Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Hari ini... Hari ulang tahunku... Yang ke 19


__ADS_3

Aisyah berjalan sambil membawa banyak cemilan, ia menjatuhkan dirinya dan membuka cemilannya, kemudian memakannya dengan lahap.


''Aisyah gak kelihatan!!'' ucap Kenan menggeser kepala Aisyah karna Aisyah duduk tepat didepannya, dipangkuannya.


''Kakak mau?''


Kenan mengigit keripik itu dan memakannya, ia melingkarkan tangannya, memeluk istrinya dari belakang. Kenan menaruk dagunya dibahu Aisyah sambil menonton tv.


''Aisyah pake apa?''


''Minyak telon''.


''Kenapa? Jelek yah?,'' tanya Aisyah.


''Enggak...''.


''Aisyah suka?''.


Aisyah mengangguk pelan sambil memakan cemilan.


''Dulu Kakak suka pakaiin Aisyah minyak telon waktu kecil, ia suka baunya... ,'' ucap Aisyah dengan suara pelan.


''Aisyah kangen Kakak?''


Aisyah tersenyum simpul, ia memang sedikit kangen dengan kakaknya itu.


''Mau pergi kerumahnya?''


Aisyah menggeleng pelan, kemudian ia tak mengatalan apapun lagi.


''Kak... Temenin Aisyah bikin kue, mau gak?'' tanya Aisyah.


''Hm...,'' Kenan tampak berpikir membuat Aisyah menanti-nanti keputusannya.


Tiba-tiba Kenan berdiri meninggalkan Aisyah.


''Kakak mau kemana?''


''Katanya mau bikin kue,'' ucap Kenan dengan tersenyum manis.


Aisyah dengan cepat berdiri mengejar suaminya yang telah pergi kedapur, ia dengan semangat menabrak suaminya itu.


''Eh.. Pfttt, Hati-hati,'' ucap Kenan terkekeh kecil.


Aisyah dengan antusiasnya menarik Kenan agar pergi kedapur dengan lebih cepat.


Aisyah dengan semangat mulai membuat adonan. Suasana dapur terlihat damai, sesekali Kenan melirik Aisyah yang dengan seriusnya mengguleni adonan.


''Sini, Kenan yang ulenin, kamu pergi potong buah, sana!'' perintah Kenan. Tanpa ragu Aisyah mengangguk dan memberikannya pada Kenan.


Aisyah memegang pisau dengan serius dan dengan hati-hati ia memotong buah yang akan diletakkan diatas kue itu, saking telitinya bentuknya hampir mirip semua.


''Kak, sudah nih,'' ucap Aisyah.


Kenan menenggok dengan senyum simpulnya.


''Pftt, hahahah.... Wajah kakak lucu!!!'' ucap Aisyah tertawa terbahak-bahak karna dihidung Kenan menempel sebuah tepung.


Kenan terdiam sejenak, kemudian ia mengambil handphonenya melihat wajah yang ditertawai Aisyah karna ada tepung dihidungnya.


''Aisyah.... Uhubuki,'' ucap Kenan pelan membuat Aisyah mematung.


Tuing!


Aisyah terkejut Kenan mencolek pipinya dengan terigu. Aisyah terdiam, kemudian muncul ide jahil diotaknya itu.


''Kak...,'' ucap Aisyah sambil mendekati Kenan.


''Uhubika''.


Plak.

__ADS_1


Aisyah menepuk pipi Kenan dengan tangan penuh terigu.


1


2


3


7


1 menit.


Kenan masih mematung, lebih tepatnya ia syok berat mendengar apa yang dikatakan Aisyah hingga ia tidak sadar.


Aisyah yang melihat Kenan tidak beraksi, ia menjadi semakin jahil. Aisyah menuangkan tepung dimangkok kemudian menuangkannya diatas kepala Kenan. Kenan langsung tersadar ketika guyuran tepung menggenainya dengan deras.


