
''Kak, kakak baca apa?"
Kenan menengok dan mencubit pipi Aisyah.
"Habis ngapain?"
"Gak ngapa-ngapain tuh," jawab Aisyah.
''Terus ini apa?"
Kenan mengusap bibir Aisyah dan terdapat noda makanan disana.
"Ihhh, Kakak kenapa begitu!!! Kan bisa pake tisu atau tanya Aisyah!!! Lihat tangan kakak kotor," omel-nya lalu Aisyah mengambil tisu dan mengelapnya.
"Kakak baca apaan... Aisyah bosan Kakak cuekin Aisyah."
Aisyah memajukan kepalanya dan melihat apa yang dibaca oleh suaminya itu.
Hap!
Dengan cepat Kenan menutup buku-nya, yang melihat tulisan pun Aisyah tak sempat. Aisyah terkejut, wajahnya tampak cemberut menatap kenan.
"Pelit, gak mau yaudah gak usah!!" ucap Aisyah berjalan menghentak-hentakkan kakinya.
Kenan menghela napas dan berjalan mengikuti Aisyah dari belakang.
"Aisyah," panggil Kenan. Tapi menengok pun Aisyah enggan.
Hap.
Dari belakang Kenan menangkap Aisyah.
"Lepasin!!!!" kesal Aisyah.
Bukannya melepas malah semakin erat, membuat gadis itu meronta-ronta. Dengan santainya Kenan mengangkat tubuh mungil itu dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.
''Ihhh, Kakak ngapain sih!!! Aisyah kesal tau!!" ucap Aisyah, matanya mulai berair.
"Sudah-sudah, Aisyah sayang?"
Aisyah diam, ia memalingkan wajahnya. Kenan menurunkannya dan mendudukkannya diatas kedua kakinya.
"Aisyah?"
"AISYAH KESAL!!! JANGAN NGANGU AISYAH!!!"
Kenan memejamkan matanya sejenak, merangkai kata untuk istri kecilnya itu.
''Mau dipeluk?"
Dengen spontan Aisyah memukul dada Kenan kesal.
"Kakak tuh yang bener aja!!!"
"Yaudah, Aisyah cantiknya kakak mau apa? Kakak gak tau maunya kamu apa?" ucap Kenan menangkup kedua pipi mungil Aisyah.
"Dibilang Aisyah marah!!! Hikz... Kakak kok gituin Aisyah!!" perlahan gadis itu menunduk mengusap matanya yang berair.
Kenan memeluk Aisyah dari belakang mencium pipinya sejenak.
"Maaf, kakak salah. Jangan marah yah?"
Tangis Aisyah semakin kencang, jujur hatinya terhenyut saat Kenan menutup buku itu, kesadarannya langsung berkecamuk.
Mungkin ia juga lelah, rasa hatinya yang masih ingin bebas selalu berdatangan. Sementara ia duduk hanya dengan menatap jendela yang tertutup, rumahnya bagaikan sangkar emas baginya.
__ADS_1
"Kakak kurang peka, ini-kan hari libur ... Aisyah mau jalan?"
Aisyah bukannya menjawab, ia masih diam. Tetapi tangannya terus menarik ujung baju suaminya. Kenan tersenyum, ia mengusap kepala istrinya itu. Mungkin ia masih takut mengutarakan keinginannya.
"Yaudah, Aisyah mau ganti baju?"
Aisyah mengangguk
"Mau kakak gendong?" lagi-lagi Aisyah mengangguk, Kenan terkekeh kecil saat melihat wajah istrinya itu tengah cemberut dengan manja sambil merantangkan tangannya. Kenan menunduk kemudian dengan antusias Aisyah naik kepunggungnya.
''Kak... Uhubbika."
"Aisyah bilang apa?" tanya Kenan ia tak terlalu mendengar dengan jelas apa yang istrinya itu katakan.
"Heheh. Tidak ada," cenggir Aisyah sambil memajukan wajahnya hingga pipi mereka bersentuhan.
...
"Kak cantik gak?" tanya Aisyah memperlihatkan baju yang ia pilih.
Kenan tersenyum kemudian matanya sedikit menyipit.
"Ganti."
Satu kata itu langsung membuat senyum yang mengambang di wajah Aisyah pudar.
''Kok gitu?! katanya cantik!!!'' sengut Aisyah.
Kenan tidak mengubah keputusannya
''ganti!"
Dengan kesal Aisyah melemparkan semua bajunya yang ada dilemari pada Kenan.
Kenan ia tersenyum, ia melihat pakaian yang Aisyah dan memilih.
''Yang ini aja!'' ucap Kenan tegas.
Melihat pakaian yang dipilih Kenan membuat Aisyah menggembungkan pipinya.
''Bajunya biasa banget!!! Kitakan mau jalan!!!''
''Emang mau dikasih liat siapa?!'' tanya Kenan menaikkan alisnya dan mendekati istrinya itu.
Seketika Aisyah jadi gugup, ia mengalihkan pandangannya kearah lain dikala ali sudah didepannya dan menatapnya begitu lekat.
''Bu-buat ka-kak,'' ucap Aisyah terbata-bata.
Ali mendekatkan wajahnya didepan Aisyah, ia tersenyum.
