
Muslim terdiam seribu bahasa. Diamnya memiliki banyak arti, asisten yang bersamanya kini merasa hawa diruangan itu berubah menjadi buruk. Mereka sedang berada diruangan CCTV mall tersebut. Pemandangan yang tidak bisa dilupakan oleh seorang kakak, melihat adiknya pingsan dengan derai air mata. Perasaannya campur aduk, entah harus sedih atau marah.
''T-tuan tidak pergi?''tanya asistennya.
Muslim menengok dan tersenyum lembut sebelum berlalu pergi. Asistennya tau itu senyuman dengan arti kepahitan didalamnya. Muslim berdiri diluar mall memandang langit. Rasa keingin tahuannya akan apa yang terjadi begitu besar, namun ketakutannya akan masa lalu dan kebenciannya tidak bisa diabaikannya. Muslim menunduk, kenangan bersama adiknya mulai terbayang dikepalanya. Seutas senyum merekah diwajahnya dikala mengingat tingkah lucu aisyah.
…
Kenan terbangun, namun ruangan itu terasa sunyi. Kenan melihat jam tangannya dan segera turun dari ranjang, dia ingin melaksanakan sholat.
Crass.
Tes.
"Ughh." Aisyah memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
''Hnm ... .'' Kenan keluar dari toilet dengan rambut basah, dia melihat Aisyah yang terbangun.
''Kau sudah sadar?''
Aisyah menenggokkan kepalanya menatap Kenan.
''Kau mau sholat?''tanya Aisyah menatap tetesan air yang jatuh dari rambutnya.
''Iya ... mau sholat bareng?''tanya Kenan pelan. Entah dari mana dia memikirkan hal itu. Aisyah mana mungkin setujuh, itulah yang dipikirkan Kenan.
''Boleh.'' Aisyah dengan mudah menyetujuinya, dia merasa sudah tidak memiliki masalah lagi dengan Kenan. Padahal beberapa hari yang lalu, bahkan jika Kenan meminta dengan bersujud dia juga tak mau.
''Baiklah, aku akan menunggu,'' ucap Kenan tersenyum lembut.
Entah keajaiban apa, mereka terlihat akur. Mereka melakukan shalat berjamaah dengan anteng, seperti pasangan suami istri yang saling mencintai. Namun kenyataan jauh berbeda, mereka suka bertengkar, lebih tepatnya aisyah tidak suka kenan.
Setelah melaksanakan shalat bersama, Kenan berbalik dengan seutas senyum diwajahnya. Aisyah menjadi risih melihatnya.
''Kenapa senyam-senyum!!!'' ketus Aisyah
''Gak apa-apa,'' ucap Kenan cepat kemudian membereskan sajadahnya.
Entah mengapa Aisyah merasa seperti diperhatikan.
''Mungkin perasaanku saja kali,'' ucapnya santai dan mebereskan sajadahnya juga mukenanya.
…
Cafe sebrang rumah sakit
''Apa kita lanjut saja?''tanya Papa Kenan.
Mereka awalnya ingin masuk ruangan Aisyah dan Kenan, akan tetapi pemandangan didepan matanya, membuatnya tidak ingin menganggu. Jarang-jarang anak mereka terlihat akur.
Abbi Aisyah terdiam seribu bahasa, ini sulit untuknya. Mereka ingin membatalkan perjodohan tersebut, tapi juga tidak rela, apalagi ini permintaan ayah mereka masing-masing.
''Apa kenan mau menerima anakku?''tanya Ayah serius.
Abbi kenan tersenyum, dia menepuk bahu sahabatnya itu.
''Kita sama-sama laki-laki, kau sudah tahu jawabannya. Agar kau tenang akan aku tanyakan.''
Mereka saling tersenyum, ini mengingatkan mereka saat dulu mereka salah paham. Mereka mengira orang yang mereka suka adalah orang yang sama, akan tetapi mereka salah. Orang yang mereka cintai bukanlah orang yang sama. Dunia memang rumit, namun penuh keindahan.
…
Disaat semua orang merasa situasi sudah membaik, ada seseorang menatap sepasang mata yang tertutup itu dengan sayu. Orang yang tertidur itu mulai menunjukkan kesadarannya merasakan hawa orang yang disayanginya.
__ADS_1
Mata indahnya terbuka dengan pelan, menatap sosok yang menatapnya dengan cermin mata yang akan jatuh kewajahnya.
''P-putraku ... ,'' dia berucap pelan sambil tersenyum mengapai wajahnya.
''I-ibu ... ,'' dia berucap pelan dan memegang tangan wanita itu dengan lembut. Dia adalah Muslim yang datang mengunjungi ibunya.
Dia melewati perjalanan seperti biasanya, yaitu 6 jam paling cepat. Namun tak bisa dipungkiri saat mendengar tangis aisyah, dia menerobos jalanan hingga mengakibatkan dia dikejar polisi. Jika saja dia tidak punya asisten yang kompeten, mungkin dia sudah mendekap dipenjara.
''Be-begitu yah ... ,'' ucap Uminya menarik tangannya memalingkan muka. Air matanya menetes, putranya kini mengunjunginya, setelah sekian lama.
