Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
akur


__ADS_3

Setelah Kenan menceritakan semuanya Chandra langsung pergi kekamarnya tanpa mengatakan apapun. Ia mendengarkan dengan baik sampai saat ia pergi tengah malam kerumah hadijah, Chandra terlihat marah. Kenan mengatakan permintaan maaf yang sebesar-besarnya pada Aisyah juga keluarganya. Aisyah mengangguk lalu memeluk suaminy, ia telah memaafkannya sepenuhnya. Hamara mengangguk, lalu ikut pergi kekamarnya. Orang tua Kenan saling memandang lalu menghela napas berat.


''Semangat,'' ucap Abbynya lalu ikut pergi, uminya tersenyum lalu pergi. Tinggal Aisyah dan Kenan yang berada di ruang tamu.


''Maaf, Aisyah.''


Aisyah tersenyum lalu mengucup pipi suaminya.


''Gak apa-apa. Aisyah udah maafkan."


Kenan memeluk istrinya dengan erat.


"Aisyah makin cantik aja meski berat badannya naik," ucap Kenan mengusap perut Aisyah yang sudah semakin besar.


Aisyah mengembungkan pipinya lalu mencubit perut Kenan.


Kenan terkekeh pelan lalu memegang tangan Aisyah yang mencubit perutnya. Kenan mencium tangan Aisyah lalu memeluknya semakin erat.


"Kak! Sesak!"


Kenan melonggarkan pelukannya lalu mencubit hidup Aisyah gemas.


Drt, drt.


Kenan mengambil handphonenya lalu menolak panggilan tersebut tanpa melihatnya.


Drt, drt.


Handphone Kenan terus bergetar. Aisyah menjauhkan tubuh Kenan lalu mengambil handphonenya.


"Kak dari manejermu."


Kenan menghela napas lalu mengangkatnya.


"Ada apa?"


"Presdir ... Perusahaan sedang kacau karna anda tidak hadir. Sekertaris Anda juga tiba-tiba pergi, rapat tinggal 30 menit tapi tidak ada yang bisa melakukannya.''


Kenan menghela napas lalu mematikannya. Ia mencoba menelpon Azka tapi tidak diangkat.


...


Drt, drt.


''Azka handphone kamu bunyi.''


Azka melihat siapa yang menelponnya lalu mematikan-nya.


''Siapa?'' tanya Zahra.


''Bukan siapa-siapa. Masih ada lagi?''


Zahra menggeleng. Ia meminta tolong pada Azka untuk membantunya membeli barang untuk saudaranya yang akan menikah. Kenan pasti sibuk jadi ia minta tolong pada Azka, mengingat Kenan sudah menikah ia juga tidak enak minta tolong.


Kenan langsung pergi setelah beberapa kali telponnya tidak diangkat.


Aisyah menghela napas panjang lalu naik kekamarnya.


...


Drt, drtt, drtt.


Aisyah yang tengah tidur siang mengambil handphonenya lalu mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon.


''Anak anda sekarang berada dirumah sakit dan akan segera dioperasi.''


Aisyah membuka matanya lebar-lebar lalu melihat kontak yang menelponnya.


''Raina!''


''Pfft, kamu tidur yah?''


Aisyah menghela napas. ''iya.''


''Coba kau tebak dimana sekarang aku berada.''


''Dikolong jembatan,'' jawab Aisyah asal.


''Salah. Kita didepan rumahmu.''


''Depan ... rumah? Kita?'' Aisyah berpikir sejenak lalu segera bergegas turun membuka pintu.


Cklek.


''ASSALAMUALAIKUM!''


Suara berisik mereka membuat Aisyah tersenyum senang.


''Ayo masuk!''


Aisyah menghidangkan segelas teh juga cemilan pada para sahabatnya. Mereka bercerita layaknya perempuan pada umumnya. Aisyah juga menceritakan perihal masalahnya.


''Gw agak kasian sih tapi juga masih kesal,'' ucap Celsie.


Jessica tertawa ringan mendengarnya.


