Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Hadijah.


__ADS_3

Aisyah menatap bekal yang dibawa pulang Kenan. Terdapat pecahan disana, makananya seperti tumpah.


''Nasi goreng Aisyah enak?''


''Iya enak.''


Aisyah memaksakan senyumnya. Ia mencuci bekal itu dengan terisak. Kenan pergi lebih dulu dari meja makan, meninggalkan Aisyah seorang diri di dapur.


...


Tin.


Saya ingin bertemu denganmu di Caffee Manis.


Aisyah menatap pesan dari orang asing yang tiba-tiba masuk dihandphonenya.


''Aisyah? Ada apa?'' tanya Hafsah.


''Tidak ada apa-apa,'' ucap Aisyah melanjutkan belajarnya.


Mereka sekarang sedang belajar diperpustakaan lantaran besok mereka mempuanyai kuis dari dosen killer.


''Ais aku cepek,'' keluh Hafsah menjatuhkan kepalanya.


''Dikit lagi Hafsah.''


Hafsah bangun lalu melanjutkan bacaannya sesekali ia mencatat hal penting atau hal yang mudah ia lupakan dibuku catatannya.


''Sudah ini ... ayok kita singgah makan,'' tawar Hafsah sambil merentangkan tangannya.


''Maaf Ais sudah ada janji.''


Hafsah menghela napas kecewa. Ia merapikan seluruh bukunya lalu mengembalikan buku perpus.


Aisyah masih membaca buku sejenak.


''Aku tunggu, setidaknya kita pulang bareng.''


Aisyah mengangguk, setelah merasa cukup ia juga membereskan buku-bukunya.


Mereka berjalan beriringan sampai parkiran.


''Dah.'' Aisyah melambaikan tangannya pada Hafsah.


Hafsah menahan tahan Aisyah membuat sang empu berbalik dengan penuh tanda tanya.


''Hehehh, aku antar.''


Aisyah terkekeh pelan, ia kira apa. Aisyah menyetujuinya lalu naik kemobil Hafsah.


''Caffee manis? Kau ingin apa kesana?'' tanya Hafsah sedikit kepo.


''Ada seseorang yang ingin bertemu denganku disana.''


''Siapa?''


Aisyah menggeleng pelan.


''Hati-hati sama penipuan, Syah.''


Aisyah mengangguk lalu menepuk bahu Hafsah untuk menenangkannya bahwa ia akan baik-baik saja. Hafsah tersenyum melihat sikap Aisyah.


Hafsah berpikir Aisyah akan berubah jadi sensitif, obsesif, pemikir keras dan mengalami hal buruk lainnya. Sebab ia telah dikhianati oleh orang yang paling ia percayai. Tidak mudah membangun kepercayaan dan sikap yang baik setelah apa yang mereka alami.

__ADS_1


Tapi kehidupan akan terus berjalan, bila bukan kita yang melangkah kedepan waktulah yang akan menenggelamkan kita.


Banyak orang yang telah mengalami hal yang sama hancur, bunuh diri, trauma, sakit jiwa dan menjadi kriminal dalam masyarakat.


Setiap perbuatan memiliki alasan. Terkadang Hafsah ingin bertanya kenapa Aisyah berubah bahkan menjadi pribadi yang lebih baik.


''Makasih.''


Hafsah tersadar dari lamunannya. Dirinya mengemudikan mobil secara otomatis dengan pikiran yang ikut berkelana bersama mobilnya.


''Ekhm, yah hati-hati.''


Aisyah melambaikan tangan lalu masuk kedalam Caffee. Senyum Aisyah mengambang saat melihat interior Caffee yang megah.


Caffee tersebut salah satu cabang milik Celsie. Aisyah turut bahagia melihat betapa suksesnya para sahabatnya.


'Bila Aisyah tidak menikah ... Mungkin Aisyah juga sudah memulai mimpi Aisyah. Melakukan hal apapun yang Aisyah suka.'


Aisyah mengelus perutnya lalu tersenyum.


'Maaf, Nak. Bukan berarti ibu benci kehadiranmu. Malah ibu sangat bahagia kamu hadir di hidupku.'


''Permisi Nona. Nona mau pesan apa?''


''Apa masih ada bangku kosong?''


''Yah, atas nama siapa?''


''Hadijah.''


Aisyah berbalik mendengar suara seseorang menyelipnya.


Hadijah menyerahkan kartunya lalu menatap Aisyah.


''Kamu datang tepat waktu juga.''


Bukankah seharusnya Aisyah yang marah? Tapi kenapa ia lebih terlihat marah dibanding dirinya.


''Mejanya nomor 12.''


Hadijah berjalan lebih dulu bahkan ia sengaja menyenggol bahu Aisyah saat melewatinya.


Aisyah mengusap bahunya lalu berekspresi datar seketika.


Mereka duduk berhadap-hadapan.


''Kenapa kau mencariku?'' tanya Aisyah dingin.


Glek.


