
Malam itu suasana malam begitu dingin menusuk tulang-tulang. Aisyah keluar dari balkon kamarnya, menghirup udara segar.
Aisyah semakin mengeratkan selimut yang membantu menghangatkannya.
Bila malam-malam ia dibalkon kenan sering datang memeluknya dari belakang. Kenan sering memarahinya lantaran Aisyah tidak akan tahan dengan hawa dingin.
Drtt, drttt.
Aisyah masuk kedalam kamar mengambil handphonenya.
''Assalamualaikum.''
Suara yang sudah Aisyah rindukan bergema dikepalanya.
''K-kenan?''
''Iya, saya ada didepan rumah.''
''Ka-''
''Gak usah dibuka. Saya cuma mampir bentar, nanti mama sama papah juga bisa kebangun.''
Aisyah keluar dari balkon melihat kesamping, mobil Kenan beneran ada disana.
Aisyah mengusap matanya yang akan segera berair.
''Aisyah jangan sering kebalkon kalau malam, Aisyah-kan suka kedinginan.''
''Iya.''
''Aisyah ... Maafkan aku. Aisyah tenang saja. Kita tidak akan berpisah, aku janji padamu. Aku mencintaimu.''
''S-''
''Aisyah tak perlu membalasnya. Saya tau Aisyah membenci sa-''
''Tidak!!! B-bagaimana saya bisa membencimu ....''
'Sedangkan kamu adalah ayah anakku.'
''Aisyah ... Bahkan jutaan maaf dariku tak akan cukup untuk membayar luka yang telah kutorehkan dihatimu.''
Tes.
Aisyah mengusap matanya yang berair.
''Hik ... hik.''
Kenan dapat mendengar dengan jelas isakan tangis Aisyah.
Drab.
Kenan melihat Aisyah berlari masuk kekamarnya. Kenan melihat handphonenya, sepertinya ia harus segera mengakhiri panggilannya.
Cklek.
Kenan mendongkak melihat pintu rumah yang terbuka memperlihatkan Aisyah dalam keadaan kacau dengan mata sembab.
''Ai-''
Puk.
Aisyah langsung berlari memeluknya. Kenan membalas pelukan Aisyah, mengusap punggungnya pelan untuk meredakn tangisnya yang kian keras.
Cup.
Kenan mengucup kening Aisyah menangkup kedua wajahnya.
''Saya janji, tidak akan pernah membiarkan kita bercerai. Kita akan melalui semuanya dan kembali memulai.''
Aisyah mengangguk pelan, tangisnya sudah berhenti bergantikan rasa rindu. Aisyah kembali memeluk Kenan, meresapi keberadaan yang kini ada.
''Aisyah ....?'' Kenan tampak tak enak lantaran ada beberapa orang yang melihat mereka.
''Aisyah gak mau, Aisyah masih kangen.''
''Ekhm.''
Kenan berdehem beberapa kali tapi Aisyah tidak kunjung melepaskan pelukannya. Dengan rasa malu yang sudah kandas, Kenan mengangkat tubuh Aisyah masuk kemobil.
__ADS_1
''Kenan!!'' pekik Aisyah terkejut.
Bam.
Setelah pintu tertutup Kenan melirik Aisyah yang merajuk. Kenan tersenyum simpul lalu memeluk Aisyah.
''Saya juga mau isi baterai.''
Aisyah terkekeh pelan lalu membalas pelukan suaminya.
Kryuuukkk.
Blush.
''Aisyah lapar?''
''Gak!!!''
Kryuukk, kruuuukkk.
''Aisyah lapar, yah ....''
Wajah Aisyah memanas menahan malu. Ia melepaskan pelukannya menyembunyikan wajahnya.
''Aisyah mau makan bubur ayam sama soto ayam, sekalian beliiin rendang, mau makan daging kuda sama susu coklat manis yang dicaffee paris.''
''Aisyah? Beneran mau makan itu?''
Aisyah mengangguk pelan dengan mata memelas.
''Kenan harus beliin, kalau gak Aisyah gak mau lihat Kenan lagi,'' rajuknya.
Kenan menghela napas lalu keluar dari mobil membuka pintu depan kemudian duduk dikursi kemudi.
Kenan berbalik menatap Aisyah untuk bertanya sekali lagi.
''Yakin?''
Aisyah mengangguk yakin. Kenan menjalankan mobilnya membeli makanan yang disebutkan Aisyah.
...
''Sudah?''
''Belum. Kenan belum beliin Aisyah susu coklat manis yang ada dicaffee paris.''
Kenan pikir Aisyah akan lupa karena sudah kenyang.
''Yang itu gak usah, yah?''
''Gak! pokoknya harus!!!''
Kenan menghela napas, ia mencari caffee paris disekitar yang kemungkinan bisa saja yang disebutkan Aisyah ada.
...
''Aisyah kita sampai.''
Tak ada sautan Kenan berbalik. Kenan terkekeh pelan melihat Aisyah tertidur dengan tangan yang masih mengenggam erat permennya.
''Aisyah mau susu coklatnya?''
''M ...au.''
''Yang kaya gimana?''
''N ... ya ... p ... s.''
Kenan terkekeh mendengar gumaman Aisyah. Kenan keluar dari mobil masuk kedalam Caffee.
