Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Menjemput


__ADS_3

Aisyah ragu apakah harus ia angkat apa tidak.


Nomor yang anda tuju tidak menjawab si-


Tut.


Hamara mengkhawatirkan anaknya. Pagi tadi adiknya menelponnya, ia menceritakan tentang putrinya. Meski yang dengar adalah pujian, hal itu malah membuatnya khawatir. Kenapa putrinya ada disana? seharusnya ia berada dirumah suaminya.


Tin.


Aisyah melihat pesan dari ibunya.


Nak, kamu baik-baik saja?


'Maaf mah.'


Aisyah mengusap perutnya yang sudah agak besar. Apakah membesarkan anak sendiri adalah pilihan terbaik? Akankah anaknya membencinya karna perpisahan.


Tin.


Sebuah pesan masuk ke handphone Aisyah dari nomor tak dikenal.


Aisyah, saya minta maaf. Saya bisa jelasin semuanya, itu tidak seperti yang kamu pikirkan.


Aisyah terdiam sejenak membaca pesan itu lagi dan lagi. Apa lagi yang bisa ia jelaskan, apa tak cukup dirinya menyaksikan segalanya secara langsung. Apa suaminya akan membohonginya?


Tok, tok.


''Aisyah?''


Aisyah tersadar dari lamunannya, ia bergegas membuka pintu.


''Tante? Ada apa ?''


''Tadi ada yang liat Aisyah pulang dengan wajah pucat. Aisyah baik-baik saja?''


Aisyah tersenyum lalu mengatakan, '' Aisyah baik-baik saja tante. Tante tidak usah khawatir, Aisyah-kan kuat.''


Jumiah menghela napas panjang, jelas saja wajah Aisyah masih sedikit pucat tapi malah pura-pura baik-baik saja.


''Saya buatkan teh herbal, yah.''


Aisyah langsung menggeleng dengan cepat.


''Gak usah, Tante. Aisyah gak suka pahit, heheh.''


Tante Aisyah menatap keponakannya, terlihat jelas ada yang disembunyikan-nya.


''Aisyah kalau ada apa-apa bisa tanya Tante.''


Aisyah mengangguk lalu tersenyum lebar menampilkan giginya yang putih.


''Aisyah baik-baik saja, Tante.''


'Bohong.'


''Baiklah, jaga kesehatan.''


Tante Aisyah pergi dengan cepat. Aisyah melihat punggung yang telah berubah dari saat ia kecil dulu. Punggung itu terlihat lebih lebar dari sebelumnya, itu menandakan tantenya telah melewati banyak hal dihidupnya.


''Maaf, Tante. Ais takut anak Ais kenapa-napa.''


Aisyah keluar dari kamar, duduk digazebo depan rumah. melihat langit yang biru yang terang.


''Anak Ais laki-laki apa perempuan?''


Aisyah mengusap perutnya sambil tersenyum.


...----------------...


''Dimana Aisyah?''


Umar menatap Kenan lalu tersenyum sinis.


''Kenapa kau mencarinya? Bukankah bagus? Kamu bisa puas hati bersama selingkuhanmu.''


''Jangan ikut campur rumah tangga orang lain!''


Umar menggepalkan tangannya menahan emosi yang bergejolak dihatinya.


''Kalau Kau tidak bisa menjaganya ... Cerai-kan saja.''


BUGH.


''KUBILANG JANGAN IKUT CAMPUR!''


''KENAPA KALAU AKU IKUT CAMPUR!''


Kenan memalingkan wajahnya. Ia harus segera pergi sebelum ia benar-benar menghabisi seseorang.

__ADS_1


''PERGILAH! DASAR LAKI-LAKI BRENGSEK!"


Umar memalingkan wajahnya. Sebenarnya ia tidak berbeda dengan Kenan, melamar istri orang yang belum bercerai ... Ia pasti sudah gila, tergila-gila akan cintanya.


''Sudah lima tahun ... Hari ini, hari kita bertemukan Aisyah.''


...----------------...


Ratna mengigit kuku jarinya. Ia menutup rapat segala hal yang dapat membuat kenan menemukan Aisyah. Tapi cepat atau lambat Kenan pasti akan segera mengetahuinya.


''Ratna? Kamu kenapa, sih? Belakangan hari ini keliatan banget banyak pikiran," ucap Raina mengkhawatirkan kakaknya.


''A-aku ... S-sebenarnya ....''


...


''Ais hamil? Suaminya selingkuh! Ais pergi kepulau sebrang! Dan sekarang ....''


Raina menutup mulutnya tak percaya. Baru kemarin rasanya mereka bersenang-senang bersama-sama.


''Aku akan menelponnya.''


Drtt, drtt.


''Assalamualaikum.''


Mendengar suara Aisyah yang tampak baik-baik saja bahkan terdengar riang, Ratna dan Raina saling memandang. Mereka mengalihkan panggilan menjadi vidio call.


''Ais ... Gak berubah,'' ucap Raina membuat Ratna menatapnya dengan bingung.


''Ekhm, maksudnya ... Kan Aisyah hamil, kenapa gak gendutan.''


Degh.


Aisyah tertawa kikuk, ternyata Ratna cerita ke Raina.


''Aisyah baik-baik sajakan?''


''Ia Aisyah baik-baik saja kok.''


Ratna memperhatikan Aisyah dengan begitu dalam.


''Kenapa Ratna?'' tanya Aisyah merasa tidak enak ditatap seintens itu oleh Ratna.


''Aisyah jadi kalem, lebih dewasa juga lebih solehah lagi keliatannya.''


''Mungkin karna Aisyah akan jadi ibu, tanpa sadar Ais jadi berubah.''


