
"Assalamualaikum."
"Wa-Waalaikumussalam!! Aisyah!!!''
Hamara memelul putrinya erat.
''Anak mama?! Anak mama kenapa kemari? Yang dimobil itu Kenan?''
Kaca mobil sedikit terbuka memperlihatkan mata Muslim.
''Kakak?!''
Hamara bergegas turun untuk melihat anak sulungnya.
Brummm!
Mobil langsung melaju kencang sebelum ibunya sampai.
''Dasar tuh anak!!!'' omelnya kesal.
Wajah Hamara langsung berubah sendu. Apa putranya itu tak rindu dengannya? Apa ia masih marah? Sudah lama dari sejak kajadian itu dan muslim tak pernah pulang lagi kerumahnya.
''Mah ... Aisyah kangen.''
''Oh anakku sayang ... Mari sini mama peluk.''
Hamara memeluk putrinya lalu mengusap-usap punggungnya. Hamara sama sekali tak curiga apapun dengan tingkah Aisyah.
Tes.
''Hiks.''
''Pffft ... Aisyah kangen banget yah?''
Aisyah melepaskan pelukannya lalu menatap mata Mamanya.
''Iya, Aisyah kangen banget sampai rasanya akan menangis seharian melihat Mamah.''
''Aduh dari mana mulut manis putriku ini!''
Hamara mencubit kecil hidung putrinya.
''Aisyah gak boleh manja-manja lagi loh udah besar, gede, punya suami lagi.''
Degh.
''I-iya mah.''
Mama Aisyah menariknya duduk keruang tamu. Ia menatap putrinya lama sebelum bicara.
''Aisyah sepertinya banyak berubah ... Dulu Aisyah dingin banget sama mama ... Aisyah dulu jarang ajak mama bicara, rumah jadi terasa sepi, Aisyah sering marah sama mama dan papa, Aisyah ... masih marah? Mama minta maaf jodohin kalian ... Meski dulu kita jarang bicara ... Mamah jadi merasa lebih sepi gak ada Aisyah.''
Aisyah tersenyum pilu mendengar setiap ucapan mamanya, mungkin mamanya tidak cerewet tapi kata-katanya yang panjang lebar memperlihatkan bertapa sepinya ia selama ini.
''Kalau tau mama kesepian ... Aisyah akan sering-sering kemari.''
Hamara mencubit pelan putrinya sambil berdekus kesal.
''Yah-kan mama sudah bilang sering-sering datang!! Mama akan kesepian karna gak ada anak mama!!''
''Maaf, mah.''
Mama Aisyah menghela napas lalu tertawa dengan ringan.
''Padahal putri mama baru aja datang. Tapi mama sudah marahi saja.''
''Gak apa-apa ... Aisyah juga kangen dimarahi.''
''Ho'oh ... Pasti sekarang Aisyah jadi manja-manja sama suami Aisyah?''
Degh.
Jleb.
''Mah ....''
''Bercanda, Sayang. Sini mama peluk lagi.''
Aisyah membalas pelukan mamanya. Senyumnya perlahan memudar, Aisyah menatap rumah ia dibesarkan. Berapa lama ia bisa melarikan diri ... Apa ia bisa bertahan, mempertahankan cermin Keharmonisan keluarganya didepan mertua juga ibunya.
__ADS_1
...----------------...
Muslim ... Pewaris yang dilatih sejak kecil, ia pekerja keras juga berambisi. Saat umurnya 12 tahun, ibu yang sibuk hamil anak kedua. Setelah lahir Muslim jadi memiliki hal lain dalam hidupnya selain belajar.
''Wahh imutnya.''
Tangan kecil, tubuh kecil, kaki kecil, kepalanya juga sangat kecil. Saat itu muslim berjanji pada dirinya akan menyayangi makhluk kecil itu dan melindunginya.
Hingga suatu hari.
''Ayah! Muslim-kan sudah katakan akan masuk jurusan yang muslim inginkan!''
''Tidak! Kamu tau-kan pelajaran yang kamu pelajari sebagia pewaris belum cukup ... Jurusan manajeman atau akuntansi bisa membantumu, administrasi juga bagus.''
''Tidak! Muslim akan jadi dokter!''
''Ini sudah ditentukan sejak kamu lahir! Kenapa kamu berubah pikiran? Bukankah dulu kamu menerimanya?''
'Karna ....'
Muslim tak bisa mengatakannya bahwa ia melakukannya untuk adiknya. Masih terlihat jelas diingatannya ketika orang tuanya sibuk sementara Aisyah sakit dan tidak ada yang mengetahuinya. Meski ia merawatnya, bayangan adiknya muntah dan jatuh tergeletak didepannya seperti trauma berat baginya.
''Hufftt ... Jangan pikirkan dirimu saja ... Bila kau tak ingin maka Aisyah yang akan menerima semua yang kamu lalui.''
Degh.
'Aisyah gak boleh menerima pelajaran yang seperti itu! Ia harus bahagia layaknya anak-anak seumurannya.'
Muslim menyerah, ia mengikuti kata ayahnya. Setidaknya ia belajar melakukan pertolongan pertama, mencari dan menempatkan dokter terbaik disisi adiknya.
''Hiks mama sama papa kenapa tidak datang?''
Muslim melihat adiknya yang menangis dikamarnya.
Hari itu pertemuan orang tua, mereka berjanji akan datang tapi tidak ada yang datang satupun dari orang tuanya.
Ayahnya sibuk dengan bisnisnya, ibunya sibuk dengan butiknya.
