
Terkadang Kenan pulang sesekali kerumah. Aku hanya dapat bersikap tidak terjadi apa-apa.
''Aisyah apa ini sepedan?'' tanya Ratna dari sebrang telpon.
''Ratna ... Sepadan tidak sepadan, Ais lakukan ini untuk anak Aisyah.''
''Katakan padaku bila kau ingin bercerai.''
''Baiklah, jangan terlalu khawatir,'' saran Aisyah.
''Iya.''
Tut.
Panggilan berakhir. Aisyah melirik pintu rumah yang masih tertutup rapat. Usia kehamilannya sudah menginjak tiga bulan tapi Aisyah tidak terlihat seperti orang hamil. ia jadi bertanya-tanya apa ia terlalu kurus.
Tin, ton.
Aisyah bergegas membuka pintu, wajahnya sedikit tersenyum dengan harapan yang datang adalah Kenan. Kenan pasti datang mengingat ia libur dan tidak memiliki kegiatan apapun.
''Assalamualaikum.''
''Wa-waalaikumussalam.''
Aisyah menunduk kecewa melihat yang datang adalah mertuanya
''Aisyah kenapa? Kenan mana?''
Aisyah mempersilahkan mertuanya duduk terlebih dahulu lalu Aisyah menyajikan teh untuk mereka.
"Umi sama Abby datangnya kecepetan banget,'' ucap Aisyah tersenyum lebar.
"Karna kami perginya kecepatan buat liat kalian berdua. Kenan mana?"
"K-kenan pergi kekantor, Abby."
"Dasar tuh anak. Pagi-pagi ninggalin istri," omel Umi Fatimah.
''Aisyah telpon gih. Kalian pasti jarang pergi keluar.''
''Gak kok, Mih. Aisyah sering di ajak keluar.''
Umi Fatimah tersenyum lebar mendengarnya. Ia melirik Aisyah namun tidak terlihat ada tanda apapun.
"Aisyah belum isi yah?" Umi Fatimah terlihat kecewa.
Aisyah tak paham maksud dari perkataan mertuanya.
"Aisyah belum hamil maksud Umi," ucap Abby menjelaskan melihat Aisyah terlihat kebingungan.
Aisyah mengangguk lalu tersenyum. "Mungkin belum saatnya, Umi."
'Bohong.'
''Aisyah telpon?'' tanya Aisyah pada mertuanya. Keduanya mengangguk lalu melihat Aisyah yang terlihat ragu.
''Kalau Aisyah khawatir biar Abby yang telpon.''
''T-tidak usah Abby.''
'Abby tidak boleh tau.'
Drtt, drtt.
''Halo ....''
Degh.
Aisyah tersenyum pahit saat mendengar suara perempuan yang mengangkat.
''Aisyah ada apa, Nak?''
''Ah ... T-tidak apa-apa, Umi.''
''Kenan pasti keras kepala ... Sini kasih Abby. Biar Abby yang bicara.''
''Tidak usah Abby!''
''Assalamualaikum,'' sapa Aisyah ramah.
''Waalaikumussalam ... Ini siapa?''
__ADS_1
''S-saya ... Kenan mana?''
''Bentar kupanggilkan.''
''Ken!!!''
'Panggilannya begitu akrab ....'
''Ada apa, Dijah?''
Aisyah menelan salivanya susah payah, hatinya sakit mendengar kedekatan mereka.
''Ada yang menelpon tapi tak ada nama dikontaknya.''
Degh.
'Segitu tak penting-kah diriku.'
''Ais-''
''Umi sama Abby ada dirumah.''
Degh!
''Aisyah!!''
Tut.
Kenan mengusap wajahnya dengan kasar, ia meremas rambutnya sebab denyut dikepalanya.
Kenan buru-buru pergi tanpa mengatakan apapun pada hadijah.
''Kenan akan datangkan?'' tanya Umi memastikan.
''Iya, Umi.''
''Kalian tidak sedang bertengkar-kan?'' tanya Umi memastikan.
Aisyah melihat kedua mertuanya lalu tertawa canggung.
''Tidak, Umi.''
''Yah ... Umi kira kalian bertengkar karna inikan masih awal-awal dari pernikahan yang pasti akan banyak hal yang dapat membuat kita bertengkar.''
''Aisyah sama Kenan baik-baik saja-kan selama ini?''
Aisyah mengangguk lalu memperlihatkan senyuman terbaiknya.
Cklek.
Aisyah berbincang cukup lama hingga pintu rumah tiba-tiba terbuka dengan suara keras.
''Aisyah!!!''
Semua orang terkejut tak terkecuali Aisyah.
''Kenan! Sikap apaan itu?!" tegas Abby.
"Pfft, Kenan khawatir Aisyah diapa-apakan?" tanya Uminya tertawa kecil.
Abby ikut tertawa mendengar perkataan istrinya.
''Assalamualaikum."