''Teman-teman, maaf.''


Mereka melirik Jessica.


''Kenapa kau minta maaf? Apa karena Rendy?'' tanya Ratna.

__ADS_1


Jessica mengangguk lalu ia mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.


''Aku akan keluar dari agensiku. Aku akan berdiri sendiri bersama Rendy.''


Degh.


''Kau bercanda?'' tanya Raina.


Jessica menggeleng pelan, ''Aku ingin memberitahu kalian dari pada kalian mengetahuinya dari orang lain.''


Aisyah mengangguk lalu menepuk bahu Jessica.


''Makasih. Meski Aisyah ingin marah, tapi Rendy juga termasuk sahabat kita.''


''Umar, bagaimana dengan umar?'' tanya Celsie tiba-tiba.


''Aku sudah tidak bisa seperti dulu lagi dengan umar. Kalian lihat sendiri diberitanya, ia melamarku beberapa kali saat aku masih berstatus istri.''


Ratna menghela napas panjang.


''Jangan menyalahkannya. Sekarang ia sudah diluar negeri dan tak akan kembali lagi mengingat perbuatannya cukup memalukan keluarganya.''


Aisyah mengangguk pelan.


Tin, ton.


Aisyah bergegas keluar membuka pintu.


''Aisyah! Kakak bawa makanan.''


Aisyah melihat kakaknya membawa begitu banyak makanan.


''Kakak ayok masuk. Ada sahabat Aisyah.''


Muslim masuk lalu melihatnya.


''Yo Ratna. Kamu memang beda yah.''


Ratna menatap Muslim lalu melihat sekelilingnya.


''Kenapa kalau aku pakai jas? kamu juga pakai jas.''


Aisyah terkekeh lalu menyuruh kakaknya duduk.


''Dimana aku duduk?'' Melihat seluruh tempat penuh, Aisyah menyuruh kakaknya duduk dilantai.


''Ekhm.'' Muslim berusaha menetralkan ekspresinya ditertawai oleh sahabat Aisyah.


''Kita barbeque mau?'' saran Celsie.


''Ayo!!!''


...


''Kepo, yah?'' tanya Hamara.


Umi Fatimah terkekeh pelan lalu mengangguk.


Mereka pergi ketaman dan menemukan segerombolan perempuan sibuk memberi bumbu pada daging yang ditusuknya sedang seorang laki-laki sibuk mengipasi dengan asap yang terus menyerbunya.


''Hugh.''


''Pfft, hahahah.'' Fatimah dan Hamara tertawa lepas mereka menghampiri Muslim lalu tersenyum mengejek.


''Ekhm.''


Muslim menenguk dan terkejut melihat kehadiran mereka. Ia tertawa canggung.


''Mau Mama bantu?''


Muslim mengangguk pelan lalu memberikan satu kipas lagi. Hamara pergi kedalam rumah untuk menyiapkan cemilan.


...


''Assalamualaikum.''


Chandra dan Adnan saling memandang lalu masuk kedalam rumah. Mereka pergi keasak suara yang berisik.


Keduanya saling memandang melihat pemandangan yang ada didepan mereka. Terlebih Chandra, ia melihat putranya tertawa dengan Mamanya.


Mereka melepas jasnya dan ikut disana.


''Halo om,'' sapa Raina dengan menampilkan giginya.


''Halo juga, Ratna,'' balas Papah Aisyah.


Papah Aisyah tau beberapa teman yang dekat dengan putrinya terlebih Ratna karna beberapa hari lalu ia meluncurkan tren terbaru tentang pakaian modis.


''Raina, om. Itu Ratna,'' tunjuk Raina pada gazebo rumah yang memperlihatkan Ratna sedang berbincang dengan Aisyah.


''Oh ....''


Chandra pergi kesana ikut duduk dengan putrinya.


''Salam om,'' sapa Ratna.


Chandra mengangguk lalu melihat Ratna dari bawah hingga keatas.


''Kenapa om?''


''Kamu beda dengan kembaranmu.''

