
Aisyah sudah berada disini selama beberapa hari ... hidupnya terasa lebih bahagia, walau disebuah hati terdalamnya ada kesedihan.
Greb.
Sebuah pelukan hangat mendarat ditubuh Aisyah.
''Apa yang kau pikirkan?''
Plakk.
sebuah pukulan keras mendarat diwajahnya.
''Menjauh dariku!!!'' ucap Aisyah galak.
''Hahh ... galak amat adekku yang cantik ini,'' ucapnya menyunggingkan senyumannya dan mencubit pipi Aisyah. Dia kakak Aisyah yang pergi dari rumah.
''Suka-suka aku, tuh,'' ketus Aisyah.
''Iya,iya, suka-suka kamu sayang,'' ucapnya lembut.
''Ehwuyyyy, jijik tau!!!'' ucap Aisyah sebel.
Dia hanya tersenyum manis menanggapi adik yang begitu disayangnya.
Drtt,drtt.
Sebuah bunyi ponsel membuat senyum diwajahnya luntur dan memasang wajah masam.
''Aku pergi dulu ... jangan lupa makan,'' ucapnya berlalu pergi dengan kesal. Dia kesal karna masih ingin menghabiskan waktu dengan adiknya yang sangat langka itu.
Aisyah menatap kepergiannya dan dengan santai merebahkan tubuhnya bermain game, sesekali Aisyah mengambil buah dan memasukkannya kedalam mulutnya. Selama berada disini pekerjaannya hanya malas-malasan seperti gadis manja kaya raya lainnya, perawatan, jalan-jalan, belanja, liburan, foto-foto. dia bener-bener seperti burung yang lepas dari sangkar, menari dan bernyanyi sesuka hati.
…
Diperusahaan besar kini terlihat seseorang yang saling menatap dengan tajam, yang satu menatap dengan lembut, namun tak dipungkiri dia juga memperlihatkan wajah sangarnya, yang lainnya tidak memiliki ekspresi bersahabat sama sekali.
"Apa yang kau lakukan disini? Hebat juga. Sudah bertahun-tahun kau tidak sadar dan baru menyadarinya, itupun karna kehilangan putri kesayanganmu ... Ayah,''dia berucap dengan tajam, seolah tidak ada ikatan darah diantara mereka.
''Muslim ... ,'' dia berucap dengan pelan.
Meraka adalah ayah dan anak, namun mereka tidak akur seperti aisyah. Muslim adalah namanya, anak pertama dari sebuah pasangan yang bahagia, itu yang mereka katakan tanpa melihat kenyataan yang sebenarnya.
''A-aisyah-'' perkataannya terpotong.
''Aisyah lebih senang berada disini ... batalkan saja perjodohannya!!!'' Muslim berucap tanpa mengenal kata belas kasih ayah dan anak.
Suttt.
Sebuah lembaran foto digeser oleh Muslim dihadapan Ayahnya itu. Berbagai foto wanita cantik dengan senyum bahagia diwajahnya tanpa kepalsuan sama sekali.
Deg.
Abbi menatap putranya dan juga foto putrinya, dunianya terasa runtuh. Apakah dia terlalu egois sejak dulu? hingga membuat keluarganya hancur seperti ini?
''Pulanglah!!! Aku tidak akan mengantar aisyah pulang kalau bukan dia yang memintanya,'' ucap Muslim berbalik, takut hatinya melemah menatap sosok yang ada didepannya itu.
Syuttt.
''Baiklah, terima kasih sudah menyayangi adikmu yang berharga, Nak,'' ucap Abbinya pilu dan beranjak pergi. dia mengambil seluruh foto aisyah dan menyimpannya dengan hati-hati. Setidaknya istrinya tidak akan terlalu sedih melihat foto aisyah yang terlihat bahagia berada disini.
Brakkk.
__ADS_1
Muslim menggebrak mejanya, hatinya tetap saja sakit walau dia sudah menetapkan hati bahwa tidak akan berharap lagi.
…
Jdarrr.
Hujan yang deras beserta petir membuat hati Aisyah bergetar ketakutan. Aisyah berusaha menghilangkan rasa khawatirnya akan pemikiran buruk ketika hujan datang. Aisyah menyalakan TV dengan keras agar fokusnya teralihkan.
Brummm.
Mendengar suara mobil yang terdengar tidak asing membuat Aisyah berlari kearah jendela kaca.
''Kakak sudah pulang!!!'' Aisyah berucap dengan senang.
Deg.
Aisyah menatap mobil itu yang dia kenal, bukan mobil kakaknya melainkan mobil ayahnya.
draas.
Hujan semakin lebat, tapi sang pengemudi tidak terlihat akan turun ataupun menjalankan mobilnya. Abbi Aisyah menatap rumah itu, rumah dimana putra dan putrinya tinggal, rumah mewah yang penuh kehangatan.
Mata mereka bertemu, seutas senyum merekah diwajah Abbi Aisyah.
