
''Loh Aisyah mau kemana? rapi banget ... ,'' ucap Bibi.
''Eh Bibi ... ini Aisyah mau jalan-jalan sebentar ... soalnya Aisyah bosen dirumah,'' ucap Aisyah tersenyum lebar.
''Owh, hati-hati yah ... ,'' ucap Bibi kembali melakukan pekerjaannya.
''Iya,'' Aisyah melambaikan tangannya dan bergegas pergi.
''Tukang siomaynya udah buka kayanya nih ... mampir kesana deh nanti,'' ucap Aisyah mengecek jam dihandphonenya.
''masih ada waktu habis pulangnya ... enaknya kemana, yah?'' pikir Aisyah.
''Kak Aisyah!!!''
Aisyah menengokkan kepalanya dan melihat mereka.
''Kak Aisyah mau kemana? Rapi banget ... ,'' ucap mereka melihat Aisyah dari atas hingga kebawah.
''Mau keluar ... kalian gak masuk kelas?'' tanya Aisyah menatap mereka yang santai-santai saja padahal ini waktu kelas.
''Engak nih, guru mapelnya gak mau masuk kayanya,'' ucapnya terlihat sedikit kesal.
''Gak lapor kekantor gitu?'' tanya Aisyah menatap mereka dengan heran.
Mereka saling memandang kemudian terlihat tidak berani melanjutkan obrolan ini.
''Se-sebenarnya ... ,'' ucap seorang santri yang cuma melihat Aisyah berbicara. Ia tampak ragu-ragu dan gugup.
''Kenapa?'' tanya Aisyah mendekati anak itu dan duduk didekatnya.
Teman-temannya memandangnya dengan khawatir. Aku merasa ada yang salah dengan mereka.
''Jangan takut ... katakan padaku ada apa?'' ucap Aisyah lembut.
''Kami takut nilai kami akan jelek ... karna nilai kami sebagian besar tergantung guru ... bukan kepintaran ... ini biasa terjadi, dulu ada kakel kami yang terkenal ahli fisika tidak pernah dapat nilai bagus bidang lainnya. Karna dia pernah sekali melapor ada guru tidak masuk dan jamnya kosong ... padahal kelasnya kelas unggulan,'' ucap Santri tersebut dengan pilu.
Aisyah terdiam mendengarnya. Dia tidak menyangka ternyata hal ini juga bisa terjadi dipesantren umi fatimah. Mungkin karna terlalu banyak guru, kelas, murid dan hal lainnya hingga tidak menyadari hal ini. Aisyah pernah mengalami hal sama disekolahnya dulu, tapi hal itu diselesaikan oleh angkatannya dan angkatan kakak kelasnya waktu itu. Hingga hal tersebut sudah tidak menimpa adik kelas dibawahnya.
''Kalian masuk kelas ... ngaji, terus belajar mandiri ... ini biar kakak yang selesaiin,'' ucap Aisyah tersenyum cerah kepada mereka. Mereka mengangguk-anggukan kepala dan beranjak masuk ke kelasnya.
Aisyah melangkahkan kakinya menusuri jalan itu yang terlihat banyak guru mengajar ... ada yang terlihat seperti kyai, ustadzah, ustadz, guru umum, bahkan ada terlihat lebih mirip seorang ibu mengajari anaknya dibanding guru mengajari murid.
''Sebenarnya aku gak mau ngajar disini ... mereka lelet banget pikirannya. Masa sudah ku ajari rumusnya panjang lebar, gak ada yang bisa ngerjain soal simpel.''
''Aku juga ... mereka gak bisa bahasa inggris satupun!!! kalau dikelasku mereka malah pake bahasa arab karna gak boleh bahasa indonesia bukan bahasa inggris!!!''
''Aku mengajari mereka IPA dengan terperinci hingga keakar-akarnya tapi mereka malah gak peduli dan gak sopan ... .''
__ADS_1
''Iya, murid-murid sini gak kaya sekolah Nasional!!!''
''Tapi gajinya lumayan,sih.''
''Oh, yah katanya anak umi fatimah dari luar negeri??''
''Iya,iya itu bener ... aku pernah liat, ganteng banget.''
''Tapi katanya sudah punya tunangan.''
''Kau belum denger?''
''Eh Emelia, kamu liat dia ngapain aja?''
''Kalian ini dibilang jangan bahas dia!!!''
''Yaelah, bilang aja ... kami gak bakal kasih tau orang lain.''
''Cih, baiklah ... aku liat dia bermesraan mereka berhadap-hadapan dengan begitu dekat ... terus dia si cowok itu pegang kerudung sih dia lalu ... .''
deg.
Aisyah awalnya ingin masuk kekantor mengurungkan niatnya dan ingin mendengar lebih lanjut.
''Cih, bener-bener perempuan gak tau malu ... keliatannya aja baik-baik nyatanya sudah ... .''
''Iya yah ... .''
Aisyah terus mendengarkan mereka. Perlahan kata-kata mereka menjadi semakin melenceng ke arah yang tidak benar. Bukan lagi gosip yang mereka bicarakan, melainkan fitnah yang begitu kejam. Aisyah merasa begitu tersakiti mendengar perkataan tidak bener dari mereka. Bahkan mereka mengatakan bahwa aisyah mungkin saja sudah tidak suci.
Tes.
Aisyah memegang matanya, terdapat sebulir bening yang mengalir keluar dari pelupuk matanya.
Puk.