''A.I.S.Y.A.H!!!''


Aisyah terkekeh geli melihat wajah suaminya.


''KYAHH!!!


Aisyah buru-buru berlari karna Kenan dengan mata menyeramkannya seperti akan menerkamnya.


''Kemari gak!!!'' ucap Kenan penuh penekanan.


''Gak!!!''


Mau tak mau akhirnya mereka saling mengejar, saling membalas satu sama lain.


''Terima Ini!!!'' ucap Kenan sambil melempari Aisyah tepung.


''Kyah!!''. Dengan sekuat tenaga Aisyah menghindar, namun wajahnya tetap kena cemong.


''Ihhh!! Terima ini!!''. Kini Aisyah membalas Kenan, mereka terus saling membalas membuat rumah mereka bagaikan kapal pecah.


Hap!


''Ihhh Kakak!!!''


Kenan terkekeh puas saat melihat Aisyah yang juga penuh terigu sepertinya.


''Sudah... Kita damai?'' ucap Kenan menggulurkan tangannya.


''Gak!''


''Kita-kan udah sama-sama cemong, sayang?!''


Mendengar ucapan Kenan yang memang ada benarnya, akhirnya ia menerima uluran tangan Kenan dan mereka bersalaman menandakan perdamaian diantara mereka.


......Terkadang bahagia itu sederhana. Menjadi anak kecil sejenak bukanlah hal yang buruk karna tak selamanya dewasa itu bahagia.......


Kenan menyalakan lilin diatas kue tersebut membuat kue itu tampak indah dan lucu, kua yang pertama kali meraka buat secara bersama-sama.


Arti sebuah benda adalah tergantung dari kita yang memandang benda tersebut, entah itu mahal atau murah, rusak atau bagus, indah atau jelek. Semua tak akan bermakna bila kau tak menganggapnya berharga, seperti halnya kue yang mereka buat. Kue... Yang tak seindah kue yang ada ditoko-toko... Kue yang taklah seluar biasa buatan koki terkenal. Namun kue yang mereka buat lebih berharga dari itu semua, yang dapat menilai-nya hanya dari pandangan masing-masing, bagaimana kita memandangnya.


''Hari ini... Hari ulang tahunku... Yang ke 19,'' ucap Aisyah pelan membuat Kenan mematung.


''Iya ini ulang tahunku,'' ucap Aisyah menyakinkan Kenan ia tak berbohong.


Kenan melangkah mendekati Aisyah, ia memeluknya dengan erat.


''Maaf, Aku bahkan tak tau hari lahir istriku sendiri,'' ucap Kenan dengan wajah yang terlihat sangat sedih.


Aisyah tersenyum simpul, ia menanggkup wajah suaminya dan melirik kue itu.


''Ini hadiah yang paling berharga dalam hidupku,'' ucap Aisyah, kemudian ia mengambil kue itu.


''Kita tiup sama-sama yah kak?'' ucap Aisyah yang diangguki oleh Kenan.


''Satu... Dua... Ti...ga!!!'' ucap mereka serempak.

__ADS_1


''Fyuhhh''


Mereka saling memandang, kemudian tersenyum. Kenan duduk disofa kemudian Aisyah duduk disebelahnya.


Aisyah meletakkan kue itu, ia menyandarkan kepalanya dibahu Kenan. Kenan diam memperhatikan ekspresi Aisyah.


''Kak... Kakak tidak marah Aisyah ngerayain ulang tahun Aisyah?'''


Kenan bernapas lega ternyata bukan hal lain yang membuat Aisyah berubah ekspresi dalam sekejap itu.


''Tidak... Kita merayakannya untuk mensyukuri kelahiran... Kelahiran istriku yang cantik, imut dan bawel ini,'' ucap Kenan kemudian menangkup wajah Aisyah dan mencium pipinya singkat.


''Bener?''


Kenan mengangguk pelan, kemudian ia memeluk Aisyah dari belakang.


