Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Sakit.


__ADS_3

''Aisyah ... Kamu beneran gak apa-apa? tanya Ratna.


Aisyah datang kepadanya dengan wajah sedih namun tak mengatakan apapun.


''Aisyah beneran gak apa-apa.''


Aisyah tersenyum untuk memperlihatkan ia beneran baik-baik saja.


''Aku jadi kesal ... Mulutmu mengatakan 'iki baik siji,' tapi wajahmu mengatakan aku sedang tidak baik-baik saja!''


Aisyah hanya dapat tersenyum menanggapinya.


''Minum gih Aisyah,'' ucap Ratna melihat Aisyah hanya memegang gelasnya tanpa ada niatan untuk meminumnya.


Aisyah menarus gelas yang berisi susu itu lalu menggeleng pelan.


''Ais lagi gak pengen minum susu.''


Ratna menghela napas lalu dududk disebelah Aisyah mengenggam tangannya.


''Kalau kau tersiksa maka lepaskanlah.''


Yang Ratna katakan tidak salah tapi ia tidak mau anaknya merasakan dampak dari pilihannya yang memilih untuk berpisah.


''Aisyah gak pengen beli rumah?''


Aisyah menatap Ratna mendengar apa yang ia katakan.


''Pilihanmu bisa saja berubah ... Mempersiapkan sekarang akan lebih baik dari pada nanti.''


Aisyah memikirkan apa yang diucapkan Ratna, tapi bagaimana ia melakukannya.


Ratna menunjuk dirinya bahwa ia bisa membantu.


''Akan kucarikan rumah yang dapat kau beli tanpa diketahui siapapun.''


''Terima kasih.''


...


''Assalamualaikum.''


''Waalaikumussalam.''


Aisyah berjalan kearah pintu rumah menyambut Kenan. Terlihat Kenan membawa sebuket bunga untuknya, mungkin itu untuk permintaan maaf.


Aisyah tersenyum lebar lalu menyalami tangan suaminya.


''Aisyah s-''


''Kakak lapar? Saya udah masak spesial buat Kakak.''


Kenan tersenyum masam melihat sikap Aisyah seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tak lagi pernah mendengar suara rengekan ataupun manja istrinya, tak ada lagi sikap kekanak-kanakannya.


''Iya saya lapar.''


Aisyah mengambil bungan yang dibawa oleh Kenan, meletakkannya diatas meja lalu makan dengan suaminya.


Hening, hingga Kenan merasa rumahnya kini terasa asing.


''A'a!''


Kenan menyodorkan sendoknya pada Aisyah, berusaha memperbaiki segalanya.


Aisyah membuka mulutnya lalu makan secara perlahan. Aisyah menyendok makanan yang ada dipiringnya lalu menyuapi Kenan.


Kenan tersenyum begitu lebar, hatinya menghangat melihat senyuman Aisyah. Keharmonisan kembali hadi ditengah mereka.


...

__ADS_1


Aisyah terbangun tengah malam, perutnya sakit dan ia merasa mual. Aisyah melepaskan pelukan Kenan lalu keluar dari kamar menuju kamar sebelah.


''Huekkk!!!''


Seluruh isi perutnya keluar begitu saja. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Aisyah terduduk dilantai kamar mandi, ia mengusap sudut bibinya dengan tisuu lalu membuangnya. Ia keluar dari kamar lalu mencari obatnya dilaci.


Aisyah meminum obat dengan cepat lalu ia turun kedapur untuk membuat bubur.


Aisyah makan dengan pelan, meniup buburnya sesekali.


Jam baru menunjukkan pukul empat pagi. Aisyah meletakkan sendoknya lalu mencuci piringnya.


Aisyah keluar dari rumah melihat langit yang masih gelap. Terbesit kegelisahan dalam hatinya, ia tidak tau apa yang akan ia lakukan kedepannya. Sementara hidup selalu berjalan meski orang-orang tak menginginkannya.


''Aisyah bangunnya pagi sekali.''


Aisyah berbalik melihat Kenan yang mengenakan baju koko, memakai sarung dan peci sepertinya ia habis sholat tahajjud.


Kenan duduk disebelah Aisyah menganggam tangannya meski Aisyah tak membalas.


''Kuharap kita bisa menjadi keluarga yang bahagia.''


Kenan menjatuhkan kepalanya dipundak Aisyah, beban dipundaknya terasa berat. Kenan berharap Aisyah tak pernah meninggalkannya, ia bisa hancur bila kehilangannya.


'Apa kau pikir aku tak ingin bahagia? Kamu-lah yang merusak kebahagianku! kebahagian kita! Kamu yang merusak keharmonisan rumah tangga yang telah kita bangun.'


Tes.


Aisyah mengusap air matanya. Kenan tak boleh tau seberapa rapuhnya ia. Aisyah harus tetap kuat meski hatinya telah hancur berkeping-keping.


''Aisyah menangis?'' Kenan bangun lalu menatap mata Aisyah.


''Tidak ... mataku kelilipan.''