Deg.
Syuttt.
Aisyah menutup jendela dengan gorden. Aisyah berbalik dan memegang dadanya, jantungnya berpacu dengan cepat, hati nuraninya bertarung dengan akal sehatnya.
Aisyah terduduk dan meringkuk menutup wajanya dengan lengannya.
Apakah dia anak yang jahat? dia membiarkan ayahnya berada diluar, jantungnya berpacu cepat membuat Aisyah perlahan menjadi sesak napas. Hujan petir yang takutinya semakin menjadi, suara TV mulai tenggelam oleh suara hujan, derasnya hujan itu bahkan dapat membuat banjir dengan cepat.
Aisyah tergeletak pingsan, napasnya yang tidak beraturan membuat matanya berkunang-kunang, kepalanya terasa berat hingga jatuh kelantai.
…
''Ai ... .''
''Aisyah ... .''
''Aisyah!!!''
Aisyah membuka matanya perlahan, kini kakaknya terlihat sangat khawatir kepadanya.
Grebb.
''Syukurlah kau tidak apa-apa!!!,'' Muslim berucap dengan bergetar, dia memeluk Aisyah dengan erat, takut terjadi sesuatu dengannya.
Aisyah menggedarkan pandangannya, pakaiannya tidak berubah, hanya saja dia berada dikamar siapa? kamar yang terlihat sederhana, namun dipenuhi oleh alat canggih.
''I-ini dimana?''
''Ini dikamarku,'' ucap Muslim melepaskan pelukannya.
''A-aku ... .''
''Sudah jangan dibahas ... mari makan,'' ucap Muslim tidak ingin membebani adiknya. Aisyah tersenyum dan membuka mulutnya.
Muslim menyuapi Aisyah dengan lembut, namun sesekali dia mengerjai Aisyah membuat Aisyah tertawa dan melupakan segalanya.
__ADS_1
…
Beberapa hari kemudian.
Syuuuttt.
Angin bertiup dengan lembut diwajah Aisyah.
"Kak, ajak aku pergi keluar dong!!!" ajak Aisyah menatap kakanya yang selonjoran dikasur dengan barantakan. Jika ada yang melihat, mungkin mereka akan bertanya, benarkan dia adalah pengusaha? tampangnya kini seperti berandalan miskin. Hari ini adalah hari liburnya, dia akan seperti itu sepanjang hari hingga hari waktunya bekerja.
"Kau ingin kemana?''tanya kakaknya dengan malas.
Krauk.
''Aku ingin rasakan masakan kuliner disini!!!'' Antusias Aisyah.
''Nyanm~ Aku suruh sopir antar,'' ucapnya mengambil ponselnya tanpa merubah posisinya.
Drap.
Syuttt.
Aisyah mengambil keripik yang dari tadi dimakan kakaknya dan memakan semuanya dengan cepat.
Glek.
''Antar aku!!!'' tegas Aisyah dengan galak.
''Baiklah ... ,'' ucap Muslim dengan malas. dia melangkah pergi dengan lemas, hari liburnya telah hilang dan menjadi sopir untuk adik kesayangannya itu.
Tringg.
Mata Aisyah berbinar ketika hidangan kerang laut berada didepan matanya, Aisyah makan dengan lahap tanpa memikirkan kakaknya yang memandangnya dengan aneh.
'Adekku kaya gak makan seabad aja deh ... ,' ucapnya dalam hati, namun tak sanggap dikatakannya, bisa-bisa kepalanya disiram sup kerang.
1 Jam kemudian.
Aisyah tertidur dimobil Muslim dengan begitu nyenyak. Mungkin karna sudah lama tidak makan hidangan laut, membuatnya menjadi bersemangat. Muslim membiarkan adiknya memakan apapun yang dia suka, dia tau Aisyah alergi makanan laut. Tapi dia sudah antisipasi dengan memberinya obat sebelum makan dan sesudah makan.
''Aisyah ... Aisyah.'' Muslim menggoyang-goyangkan tubuh Aisyah untuk membangunkannya.
''Huemmm.'' Aisyah mengucek matanya dan merengangkan tubuhnya.
Kali ini mereka pergi ke mall, Aisyah dengan senang hati berbelanja dan memakan apapun yang diimpikannya.
''Kakak mana?'' ucap Aisyah saat dia menyadari terpisah dari kakaknya.
''Telpon deh.'' Aisyah memeriksa handphonenya, tapi handphonenya mati.
''Yah gimana nih ... ,'' ucap Aisyah merasa resah.
''Tunggu saja deh.'' Aisyah melangkahkan kakinya duduk dibangku mall itu. Menunggu kakaknya menemukannya.
''Aisyah.''
Aisyah berbalik dan menampilkan senyum bahagianya. ''Kakak!!''
Deg.
__ADS_1
Orang yang menghampirinya bukanlah kakaknya. Aisyah mematung, rasanya dia ingin melarikan diri.