
Saat sampai dipondok, adzan telah berkumandang. Aisyah menyuruh sopirnya untuk berhenti dijalan depan masjid. Aisyah turun dari mobil dan pergi mengambil air wudhu.
Tak, tak.
Aisyah melangkahkan kakinya bersamaan dengan seseorang. Sepasang matanya menatap Aisyah dengan lekat-lekat. Aisyah menenggokkan kepalanya menatap orang itu dari bawah hingga keatas. Seutas senyum merekah dari wajah orang tersebut.
''Assalamualaikum Aisyah, calon istriku,'' ucap Kenan terlihat senang melihat Aisyah ada disana.
Pipi Aisyah merona seperti tomat. Aisyah buru-buru memalingkan wajahnya dan tidak lupa menjawab salam Kenan.
''Waalaikumussalam Ustadz Kenan!!!'' Aisyah berucap dengan penekanan bahwa mereka masih mempunyai jarak. Aisyah buru-buru pergi masuk kemasjid.
Kenan menghela napas, padahal dia cuma bercanda saja. Tapi Aisyah terlihat tidak senang dengan candaannya. Sepertinya dia memang keterlaluan karna Aisyah memang tidak senang dengan pernikahannya. Lalu alasan kenapa Kenan menerima pernikahan ini, itu karna dia memang tidak sedang menyukai siapapun. Dan Aisyah bukanlah perempuan yang bisa ditemuinya dimanapun. Sudah sangat jarang atau bahkan tidak ada perempuan seperti Aisyah.
…
''Assalamualaikum,'' ucap Kenan menghampiri Aisyah dipertigaan jalan.
''Waalaikumussalam,'' ucap Aisyah malas dan pergi dengan cepat.
''Ehh, Aisyah tunggu dulu!!!''ucap Kenan mengejar Aisyah.
Melihat Kenan yang mengejarnya membuat Aisyah melangkahkan kakinya lebih cepat.
''Aisyah tunggu dulu!!!'' ucap Kenan menambah kecepatan langkahnya.
Melihat Kenan yang tidak menyerah membuat Aisyah mengangkat gamisnya dan berlari menuju rumah umi fatimah dan untunglah Aisyah memakai celana panjang dan kaos kaki sehingga tidak menampakkan auratnya.
''Aisyah!!!'' teriak Kenan dan terlihat kecapean mengejar Aisyah.
Saat berada didepan rumahnya. Aisyah sudah naik hingga ketangga atas.
''Hosh, hosh,hosh. Ai-isyah ... tu-nggu du-dulu'' ucap Kenan mengusap wajahnya yang berkeringat.
''Blekkk!!!'' Aisyah menjulurkan lidahnya kepada Kenan dan membelakanginya dengan menyeringai. Aisyah melangkahkan kakinya masuk kerumah umi fatimah dengan santai meninggalkan Kenan ngos-ngosan mengejarnya.
Brak.
Kenan menatap kepergian Aisyah dan menghela napas. Kenan menatap pintu rumahnya yang ditutup oleh aisyah. Tampak wajah kekecewaan diwajah Kenan. Kenan merongoh sakunya dan melihat suatu benda yang awalnya ingin diberikan kepada Aisyah.
…
''Ihhh, gila tuh sih om-om!! Calon istri? Siapa juga yang mau jidi istrinya!!!'' ucap Aisyah kesal sendiri
Buk,buk,buk.
''Dasar om-om gak tau malu!!!! Hiyaaaa!!!"
Buk!!!
Aisyah memukul-mukul bantal hingga bantal itu terlihat berantakan. Jantung Aisyah berdetak tak beraturan, rasanya dia ingin menceburkan kepala kenan kelava gunung berapi akibat perkataannya yang membuatnya malu setengah mati. Apalagi mungkin ada santri yang mendengar tadi. Betapa malunya Aisyah tadi hingga rasanya tidak jadi sholat dimasjid.
Jika saja membunuh tidak berdosa mungkin Aisyah sudah membunuh calon suaminya itu yang bener-bener nyeselin.
Drttt,derrtt.
Aisyah mengambil handphonenya yang bergetar dan menatap nama yang menelponnya ''Sih Resek.'' Aisyah menganggkat telpon itu dengan cemberut.
__ADS_1
''Assalamualaikum ... ,'' ucapnya sopan.
'Entah kesambet apa dia menjadi sopan,' pikir Aisyah heran.
''Gak dijawab nih salamku?'' tanyanya dengan nada yang membuat Aisyah kesel banget. Nada bicaranya yang menantang seperti ketos yang suka menjahili dekelnya. Rasanyanya Aisyah ingin menamparnya. Andaikan ada tabok online, mungkin kepalanya sudah penyek.
''Waailaikumsalam,''ketus Aisyah
''Ketuz banget sih, gak kangen apa sama Akwu. giytu,'' ucapnya dengan dibuat-buat.
''Gak!!!''
Tut.
''Rasain tuh, lagi Aya lagi kesel tau!!! Blekkk.'' Aisyah menutup panggilannya dan dengan kesel menjulurkan lidahnya mengejek. Padahal dia sudah tidak dengar karna Aisyah menutup panggilannya.
Puk.
Brak.
Aisyah melempar handphonenya kekasur dengan kasar dan ikut merebahkan tubuhnya.
Aisyah menatap langit-langit kamarnya dab termenung.
'Calon istri ... .' Kata-kata kenan tiba-tiba membayangi Aisyah.