'Bohong,' ucap Aisyah dalam hati.


''Sini kuliat.''


Kenan menangkup wajah Aisyah menatap matanya lalu meniupnya pelan.


''Masih kelilipan?''


Aisyah mengangguk pelan. Air matanya nyaris lolos.


''Sakit! Perih! Mata Aisyah perih!''


Aisyah menepis tangan Kenan lalu mengucek matanya untuk menyembunyikan sebulir bening yang lolos dari pelupuk matanya.


''Bentar, saya ambilkan obat sakit mata.''


Kenan masuk kedalam rumah, sementara Aisyah mengusap air matanya lalu menarik napas dalam-dalam.


'Apakah selama ini cuma kebohongan? Keharmonisan itu palsu? Kita memang dijodohkan, mungkin tak sepatutnya kita bersama.'


Kenan datang membawa obat sakit mata. Terlihat mata Aisyah memang merah karna ia memgosoknya begitu kencang.


''Sini.''


''Gak usah. Biar Aisyah saja.''


Aisyah ingin mengambil obat tersebut tapi dihalau oleh Kenan. Kenan menjauhkan obat itu dari tangan Aisyah.


Aisyah menyerah dengan cepat. Ia menurut saja menyodorkan wajahnya.


Aisyah mengedip-ngedipkan matanya saat cairan itu mengenai tetra mata.


''Aisyah sudah baikan?''


Aisyah mengangguk lalu menampilkan senyum terbaiknya.

__ADS_1


Radio masjid telah berbunyi, Kenan mengajak Aisyah untuk masuk. Mereka melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah.


'Yaa Allah ... Apa Ais sudah naik tingkatan? Ais rasa terlalu sulit. Tapi engkau tidak menguji hambanya melainkan sesui kemampuannya,' doa Aisyah.


Aisyah merapikan sajadah dan kerudung sholatnya. Ia membenahi kamar mereka, menyapu lalu merapikan barang-barang.


Aisyah turun untuk memasak. Dikarenakan waktu yang masih banyak untuk Kenan kekantor Aisyah membuat bekal untuk Kenan.


Setelah menatanya dimeja, Aisyah naik ke atas untuk membantu Kenan bersiap. Aisyah memilih jas mana yang akan Kenan pakai, dasi juga kemejanya. Aisyah meletakkan semuanya dikasur lalu duduk dimeja riasnya. Aisyah menatap wajahnya yang mungkin sudah tak secantik dulu.


Aisyah tersenyum kecut lalu mengambil pembersih wajah.


Greb.


''Aisyah tetap cantik.''


Aisyah berbalik melihat suaminya, matanya langsung tertuju pada dada Kenan yang tidak tertutup jubah mandi. Kenan tersenyum melihat tatapan Aisyah, ia berniat menggodanya namun hal itu sirna begitu saja.


Aisyah tidak tersipu ataupun merasakan apapun.


''Kakak pakai baju sana,'' dingin Aisyah.


Kenan melepaskan pelukannya lalu pergi kearah ranjang. Kena pikir hubungannya sudah membaik, tapi itu sepertinya hanya pikirannya.


Aisyah melihat Kenan yang kesusahan memakai dasi atau pura-pura tidak tau. Aisyah berdiri lalu berjalan kearahnya.


''Ais buatkan bekal, jangan lupa dibawa. Kalau gak suka kasih orang lain saja.''


Kenan tersenyum melihat Aisyah begitu ceketan memasangkan dasi untuknya.


Cup!


Kenan mengucup pipi Aisyah sekilas lalu keluar dari kamar. Aisyah mematung, ia memegang pipinya yang dicium. Aisyah menunduk lalu mengusap perutnya.


''Aisyah jangan mencintainya terlalu dalam ... Kau sudah jatuh sekali! Jangan mencintainya ....''


Aisyah turun dari lantai atas setelah bersiap untuk kuliah. Kenan sudah pergi meninggalkannya dengan piring yang kosong. Aisyah makan dengan perlahan, ia tiba-tiba saja tak nafsu makan.


...


12:36


''KEN!!!''


Kenan terkejut melihat Hadijah datang dibelakang Hadijah ada Azka yang terlihat pucat dan Frustasi. Kenan melirik Azka meminta penjelasan. Azka memalingkan wajahnya lalu menutup pintu.


''Kenapa Dijah?''


Perempuan itu menggeleng pelan. Ia melirik sebuah bekal yang ada dimeja Kenan. Dijah tersenyum masam melihatnya.


''Dijah bawa bekal buat, Ken!'' Ia mendekati Kenan lalu membuka bekalnya.


''Aku sudah makan.''


''Ayolah! Sedikit saja!''


Hadijah menyodorkan sendoknya dimulut Kenan.


''Gak!''


''Ayo!!''


''KUBILANG GAK!''


Prak!


Kenan menepis tangan Hadijah membuatnya tersungkur dan menjatuhkan bekal Aisyah yang ada disebelahnya.


Degh.

__ADS_1


__ADS_2