Muslim diam seribu bahasa, dia tidak bisa menjawab apapun.
Ckelk.
Mendengar suara pintu dibuka, Muslim refleks bersembunyi ditoilet.
''Hamara!!!'' Abbi Aisyah terkejut dan segera menghampiri istrinya.
''Kau tidak apa?!!'' tanyanya dengan khawatir sekaligus haru.
''Aku tidak apa-apa ... ,'' ucap Hamara pelan.
''Syukurlah,'' ucap Abbi aisyah mengenggam tangan istrinya dengan erat.
''Tunggu sebentar aku panggilkan dokter,'' ucap Abbi Aisyah buru-buru pergi dengan perasaan senang.
Cklak.
Pintu toilet terbuka menampakkan Muslim dengan wajah datar. Muslim terus berjalan keluar tanpa menoleh kearah ibunya.
''Nak, maafkan kami,'' ucap Ibunya dengan wajah sedih.
Deg.
Drap.
Drap.
Mendengar langkah yang cepat, membuat Muslim segera sadar dan melakahkan kakinya pergi tanpa menjawab ucapan ibunya.
Muslim melirik kebelakang, menatap sang ayah yang masuk ruangan ibunya, dia bersyukur ayahnya tidak menyadari kehadirannya.
''Sayang aku sudah bawa dokter ... ,'' ucap Abbi Aisyah dengan sedikit khawatir.
''Aku baik-baik saja ... ,'' ucap Hamara.
Ruangan yang sunyi dan terlihat dingin itu, perlahan menghangat dengan pasangan yang saling mencintai, walau pasang surut kehidupan menghantam hubungan keluarga mereka.
…
Ruangan Aisyah.
Syuttt.
Angin yang bertiup kencang menerjang wajah Aisyah. Aisyah secara refleks menutup matanya.
''Eh?!!''
Aisyah menyadari bahwa mobil kakaknya terparkir didepan rumah sakit. Tanpa pikir panjang Aisyah segera berlari kebawah sebelumb kakaknya pergi.
''Kak!!'' Teriak Aisyah dengan kuat.
Muslim yang hampir membuka pintu mobil membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
''Aisyah!!!'' ucap Muslim spontan. padahal dia memang datang melihat aisyah.
''K-kak ... .'' Entah apa yang terjadi Aisyah malah tidak tahu harus berucap apa.
Puk.
Muslim mengusap kepala Aisyah lembut dan menampilkan senyum terbaiknya.
''Tidak apa-apa ... temuilah aku lain kali,'' ucapnya dengan lembut.
''Makasih kak,'' ucap Aisyah tersenyum hangat. Senyumnya membuat Muslim menjadi tenang.
…
Cafe sebrang rumah sakit.
''Abbi ... kenapa kita kesini?'' tanya Kenan.
Abbi Kenan tersenyum,dia menatap putranya lekat-lekat. Tanpa dia sadari, putranya telah tumbuh begitu cepat.
''Apa kau terima perjodohan ini?''
''Tidak!!!''
Deg.
Abbi Kenan terlihat murung, namun ini keputusan putranya.
''Ba-''
''Tapi itu dulu ... .'' Kenan tersenyun memandang ayahnya.
Abbi Kenan merasa lega, entahlah. Dia merasa anaknya mengerjainya.
''Kupikir ini hal buruk, tapi sepertinya ini juga ada bagusnya,'' ucap Kenan memandang keluar.
''Syukurlah kalau begitu.''
''Yaudah yah Bi, Kenan balik dulu,'' ucap Kenan beranjak pergi.
…
Samar-samar dia melihat Aisyah melambaikan tangan dengan seseorang. Dia tidak tahu siapa itu, tapi itu bukan urusannya. Dia tidak berhak membatasi aisyah.
''Kenan!!!'' sapa Aisyah saat melihatnya hanya diam saja tak bergeming, entah apa yang dipikirkannya
''Kenapa kau berkeliaran?''tanya Aisyah.
''Kenapa tidak boleh? lalu kau boleh?'' ucap Kenan membuat Aisyah mematung.
''Hahah ... tadi aku ketemu seseorang,'' ucap Aisyah tertawa canggung. Sepertinya dia menanyakan hal yang salah.
'Dengan siapa dia bertemu? sampai berlari tanpa alas kaki ... ,' pikir Kenan. Entah apa yang terjadi dia merasa kesal.
''O,'' jawab singkat Kenan dan berlalu meninggalkan aisyah yang kebingungan.
…
'Aku nih kenapa sih!!! masa aku memikirkan hal tidak penting!!!' ucap Kenan dalam hati mengacak-acak rambutnya.
Ckelk
Kenan keluar kamar mandi dan melihat Aisyah yang memakan buah dengan lahap. Mata mereka bertemu, namun Aisyah segera memalingkan wajahnya sambil mendengkus kesal.
__ADS_1
'Sepertinya dia marah ... ,' pikir Kenan merasa tidak enak, apalagi mereka satu ruangan. Entah apa yang dipikirkan ayah mereka, menyatu ruangankan mereka ini.