Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Bertemu sahabat lama.


__ADS_3

Terngh


Bunyi lonceng begitu keras saat Aisyah memasuki Kafe itu. Aisyah melihat sekitar dan tidak melihat umar sama sekali.


'Apa umar sudah berubah hingga Aya gak inget lagi ... ,'' ucap Aisyah berjalan dengan pelan mencari keberadaan umar.


''Aisyah ... ,'' suara lembut yang khas, Aisyah kenal kenal suara ini.


''Umar ... .'' Aisyah membalikkan tubuhnya dan menatap laki-laki yang ada didepannya.


Umar tersenyum menampakkan ginsul digiginya.


''Mari duduk sini,'' kata Umar duduk dibangku sebelahnya.


''Syukron,'' ucap Aisyah duduk dihadapan Umar.


''Maaf Aisyah. Umar baru liat pesanmu,'' kata Umar terlihat bersalah.


''Enggak apa-apa,'' ucap Aisyah menunduk merasa tidak enak.


Umar menatap Aisyah dalam-dalam. Umar menelan salivanya dengan berat menatap Aisyah dengan tatapan yang sulit diartikan.


''Aisyah gak berubah ... ,'' kata Umar pelan.


''... Iya.'' Aisyah tersenyum tipis menanggapinya. Suasana diantara mereka tidak terlihat baik. Mungkin karna mereka sudah lama tidak bertemu.


''Saya sudah selesaikan studi dan berencana akan meneruskan perusahaan abbi sekaligus saya ingin mengabdi disekolah kita dulu,'' ucap Umar terlihat bahagia menceritakan rencananya. Entah apa maksudnya memberitahu Aisyah.


''Begitu ... ,'' ucap Aisyah tersenyum canggung.


Keheningan cukup lama terjadi diantara mereka. Aisyah hanya diam dan tidak tahu apa yang ingin dibahasnya. Aisyah memandang ujung kakinya, perasaan tidak enak ini membuatnya ingin segera pergi. Umar menatap Aisyah dalam-dalam, bibirnya mati rasa. Padahal Umar memiliki banyak hal untuk diceritakan untuk Aisyah.


''Tuan, Nona. Ini pesanan kalian,'' ucap Seorang Pelayan berhasil menghentikan keheningan diantara mereka.


''Makasih, Mbak,'' ucap Aisyah tersenyum ramah dan dibalas anggukan kecil oleh Pelayan itu.


''Syukron untuk tehnya ... ,'' ucap Aisyah meminum sedikit tehnya.


''Afwan. Saya inget kok Aisyah gak suka kopi ... ,'' ucap Umar membuat Aisyah meletakkan gelasnya dan menatap Umar.


''Umar ada urusan apa dengan saya ... ,'' ucap Aisyah serius.


Deg.


Umar terdiam, Dia tidak tau harus mulai dari mana.


''Sa-say-saya ... .'' Mulut Umar terasa terkunci. Keringat dingin mulai membanjiri pelepisnya.


''... .''


Aisyah menatap Umar dengan tidak sabar. Aisyah ingin segera pergi dari sana. Perasaannya tidak enak. Ini membuatnya merasa menjadi buruk.


Sruttt.


Umar tersentak melihat Aisyah mengambil tasnya dan berdiri.


''Tunggu Aisyah!!!'' Umar segera berdiri menghalangi Aisyah untuk pergi.


''Umar ... ,'' ucap Aisyah pelan. Namun tatapan Aisyah sangat tajam.


Umar mundur beberapa langkah, menyadari bahwa Aisyah tidak suka dia terlalu dekat dengannya.


''Afwan, Maafkan aku Aisyah,'' ucap Umar merasa bersalah dan menunduk dengan dalam. Umar mengingit bibir bawahnya, dia merasa dirinya seperti pengecut.