__ADS_1


''Bedalah Om. Raina bisa dilihat jelas dari cara bicaranya dibanding saya.''


Chandra mengangguk. Aisyah menyodorkan daging yang telah dipanggang pada Papahnya.


Papah Aisyah mengambil satu lalu memakannya.


''Enak.''


''Kan situ yang bakar,'' ucap Aisyah menunjuk Muslim dan hamara yang sangat dekat sambil mengipasi dagingnya.


Dhuk.


Kenan duduk disebelah Aisyah. Tak ada tak ada hujan ia tiba-tiba memeluknya didepan mertuanya.


''L-lepas!!!''


''Nanti, isi batrai dulu. Soalnya nanti aku harus pulang lagi.''


Paham maksud Kenan Papah Aisyah berdeham lalu memunggungi mereka.


''Kalau gitu saya izinkan kamu tinggal lagi.''


Kenan tersenyum lalu semakin memeluk Aisyah.


Saat Papah Aisyah melirik menantunya, ia menjadi kesal karna Kenan belum melepaskan pelukannya.


''Kamu!! Sini ikut Papah!'' ucap Chandra menyeretnya untuk memotong daging.


Kenan berjalan dengan cepat, ia mengedipkan sebelah matanya pada Aisyah.


Aisyah memalingkan mukanya dan bertemu dengan mata Ratna yang memandangnya dengan tidak percaya.


''Astagfirullah!'' pekik Aisyah terkejut sebab wajah Ratna sangat dekat.


Ratna menjauhkan wajahnya lalu mengatakan, ''Kamu gak kenal situasi aja. Berasa jadi bayangan aku dihadapan kalian tadi.''


Aisyah terkekeh pelan. Ia melihat mertuanya yang datang membawa minuman dibantu oleh Abby yang terlihat kesusahan membawa banyak cemilan.


Dhuk.


Kaki Abby tersandung batu dan ia terjungkal kebawah.


''OM!!'' pekik Sahabat Aisyah karna Abby jatuh tepat didepan mereka nongkrong.


''Pfftt, Hahah. Hati-hati om,'' tawa Raina meledak.


Plak.


Jessica menjitak kepalanya lalu membantu Abby memungut cemilan yang terjatuh.


''Maaf Om temen saya memang laknat.''


''Gak apa ketawain aja,'' ucap Umi yang terkekeh.


Abby menatap Umi tajam lalu tersenyum pada Jessica.


''Makasih, Nak.''


''Sama-sama om. Saya Jessica sahabat Aisyah, ini Raina, itu Celsie yang lagi makan permen.''


Abby mengangguk lalu memberikan sebungkus kripik manis pada mereka.


Jessica tersenyum lalu memberikannya pada Raina.


Abby meletaklan cemilannya diatas meja lalu menghampiri Chandra yang sedang mengawasi menantunya memotong daging.


''Udah, Pah. Udah banyak!'' ucap Hamara mengingatkan suaminya.


''Gak! Belum, potong lagi!''


Kenan hanya dapat tersenyum paksa lalu memotong daging yang ada didepannya dengan rapi agar tidaj dikomentari oleh mertuanya.


Dhuk.


''Abby bantu.''


''Makasih, Abby.''


''Cih.''


Chandra memperhatikan Adnan memotong daging semenit kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


''Adnan mau motong daging apa cincang daging?''


''Abby gak pernah potong daging?''


''Memang kamu pernah?'' tanya Abbnya balik.


''Enggak.''


''Sini kutunjukin!''


Chandra ikut memotong daging menunjukkan pada sahabatnya itu yang mana cara benar memotong daging.


''Owh.''


Hamara yang melihat suaminya jadi ikut memotkbg daging tertawa kecil.


''Lihat Papah. Tadi ia yang suruh menantunya potong daging sekarang ia yang ikut potong daging.''


Muslim ikut terkekeh bersama Mamanya lalu melanjutkan mengipasi daging yang ada didepannya sampai benar-benar matang.

__ADS_1


__ADS_2