
Aisyah berjalan terhuyung-huyung keatas kasur. Meski rasanya memang luar biasa, tapi besoknya ia sudah tidak dapat kemana-mana selain dikamar dengan segelas air hangat juga obat sakit perut. Setelah pulang dari sana, Aisyah langsung naik kekamarnya buru-buru mencari obatnya. Setelah itu ia tertidur nyenyak dengan tenang. Saat malam ia tidak dapat berbicara banyak dengan Kenan karna kantuk yang melandanya sebab efek samping dari obat yang ia minum.
Paginya perutnya sakit hingga keubun-ubunnya. Efek obat yang ia makan juga tidak mempan, alhasil ia jadi muntah-muntah.
Kenan sudah berangkat kerja, ia tidak tau ponselnya dimana. Bila tau ia akan semenderita itu untuk hal menyenangkan yang sesaat ia tidak mau dan tidak akan pernah mau memakannya. Dan sepertinya ia harus memberitahu Hafsah ia tidak bisa makan-makanan pedas.
Aisyah memeluk lututnya erat berusaha menahan sakit yang membuat bibirnya terasa keluh untuk berbicara saja. Untunglah ia jatuh sakit pada saat hari ia tidak punya kelas dikampus.
Drttt, drttt.
Aisyah berusaha mencari getaran bunyi tersebut. Setelah berusaha sekuat tenaga, ia menemukan handphonenya dibawah kasur, mungkin terjatuh saat ia buru-buru mencari obatnya.
Aisyah langsung mengangkatnya tanpa pikir panjang.
''Aisyah ... Laptopku ketinggalan dikamar, bisa bawakan kesini?''
Tes.
Ah, bagaimana caranya ia meminta tolong sedangkan ia sulit berbicara karna sakitnya. Badannya juga mulai terasa panas, kakinya terasa dingin kepalanya berdenyut hingga rasanya ia akan segera pingsan.
''Aisyah?''
Kenan melihat handphonenya yang masih tersambung, jaringannya juga tidak buruk tapi kenapa ia tidak mendengarkan suara apapun. Atau ini bukan Aisyah.
''Hugh ... .''
Kenan jelas mendengar suara rintihan secara Samar-samar.
''Aisyah kenapa?'' tanya Kena khawatir.
Tak ada sautan yang didengar oleh Kenan. Samar-samar ia mendengar suara deru napas.
'Apa Aisyah marah?' pikir Kenan.
"Aisyah masih marah?"
Tak Ada respon Kenan menghela napas.
"Ka-kak ... ,'' rintih Aisyah membuat dahi Kenan berkedut.
"Kamu kenapa Syah?''
Aisyah menengok kearah meja yang terlihat gelas yang sudah kosong. Bibirnya terasa berat untuk digerakkan, tenggorokannya tak bisa mengeluarkan suara lagi.
"Kamu ketuk tiga kalau mau saya kesana,'' putus Kenan membuat Aisyah meneteskan air mata.
Ia membenturkan handphonenya secara perlahan di sandaran kasur seperti perkataan Kenan.
Kenan melihat jam ditangannya, dia akan rapat sebentar lagi kemudian ada pertemuan dengan perusahaan yang akan diajaknya kerja sama.
Kenan tersenyum kecut, dia tidak mungkin tidak memilih istrinya.
Tut.
Aisyah menatap handphonenya yang telah mati.
Tes.
__ADS_1
Keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya, napasnya mulai tidak beraturan.
'Ah, aku akan segera pingsan.'
...
Cklek.
Kenan membuka pintu kamar secara perlahan, saat sampai rumah terasa begitu sepi seolah tiada hawa keberadaan seseorang yang tinggal disana.
Kenan melihat Aisyah memeluk lututnya dengan damai seolah tidak terjadi apapun, padahal ia jelas mendengar Aisyah kesakitan.
"Aisyah?"
Kenan menghampiri Aisyah dan mengusap kepalanya pelan. Namun yang ia dapat tubuh panas dengan suhu yang membara.
Kenan mengipasi tangannya yang seperti baru saja terbakar api. Kenan memegang kaki Aisyah tapi yang ia rasakan malah hawa dingin yang membeku.
"Aisyah?! Aisyah!!!"
Tak ada sautan sama sekali bahkan ketika Kenan telah menepuk-nepuk pipinya.
Syut.
Kenan mengangkat tubuh Aisyah dan segera membawanya kedalam mobilnya.
Saat sampai dirumah sakit, Kenan menunggu didepan pintu ruang UGD.
drtt, drtt.
Kenan menghela napas dan akhirnya mengangkat handphonenya.
