Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Ayah sakit.


__ADS_3

Takdir... Terkadang aku **ta**k percaya dengan takdir. Namun didunia ini ada hal yang tak bisa kita lawan, Aku sering menyebutnya hukum tuhan. Kelahiran, kematian, jenis, aku percaya itu hukum tuhan.


Seorang gadis berlari dilorong rumah sakit dimalam yang penuh badai itu, tubuhnya basah kuyup karna hujan. Dingin yang menusuk tulang tak ia hiraukan, baginya seseorang yang sedang terbujur lemah itu lebih berharga dari dirinya.


''Ayah!!! Ibu, Ayah gak apa-apa, kan?!!''


Hamara menatap putrinya yang kacau, bila tau ia akan datang dalam keadaan seperti ini, ia tak akan mengabarinya secepat ini.


''Aisyah... Tenanglah,'' ucap Kenan menenangkannya. Seberapa besar mereka menenangkannya, Aisyah malah semakin khawatir.


Meski terkadang ia benci laki-laki yang sedang sakit itu ... Ia tetap memiliki sebuah memori yang berharga yang disimpannya dalam-dalam. Dulu, dulu sekali sebelum segala kehancuran ketentraman keluarganya, sebelum ia ... Kakaknya pergi dari rumah. Ia memiliki keluarga yang selalu membuat orang lain iri.


...


''Ibu!!! Lihat bunga ini,'' teriak Aisyah berlari dengan berbagai bunga ditangannya.


Hap.


''Rh?''


Aisyah melihat siapa yang menangkapnya.


''Ayah!!! Hore ayah datang!!!'' girangnya.


Tak lama kemudian muslim datang dengan berbagai minuman.


''Aisyah suka apa?'' tanya Muslim.


Keluarga itu tampak harmonis.


''Ayah, lihat mahkota ini!! Cantik tidak?'' tanya Aisyah menunjukkan hasil buatannya


''Cantik. Pasti cocok buat Aisyah,'' ucapnya mengusap kepala Aisyah lembut.


Aisyah menggeleng pelan, ia dengan cengingirannya berkata, ''ini buat Ayah!!''


Abby Aisyah terdiam sejenak, kemudian tertawa terbahak-bahak, Umi Aisyah, ia bahkan menutup mulutnya menahan tawa. Abby Aisyah menunduk membiarkan Aisyah memasang mahkota bunga itu untuknya.


Pluk.


Dengan jahil Muslim menaruh bunga diselip telinga Ayahnya.


''Hihi... Ayah lucu,'' tawa Muslim. Saat itu ia baru masuk sekolah menengah atas, artinya umur Aisyah masih begitu kecil sekitar 2 tahun.


....


Greb.


Aisyah tersadar, ia menatap ibunya yang memeluknya dengan begitu erat.


''Kita berdoa, Abby gak kenapa-napa,'' ucap Umi Aisyah menatap manik-manik mata putrinya.


Aisyah mengangguk dan membalas pelukannya.


Waktu terasa lambat, waktu yang berputar malah membuat Aisyah semakin khawatir. Menit berganti jam, gadis itu tiada henti berdoa kepada sang pencipta.


'Ya, rabbi... engkaulah sang penyembuh, engkaulah tuhan yang maha besar... Angkatlah penyakit Ayah hambamu, tiada tuhan selain engkau, tiada tuhan tempat hambamu meminta selain engkau' Entah sudah berapa kali Aisyah mengulang kalimat itu.


Malam semakin larut, tapi matanya seolah enggan untuk tertutup.


''Aisyah... Kenan, kalian istirahat saja yah, Nak. Biar ibu yang tunggu disini,'' ucap Umi Aisyah menesahati mereka.


Kenan melirik Aisyah, gadis itu masih saja berdoa, terfokus pada tiap kata yang dimintanya.

__ADS_1


Puk.


Kenan menepuk bahu Aisyah, membuat matanya terbuka, terlihat dimatanya kesedihan yang pedih.


''Kita istirahat sebentar, Nanti kita datang lagi... Biar Umi nanti juga bisa istirahat,'' ucap Kenan melirik mertuanya yang sepertinya juga tampak lelah


''Iya.''


Aisyah berdiri berjalan disebelah Kenan. Aisyah berbalik sejenak melihat ibunya yang menunggu sendirian disana.


Saat pintu rumah sakit terbuka, Aisyah melihat mobil kakaknya terparkir. Sudut bibir Aisyah sedikit terangkat, air matanya turun melihat sekacau apa keluarganya sekarang.


Set.


Kenan memberhentikan langkahnya, ia berbalik kemudian mendekati Aisyah.


Kenan mengusap air mata Aisyah kemudian mengenggam tangannya.


Sepanjang perjalanan pulang Aisyah terus terbayang akan wajah ayahnya.


"Aisyah ... ."


