Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Ketahuan


__ADS_3

Aisyah menatap pantulan dirinya, perutnya semakin besar, beberapa orang yang peka akan langsung tau ia sedang hamil. Aisyah menghela napas berat, beberapa bajunya mulai terasa sempit.


''Aisyah mau kemana?'' tanya Mamanya melihatnya turun dari lantai atas.


''Beli baju.''


''Yaudah hati-hati.''


''Perlu Papah antar?'' tanya Papahnya.


''Gak usah.''


Aisyah mencium kedua tangan orang tuanya lalu pergi.


Cklek.


Aisyah menatap laki-laki yang sepertinya baru saja sampai didepan rumahnya.


''Aisyah mau kemana?''


''Mau beli baju.''


''Biar Kenan antar.''


''Eh, gak usah.''


''Gak apa-apa.''


Kenan menarik tangan Aisyah kemobilnya.


''Kemana?''


''Ke mall saja.''


Brummm.


Mobil melaju dengan cepat perjalanan yang panjang dengan mobil yang sedikit bergoyang membuat Aisyah menjadi mengantuk.


''Aisyah kita udah sampai.''


Kenan menengok tapi sang empu yang ditanya sudah tertidur lelap.


...


Sugh.


Aisyah meregangkan tubuhnya lalu berbalik untuk melanjutkan tidurnya.


Puk, puk.


Aisyah merasa hawa hawa hangat memeluknya, ia merasa sempit juga tidak seluas dikamarnya.


Aisyah membuka matanya ia melihat Kenan begitu dekat dengannya.


''Sempit, Kak. Geser.''


''Gak bisa nanti jatuh.''


''Tapi Aisyah sempit.''


''Soalnya kita dimobil.''


''Hah?!''


Aisyah langsung bangun lalu melihat sekeliling. Ia memang dimobil, ia tidur dikursi yang telah Kenan undurkan kepalanya hingga ia bisa tidur.


''Kakak kenapa ikut tidur?''


''Kamu-nya kedinginan. AC mati kepanasan yaudah gak punya solusi lain.''


Blush.


Aisyah mengipasi wajahnya turun dari mobil. Kenan memperbaiki pakaiannya yang berantakan karna tidur Aisyah berantakan.


Kenan segera menyusul Aisyah setelah turun dari mobil.


''Mau beli baju apa?''


''Baju yang besar soalnya Aisyah h- Gendutan!'' ucap Aisyah hampir keceplosan.


Kenan melirik Aisyah, ia memeluknya dari belakang.


''Iya Aisyah gendutan, perut Aisyah juga keliatan gede.''


Degh.


''Jangan meledek!!''


''Gimana gak gendut orang makan aja kaya kebo,'' ejek Kenan mencubit pipinya.


''Ekhm.''


Aisyah berdehem untuk menetralkan wajahnya yang memenas.


''Udah ih lepas nanti ada yang liat.''

__ADS_1


Kenan melepas pelukannya. Mereka masih diparkiran dan baru akan masuk ke mall.


Aisyah memilih toko pakaian yang menjual gamis, tapi ia tidak menemukan yang besar. Padahal disebrang ada penjual pakaian perempuan hamil tapi Aisyah gak bisa kesana karna ada Kenan.


''Ini aja Aisyah, besar juga.''


Aisyah melihat gamis yang dibawa Kenan, memang lebar tapi bila nanti empat sampai lima bulan kedepan akan terlihat jelas perut buncitnya dan ia harus membeli baju yang tidak akan menampakkannya.


Staff toko yang melihat arah pandang Aisyah yang terlihat gusar juga tak bersemangat akhirnya paham.


''Anda bisa melihat pakaian lain disini,'' ucapnya mengajak mereka kesebelah bagaian toko yang berbeda.


Aisyah tersenyum senang saat melihat Pakaian yang disana cocok dengan harapannya.


''Aisyah gak kebesaran, ini juga lebar banget.''


''Gak!! Aisyah mau beli!!''


Kenan mengangguk lalu mengambil apa yang dipilih Aisyah. Kenan membayarnya lalu membawa barang bawaan Aisyah.


Saat keluar dari toko Aisyah melihat kesebelah tempat ia tadi memilih.


Maternity clothes shop.


Degh.


Aisyah buru-buru membawA Kenan pergi jangan sampai ia tau. Kalau pun Kenan melihatnya ia akan pura-pura tak tahu.


Sudut mata Aisyah menangkap sebuah sesuatu yang menarik perhatiannya, sangat kecil, imut, benar benar terlalu mini.


Drab.


Aisyah langsung menarik tangan Kenan untuk masuk kesana.


''Bagus gak buat anak kita nanti.''


Degh.


Kenan menatap gaun kecil yang dipegang Aisyah. Aisyah seketika tersadar apa yang dilakukannya. Ia segera menaruhnya dengan wajah memerah lalu menarik Kenan untuk pergi.


Kenan menatap Aisyah dengan curiga memeng belakangan hari ini ... Tidak sepertinya sudah lama Aisyah menjadi aneh. Nafsu makan yang naik drastis, ia sering bergumam sendiri, sering mengusap perutnya juga saat malam-malam permintaamnya aneh-aneh.


'Apa jangan-jangan.'


''Aisyah hamil?''


Degh.


''Apa maksudmu?'' tanya Aisyah pura-pura gak tau.


''Kamu beneran hamil?!'' tanya Kenan lagi mendekati Aisyah.


