Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Kenyataannya


__ADS_3

''Widia? Kalian mau ngobrol apa? Mau masuk dulu ... ,'' ucap Aisyah menawarkan masuk rumah.


''Gak, gak usah. Widia gak enak, Kita ngobrol disana saja, Kak,'' ucap Widia menujuk rumah-rumah kecil tempat para santri sering bertemu.


''Owh, yaudah.''


Mereka pergi ke rumah-rumah tersebut dan duduk berdekatan.


''Kalian mau ngomong apa?'' tanya Aisyah.


''Ada gosip tentang kak Aisyah ... ,'' ucap Widia melihat ekspresi wajah Aisyah yang tidak heran ataupun terkejut.


''Kami mau tau kebenaran tentang gosip itu ... ,'' ucap Widia pelan.


Aisyah tidak terkejut hanya terlihat sedih memikirkan tentang gosip yang gak benar itu.


''Entah dari mana gosip itu datang ... tapi itu gak bener sama sekali ... ,'' ucap Aisyah pilu.


''Owh, kalau gitu tinggal kita luruskan saja masalahnya,'' ucap Andini mengangguk-anggukkan kepalanya.


''Dari yang kami dengar, katanya kak Aisyah ketemu laki-laki lain dicafe gitu ... ,'' ucap Widia dengan serius.


Deg.


''Yang bikin gosip ini parah, katanya kak Aisyah bermesraan gitu ... ,'' ucap Andini menimpali.


Deg.


Deg,deg,deg.


Jantung Aisyah berpacu dengan cepat. Akhirnya dia tau dari mana asal muasal gosip ini berlaku.


''Kalian benar ... ,'' ucap Aisyah membuat mereka terkejut.


''Aisyah memang ketemu laki-laki disebuah cafe. Tapi ... Aisyah gak bermesraan dengannya. Dia temen Aisyah yang datang dari tempat yang jauh,'' ucap Aisyah membuat mereka berdua saling memandang.


''Aku tau banyak yang tidak akan percaya ... tapi biar Aisyah telpon dia, biar semuanya jelas ... ,'' ucap Aisyah tersenyum. Namun senyumnya membuat siapapun yang melihatnya akan merasa hatinya teriris pisau tajam.


Drt,drt,drt.


''Assalamualaikum, Umar ... .''


''Waalaikumussalam, Aisyah ada apa ...?''


''Soal kemarin, Aku minta maaf sebesar-besarnya ... ,'' ucap Umar terdengar tulus.


Widia dan Andini dapat mendengar ucapan Umar dan yakin bahwa semua itu cuma salah paham.


''Umar, Aku mau ngomong sesuatu ... ,'' ucap Aisyah.


''Mau ngomong apa?'' tanya Umar penasaran.


''Karna pertemuan kita kemarin. Gosip gak bener ... ,'' ucap Aisyah berhenti kemudian menghela napas.

__ADS_1


''Baiklah. Saya gak mungkin biarin Aisyah dalam masalah ... ,'' ucap Umar terdengar sedih.


''Kalian dengerin saja apa yang dia bicarakan,'' ucap Aisyah menaruh handphonya ditengah mereka dan menspeaker suaranya.


''Perkenalkan saya Umar. Saya temen Aisyah satu sekolah dulunya. Secara pribadi saya mengajak Aisyah untuk bertemu. Saya ingin minta maaf kepadannya karna sebuah kesalahan saya yang mungkin sudah membuat Aisyah terluka ataupun kecewa. Saya minta maaf sebesar-besarnya ... saya tidak mau hal ini malah membuat Aisyah menjadi sedih ataupun disalah pahami oleh kalian!!! Saya harap kalian berhenti menyebarkan gosip gak bener!!! Kalian bisa percaya kata-kata saya ... saya bukan orang jahat ataupun orang licik!!! Saya Muhammad Umar Al-Faris!!! Jika kalian menyelidikinya kalian akan tau saya bukan orang jahat!!!'' ucap Umar tegas dan bersungguh-sungguh akan memperbaiki nama baik Aisyah.


''Umar, bukan mereka yang menyebar gosip ... justru mereka yang ingin tau kebenarannya ... mereka santriwati ... ,'' ucap Aisyah pelan.


''Astagfirullah!! Maaf dek ... kakak gak terlalu keras, kan??'' tanya Umar merasa bersalah.


''Engak kok kak, justru kami jadi sadar dan tau kak ... ,'' ucap Widia tersenyum lebar dan diangguki oleh Andini.


''Betul tuh kak ... .''


Aisyah menenggokkan kepalanya dan melihat Haikal dan Imran, juga para santri lainnya.


''Halo kak,'' ucap Haikal melambaikan tangan sambil merangkul Imran.


''Sejak kapan kalian semua disini??''tanya Aisyah.


''Heheh, kami khawatir sama kakak. Kan kami yang kasih tau kakak ... kebetulan kami denger pembicaraan kakak. yakan Imran??'' ucap Haikal mengangguk-angguk dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Aisyah.