Setelahnya Kenan mengantar Aisyah pulang. Karna tak kunjung terbangun, Kenan mengangkat Aisyah kedalam rumah hingga naik kekamar mereka. Kenan meletakkan susu yang diminta Aisyah diatas meja. Kenan mengucup jidat Aisyah sejenak lalu pergi dengan hati-hati.
...
''Aisyah?''
Aisyah tersadar dari lamunannya, ia baru sadar ia ada didepan ruang pintu persidangan. Sudah beberapa hari sejak kejadian kenan menandatangani surat cerai dan Aisyah tidak memiliki pilihan lain. Aisyah menandatanganinya dengan perasaan hancur, padahal Kenan berjanji padanya tapi kenapa ini semua terjadi.
''Aisyah ... mari masuk.''
__ADS_1
Aisyah berjalan dibelakang sahabatnya Ratna. Ia percaya pada sahabatnya.
Degh.
Jantung Aisyah terasa terhenti melihat pemandangan didepannya. Waktu terasa terhenti.
Dia yang berjanji kini duduk dimeja persidangan dengan seorang pengacara dengan perempuan lain. Begitu inginkah ia mengumumkan bahwa ia tidak menginginkannya? begitu inginkah Kenan bercerai dan menikahi tunangan yang sejak lama.
'Benar juga ... Mereka sudah lama bertunangan. Cinta yang baru akan selalu kalah dengan yang datang lebih dulu.'
Aisyah memegang dadanya yang terasa sesak. Rasanya ia akan segera jatuh.
''Aisyah, kamu gak apa-apa?''
Ratna menghampiri Aisyah membantunya berjalan.
''Dengan mengucapkan hamdalah, bismillahrahmanirahim saya nyatakan sidang dibuka.''
Tung, tung, tung.
Aisyap menatap mata hakim lalu melirik suaminya.
'Kamu tega ... Kamu tega ... Aku berusaha mempertahankannya tapi ini akhirnya. Aku sudah mentoleri segalanya tapi kamu masih ingin berpisah ... Kenapa? Kenapa? Padahal aku sedang mengandung anakmu.'
''Aisyah kamu gak apa-apa?'' tanya Ratna lagi melihat wajah Aisyah begitu pucat.
''Ak-''
Pandangan Aisyah menggelap, tubuhnya terasa berat hingga ia ambruk.
Bruk.
''AISYAH!!!''
Suasana sidang menjadi semakin tegang. Beberapa orang berdiri dari kursinya menghampiri Aisyah.
''Aisyah bangun?!!!''
Kenan refleks berlari menghampiri Aisyah.
''Aisyah? Bangun!'' Kenan menepuk-nepuk pipi Aisyah tapi tak ada respon. Kenan bersiap membawa Aisyah pergi.
Bugh.
''MINGGIR!!''
Muslim mendorong Kenan memgangkat tubuh adiknya.
''Nak?!!''
Muslim menatap kedua orang tuanya lalu melanjutkan langkahnya.
Tangan Kenan gemetaran, kepalanya sakit. Ia tidak pernah menandatangani-nya tapi kenapa semua orang percaya hal tersebut. Bahkan Abby dan Uminya kecewa dengannya.
Kenan mengangkat wajahnya, matanya tertuju pada hadijah. Kakinya melangkah mendekatinya lalu mengcegkramnya dengan kuat.
''Kamu yang melakukannya-kan?!!!''
Hadijah meringkis kesakitan. Ia menatap Kenan dengan sedih, ia pura-pura tidak tahu apa-apa.
Tung, tung, tung, tung, tung, tung.
''Harap tenang.''
Kenan melepaskan tangannya lalu keluar dari persidangan. Tak ada gunanya lagi ia hadir, Aisyah tak ada disana.
...
Muslim duduk menatap mata adiknya yang terpejam.
''Kau hebat juga.''
Muslim melirik orang yang mengatakan hal tersebut.
''Dulu bukannya kau benci jadi seorang pemimpin? Bukannya kau ingin jadi seorang dokter?''
Chandra menatap putranya hampir satu minggu ia begadang dengan karyawannya sebab putranya yang membuat kerecohan. Peretas, masalah dengan mitra bisnis, pemasaran yang turun drastis dan perusahaannya mau diakuisi oleh putranya.
''Kenan sudah dilatih menjadi harimau sudah tak mungkin menjadi anak rusa. Tangan Kenan sudah terlatih memegang berkas dokumen sulit memegang pisau. Kenan terbiasa berpikir secara rasional, mengambil keputusan yang menguntungkan, sulit mengubah jalan pola pikir mendominasi menjadi hati yang lemah lembut, berperikemanusiaan, berpikir tanpa ego, rasa iba, rasa kasihan, rasa untuk menyelamatkan sesama tak bisa kumiliki karna di didik untuk mencari keuntungan tanpa kerungian.''
__ADS_1
Chandra merasa tertusuk belati panjang dengan perkataan putranya, memang ia melatihnya menjadi harimau karna ia juga dilatih seperti itu. Anak harimau tak mungkin melahirkan anak ular
''Kalau begitu pulanglah ... Mama selalu rindu dan bertanya kapan putranya akan pulang, kapan putranya memaafkannya, kapan ia akan berhenti membuatnya khawatir.''