisyah lihat, kini berkumpul dirumah itu. Entah apa yang mereka bicaraka, Aisyah tidak dengar dengan jelas, dia sedih. Hidupnya akan berubah, suasana paginya akan berubah, segelanya akan berbeda.
Grebb.
Sebuah tangan mengusap tangan Aisyah yang gemetaran.
''Aisyah ... putri ibu sudah besar,''ucap Umi Aisyah dengan senyum haru dibibirnya, namun kilatan cahaya terpancar dimatanya.
''Iya ... ,'' Aisyah berucap pelan dengan senyum diwajahnya.
...
...Aula masjid....
''Saya nikahkan engkau, dan saya kawinkan engkau Muhammad Kenan Irsyad bin Adnan Hasan dengan puteriku Annisa Aisyah Putri bin Albiy Chandra dengan mahar seperangkat alat sholat, Kuda putih inggris,Emas seberat 200 gram dan perhiasan seberat 50 gram dibayar tunai," Lantang Abbi Aisyah.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Muhammad Kenan Irsyad bin Adnan Hasan dengan Annisa Aisyah Putri bin Albiy Chandra dengan mahar seperangkat alat sholat, Kuda putih inggris,Emas seberat 200 gram dan perhiasan seberat 50 gram dibayar tunai," ucap Kenan dengan sempurna.
''SAH!!!!''
Ketika kata sah bengumandang diruangan itu, ada beberapa orang yang bersedih dihari yang seharusnya bahagia itu. Kenan menatap Uminya, salah satu alasan terbesarnya menikah adalah Uminya. Kenan menatap Uminya lekat-lekat, matanya terasa perih. Dia anak yang berbakti.
Tes.
Deg.
Sebuah air mata jatuh dari pelupuk matanya, bukan Kenan, tapi Uminya.
''Eh ... kok Umi nangis ... ,'' ucap Umi Fatimah pelan dengan senyum diwajahnya. Umi Fatimah terus mengusap matanya, tapi air matanya tidak berhenti turun. Setelah kenan menikah, dia akan tinggal jauh, bukan dirumahnya lagi. Dia akan kembali sendirian dirumah tanpa kehadiran suara Aisyah yang sering kemari dan juga Kenan.
Grebb.
Kenan memeluk uminya dengan erat, bayangan ketika uminya pingsan adalah yang terburuk untuknya. Dia anak berbakti, dia menyayangi Uminya. Tidak akan ada anak yang kuat melihat ibunya terbaring dirumah sakit.
__ADS_1
''Maafkan umi ... seharusnya umi seharusnya Bahagia,'' pelan Umi Fatimah.
Puk.
Sebuah elusan lembut dari suami Umi Fatimah menenangkannya. Air matanya berhenti, Umi Fatimah mengangkat wajahnya dan tersenyum. Suasananya berubah menjadi haru.
…
Grebbb.
Umi Aisyah memuluk Aisyah dari belakang. Kini dia juga sendirian, dirumahnya yang luas itu mungkin akan terasa asing baginya. Dia ibu yang penuh kesedihan. Ketika putranya pergi, dia berusaha untuk menahan air mata-nya, namun tetap saja bulir bening keluar dari matanya. Ketika Aisyah pergi, dirinya menutup diri dikamar, berusaha menenangkan diri. Namun dirinya tetap saja tidak bisa menahannya, dia akhirnya bertengkar dengan suaminya. Mereka akhirnya menjadi orang asing dirumah itu, tapi luka dihatinya tidak sembuh, dia semakin terpuruk hingga jatuh sakit.
Mereka melihat acara ijab kobulnya dari layar televisi yang terhubung disana.
''Umi ... .''
Aisyah melepas tangan Uminya dan berbalik memeluknya.
Tes.
Air mata keluar dari pelupuk mata ibunya, dia tidak ingin Aisyah pergi, namun dirinya egois, dia melupakan bahwa Aisyah tak akan selamanya bersamanya.
''Maafkan mama ... mama tidak pernah hadir didukamu ... ,'' ucap Umi Aisyah membenamkan wajahny dibahu Aisyah.
......Tidak ada yang salah diantara mereka, mereka hanya egois dan memikirkan ego mereka. Penyesalan akan selalu ada jika ego tidak bisa dihilangkan, baik itu buruk ataupun baik. Saling memahami dan memaafkanlah yang harus kita lakukan agar tidak adanya penyesalan ketika yang berharga benar-benar telah pergi.......
Aisyah keluar dari rumah Umi Fatimah diiringi oleh keluarganya, mereka terus melempari Aisyah bunga sepanjang dia melangkahkan kaki.
''Hiiiikkk''
Sebuah kuda putih mendengus menatap Aisyah.
Aisyah tersenyum dan mengusap kepalanya lembut.