Kenan membuka pintu mobil tapi Aisyah tak kunjung turun. Kenan menghela napas kemudian mengangkat tubuh Aisyah.


"Kak!" pekik Aisyah yang tak dihiraukan oleh Kenan.


Kenan terus mengangkat Aisyah sampai kekamar mereka.


Kenan mendudukkan Aisyah dengan hati-hati, ia berjongkok didepan Aisyah sambil menggenggam tangannya.


''Syah, istrihat dulu. Besok pagi-pagi kita lihat ayah, Yah?''


Aisyah mengangguk pelan. Kenan berdiri kemudian duduk disebelah Aisyah. Kenan memeluk Aisyah lalu membaringkan tubuhnya kekasur bersama Aisyah.


Kenan menepuk-nepuk punggung Aisyah berusaha memberikan kekuatan padanya.


''Tidur dulu, Syah.''


Kenan mengusap kepala Aisyah pelan berusaha memberi kenyamanan agar Aisyah bisa tertidur. Terlihat jelas Aisyah mengantuk namun enggan untuk tidur.


Cup.


Kenan mengucup Kening Aisyah berharap istrinya segera tidur.


''Saya buat susu?''


Aisyah menggeleng pelan, ia menenggelamkan wajahnya didada Kenan, memeluk suaminya dengan erat. Kenan membalas pelukan istrinya. Mereka saling memberi kehangatan ditengah dingin malam juga kegelisahan yang meronta didalam hati.


...


Aisyah bangun begitu cepat, tadi malam mereka tiba dirumah tepat jam satu dan Aisyah bangun jam empat yang menandakan ia cuma tidur sekitar tiga jam.


''Aisyah tidur sebentar lagi, yah?'' bujuk Kenan.


Aisyah menggeleng, ia bangkit kemudian berjalan munuju kamar mandi. Kenan segera bangun setelah itu ia ikut dibelakang Aisyah.


"Kakak juga mau sholat tahajjud?"


Kenan mengangguk lalu disenyumi oleh Aisyah.


Keduanya melaksanakan sholat tahajjud dilanjutkan sholat shubuh saat adzan berkumandang.


"Kak kita berangkat sekarang."

__ADS_1


"Aisyah belum makan," ucap Kenan menatap Aisyah yang baru keluar dari kamar mandi.


Aisyah menunduk, terlihat jelas Aisyah khawatir dengan ayahnya.


"Baiklah. Pakai baju dulu saya bawa barang kita kemobil."


...


Aisyah terlihat tidak sabaran sampai dirumah sakit, meski jalanan yang lenggang memudahkan mereka cepatam sampai. Tapi Aisyah merasa perjalanan mereka begitu panjang.


"Kak masih lama?"


"Bentar lagi, Syah."


Kenan melirik Aisyah yang tampak semakin gelisah.


Greb.


Kenan mengenggan tangan Aisyah berusaha mengatakan lewatn ngenggamannya bahwa semua akan baik-baik saja.


Syut.


Aisyah menunduk dalam, matanya perih dan segera akan hujan.


Saat mobil mereka sampai dirumah sakit. Aisyah langsung keluar tanpa menunggu Kenan, ia berlari dengan cepat menuju ruang resepsionis menanyakan tentang ayahnya.


Ayah Aisyah tak lagi di ruang UGD ia sudah dipindahkan keruang rawat inap.


Kenan datang dengan membawa barang mereka. Ia melihat Aisyah yang akan segera berlari lagi.


Set.


Kenan buru-buru menahan tangan Aisyah.


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja."


"Ayah diruang VIP ruang nomor satu dilantai lima."


Kenan mengangguk dan berjalan terlebih dahulu dari pada Aisyah. Aisyah bisa kesasar ataupun terluka karna kalang kabut.


Mereka sampai dengan cepat dilantai lima, kamarnya tidak jauh dari lift. Kenan membuka pintu dan mengucapkan salam.


"Waalaikumussalam," jawab Umi berdiri lalu menghampiri anak juga menantunya.


"Kalian datang cepat sekali," ucap Umi Aisyah tersenyum, terlihat rona hitam dibawah matanya.


"Mama pulang dulu saja," ucap Kenan dan ditolak oleh mertuanya.


"Mamah setidaknya bisa tidur meski disini," ucap Aisyah.


Hamara Mengangguk ia memeluk Aisyah sejenak lalu pergi membaringkan tubuhnya disofa panjang dekat pintu.


"A-ayah," gumam Aisyah pelan.


Aisyah duduk dikursi uminya duduk tadi, mengenggam tangan ayahnya.


Aisyah melihat sebuah makanan yang terletak diatas meja, makanan itu hanya dimakan sedikit padahal terlihat banyak.


'Kakak datang.'


Aisyah kembali beralih menatap ayahnya.


'Pah, Kakak gak sepenuhnya pergi. Ia hanya tidak suka cara ayah bersikap tegas.'

__ADS_1


__ADS_2