Aisyah melangkah dengan cepat.


Syut.


''Wangi banget! Kak mau itu!'' tunjuk Aisyah dengan manja kearah restoran makanan yang sedang meggoreng udang dengan wangi semerbak yang menggoda.


''Gak! Aisyahkan alergi!''


''Ayolah nanti Aisyah minum obat! Please demi Aisyah. Masa istri ngidam gak dituruti- Ups!'' Aisyah menutup mulutnya yang ember banget.


''Tadi bilang apa?'' tanya Kenan lagi memastikan.


''Gak! Aisyah gak jadi beli.''


Aisyah melangkah cepat menghindari Kenan. Kenan berusaha mengejar Aisyah.


Dhuk.


Aisyah menabrak seseorang saking terburu-burunya.


''Jalan tuh liat-liat!!''


''Maaf.''


''Maaf, maaf. Memang situ bisa ganti rugi pakaian saya.''


''Tapi baju kamu gak kenapa-napa, tuh.''


''Ini tuh barang brandit!! Perempuan kampungan kenapa masuk mall.'' perempuan itu mengibaskan rambutnya menampar wajah Aisyah, ia memperlihatkan cincin juga kalung yang bertengker dilehernya.


Aisyah menggempalkan tangannya. Memang gamisnya tidaklah keliatan mewah, ia hanya berpakaian ala kadarnya, lagi pula ia kemall bukan buat pamer tapi buat beli baju.


''Kamu gak akan mampu ba-''


''Ini.''


Mata perempuan itu terbelalak melihat segepok uang diserahkan oleh Kenan.


''Kak,'' panggil Aisyah tidak suka dengan apa yang dilakukan Kenan.


''Gak apa Aisyah memang semua orang begitu.''


''Aduh kalian gak usah repot,'' ucapnya lain dimulut lain dihati. Mulutnya mengatakan tidak tapi tangannya mengambil uang yang Kenan berikan.

__ADS_1


''Kakak ganteng boleh dong jadi pacar saya. Adik kamu juga gak bakal kuno kalau bergaul dengan saya.''


''Gak perlu. Pakaian kamu saja mengundang dosa dan maksiat, saya gak mau selingkuh dari istri saya. Meski pakaian istri saya kuno itu lebih baik dari pada menampakkan aurat.''


''Kak!'' Aisyah melotot. Meski perempuan itu kurang baik bukan berarti Kenan harus mempermalukannya.


''Untuk orang yang kurang ajar kita gak perlu sopan sama orang yang juga tak menjaga sopan santunnya.''


Kenan menarik Aisyah segera pergi setelah melihat wajah murka perempuan tersebut. Suami mana yang tak marah istrinya dihina.


...


''Aisyah besok-besok pakai gelang sama cincin yang saya kasih.''


Aisyah menahan tangan Kenan lalu terkekeh. ''Gak perlu kak. Kita juga gak perlu buktiin kita juga berada. Cukup kita yang tau, karna bisa saja akan ada orang yang sedih melihatnya karna tidak bisa memilikinya. Jadi, lebih baik kita tidak menambah dosa orang lain.''


Kenan mendekati Aisyah lalu mengusap kepalanya pelan.


''Istriku pasti bisa jadi ibu yang baik.''


''Iya.''


''Kita beli susu formula buat si bumil.''


''Gak usah, masih banyak.''


''Oh jadi bener.''


''Ups!''


Aisyah menutup mulutnya yang bener-bener kurang ajar.


''Benerkan?''


''I-itu.''


''Yaudah kita kerumah sakit, saya may cek sendiri.''


''Jangan!!! Iya Aisyah hamil!!''


Degh.


Kenan terdiam sejenak. Perkataan Aisyah terngiang dikepalanya. Kenan segera memeluk Aisyah bahagia.


''Kenapa gak bilang.''


''Gak tau.''


Aisyah tak mungkin bilang saat mereka lagi bertengkar begitu, ia juga tak mau mengatakan alasannya.


''Kita segera pulang tanya mama sama papah.''


''Tunggu!!!''


''Kenapa?''


''Ais-''


''Gak apa Aisyah.''


Melihat keyakinan dimata Kenan akhirnya Aisyah mengangguk.


...


''Coba ulangi kamu bilang apa?'' Papah Aisyah berdiri didepan Kenan menatapnya tajam.


Mereka semua berkumpul dirumah Aisyah dan Kenan. Umi dan Abbynya juga ada disana karna Kenan akan mengatakan hal penting.


''Aisyah hami, Pah.''


Greb.


Papah mencengkram leher baju menantunya.


''Pah! Iya suami Aisyah!! Bukannya Papah yang dulu paling mendorong mereka cepat punya anak!'' ucap Hamara menarik suaminya.


''Cih.''


Chandra duduk dengan melipat kedua tangannya.


''Aisyah hamil?'' tanya Umi lagi.


Aisyah yang diam saja karna malu mengangguk pelan. Umi Fatimah memeluk Aisyah erat, ia sangat bahagia.


''Nanti anakmu lahir, biar Umi yang jaga.''


''Biar Mama yang bantu.''


''Umi!''


''Mama!''


''Ekhm,'' deheman Abby menghentikan pertengkaran mereka.


''Jadi saat dirumah sakit Aisyah udah hamil?''

__ADS_1


Aisyah mengangguk pelan pada Abby.


''Jadi berapa usia kehamilanmu?''


__ADS_2