''Hati-hati,''ucap Uminya Aisyah membantunya menaiki kuda itu.
''Iya,'' Aisyah berucap dengan senyum cerah diwajahnya. Dia harus bahagia dihari spesialnya ini, dia tidak ingin mengingat pernikahan yang buru baginya.
Kuda putih itu berjalan dengan perlahan menuju aula acara pernikahan mereka dan sepanjang perjalanan, Aisyah bersama keluarganya melemparinya bunga, dia dipayungi dengan payung besar, pernikahannya mengingatkannya akan putri yang menikah dengan pangeran.
Tak.
Kuda itu berhenti didepan masjid.
''Assalamualaikum... Suamiku,'' bibir Aisyah berucap lembut.
Senyum tulus Kenan mengambang diwajahnya, Kenan mengulurkan tangannya dan digapai oleh Aisyah. Aisyah turun dari kuda dengan bantuan Kenan. Salah satu permintaan mahar Aisyah adalah ini, kuda dan gaun pengantinnya adalah mahar khusus yang dipilih oleh Kenan.
Prok, prok, prok.
__ADS_1
Tepuk tangan meriah dan sorakan terdengar meriah disana. Pernikahan mereka seperti sapasang kekasih yang saling mencintai.
Kenan mengenggam tangan Aisyah lembut, dia menuntunnya menuju Aula acara. Suara dentuman sholawat terdengar meriah dinyanyikan oleh para santri yang telah dipilih.
Aisyah duduk berdampingan dengan Kenan, sebuah momen langka mereka duduk tanpa berdebat satu sama lain. Kenan menatap wajah Aisyah lekat-lekat, wanita yang disampingnya, kini berstatus istrinya, wanita yang akan bersamanya hingga maut memisahkan mereka. Mungkin perjalanan mereka masih panjang dan penuh lika-liku, tapi kasih sayangnya yang tidak terlihat itu, akan membuat keluarga kecilnya menjadi sebuah keluarga yang dapat membuat Aisyah tersenyum dengan tulus.
PPRAKK.
Semua mata mengarah ke orang yang memecahkan gelas tersebut, suasana yang terasa haru dan bahagia berubah menjadi sunyi.
Deg.
''Aisyah ... .''
Wajahnya terlihat terkejut, pupil matanya bergetar, terlihat kilatan cahaya bening dimatanya.
''Umar!!! Kau kenapa, Nak?!!!'' tanya Bundanya khawatir.
Umar datang kepernikahan Aisyah tanpa tau apapun, dia hanya ikut bundanya karna pernikahan ini merupakan pernikahan teman bundanya. Jantung Umar terasa berhenti ketika menangkap pasangan yang telah menjadi suami istri itu, terlihat familiar dimatanya.
Deg.
''Umar ... ,'' Aisyah berucap pelan, pikirannya kosong, dia ... akankah sebuah hal buruk terjadi?
''Gak!!! Gak mungkin ... ,'' ucap Umar menggepalkan tangannya.
Tes.
Darah segar keluar dari tangan Umar, dia tidak peduli, hatinya terasa tercabik-cabik. Dia terlambat satu langkah saja ... Kini wanita yang dia cintai sepenuh hati, setiap sujud dan doanya terucap namanya telah menjadi takdir orang lain.
''Umar!!! Tanganmu berdarah, Nak!!!'' panik Bundanya.
'Grtttt'
Syuttt.
Umar berlari pergi, tidak ada yang memberitahunya Aisyah akan menikah. Lalu Aisyah sendiri tidak cerita apapun padanya. Hidupnya terasa hancur, lantas selama ini usahanya sia-sia. Dia melawan keras orang tuanya untuk pulang dan tidak melanjutkan studinya ketingkat yang lebih fantastis lagi. Dia menentang permintaan ayahnya, dia juga melawan ayahnya yang tidak suka Aisyah hanya karna skandal tidak jelas pernah ada diriwayat kehidupan Aisyah. Apakah sahabatnya juga tau itu? Dan hanya dia yang tidak diberitahu.
....
''Aisyah ... ,'' ucapan Kenan terdengar rendah, pandangan Aisyah mulai terlihat tidak jelas. Sebuah kejolak kemarahan muncul dihati Kenan, dirinya merasa tidak adil. Di pernikahannya, dia harus melihat istrinya goyah dengan laki-laki lain.
''Maafkan anak saya!!!'' ucap Bunda Umar merasa bersalah.
''Gak apa-apa ... ini bukan salahmu,'' ucap Umi Fatimah lembut. Dia menatap putra dan menantunya, kehidupan mereka mungkin akan penuh lika-liku yang terjal.
Acara pernikahan mereka berjalan lancar, seolah tidak ada kejadian yang begitu memilukan tadi. Namun Aisyah terlihat penuh beban pikiran.
...----------------...
__ADS_1