__ADS_1


''Huftt, Umar ... katakanlah apa yang ingin kau bicarakan. Kita sudah besar, jangan jadi anak kecil ... ,'' ucap Aisyah pelan dan tersenyum hangat. Namun entah mengapa perkataan Aisyah membuat Umar merasa pilu, seolah dia akan menyesal seumur hidupnya.


''Aisyah Aku minta maaf. Aku gak nepatin janjiku waktu itu ... ,'' ucap Umar menatap Aisyah sendu.


Deg.


Aisyah mematung. Kenangan yang tidak ingin diingatnya. Wajah Aisyah sudah tidak dapat dijelaskan lagi. Ekspresinya benar-benar buruk.


Aisyah melewati Umar tanpa sepatah katapun.


''Aisyah!!!'' Umar menarik kerudung Aisyah membuat Aisyah tersentak dan memberhentikan langkahnya.


''Ahk, Maaf Aisyah, A-Aku gak sengaja,'' ucap Umar melepaskan tangannya.


''Umar, jangan bahas itu lagi ... masa lalu biarlah berlalu. Jangan hubungi Aku lagi jika tidak penting,'' ucap Aisyah tersenyum. Aisyah tersenyum untuk terakhir kalinya untuk Umar. Dia tidak ingin bertemu Umar lagi kedepannya.


''Assalamualaikum, Umar ... ,'' ucap Aisyah berlalu meninggalkan Umar yang diam mematung.


''wa-waalaikumussalam.''


'Apa yang kau lakukan Umar ... .' Umar terduduk, ini diluar pikirannya. Umar pikir hubungannya dengan Aisyah dapat membaik. Namun kenyataan pahit harus dia terima, Aisyah bukan orang yang mudah seperti orang lainnya.


''Ehh, bukankah tadi ... ,''



Aisyah memandang jalanan kota yang terlihat ramai. Dia perlu menenangkan dirinya. Aisyah merasa benar-benar buruk. Seharusnya dia tidak mengatakan hal kejam kepada umar. Seharusnya Aisyah mengatakannya dengan jelas bahwa dia memaafkannya dan tidak ingin mengingatnya lagi. Namun Aisyah tidak bisa mengontrol emosinya dan mengatakan hal kejam.


Perasaannya memburuk, kesendiriannya ditempat itu membuat kenangan yang tidak ingin diingatnya menghampirinya.


''Astagfirullah, lupakanlah Aisyah!!!'' ucap Aisyah memegang kepalanya.


Aisyah menatap ujung kakinya dan merasa terhenyut. Pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan kejadian saat itu.



''Aisyah.''


''Aisyah!!!''


Aisyah membalikkan tubuhnya dan menatap sosok yang memanggilnya dengan penuh tanda tanya.


''Afwan, Aisyah dipanggil-panggil kagak nengok, sih,'' ucapnya menggaruk tenguknya.


''Ada apa, Umar??'' tanya Aisyah dengan memegang Ijazahnya.


''Aku mau ucapin Selamat,'' ucap Umar memberikan hadiah bunga.


''Syukron,'' ucap Aisyah terlihat senang menerima bunga itu.


''Umar capek-capek kesini cuma buat kasih bunga?'' tanya Aisyah penasaran. Sebab saat ini masa-masa sibuk diperkuliahan.


''Iya, gak ada yang salah sama ini, kok,'' ucap Umar tersenyum lebar menampilkan ginsulnya.


''Aisyah, bisa gak besok ki-''


''Yohhhh, ngapain Kau ngangu Tuan Putriku!!!''ucap Seseorang dengan suara penuh ancaman. Umar mematung dan berbalik dengan kaku menatap orang tersebut.


''Aisyah!!! Selamat telah lulus!!!'' ucap Dua seorang gadis secara bersamaan.


''Raina, ratna, Makasih,'' ucap Aisyah tersenyum cerah.


''Masa Aisyah doang diucapin kita gak, nih?''ucap seorang perempuan dibalik punggung Aisyah. Seorang perempuan lagi memeluk Aisyah dengan erat.