''Kakak-kan sudah lihat''.
Akhirnya mau tak mau Aisyah mengalah, ia mengangguk-kan kepalanya dan mengambil baju itu. Aisyah berlari dengan cepat kekamar mandi membuat Kenan cukup terkekeh melihat wajah Aisyah yang merah padam.
Dikala itu aku melihatnya terkekeh ringan, menampilkan wajah yang bahagia. Tapi haruskah aku bahagia, dikala hatiku disakiti olehnya...
...
Jdar!!!
''Kak...''
Aisyah menatap dirinya yang terguyur hujan. Saat mereka makan tadi, Kenan bilang ada rapat. Ia buru-buru pergi meninggalkan Aisyah seorang diri direstoran itu, ia berjanji ia akan kembali. Tapi hari semakin malam, menyisakan Aisyah seorang diri.
Tes.
__ADS_1
''Kak... Kakak kemana?'' lirih Aisyah.
Ia menangis dalam diam, menyimpan sejuta rasa kesedihannya. Ia keluar dari restoran karna restoran itu akan tutup, haruskah ia marah? Haruskah ia membenci suami yang meninggalkannya itu.
Syut.
Air hujan yang membasahinya berhenti, Aisyah merasakan kehangatan dibalik punggungnya. Ia berharap itu adalah suaminya, namun ia tau yang dibelakangnya bukan suaminya.
''Ka..k,'' lirih Aisyah.
''Kenapa? Dia ninggalin kamu? Dan kamu masih setia menunggu?'' tanya Muslim tajam.
''Kak, jangan bahas masalah ini ... Ai...syah .. Capek,'' ucap Aisyah berbalik menatap mata Kakaknya.
Muslim diam ia terus menunggu dan menunggu entah apa lagi yang akan adiknya itu katakan. Suasananya terasa mencengkam dikala Aisyah benar-benar menutup mulutnya rapat-rapat enggan untuk bercerita.
Muslim menghela napas, ia menepuk-nepuk bahu Aisyah dan menariknya ke mobil
...
HK Groub.
''Kalau kalian masih tetap bersih keras kami akan mengajukan tuntutan!''
Kenan terus diam, ia terus memperhatikan perdebatan sekertarisnya dengan lawan yang didepannya.
''Kami memang yang membatalkan perjanjian, tapi HK Groub dapat mencari kerjasama lain.. Kalian yang rugi bila membatalkannya. Tercatat didalam perjanjiannya,'' ucap Kenan tegas.
Setelah serangan Hacker, tuntutan dari berbagai pihak tentang kehancuran lantai satu datang berturut-turut meminta Kenan bertanggung jawab. Kini ia dihadapkan dengan perusahaan yang mengajukan tuntutan karna perbatalan janji pada hari tersebut.
Belum selesai sampai disitu pihak atas mendesaknya untuk meminta klasifikasi akan masalah ini. Kenan tetap kekeh pada keputusannya, meskipun ia butuh para investor, tapi ini perusahaan yang dibangun kelaurganya. Kenan yang harus memegang kendali, ia bisa mencari investor lain bila mereka menarik dananya.
Waktu tak terasa berlalu dengan cepat, Kenan menghela napas. Ia melirik Azka yang seperti mayat hidup.
''Lebih baik diluar negeri, disini keras kepalanya bukan main,'' ucap Azka menjatuhkan tubuhnya kelantai.
''Terima kasih atas kerjasama kalian. Ini akan jadi bonus bulanan tahun ini,'' ucap Kenan pada karyawannya yang rasanya juga akan segera tumbang.
Mendangar ucapan Kenan mereka langsung bersemangat kembali.
''Terimakasih Presdir!!!''
Kenan melirak jam ditangannya yang sudah pukul 02:56. Kenan membulatkan matanya, ia melupakan istrinya. Kenan segera pergi dengan buru-buru.
Saat sampai direstoran disana sudah sepi dan sunyi. Kenan menjalankan mobilnya kerumah, ia dengan cepat berlari kekamarnya berharap istrinya sudah pulang.
Cklak.
Kenan membuka pintu kamarnya, namun ia tak melihat apapun. Sunyi dan sepi, ia tak mendapati istrinya.
Deg!
''Ai...syah!!''
''Aisyah!!Aisyah!!''
Kenan berlari kesana kemari mencari aisyah kepelosok rumah,namun nihil ruangan itu terasa dingin seolah aisyah tak pernah kembali kesana.
Kenan kembali ke mobilnya mencari aisyah yang mungkin ada disuatu tempat.
Malam menjelang pagi, sosok laki-laki tampak sibuk mencari dan mencari... Bagaikan yang dicarinya adalah sesuatu yang sangat berharga, ia mengunjungi berbagai tempat, bertanya kesana-kemari kemana aisyah-nya.
''Aisyah kamu dimana?'' tanya Kenan ia lelah, dan matahari sudah akan memperlihatkan ufuknya.
Kenan diam sejenak sebelum matanya melihat sebuah masjid disampingnya. Ia diam sejenak sebelum kakinya turun dari mobil. Kenan mengambil air wudhu, menghadap kepada illah memohon ampun kepadanya. Meminta petunjuk dimana istrinya berada.
__ADS_1