Diakhir semesternya Muslim mulai stress dengan segalanya. Ia tersiksa dengan pelajaran sebagai pewaris, tuntutan dari ayahnya. Ia masuk keperusahaan, sibuk sebagai anak magang, mata kuliah yang ia ambil lebih dari tiga. Ia tidur tak lagi 8 jam. hampir ia bekerja 24 jam.
Semantara Aisyah? Ia kesepian dirumah yang sepi. Ayah dan ibunya pulang larut, ia diasuh oleh pengasuhnya. Muslim selalu mendengar tangis Aisyah.
Emosi Muslim memuncak. Pada saat tengah malam dengan hujan deras, muslim pergi dari rumah.
...----------------...
''Kenan!! Jelaskan!''
Hadijah berusaha menghentikan langkah Kenan, namun Kenan tak peduli.
''Aku sibuk.''
Kenan melewati Hadijah melanjutkan langkahnya.
''Kau mau kemana?!! Kau ingin menemui selingkuhanmu?!!!''
Degh.
''Cukup, Dijah!! Dan jaga mulutmu!!''
''Apa? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku!!!'' Hadijah mulai terisak, rasanya sesak mengetahuinya tapi ia tidak mau menyerah.
Kenan memalingkan wajahnya menghela napas panjang. Ia lelah dengan semuanya dan tak ada solusi yang terbaik.
''Apa hubunganmu dengan aisyah?''
''Aku sibuk dijah,'' elak Kenan. Kenan melewati Hadijah namun segera ditahannya.
''BERHENTI!! KATAKAN PADAKU!!! JELASKAN PADAKU!! JANGAN MENYIKSAKU!!''
''CUKUP DIJAH!!!''
''KENAPA? KAU TIDAK INGIN AKU TAHU? APA STATUSNYA? APA IA BEGITU BERHARGA DALAM HIDUPMU?!! APA SUSAHNYA MEMBERITAHUKU!! AKU TUNANGANMU!!!!''
''AISYAH ISTRIKU!!!''
Degh!
''Bohong!!''
__ADS_1
''ITU KENYATAANNYA!!!''
''BOHONG!!!! AKU TUNANGANMU!!!!''
''Dijah ... Aku sudah menikah! Kita bukan tunangan lagi.''
Hadijah memegang dadanya yabg terasa sesak.
''Lalu ... Selama ini ... Aku hanya menunggu? AKU MENUNGGU 10 TAHUN!!! AKU MENOLAK SEMUANYA DEMI DIRIMU!!!! TEGANYA KAU PADAKU!!!!''
''Maaf.''
Tes.
''Apa maafmu mengubah segalanya?'' Hadijah tersenyum pilu. Laki-laki yang selalu ia tunggu, terpaut dalam doanya telah menikah. Penantian panjangnya usai dengan ia yang menikah dengan orang lain.
Tes.
Darah merah keluar dari hidung Hadijah.
Degh!
Jantung Kenan terasa berhenti melihat keringat dingin membasahi Hadijah dengan darah yang terus menetes dari hidungnya.
''Di-''
''JANGAN PEDULIKAN AKU!!! PERGI CARI ISTRIMU!!''
Kenan terdiam, menyaksikan semakin parahnya kondisi Hadijah sekarang. Tubuh Hadijah bergetar, kakinya terasa mati rasa, tangannya seperti dikerumuni oleh jutaaan serangga.
''Ayo kita kerumah sakit.''
''Untuk apa? Tak ada gunanya lagi aku hidup,'' ucap Hadijah tersenyum lebar menampilkan giginya.
Brak.
''HADIJAH!!!''
Kenan segera mengangkat tubuh hadijah, membawanya kerumah sakit.
...
Kenan menunggu diruang tunggu UGD, ia meremas rambutnya dengan gusar. Bila sesuatu terjadi pada Hadijah apa yang harus ia katakan pada orang tuanya.
Seharusnya ia tidak mengatakan apapun pada hadijah, seharusnya ia diam saja, seharusnya ia langsung menghindar, kenapa ia begitu bodoh.
''Anda keluarga pasien?''
Kenan tersadar lalu segera berdiri.
''Yah, saya keluarga pasien.''
''Maaf kami tidak bisa membantu ... Lebih baik ia dibawa keluar negri untuk pengobatan atau rumah sakit yang lebih mampu menanganinya.''
Kenan menelan salivanya berat. Jelas dinegaranya kecil kemungkinan ada rumah sakit yang bisa menenganinya, pilihannya hanya keluar negeri ... Tapi bagaimana dengan keluarganya? istrinya? Apa yang akan mereka katakan.
''Saya harap Anda segera membuat pilihan, pasien tidak akan bertahan lama ... Jantungnya sudah sangat lemah.''
Degh.
Kenan tak berpikir panjang lagi, ia segera menyiapkan penerbangan untuk memindahkan Hadijah kerumah sakit tercanggih yang ada diluar negri.
...
''Aisyah kenapa?''
Aisyah menggeleng pelan pada mamanya. Hari ini hujan terus turun bahkan sepertinya akan sampai malam. Terakhir kali ia mengobrol dengan Kenan adalah saat ia sedang perjalan kesana, sudah berhari-hari tapi Kenan tidak kunjung menghubunginya. Ketika Aisyah mengontakkanya kenan tidak membalas, panggilannya selalu sibuk.
''Aisyah memikirkan suami, yah?'' goda Mamanya.
Aisyah tersenyum kikuk lalu mengangguk pelan.
''Suruh kesini ... Mama juga pengen liat menantu Mama.''
''Kenan mungkin sibuk, Mah.''
''Yah ... Baiklah, anak mama pengertian banget.''
Semoga saja kenan beneran sibuk.
__ADS_1