''Tergantung dari niat... Dihari penting, kita terkadang harus mengenangnya... Hari kau lahir adalah hari seorang wanita berjuang keras melahirkan sang buah hatinya, hari pengorbanan... Kenapa kita tak boleh mengenangnya,'' ucap Kenan mengelus-elus kepala Aisyah.


Aisyah menjadi teringat kepada ibunya, benar yang dikatakan Kenan. Selain hari ia lahir, juga hari pengorbanan hidup dan mati seorang perempuan untuk melahirkan buah hati yang telah ia nantikan selama mengandungnya 9 bulan.


''Aisyah kangen ibu,'' ucap Aisyah kemudian berbalik menatap Kenan.


''Kita telpon saja,'' ucap Kenan mencubit hidung Aisyah pelan.


Aisyah kembali berbalik, ia dengan antusiasnya menunggu panggilannya masuk.


''Halo?''


''Assalamualaikum, Umi,'' ucap Kenan pelan. Ia menaruh kepalanya dibahu Aisyah memperlihatkan kedekatan mereka pada mertuanya.


''Waalaikumsalam, Wah anak sama menantu bunda mesra benget!!! Gak lama lagi dong bunda gendong cucu,'' ucap mama Aisyah terkekeh melihat wajah mereka.


Wajah Aisyah sontak bersemu merah


''Mama!!!''


Hamara terkekeh dapat menjahili putrinya, ia cukup kangen tak melihat wajah putrinya.


''Mah...,'' ucap Aisyah pelan. Ia ragu dan takut untuk mengatakannya.


''Yah, Nak?'' suara pelan dan lembut. Aisyah menjadi ingin menangis mendengar panggilan itu, kangen yang bertempuk rasanya jadi sesak.


''Ma... Makasih, udah lahirin Aisyah didunia ini,'' ucap Aisyah dengan air mata yang berjatuh-jatuhan.


''Apa yang kamu bilang sayang... Ibu... Malah bersyukur Aisyah lahir dihidup ibu,'' ucap Hamara mengusap air matanya yang ikut terjatuh.


'' Kalian harus baik-baik, jaga kesehatan. Jangan berantem terlalu lama, namanya keluarga pasti ada masalah. Ngomonginnya jangan bawa emosi, pokoknya ibu gak mau kalian berdua berantem sampe pisah,'' ucap Hamara pelan, kemudian ia dia sejenak.


''Maaf yah ibu lupa ini hari ulang tahun Aisyah,'' ucap Hamara dengan wajah sedih.


Aisyah menggeleng pelan.


''Ini Hari pengorbanan ibu untuk Aisyah,'' ucap Aisyah dengan senyum bangganya.


'''Ahk... Aisyah ada-ada saja,'' ucap Hamara terkekeh pelan kemudian ia tersenyum dengan begitu bahagia.


''Baiklah, sudah dulu... Lain kali kalian datang, yah... Ibu mau masak buat papa,'' ucap Hamara melihat jam tangannya.


''Iya, ibu... Sampaikan salamku pada Ayah,'' ucap Aisyah tersenyum kecil.


''Tentu saja, sayang''.


''Assalamualaikum''.


''Waalaikumussalam,'' ucap mereka, kemudian mematikan panggilan itu.


''Bagaimana?'' tanya Kenan.


Aisyah berbalik tanpa menjawab, ia menyandarkan kepalanya didada kenan. Tak lama kemudian terdengar suara isak tangis. Kenan mengusap kepala Aisyah dan menepuk-nepuk punggungnya.


...Ibu... Maaf bila aku terlalu egois, maaf bila aku terlalu manja. Kini ketika aku keluar dari pengawasanmu, semua telah terasa berbeda. Aku rindu kehangatanmu. Ibu maaf bila aku selalu lupa akan dirimu yang rela menanggung resiko kematian untukku, yang mengandungku, membawaku kemana-mana selama ini....

__ADS_1


__ADS_2