Kedua sahabatnya tersenyum mendengarnya.


''Saya akan jadi tantenya yang paling baik,'' ucap Raina membuat Ratna menyinggungkan senyumnya.


''Kalau gitu saya akan jadi tantenya yang paling tajir.''


''Pfftt, Kalian akan jadi tante-tante,'' tawa ledek Aisyah.


Mereka tertawa mendengar penuturan Aisyah yang memang benar adanya.


...----------------...


Dhuk.


Ia menjatuhkan kopernya didepan gerabang pondok pesantren yang tertutup rapat. Napasnya tersenggal-senggal, hatinya berdenyut dengan irama jantung yang berdebar-debar.


''Ais ... Aku datang menjemputmu.''


...


''Ustadzah sudah menikah?''


Aisyah terdiam sejenak mendengar pertanyaan santriwatinya.


''Sudah ....'' tatapan Aisyah berubah menjadi sendu. Selama ia disini, dirinya benar-benar melupakan segalanya.


'Hari ini sudah genap satu bulan aku disini.'


''Pasti suaminya Ustdzah ganteng!''


Para santri menjadi heboh. Aisyah hanya dapat tersenyum kecil betapa bersemangatnya mereka.


Aisyah teringat awal ia masuk pesantren. Bila semuanya berapi-api. Hanya Aisyah yang tak bersamangat untuk ikut berbagai kegiatan.


''Apakah seganteng itu?''


Aisyah mengalihkan pandangannya menuju arah tunjuk santrinya.


Degh.


Waktu terasa terhenti, telinganya menuli, bibirnya kelu, matanya terasa buram hingga tak dapat melihat.

__ADS_1


''Ustdzah!!! Dia mendekat!'' ucap santrinya menggoyangkan lengan Aisyah.


Para santri yang mengerumuni Aisyah perlahan mundur kebelakang.


''Kenapa kamu kesini?"


Kenan tak menghiraukan pertanyaan Aisyah. Ia menatap Aisyah dari bawah hingga keatas, ia melirik semua santri yang ada dibelakang Aisyah.


"Ais-"


Aisyah langsung berbalik pergi. Dirinya tidak sanggup mendengar maupun melihat suaminya.


Tes.


Aisyah menghapus airnya dan mempercepat langkahnya.


Brak!


Pintu rumah tertutup dan dikunci oleh Aisyah. Dirinya langsung jatuh kelantai dengan hati yang telah ia tata hancur berkeping-keping.


Aisyah kembali teringat awal dari segalanya.


'Kenapa saat itu aku ingin tau siapa yang menelponmu ... Kenapa aku mengangkatnya ... Kenapa aku membangunkanmu saat malamnya ... Kenapa ... Kenapa aku mengikutimu.'


Aisyah merasakan nyeri pada perutnya. Aisyah segera menghapus air matanya lalu mengusap perutnya dengan lembut.


"Mama tidak apa, Nak."


Aisyah bergegas kekamarnya, mengistirahatkan tubuhnya.


...


Tok, tok.


Aisyah terbangun mendengar suara ketukan pintu.


Aisyah membuka pintu lalu melihat seorang santri yang memgetuk pintunya.


"Ustadzah ... Suami ustdzah datang.''


Degh.


Jantung Aisyah berdetak dengan cepat. Aisyah melangkah perlahan menuju ruang tamu, Tantenya berbincang dengan Kenan.


'Jangan katakan apapun pada tanteku.'


''Aisyah ... Kenapa tidak bilang suami akan datang?'' tanya Tante Aisyah tersenyum lebar.


Kenan sepertinya telah merebut hati tante Aisyah.


Aisyah menelan ludahnya lalu tertawa ringan.


Hening, tak ada yang berbicara. Aisyah terus berdiri dan Kenan tidak mengatakan apapun.


Tante Aisyah tiba-tiba merasa ada yang tidak beres. Ia melihat Kenan lalu Aisyah bergantian. Wajah Aisyah terlihat enggan untuk berada disana, matanya terlihat berair meski memakai kacamata.


''Kalian bertengkar?''


Degh.


Aisyah langsung menatap Kenan.


'Kau memberitahu tanteku ....'


Tante Aisyah menatap Aisyah meminta penjelasan ataupun jawaban.


Jantung Aisyah memompa dengan cepat, napasnya terasa berat, telinganya perlahan menuli, pandangannya terasa berputar-putar, pertanyaan tantenya selalu terulang dikepalanya.


''Ais? Aisyah?''


Drab.


''AISYAH!''


Tantenya langsung berdiri mengejar Aisyah. Aisyah berlari dengan air mata yang terus menetes. Ia berlari melewati gerbang pondok pesantren. Ia memilih jalan yang jauh dari jalan poros. Jalanan yang buruk dan becek membuat Aisyah terjatuh beberapa kali.


'Kenapa kau datang. Kenapa kau merusak segalanya.'


Tanpa Aisyah sadari ia sudah benar-benar jauh dari sana hingga ketempat yang ia sendiri tak ketahui.


Saat Aisyah mulai lelah berlari dan berjalan ia duduk disebuah tempat duduk yang ada dipinggir jalan.


Tes.


Aisyah menghapus air matanya lalu mengusap perutnya.


''Maaf, Nak. Maafkan mama, mama lagi-lagi kabur. Mama gak sanggup, mama tidak kuat. Mama belum lolos dari ujian ini.''


Bunyi masjid tiba-tiba terdengar dikuping Aisyah, ia berbalik keasal suara. Ternyata Aisyah berada didepan sebuah masjid.

__ADS_1


__ADS_2