Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
kelebihan, juga kekurangan


__ADS_3

Deg.


''Kalian jangan berpikir saya juga akan membiarkan kalian seenaknya,'' ucap Emelia dengan sombong dan beranjak pergi


''Aisyah kamu gak apa-apa, Nak?'' tanya Uminya.


''Iya Umi ... ,'' ucap Aisyah menghambur kepelukan Uminya.


''Saya minta maaf kepada semuanya ... Karna saya tidak menyeleksi guru-guru yang akan mengajar,'' ucap Umi Rahma.


''Gak apa-apa Ustadzah ... Kita juga gak tau ini bakal terjadi,''Guru lain berucap sambil tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.



''Aisyah ... ,'' panggil Abbinya.


''Yah, Abi,'' Aisyah berucap dan segera menghampiri Abbinya.


''Ini. Kata Umi, Aisyah suka makan mochi,'' ucap Abbi Aisyah terlihat malu-malu.


''Abbi bukan sengaja beli,'' ucap Abbi Aisyah memalingkan wajahnya.


''Wah, Makasih Abbi,'' ucap Aisyah menerina mochi itu dengan wajah berseri. Walau terlihat tidak ikhlas Abbi Aisyah tetap terseyum melihat Aisyah yang terlihat begitu senang.


''Abbi ... Kebiasaan Abbi gak berubah aja,'' ucap Umi Aisyah membuat Wajah Abbi Aisyah bersemu merah.


''Gak!!! Itu gak bener!!'' ucap Abbi Aisyah cepat.


''Pfft, iya, iya.'' ucap Umi Aisyah menahan tawanya. Sebenarnya Abbi Aisyah secara khusus mencari toko mochi yang enak untuk Aisyah, tapi gengsi untuk jujur.


Aisyah kini berada dikamarnya, memakan mochi itu dengan perlahan, meresapi rasa dan kenikmatannya.


''....'' Aisyah menatap mochi itu dalam-dalam


''Ahk, Aya lupa mau jalan-jalan,'' ucap Aisyah menghabiskan mochi itu. Aisyah segera merapikan pakaiaannya dan bergegas pergi.


''Aisyah mau kemana?'' tanya Uminya melihat Aisyah buru-buru pergi.


''Mau jalan-jalan Umi.'' Aisyah berhenti sejenak dan menatap Uminya.


''Mama suruh sopir antar?''


''Eh boleh Umi,'' Aisyah berucap dan mengikuti Uminya pergi keparkiran.


Umi Aisyah memberi intruksi kepada supirnya dan berbalik kearah Aisyah.


''Hati-hati jalan-jalannya.'' Umi Aisyah mengusap kepala Aisyah lembut sebelum Aisyah memasuki mobil.


Aisyah melambaikan tangan sebelum mobilnya melaju dengan cepat. Aisyah memberikan alamat tempat tujuannya kepada supirnya. Aisyah tampak menanti dengan tidak sabar sampai tujuannya.


Mobilnya berhenti tepat ditempat yang diinginkan Aisyah, yaitu siomay Bang Kasep.


Aisyah turun dari mobil dan memasuki tempat itu yang terlihat ramai.


''Siomaynya Porsi besar'' ucap Aisyah kepada pelayan yang menghampirinya.


Tak lama kemudian siomay yang dinantinya datang dengan tampilan yang indah dan mengungah selera. Tanpa pikir panjang Aisyah melahap siomay itu dengan cepat.

__ADS_1


Rasanya bahkan lebih enak dibanding saat itu.


Brak.


Seseorang mengebrak meja Aisyah, Aisyah terkejut hingga siomay yang hampir masuk kemulutnya terjatuh.


''Beraninya ... .'' Aisyah mengeluarkan hawa menyeramkan.


''Eghh, Sorry gak sengaja,'' ucap sang pelaku tanpa rasa bersalah.


Aisyah menatap orang didepannya dengan tajam, seperti akan melahapnya dengan ganas.


''Hiks ... siomay terakhir Aisyah,'' Aisyah berucap dengan pilu membuat sang pelaku jadi tidak enak hati.


''Ehh sorry syah, kupesenin lagi,'' ucapnya menggaruk pipinya.


''MAS SIOMAYNYA PORSI BESAR BUANGET DUA!!!'' teriak Aisyah menggelengar.


'Asem, Gw ditipu' ucapnya dalam hati dan tersenyum masam menatap Aisyah yang kini tengah senyam-senyum cegigiran menatapnya.


''Kok-''


''Bisa disini?'' potongnya.


Aisyah mengangguk-angguk dan menatapnya dari atas hingga kebawah. Stelannya yang terlihat santai membuat Aisyah mengernyitkan dahinya.


''Lo gak kerja?!!!'' tanya Aisyah mengintimidasi.


''Hah? Emang bener kata raina, lo gila kerja banget yah ... masa bawahannya gak dikasih libur ... ,'' ucapnya dengan cemberut.


''Iya,iya, Berhentilah mencari alasan, Syah. Memang kita udah kenal berapa tahun? Siapa sih yang gak tau lo tuh bahkan bisa duduk 24 jam buat natap laptop bikin skiripsi, rancangan terbaru, kerangka, bikin marketing, main saham, jadi tukang masak, bikin bangunan, applikasi, ... '' cerocos Ratna soalah Aisyah bisa segalanya.


''Hahh ... terserah deh, tapi serius, yah?'' ucap Aisyah menatap Ratna dengan serius.