Kenan menyalami tangan kedua orang tuanya, ia melirik Aisyah sejenak lalu memalingkan wajahnya.
Kenan duduk disebalah Aisyah lalu tersenyum.
"Apa yang kau katakan pada mereka?!" bisik Kenan dengan tajam.
Aisyah tersenyum lalu merangkul tangan Kenan.
"Umi sama Abby dak usah khawatir Kenan perhatian banget sama Aisyah ... Kakak mau-kan ajak Aisyah pergi jalan,'' ucap Aisyah menatap kedua orang tua Kenan lalu menatap Kenan untuk segera menyetujuinya.
''I-iya, Umi.''
Umi Aisyah tersenyum begitu lebar, ia bahagia melihat anak dan menantu-nya begitu akrab.
''Kalau gitu kami pulang dulu.''
''Umi sama Abby cuma datang buat liat kami?''
__ADS_1
''Hehe, Umi sama Abby mau liburan sekalian mampir bentar.''
''Umi mau kemana?''
''Umi mau coba pergi ke jepang.''
''Oleh-oleh Umi!''
''Yah nanti Umi pasti bawa oleh-oleh.''
Aisyah dan Kenan mengantar kepergian mereka. Aisyah masuk kerumah lebih dulu, merebahkan tubuhnya disofa lalu memejamkan matanya.
''Kenan sudah bisa pergi kekantor.''
''Ngapain?''
Aisyah duduk dengan tegak lalu menatap Kenan dengan tanda tanya.
''Saya tadi sudah janji ajak kamu keluar ... Jad ayok jalan.''
Aisyah menghela napas panjang lalu berjalan kekamarnya.
Aisyah turun dengan pakaian yang polos dan sederhana.
''Aisyah mau berangkat sekarang?''
''Kalau bukan sekarang kapan?'' tanya Aisyah binggung.
Kenan mengangguk lalu melihat jam ditangannya yang menunjukkan pukul tujuh lewat dua. Mereka tidak terlalu kepagian-kan perginya.
Aisyah makan ditempat yang biasa untuk sarapan, dipinggir jalan dengan semangkuk bubur. Entah mengapa ia tiba-tiba pengen makan bubur.
Setelah sarapan Aisyah memilih belanja dari pada jalan-jalan. Kenan tetap setia dibelakang menjadi pengangkut barang istrinya.
Aisyah memperhatikan perhiasan yang ada didepannya. Semua tampak cantik hingga membuatnya binggung harus memilih yang mana.
Karna bingung Aisyah membeli semua yang menarik perhatiannya. Lagi pula yang membayar adalah Kenan, emas juga bisa ia jadikan uang lagi kalau ia jual.
Dari satu toko ketoko lain Aisyah lebih senang berbelanja permata, emas dan sesuatu yang tampak cemerlang dimatanya.
"Kak bagus gak?" tanya Aisyah memperlihat gelang yang begitu berkilau dengan hiasan bunga yang setiap bunganya memiliki permata intan biru ditengahnya, bila dihitung mungkin sekitar 18 bunga yang ada.
"Bagus ... Cantik,'' Kenan berucap sambil memandang wajah Aisyah yang tak hentinya tersenyum.
Kenan meletakkan barang-barang yang ia bawa lalu mengambil gelang tersebut. Kenan memasangkannya ditangan Aisyah.
''Gelang yang kuberikan mana?'' tanya Kenan saat melihat Aisyah tidak memakai pemberiannya.
Senyum Aisyah langsung memudar, sejak ia tau Kenan selingkuh ia tak lagi memakainya.
''Aisyah simpen,'' ucap Aisyah menberikan senyum terbaiknya.
Kenan mengangguk lalu melepaskan tangan Aisyah yang dari tadi masih ia ngenggam.
Kenan membawa barang Aisyah dengan satu tangan, tangan lainnya mengenggam tangan istrinya.
''Kenan?!''
Mereka berbalik secara bersamaan.
Degh.
Seperti tertangkap basah, Hadijah melihat mereka dengan tak percaya. Matanya melirik kearah tanga Aisyah dan Kenan saling bertautan.
Plak.
Aisyah langsung melepaskan tangannya lalu memukul tangan Kenan.
''Kal-''
Bruk.
Hadijah langsung terjatuh pingsan didepan mereka. Kenan menjatuhkan barang bawaannya hingga tercecer.
Kenan tanpa berpikir panjang menghampiri Hadijah.
Aisyah diam mematung sejenak sebelum matanya melihat perhiasan juga beberapa baju yang ia beli terjatuh. Aisyah memungguti semuanya lalu membawanya sediri pergi.
Aisyah berbalik setelah jauh dari sana.
Kenan benar-benar tak peduli padanya. Ia tetap memilih perempuan itu dibanding mengejarnya yang jelas-jelas istrinya.
__ADS_1
Aisyah menatap punggung yang mengangkat perempuan lain.
''Kamu tega ... Berapa banyak yang harus aku maklumi untuk bertahan disisimu.''