Hadijah menelan ludahnya berat, ia mengambil napas panjang lalu menatap Aisyah meremehkan.


''Jauhi Kenan.''


Aisyah menaikkan alisnya. Perempuan didepannya sepertinya tak tahu apa-apa. Ia menyuruhnya menjauhi Kenan, sementara ia adalah istrinya! Istri yang disetujui oleh ibu dan ayah kenan.


''Apa hakmu?''


''Hugh! Dasar perempuan murahan!''


Brak!


Hadijah memukul meja dengan emosi.

__ADS_1


''Kubilang jauhi Kenan! Kenapa kau susah sekali diberitahu!!! Mau uang? Ini ambil!!!''


Hadijah melemparkan lembaran-lembaran uang merah didepan Aisyah. Uang itu bertebaran dimana-mana.


Aisyah terseyum menyeringai melihat gadis didepannya ternyata bodoh atau kekanak-kanakan. Wajahnya yang terlihat lebih tua dari Aisyah membuat Aisyah ingin tertawa.


Selingkuhan melempar uang pada istri sah? berita ini pasti akan ditertawai seluruh kota.


Aisyah menghela napas panjang, ia teringat kata-kata kakaknya saat ia kecil dulu.


Aisyah jangan biarkan siapapun menginjak-injakmu, jangan biarkan siapapun menghinamu, membela diri adalah hal benar meski orang lain akan melihat kita sombong.


Tuk.


Aisyah mengeluarkan atmnya. Menghela napas panjang lalu berbicara, ''isinya 3 miliar.''


''Kau pikir aku akan mengambilnya lalu menyerah?"


Aisyah menarik napas dalam-dalam lalu menatap perempuan didepannya dengan sinis.


''Lalu kau pikir uang segitu dapat membuatku pergi? Lihat! Buka matamu lebar-lebar, Saya tidak butuh uangmu.''


Aisyah kembali mengeluarkan atmnya, silver, platinum, gold dan black card bahkan kartunya ada 9.


Degh.


''K-kamu!!''


Wajahnya memerah menahan kesal. Aisyah tersenyum kecil melihatnya. Yang paling banyak memberiny kartu adalah kakaknya, meski Kenan yang memberinya black card.


Wajah Hadijah tiba-tiba berubah tersenyum sinis. Ia berdiri lalu melipat tangannya membusungkan dadanya.


''Kalau ia kenapa? Kau lihat ini?''


Hadijah memperlihatkan sebuah cincin bertaut manis dijarinya.


''Saya tunangannya! Jadi apapun alasanmu ... Kamu yang harus pergi! Lagi pula memang kenapa kalau kamu kaya? Bisa saja kamu mendapatkannya secara hina.''


Degh.


''Apa maksudmu?!''


Aisyah berdiri dengan tegak, memincingkan matanya.


''Berapa laki-laki yang telah kau goda?''


Aisyah memalingkan wajahnya menahan emosinya. Perempuan didepannya sepertinya sudah gila.


''Mohon maaf kalau saya belum memperkenalkan diri. Saya Annisa Aisyah Putri bin Albiy Chandra, putri dari perusahaan MA groub, adik dari perusahaan AIM groub. Statusku apa dengan Kenan? Lebih baik kau tanyakan langsung padanya. Satu hal lagi! Saya pemelik caffee ini! Saya investor Perusahaan Arsie satu-satunya.''


Aisyah membereskan barangnya lalu pergi secepat mungkin. Aisyah bahkan enggan untuk melihat ekspresi Hadijah.


Setelah keluar dari caffee Aisyah memanggil taksi, dirinya baru menyadari segalanya.


'Tunangan? Kamu sudah melamarnya ... Kapan kau melakukannya? Cincin itu mirip gelang yang kau berikan.'


Meski sekilas Aisyah melihatnya tapi dicincin itu terdapat sebuah burung merpati.


Tes.


Apa takdir mempermainkannya? Setelah ia merasakan kebahagiaan yang besar ia pula terjatuh kepaling dasar. Aisyah harus merelakan harga dirinya yang diinjak-injak oleh suaminya, Aisyah masih mengingat dengan jelas saat mereka bertengkar.


Kata perempuan murahan tak bisa lepas dari ingatan-ku. Lantas ia yang selingkuh? Apakah itu benar? Apa karna syariat islam mengizinkan poligami sehingga ia mengalami hal ini? Apa Kenan tidak suka dengannya? Ia bosan dengan istri yang selalu merengek dan bertingkah manja? Lalu kenapa ia memanjakannya? Padahal Kenan bisa menegurnya, menesahatinya, membimbingnya, tapi sekarang sudah terlambat. Seperti pepatah yang mengatakan nasi sudah jadi bubur.

__ADS_1


Aisyah menghapus air matanya. Padahal ia tak boleh stress tapi keadaan seolah tak mendukungnya.


"Apa kau melamarnya disaat menyatakan perasaan padaku?"


__ADS_2