Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Baikan.


__ADS_3

"Dari mana?"


"S-saya dari acara angkatan terus main ke mall.''


Kenan diam menimbang apa yang akan ia lakukan.


''Huft, besok kita bahas lagi, sudah malam. Ayo tidur.''


Kenan merangkul Aisyah kemudian membaringkannya ketempat tidur.


''Maaf, Kak,'' Gumam Aisyah pelan.


Aisyah menyembunyikan kepalanya didada Kenan.


''Hm.''


Aisyah hanya dapat menyesalinya. Kalaupun bisa diulang ia tak akan kemana-mana hari ini.


''Tidur Syah.''


Aisyah tersentak. Kenan sepertinya tau ia tengah melamun dan belum tidur.


''I-iya.''


....


Aisyah terbangun dari tidur yang panjang. Kenan masih tertidur disebelahnya. Pemandangan yang sudah lama sekali hingga rasanya Aisyah lupa perasaan senang saat terbangun melihat keberadaan suaminya disebelahnya.


''Sudah puas memandang wajah saya?"


Aisyah berbalik dengan cepat. Ia kira Kenan masih tertidur nyatanya Ia sudah bangun dari tadi bahkan sebelum Aisyah bangun.


Kenan tidak ingin merusak momen pagi yang mungkin hanya akan terjadi disaat tertentu saja.


Syut.


Kenan bangun sambil memangku wajahnya dengan tangannya.


'Suami siapa ini ganteng banget,' gumam Aisyah dalam hati.


Kenan tersenyum sumringan melihat wajah terpukau istrinya.


"Suaminya kamu," ucap Kenan seolah tau isi kepala Aisyah.


Kenan dapat dengan mudah membaca pikiran istrinya karna isi kepalanya terlihat jelas diwajahnya.


"Mau mandi bareng?"


Puk!


Refleks Aisyah melempari Kenan dengan bantal. Wajahnya merah padam, terlihat jelas pertanyaan Kenan membuat Aisyah malu hingga ingin menghilang keujung dunia.


"Kenapa? Kamu itu punya aku," ucap Kenan menunjuk Aisyah.


Blush.


"Jangan ngadi-ngadi!" elak Aisyah.


"Bener! Kamu dijual ke saya." Kenan tersenyum mengejek melihat wajah merah Aisyah.


Plak.


Aisyah memukul Kenan dengan bantal. Dia bukan barang, tidak diperjual belikan, bukan pula milik siapapun.


"Hmph! Kamu pikir karna kamu suami saya jadi bisa seenaknya!" kesal Aisyah.

__ADS_1


"Kamu perempuan selalu indentik tiga'R'."


Aisyah memiringkan kepalanya sambil menatap keatas berpikir keras.


"Sumur, dapur, K.A.S.U.R."


Mendengar penuturan Kenan, Aisyah langsung berdiri menggempalkan tangannya. Ia siap untuk menghantam wajah yang seenaknya merendahkan harkatnya.


"Kamu pikir karna kamu suamiku jadi bebas rendahin saya yang seorang perempuan!"


"Pfft! Saya bercandanya berlebihan yah?" tawa Kenan.


Aisyah masih tetap pada posisinya. Menanti kelanjutan ucapan Kenan.


"Maaf sayang. Aku cuma bahas masalah itu saja yang dari tahun ketahun tidak akan pernah padam. Mari sini duduk disebelahku," ajak Kenan menepuk tempat yang ada disebelahnya.


Aisyah menatap penuh keraguan.


"Enggak Syah. Saya gak mikir gitu kok," ucap Kenan tersenyum manis pada Aisyah.


Aisyah duduk disebelah Kenan sambil menyandarkan kepalanya.


"Maski harkat perempuan telah terangkat berkat bagina rasulullah. Tapi masih banyak yang menganggap perempuan adalah manusia lemah. Tak kala mereka sering dianiya dalam rumah tangga karna dianggap harus mematuhi suami yang menciptakan penjara bagi para perempuan yang taat akan agama."


Aisyah mendongkak menatap Kenan. Kenan mengusap kepalanya pelan kemudian melanjutkan kalimatnya," Kalau kamu bertemu laki-laki seperti itu jangan pernah tunduk, berdirilah dengan tegak bahwasannya tanpa mereka kamu jauh lebih bahagia."


Aisyah mengangguk pelan, entah mengapa ia kurang suka dengan ucapan Kenan. Dihatinya terbesit pisau yang menusuknya.


"Kalau Kakak?" spontan Aisyah bertanya.


Kenan diam sejenak, cukup lama ia diam. Benar ia memberi nasihat tapi bisa saja dimasa depan ia adalah laki-laki yang ia sebutkan sendiri.


"Tinggalkan saya ... Jangan ragu untuk tinggalkan saya dan bertemu yang lebih baik dari saya. Berdirilah tanpa badai dapat menghancurkanmu."


Aisyah bertepuk tangan atas jawaban Kenan. Jawaban luar biasa yang diluar dugaan dari Kenan.