''Betul tuh, Kal!!'' ucap Imran ikut mengangguk-angguk dan melipat kedua tangannya menampilkan gaya keren.


''Pfttt, Makasih yah ... ,'' ucap Aisyah tersenyum hangat membuat mereka ikut merasa bahagia melihat senyum Aisyah.


''Kalau kalian kenapa kesini?'' tanya Aisyah melihat santri lainnya.


''Sih Haikal sama Imran keliatan mencurigakan jadi kami ikutin dia ... nah pas mereka deketin kak Aisyah sama santriwati putri ... kami takut mereka berdua ini bikin ulah!!! Mereka, kan terkenal nakal ... ,'' tutur Santri putra.


''Iya bener, kak!!.''


Aisyah ber-oh iya dan memandang Haikal dan Imran yang cengigiran tak jelas.


''Kami kesini karna khawatir sama Widia dan Andini karna dikerumini santri putra,'' ucap Santriwati putri dan diangguki oleh teman-temannya.


''Tapi kalau kami gak kesini ... kami gak bakal tau kenyataannya kaya gimana,'' ucap Santriwati putri tersenyum manis.


''Ini namanya takdir!!!'' ucap Imran tersenyum bangga.


Plak.


''Gak usah sok deh Imran, semua orang juga tau!!!'' ucap Haikal.


''Akhhhh!!!''


''Gak usah teriak juga kali!!! Cuma digeplak doang!!!'' ucap Haikal manaruh tangannya dipinggangnya.


''Bu-bukan I-itu ... ,'' ucap Imran gagap dan menunjuk kakinya.


''Astagfirullah!!! Gak sengaja!!!'' ucap Haikal tidka menyadari menginjak kaki Imran.


''Hik, kaki Imran jadi merah-merah'' ucap Imran meniup-niup kakinya.

__ADS_1


''Heheh maaf gak sengaja!!!'' ucap Haikak mengatupkan tangannya memohon.


''Pftt, Hahahahaha ... .'' Para santri tertawa melihat mereka bedua. Begitupun Aisyah yang ikut tertawa.


''Anu, I-itu ... yah ... pokonya Aku minta maaf, ini semua hanya salah paham ... ,'' ucap Umar yang dari tadi dikacangin.


''Iya ... kita juga minta maaf. Kita gak seharusnya langsung percaya dengan cerita dari bibir kebibir ... . Ini juga salah kami gak cari tau kebenarannya ... ,'' ucap para santri.


''Masyaallah. Adek-adekku sekalian, kalian Luar biasa!!!'' ucap Umar bangga.


''Inget peristiwa ketika Aisyah difitnah pada zaman Rasulullah?? Hal itu perlu kita ambil hikmahnya yah, Adik-adik sekalian ... ,'' ucap Umar seketika menjadi seorang guru yang menceramahi murid-muridnya.


''Baik, Kak!!!'' ucap mereka serempak.


''Baiklah, karna masalah sudah selesai ... Assalamualaikum,'' ucap Umar dengan suara seperti polisi melapor kepada atasannya.


''Waalaikumussalam.''


Tut.


''Karna masalah sudah selesai ... kami pergi dulu kak,'' ucap mereka kemudian beranjak pergi.


''Iya, terima kasih semuannya,'' ucap Aisyah turun dari rumah-rumah dan tersenyum cerah kearah mereka. Mereka mengangguk dan ikut tersenyum.



''Loh Aisyah kenapa lagi ... ,'' ucap Bibi melihat Aisyah yang tampak kacau.


''Engak!!! Aya gak kenapa-kenapa, hiks ... ,'' ucap Aisyah menunduk.


''Hm ... mari sini ... ,'' ucap Bibi meletakkan cucian yang diangkutnya dan meretangkan tangannya.


Aisyah langsung berhambur kepelukan Bibi dan memeluknya dengan erat.


''Aya gak nangis Bi ... ,'' elak Aisyah. Tapi sebulir bening terus keluar dari matanya.


''Iya ... Bibi mengerti,'' ucap Bibi lembut dan mengusap kepala Aisyah dengan sayang.


''Hik, Bibi gak ngerti!!!'' ucap Aisyah mendongakkan kepelanya menatap mata Bibi.


''Iya ... Bibi tau,'' ucap Bibi menghapus air mata Aisyah.


''Heng~''


Aisyah kembali memeluk Bibi dengan erat. Air matanya jatuh semakin deras. Aisyah bersyukur ternyata masih banyaj yang peduli dan menyayanginya.


''Aya sayang Bibi,'' ucap Aisyah pelan.


''Apa?? Bibi gak dengar??'' canda Bibi.


''Ish, Bibi!!!'' sebel Aisyah.


''Iya ... Bibi bercanda. Bibi juga sayang Aisyah,'' ucap Bibi tersenyum.

__ADS_1


Aisyah sudah berhenti menangis dan tersenyum cerah memandangi wajah Bibi yang memeluknya dengan hangat.


__ADS_2