__ADS_1


''Heheh, Selamat Celsie dan Jessica,'' ucap Raina tersenyum melihat mereka. Ratna menghela napas dan melihat sekitar.


''Eh, Mar mana sih rendy??'' tanya Ratna memanggil Umar dengan singkat.


''Lagi pergi ... bisa gak, panggilannya diganti gitu ... ,'' ucap Umar memandang Ratna kesal.


''Gak, Loh bisa panggil Gw Rat, juga ... ,'' ucap Ratna malas dan memutar bola matanya.


''Eiii, Lo belum jawab!!!'' ucap orang tadi yang memanggil Aisyah Tuan Putri.


''Heyyy!! Kita Foto, Yuk!!'' teriak Rendy menghampiri mereka.



Setelah Foto bersama, Umar meminta Aisyah berbicara sebentar.


''Aisyah, Aku ... .'' Umar tampak ragu akan mengucapkannya.


''Katakan saja ... ,'' ucap Aisyah tersenyum membuat Umar yakin harus mengatakannya.


''Besok, bisa kita bertemu ... tempatnya didepan gerbang sekolah ... ,'' ucap Umar tersenyum manis dan menatap Aisyah penuh harap.


''Baiklah ... ,'' ucap Aisyah singkat dan segera pergi.



Aisyah menatap jam ditangannya. Aisyah pergi lebih cepat dari jam yang ditentukan. Jantung Aisyah berpacu dengan cepat. Aisyah penasaran apa yang ingin dilakukan oleh umar.


5 menit berlalu.


Aisyah memandang dengan khawatir. Umar masih belum datang. Perasaannya tidak enak, takut umar membohonginya, takut bahwa umar tidak akan datang.


'Sebentar lagi, sebentar lagi, umar pasti datang!!!' ucap Aisyah meyakinkan dirinya.


Menit berganti jam, namun umar masih belum datang. Aisyah semakin gelisah, tapi Aisyah ingin mempercayainya bahwa umar akan menepati janjinya.


Hari semakin sore, gerbang sekolahnya sudah mau tutup.


''Nak, kamu gak pulang? Hari sudah sore. Jangan tunggu lagi, dia mungkin tidak datang ... ,'' ucap Satpam yang menjaga pintu gerbang.


''Tidak!!! Tunggu sebentar lagi!!!'' ucap Aisyah tegas, tapi hatinya pun tidak yakin umar akan datang. Dari pagi dia menunggu, bersabar dan berharap umar akan datang walau sangat terlambat.


''Baiklah, tapi tunggu diluar ... sudah waktunya gerbang ditutup,'' ucap Satpam itu melihat Aisyah dengan kasihan.


Aisyah keluar dari gerbang dan menunggu umar. Aisyah memandang langit yang sudah kejinggaan. 'sebentar lagi ... ,'' ucap Aisyah menunduk.


Aisyah mengadahkan kepalanya kelangit. Hari sudah malam, hampir tidak ada lagi sinarnya. Umar membohonginya, dia tidak datang. Kaki Aisyah terasa sakit terus berdiri menunggu umar. Namun hatinya lebih sakit dibohongi oleh orang terdekatnya.


Jdarrrr


Hujan membasahi Aisyah, gemuruh petir yang ditakutkannya membuat tubuhnya gemetaran. Air matanya menetes, bibirnya terasa kelu untuk mengeluarkan suara. Hujan yang turun membasahi Aisyah juga membasahi kekecewaannya dan membawanya pergi. Aisyah mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.


''Halo Tuan putri ... ,'' ucapnya terdengar seperti biasanya.



Aisyah tersadar saat sesuatu mengenai kakinya.


"Kak, tendang bolanya kemari!!!" ucap seorang anak laki-laki terdengar riang.


Aisyah menendang bola itu dan tersenyum lebar, seolah tidak terjadi apapun. anak laki-laki itu ikut tersenyum dan melambaikan tangan kepada Aisyah.


''benar, tidak semuanya jahat Aisyah ... ,'' ucap Aisyah tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2