Aisyah pikir Kenan akan mengatakan nasehat seperti bertahan disisinya atau tidak meninggalkannya atau berdoa kepada rabb.


"Kita shalat shubuh berjamaah. Sudah masuk shubuh," ucap Kenan berdiri dari duduknya.


...


"Hafsah mau nanya."


"Apa Syah?"


Hafsah menyesap teh manis dinginnya sambil menatap Aisyah.


"Tau tiga'R' ?"


"Tau. Sumur, dapur sama kasurkan?" ucap Hafsah enteng.


Aisyah mengangguk pelan sambil melanjutkan makannya.


"Kenapa nanya?"


"Ah, gak aku baru tau."


"Dari siapa?" Kepo Hafsah.


"Suami."


Trang.


Hafsah menjatuhkan sendoknya dengan wajah terkejut.

__ADS_1


"Kamu gak sedang ... " ucap Hafsah menggantungkan kalimatnya ia memainkan carinya memperlihatkan sebuah tabrakan jari kiri dengan jari yang ada disebelah kanannya.


"B-bertengkar?" tanya Aisyah memastikan.


Hafsah mengangguk dengan cepat.


"Tidak! Kami gak bertengkat, ia cuma bahas aja soalnya kemarin aku diciduk pulang larut."


Byurrr.


Hafsah menyemburkan teh manis dingin yanga ada dimulutnya.


"Diciduk? Kamu gak diapa-apainkan Syag?! Kamu gak dipukul? Dicincang, diulenin jadi geprek jadi kerempek-krepek!"


"Enggak Hafsah," ucap Aisyah menenangkan Hafsah.


"Sebenarnya ia cukup marah sih tapi bentar doang. Mungkin ia sudah tau kalau Aisyah sudah sadar."


Ucapan Aisyah refleks membuat wajah Hafsah jadi masam.


"Kok suami lo baik banget sih!"


"boro-boro suami, yang ada babe gw yang ngamuk sampe pagi."


"Babe?"


"Ayah maksudnya."


"Gw diomelin parah tau. Masih inget pulang! Anak gadis kok keluyuran ... Alasan kuliahan, mending kamu dirumah bantu ibu kamu!" ucap Hafsah mengulang perkataan babenya semalam.


"Tapi perkataannya memang gak salah," ucap Aisyah langsung medapatkan tatapan nyalang dari Hafsah.


"Bukan cuma itu dia juga bilang .... ."


Hafsah tak berhenti-hentinya mengomel sampai Aisyah tidak tau apa yang diucapkan olehnya. Hafsah begitu berapi-api mengutarakan kekesalannya. Sepertinya ia benar-benar dimarahi habis-habisan dan itu membuatnya kesal sekali.


"Terus-" Hafsah berhenti berucap ketika melihat Umar.


Aisyah melihat arah pandang Hafsah. Terlihat Umar dikerumuni mahasiswi.


"Kok dia populer?!" sebel Hafsah.


"Ada apakah? Dia juga tidak menganggu kehidupanmu, kan?" ucap Aisyah membuat Hafsah menatapnya garang.


"Dia bernapas aja nganggu kehidupan!" ucap Hafsah berapi-api.


Ting.


Sebuah pesan masuk kedalam handphone Aisyah.


Saya lupa bilang tadi pagi. Saya gak bisa marah terlalu lama, bukan berarti saya membenarkan perbuatan kamu yang seenaknya. Ingat, kamu kuliah buat belajar bukan buat main. Meskipun kamu mahasiswi tapi kamu juga punya peran lain. Saya gak sempet bilang rumah kotor sekali saat saya pulang kemarin. Jadi lain kali tolong dibersihkan, kalau kamu gak bisa setidaknya masak. Atau Aisyah pengen saya nyewa asisten rumah? Saya juga lupa bilang saya bakal hukum kamu. Tapi masih saya pikirkan apa hukumannya, jangan menabung hukumanmu atau nanti kamu sudah tidak bisa menanggung konsekuensinya.


Aisyah membaca pesan panjang tersebut. Haruskan ia batalkan rasa kagumnya pada suaminya itu. Baru saja ia terharu memiliki suami luar biasa yang tak akan didapatkan dimanapun. Tapi ketika membaca pesannya yang mendominasi benar-benar membuat Aisyah ingin meremas otak kecil suaminya.


"Hmmmm ... Dari suami yah?" tebak Hafsah kemasem-masem sendiri melihat Aisyah.


'Haruskan aku katakan padanya bahwa suaminya yang sempurna itu juga punya kekurangan, yaitu ... S.U.K.A BERTINDAK LAYAKNYA BOS!'


Aisyah cuma dapat ikut tersenyum dengan paksa sambil tertawa ringan dengan mata yang menajam.


"Ketawamu gak ikhlas!" ucap Hafsah diakhir tawanya.


"Yahp! jadi lupakan orang gila tersebut."


Tak bisakah ia memaafkannya tanpa menghukumnya, ia jadi mempertanyakan hati nurani suaminya. Tak bisakah ia tak berterus terang sekali.

__ADS_1


__ADS_2