Aisyah tersentak dan menatap siapa yang menepuk bahunya. Aisyah menutup mulutnya saat melihat siapa yang datang. orang itu mengusap air mata Aisyah dan memeluknya.
''Sabar, Nak,'' ucapnya lembut.
''Iya Umi,'' ucap Aisyah pelan membalas pelukan orang tersebut yang ternyata Umi Fatimah.
Seseorang berniat memanggil mereka namun diisyaratkan untuk menutup mulutnya. orang tersebut mendekati mereka berdua secara perlahan dan melihat situasi.
Dia Umi Rahma yang sudah selesai mengajar. Umi Rahma mendengar perkataan mereka dari luar dan menatap Aisyah.
''Bagaimana?'' ucap Umi Rahma pelan.
__ADS_1
''Tunggu Ustadzah lainnya.''
Tak lama kemudian keluar Umi Alia dari sebrang dan ingin masuk kantor. Namun langkahnya terhenti saat mendengar perkataan yang benar-benar menyayat hatinya.
''Iya yah ... Sok suci sekali mereka pake kerudung besar ... bisa sajakan mereka telah melakukan hal-hal gak bermoral kaya dia.''
''Pfft, bener banget!! Kalau bukan karna bayarannya lumayan tinggi dibanding Sekolah Umum mana mau aku mengajar disini.''
Hati Umi Alia begitu teriris karna diantara jajaran ustadzah yang mengajar lainnya. Dia selalu memakai kerudung lebih besar dibanding ustadzah lainnya. Sehingga dia sering terkenal dengan ustadzah yang pemalu atau cupu. Namun para santri begitu menyayanginya karna sosoknya yang bagai ibu pengganti mereka disini. Umi Alia bahkan sudah lupa punya julukan itu, tapi perkataan mereka membuatnya teringat kembali saat mulai mengajar dan sering ditakuti untuk didekati karna penampilannya yang terlihat sangat tertutup.
''Owh iya bentar lagi jam ketiga nih, makan dulu deh ... suruh santri pergi ambil konsumsi ... .'' Salah seorang dari mereka keluar dari kantor.
Deg.
''Ustadzah Alia ... ke-kenapa gak masuk?'' tanyanya Gugup.
''Bu Billa Makasih maksud baiknya ... ,'' ucap Umi Alia tersenyum ramah menyembunyikan hatinya yang terluka.
''Ada apa Billa?'' tanya temannya yang keluar karna mendengar suara Billa seperti berbicara dengan seseorang.
''Eh Ustadzah Alia, Ustadzah Rahma, Umi Fatimah dan te-'' ucapnya terhenti melihat Aisyah bersembunyi dibalik punggung Umi Fatimah dan berbalik memunggungi mereka.
''Bukan cuma mereka ... kami juga disini,'' ucap para Ustadzah dan ustadz lainnya yang memilih tidak terlalu dekat dengan mereka.
''I-ini ada apa ... ,'' ucap Bu Emelia yang keluar karna suara keributan.
''Alia kamu gak apa-apa?'' tanya seorang Ustadz menghampirinya.
''Alia baik-baik saja'' ucap Ustadzah Alia tersenyum. Namun wajahnya terlihat begitu sedih.
''Ustadzah Alia ada kenapa-kenapa ... Ustadz Ilham,'' ucap Ustadzah Rahma datar. Tapi siapapun tau dia sedang tidak senang.
''Sepertinya kita gak perlu rapat lagi ... ,'' ucap Ustadz Ilham.
''Benar,'' sahut Guru lainnya.
Umi Fatimah maju selangkah dihadapan mereka dan berucap dengan tegas, ''Awalnya saya mau adain rapat karna belakangan ini saya sering lihat ada murid yang berkeliaran ... saya pikir mereka bolos, tapi tidak ada laporan masuk. Dan saya sering perhatikan sesudah jam mapel kalian ... santri-santri terlihat seperti ketakutan dan menjadi tidak aktif ... Seolah takut berbuat salah ... padahal itu tidak apa-apa.''
''Ternyata kalian berbuat semena-mena ... Kalian harusnya jadi contoh!! Kalian bukan hanya mengajari mereka mata pelajaran yang sudah ditentukan ... Tapi juga akhlak!!! Saya kecewa dengan kalian!!!'' Lanjut Umi Fatimah memijat pelepisnya.
''Ponpes kami tidak menerima guru seperti kalian mengajarkan murid-murid kami ... ,'' ucap para guru lainnya.
''Baiklah ... Saya juga tidak mau berlama-lama disini,'' ucap mereka membereskan barang-barangnya dengan kesal.
''Satu lagi ... Ponpes kami akan mengeluarkan surat ketidak moralan untuk kalian ... Kalian jangan berpikir masalah ini selesai begitu saja. Dengan surat itu kalian akan sulit menemukan tempat bekerja. Orang seperti kalian tidak boleh mengajari bibit bangsa kami!!!'' ucap Ustadz Ilham kepada mereka.
Deg.
__ADS_1
Jantung mereka perpacu dengan cepat. Surat itu tidak hanya membuatnya sulit mencari pekerjaan, juga membuatnya sulit diterima dimasyarakan. Ponpes mereka adalah Pondok pesantren terkenal, kebanyakan anak kyai, ustadz, ustadzah, bahkan pengusaha sukses menyekolahkan anaknya disini.
''Surat Tuntutan atas pencemaran nama baik Anak saya juga akan keluar,'' ucap Umi Aisyah menghampiri mereka.