''Hah ... lo memang gila, Syah ... pantesan tiap hari sih Raina nelpon gw bilang lo tuh gak waras ... YAKALI GW MAIN-MAIN!!!!!'' ucap Ratna emosi menatap Aisyah yang seolah semua yang dilakukannya selama ini cuma BERCANDA.


''Ooooo,'' ucap Aisyah singkat dan menyantap siomay yang baru datang.


''Dah capek deh, ngomong sama kamu Syah, Kaya sama aja ngomong sama ... ,'' ucap Ratna mengantungkan kalimatnya karna Aisyah sudah menyumpal mulutnya dengan siomay.


''Udah-udah gak usah nyerocos lagi ... Lo juga sama aja sama Raina tiap ketemu pasti ngomel mulu ... lagiankan kalian yang pengen, Aisyah cuma melakukannya lewat belakang,'' ucap Aisyah santai sambil makan siomay.


''Hwbyny ... Ly ty kyyh ptmrytmt''(Habisnya ... lo tu kaya permata)


"Habisin dulu tuh siomay," ucap Aisyah memutar bola matanya malas. Bukannya menghabiskannya dulu, Ratna malah memakan siomay miliknya dengan lahap.


"Ergh~"


Aisyah menggelengkan kepalanya melihat Ratna yang bersandar dikursi karna kekenyangan.


Hap.


Ratna menyendok siomay Aisyah dengan cepat sebelum Aisyah menahannya. Wajah Aisyah terlihat menyeramkan menyadari Ratna mengambil siomaynya.


"Jangan pelit atuh, Syah," ucap Ratna santai. Aisyah menghela napas dan menatap siomay miliknya. Aisyah berusaha mengikhlaskan siomay yang diambil Ratna.


Hap.

__ADS_1


Belum selesai Aisyah menerima Ratna yang seenaknya. Kini Ratna kembali membuat ulah.


Hap.


Hap,hap,hap.


Kini bukan Ratna yang makan dengan cepat, tapi Aisyah. Aisyah memakan siomaynya seperti orang kesurupan, takut Ratna mengambilnya lagi.


"Asem kau Syah, Gak usah gitu juga kali ... ," ucap Ratna menatap Aisyah bergidik geri melihat Aisyah yang memakan siomay itu dan membayangkan dirinya jika jadi siomay itu. Ada-ada aja pikiran sih Ratna.


''Ergh~ Alhamdulillah,'' ucap Aisyah mengusap dadanya.


''Sudah makan, kenyang, maka baca ... .''


''Alhamdulillah,'' sambung Ratna lagi.


Aisyah menyunggingkan senyumnya.


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


Aisyah terlihat bangga membaca ayat itu. Ratna menatapnya dengan senyum paksa. kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


''Lo gak berubah Syah. Masih aja lo suka baca ayat itu ... ,'' ucap Ratna menghapus air matanya karna tertawa terlalu keras.


''Idih ... lo aja kali yang berubah,'' ucap Aisyah mengidikkan bahunya.


''Iya, iya. Tapi baca alhamdulillah dulu. Suka banget sama ayat itu.''


Aisyah mengangguk dan mengucapkan hamdalah, (Alhamdulillah.)


Tiba-tiba mereka kehabisan topik untuk dibicarakan. Mata mereka saling memandang seolah-olah tengah memikirkan sesuatu yang penting, tapi nyatanya pikiran mereka sama-sama kosong. Mungkin yang melihat akan mengira mereka lesbi. Tak lama kemudian entah apa yang menimpa mereka, mereka kembali tertawa terbahak-bahak. Sungguh tidak jelas.


''Aduh ... ikutan gila aku nih,'' ucap Ratna menahan tawanya.


''Ekhm ... udahlah jangan cari topik lagi, nih ambil,'' ucap Aisyah memberikan sebuah buku yang agak tebal.


''Ini rancangan terbaru?'' tanya Ratna


Aisyah mengangguk-angguk dan mengirimkan sebuah file dari handphonenya.


''Jangan kecewakan aku ... ,'' ucap Aisyah tersenyum manis hingga membuat Ratna jadi tersipu.


''Tentu saja ... aku butuh kamu dan kamu butuh aku. Kita akan bangun kerajaan kita sendiri!!'' ucap Ratna penuh semangat.


''Yah,kerajaan kita ... ,'' ucap aisyah pelan tapi masih bisa didengar oleh Ratna.


''Yap, kita saling membutuhkan ... ,'' ucap Ratna mengulurkan tangannya. Aisyah menerima uluran tangan Ratna dan mereka berjabat tangan seperti rekan bisnis.


''oh yah, Aisyah nanti kuliah dimana?'' tanya Ratna membuat Aisyah tersentak.


''A-aku belum memikirkannya ... ,'' ucap Aisyah pelan. Ratna memicingkan matanya, ada yang salah dengan Aisyah, biasanya Aisyah pasti akan menjawab dengan tegas dan sudah mempersiapkannya lebih awal. Ini tidak seperti dirinya.


''Yah apapun yang terjadi ... Aisyah masih punya kami,'' ucap Ratna tersenyum hangat.


''Terima kasih ... ,'' ucap Aisyah membalas senyum Ratna.


Tak terasa waktu berlalu cepat. Aisyah memutuskan untuk pulang. Ratna dengan berat hati melihat Aisyah pergi meninggalkan tempat itu. pertemuan mereka cukup singkat baginya yang merindukan kehadiran dan senyuman aisyah.

__ADS_1


__ADS_2