"Presdir, rapatnya sudah selesai semua berjalan lancar tapi pihak lain yang akan kita temui hari ini mengajukan komplain dan menuntut penjelasan dari anda yang membatalkan pertemuan.''
Jelas mereka komplain, Kenan tau yang menelpon adalah sekertarisnya ia tau apa akibat dari perbuatannya makanya ia tidak mau menambah masalahnya disaat ia sedang mengkhawatirkan istrinya.
"Mereka menuntut anda untuk memberi mereka penjelasan le-''
Tut.
Kenan mematikan panggilannya, yang lebih penting sekarang adalah istrinya. Ia dapat menangani masalah itu nanti, kalaupun sulit ditangani ia terpaksa melakukannya dengan jalur damai.
Ting.
Pintu ruang UGD terbuka memperlihat seorang dokter keluar dengan sebuah laporan ditangannya.
Kenan mengikuti langkah sang dokter hingga keruangannya.
...
Mata yang terpejam akhirnya perlahan terbuka.
Kenan mengenggam tangan sang istri dengan erat sambil menghela napas panjang, ia sudah menunggu tiga jam lebih tapi Aisyah tak menunjukkan tanda akan sadar.
Set.
Tangan Aisyah bergerak memegang kepalanya yang berdenyut.
__ADS_1
Kenan langsung menghampirinya dengan khawatir, dengan sigap ia memberikan sebutir obat juga segelas air pada sang istri.
Setelah merasa baikkan, Aisyah bangun dan bersandar di dinding rumah sakit.
Ekspresi Kenan seketika berubah menjadi menyeramkan membuat Aisyah menelan salivanya.
"Ka-''
"Masih mau?!" bentak Kenan membuat Aisyah menunduk.
Aisyah menggeleng pelan, ia menatap kebawah melihat tubuhnya yang terasa lemas tak bertenaga.
"Ho'oh bagus! Kalau masih mau jangan harap saya kasih kamu kebebasan lagi!!!" ucap Kenan duduk dengan melipat kedua lengannya dan memalingkan wajahnya.
Saat mendengar laporan dari sang dokter rasanya ia ingin segera memukul sang istri yang terlalu seenaknya itu.
"Jan-gan pu-kul,'' ucap Aisyah pelan seolah dapat menebak isi pikiran Kenan.
"Siapa yang mau mukul kamu sayang?'' ucap Kenan tersenyum manis kepada Aisyah. Tapi Aisyah tau senyumnya beracun.
''Ma-rah?" tanya Aisyah membuat Kenan menghela napas.
"Nih, makan.''
Kenan menyodorkan semangkok bubur polos pada Aisyah.
Aisyah menerima buburnya dan sekuat tenaga menahan bubur itu agar tidak tumpah. Tangannya gemetaran memegang sendok, ia terlalu lemas bahkan untuk sekedar memegang sendok kecil.
''Hufttt, Sini kusuapin. Lain kali jangan macam-macam lagi, sudah tau tubuh sendiri lemah masih saja paksain!'' omel Kenan yang hanya dapat diangguki oleh Aisyah.
Aisyah makan dengan perlahan, benar-benar hambar bubur yang ia makan. Tapi itu lebih baik dari pada makanan asin yang akan ia makan saat kondisinya sedang tidak kuat makan-makanan berat.
Setelah selesai, Aisyah berbaring kemudian kembali tertidur.
Kenan segera mengurus biaya administrasinya kemudian membawa Aisyah pulang. Sepanjang perjalanan ia menghela napas. Sekarang masalahnya tinggal rekan kerja samanya yang menuntutnya.
Puk.
Kenan membaringkan Aisyah dengan perlahan, ia menatap wajah itu cukup lama hingga sudut bibirnya terangkat.
"Cepat sembuh ... Istriku.''
Cup, cup, cup.
Kenan mencium kening dan kedua pipi Aisyah.
Ckelk.
Saat pintu tertutup mata Aisyah terbuka. Pipinya memerah, apa ia seharusnya tidak pura-pura tidur. Sebenarnya ia sudah bangun saat Kenan memasuki rumah dengan menggendongnya tapi ia malas untuk bangun, rasanya nyaman saja.
Bila tau akan begini mungkin ia lebih baik membuka mata dan berjalan dengan kakinya sendiri. Rasanya ia ingin bersembunyi ketempat yang tidak terlihat.
Aisyah bangun dan menyembunyikan wajahnya dibalik lengannya.
'Istri?'
Wajah Aisyah berseri-seri dengan guratan kemerahan, bibirnya terangkat. Mungkin pernikahannya bukanlah hal yang buruk.
__ADS_1