''Ahkkkkkkk, nyebelin banget sih!!!'' ucap Aisyah langsung terbangun dan berteriak dengan penuh kekesalan.
''Ihhhh, gak waras, gila, sinting, aki-aki, om-om mesum, POKOKNYA AISYAH BENCI!!!!'' Aisyah mengeluarkab segala unek-uneknya dan memaki kenan tanpa ampun.
''Mah,'' panggil Aisyah saat melihat punggung Uminya.
Aisyah semakin mendakat dan dia baru menyadari Uminya sedang berbicara dengan seseorang. Aisyah menggembungkan pipinya menatap sosok lawan bicara Uminya.
''Loh, Aisyah kenapa?''tanya Uminya menatap Aisyah bingung.
Aisyah mengangkat tangannya dan menunjuk orang yang berbicara dengan Uminya tadi.
''Kamu ada urusan apa dengan Mamaku!!!'' tegas Aisyah.
''Aisyah, jangan gitu ... diakan calon suami Aisyah. Apa salahnya bicara sama mertuanya,'' ucap Umi Aisyah merasa bersalah terhadap Kenan karna sikap Aisyah.
Pipi Aisyah merona merah mendengar kata suami, rasa kekesalannya meningkat kestandar yang bisa diterimanya.
''Hmp, Aisyah gak sudi nikah sama dia!!!!'' ucap Aisyah menggempalkan tangannya dab menghentak-hentakkan kakinya.
''Aisyah ... ,'' ucap Uminya pilu.
''Maaf Kenan, sikap Aisyah kekanak-kanakan,'' ucap Uminya menatap Kenan dengan sedih.
''Tidak apa-apa. Kenan juga maklum kok,'' ucap Kenan tersenyum kecut dan menatap Aisyah.
Aisyah berusaha menahan emosinya. Dia bener-benar kesal, apalagi melihat ibu dan juga orang didepannya ini terlihat akrab.
''A.I ... grt,'' Aisyah ingin mengatakab sesuatu, namun terlalu emosi dan memilih pergi.
''Benar-benar menyebalkan!!! Ahkkkk, Aisyah kesal banget!!!!'' teriak Aisyah ditepian danau.
__ADS_1
Cplak.
''Kesal,kesal,kesal!!!!'' Aisyah terus mengucapkan itu sambil melempar batu kedanau.
''Minta abbi saja deh.'' Aisyah segera pergi dari sana mencari abbinya.
Aisyah segera menghampiri abbinya saat menemukan tengah duduk di gazebo depan rumah umi fatimah.
''Assalamualaikum.''
''Waalaikumussalam.''
''Abbi, Aisyah pengen pulang,'' rengek Aisyah dengan manja.
Abbi Aisyah menatapnya cukup lama hingga dia angkat bicara, ''yaudah kita pulang,'' Abbi Aisyah berucap sambil mengusap kepalanya dengan lembut.
''Hehe, makasih Abbi,'' ucap Aisyah tersenyum senang.
''Aisyah bereskan barang Aisyah, kita pulang sekarang,'' ucap Abbi Aisyah tanpa menunggu lama Aisyah segera pergi dengan girang.
Abbi Aisyah menatap kepergian Aisyah cukup lama. Dia seorang ayah yang menyayangi putrinya, tapi dia merasa ada jarak antara dia dan aisyah, entah itu sejak kapan.
…
''Aisyah mau kemana buru-buru?'' tanya Uminya melihat Aisyah berjalan setengah berlari.
''Hihi, abbi mau pulang,'' ucap Aisyah dengan senang. Padahal Aisyah yang meminta pulang, tapi malah mengatakan abbinya ingin pulang. Walau itu kenyataan bahwa abbinya juga ingin pulang.
''Yaudah Umi juga beres-beres,''ucap Uminya segera pergi.
Aisyah juga ikut pergi menuju kamarnya, namun dia berpas-pasan dengan Kenan.
''Aisyah mau pulang??'' tanya Kenan yang tidak sengaja mendengarnya.
''Kalau iya kenapa?''ketus Aisyah.
''Ahk, i-tu ... e-hm,'' Kenan tampak ragu dan terlihat gelisah.
Aisyah menatap dengan bingung dan menunggu ucapan selanjutnya dari Kenan.
''Aisyah belum beres-beres?'' tanya Uminya yang sudah selesai.
''Ini sudah mau pergi Umi,'' ucap Aisyah berlalu meninggalkan Kenan.
''Kenan maafkan Aisyah yang seperti itu,'' ucap Uminya terlihat sedih melihat menantunya itu.
''E-ehh, Umi, Kenan gak kenapa-kenapa kok,'' ucap Kenan canggung. Rasanya dia seperti orang jahat selalu membuat mertuanya tidak enakkan.
''Kenan memang baik. Terima kasih sudah mau menerima Aisyah,'' ucap Uminya tersenyum haru.
Kenen terlihat tersipu mendapat pujian seperti itu. Pasalnya dia pernah marah-marah didepan keluarga Aisyah, entah kenapa dia baru malu sekarang.
''Yaudah Umi pergi dulu,'' ucap Umi Aisyah segera pergi.
''H-hati- hati Umi.''
Umi Aisyah tersenyum lebar, Kenan memanglah orang yang tepat untuk putrinya. Dia bukanlah ibu yang mudah setujuh menikahkan anaknya yang dia sayangi. Namun dia kenal dengan Kenan dan tau dia adalah orang yang berhati lembut dan penyabar.
__ADS_1