
Aisyah yang bersiap-siap mendengar suara berisik entah dari mana. Karna penasaran Aisyah berjalan kejendela dan melihat keluar.
''Ngapain?'' tanya Kenan.
''Ketemu bini lo,'' ucap Azka tersenyum menyeringai.
''Gak boleh!!!'' ucap Kenan.
''Kenapa??? Jangan bilang lo cemburu?'' tanya Azka menantang Kenan.
Kenan terdiam, kenapa juga dia gak boleh mempertemukan mereka.
''Lo gak kerja?'' tanya Kenan mengalihkan pembicaraan.
''Ambil cuti tiga hari, udah sesuai peraturan perusahaan ... jadi jangan buat alasan dengan ketidak hadiranku diperusahaan!!!'' ucap Azka dengan mengancam.
Kenan diam seribu bahasa, dia melipat kedua tangannya dan menatap Azka dengan tajam.
''Lo ... kejam banget sih!!! gw jauh-jauh ngikutin lo, masa calon bini aja gak boleh lihat!!!!'' ucap Azka mendengus kesal.
''Hahh ... yaudah jangan macam-macam. Awas aja,'' ucap Kenan mengancam Azka dan mempersilahkannya masuk.
''Yeyy,'' Azka kegirangan, penasaran dengan calon istri sahabatnya itu.
Ruang tamu.
''Tunggu sini dulu,'' ucap Kenan meninggalkan Azka diruang tamu.
Kenan melangkah dengan pelan, dia bingung bagaimana menyampaikannya kepada Aisyah.
Tak.
Kenan mendongakkan kepalanya. Aisyah yang memperhatikan dari tadi dari atas memutuskan untuk melihat dengan siapa kenan berbicara, karna sosoknya terhalang oleh pagar rumah.
''Aisyah ... ,'' ucap Kenan pelan.
''Ada apa?''tanya Aisyah.
''Eahhh ... kasem-sem nih,'' ucap Azka datang menghampiri mereka.
Dari ruang tamu Azka bisa melihat aisyah yang turun dari lantai atas.
''Kok lo disini?''tanya Kenan terkejut.
''Hilihhhh gak mau tau lagi kasem-sem sama calon bini yah?''tanya Azka menggoda Kenan.
''Kagak!!!'' ketus Kenan dan berbalik pergi.
''Halo cantik ... saya temennya Kenan, Azka'' ucapnya dengan menyisir rambutnya dan menampilkan senyum menawan, kemudian mengedipkan sebelah matanya.
Deg.
Halo adik cantik ... saya Azka ...
Nyiiiit.
Aisyah memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
__ADS_1
''Azka ngapain lo masih disini!!!''ucap Kenan menarik tangan Azka segera pergi.
''Istri lo cakep yah,''ucap Azka mengingat wajah Aisyah
''Belum nikah ... ,'' ucap Kenan mengingatkan.
''Terserah ... .''
''Btw, masalah mu sama ... ,''ucap Azka menggantungkan kalimatnya.
Tak.
''Maaf menunggu lama, ini silahkan diminum,''ucap Aisyah sopan dengan senyum yang begitu manis.
Deg.
'Tenanglah jantung ... aku ini kenapa sih!!!' ucap Kenan dalam hati dan menatap Aisyah lekat-lekat.
Shuurbbb.
''Ergh~''
Kenan menatap Azka, dia minum seperti orang kehausan selama 3 hari.
''Makasih yah, sih Kenan mana mikirin soal itu,'' ucap Azka dengan senyum mengambang diwajahnya.
''Maksud lo apa?''tanya Kenan.
''Yah ... bukannya sudah jelas, dari tadi gw datang lo belum tawarin minum,'' ucap Azka santai.
Azka tersenyum cerah dan mengatakan,''Tidak apa-apa''
''Aku permisi dulu,''ucap Aisyah berlalu pergi, dia sempat melirik kebelakang menatap Azka. Matanya yang ceria dan bibirnya yang selalu berkomat-kamit itu benar-benar familiar untuk Aisyah.
'Jika dia adalah orang itu ... ,'pikir Aisyah dan memilih untuk melupakannya, lagi pula sosok yang diimpikannya itu sudah tak bisa digapainya. Hanya ada utang budi untuknya. Cinta pertama dan penolong hidupnya adalah laki-laki yang pernah menolongnya disaat semua orang menuduhnya melakukan kejahatan yang tidak disengajanya.
'Andai ... andai saja ... ,'Aisyah berucap dalam hati, namun segera menggelengkan kepalanya. Tidak ada kata andai lagi, dia akan segera menikah.
...
''Assalamualaikum.''
''Waalaikumussalam,'' ucap Aisyah pelan.
''Bagaimana kabarmu?''tanya Kakak Aisyah.
''Aku baik ... Kakak,'' ucap Aisyah dengan nada sedih.
''Apa yang kau pikirkan sayang ... ,'' ucap Muslim tau bahwa adiknya itu sedang dalam pikiran berat.
''Kakak memang tau segalanya,''ucap Aisyah tertawa pelan.
''Kakak ingat kejadian waktu aku kecil ... ,''ucap Aisyah dengan kilatan mata.
__ADS_1
''Yang mana? Yang kau jatuh tanpa sebab? Atau yang makan es krim belepotan?''ucap Muslim menggoda Aisyah.
''Ihhhh kakak!!!'' Bentak Aisyah, dia sangat malu jika mengingat kejadian-kejadian memalukan itu. Masa dia jatuh terjungkal ke lumpur tapi gak ada batu, angin kencang atau orang sekalipun, dan tiba-tiba jatuh.
''Pfftt, kakak bercanda,''ucap Muslim menahan tawanya.
''Kejadian ... saat itu,''suara Aisyah terdengar begitu rendah.
Muslim terdiam, mencoba mencerna maksud Aisyah, kejadian yang tidak ingin diingat adiknya itu mungkin saat itu.
''Aisyah pikir, mungkin Aisyah sudah tau siapa orang yang menolong Aisyah,''ucap Aisyah dengan tersenyum bahagia, namun suaranya terdengar bergetar.
''Hnm.'' Muslim mengangguk-angguk, membiarkan Aisyah bercerita.
''Kak, Aku harus apa?!!!''ucap Aisyah, air matanya menetes dengan deras.
''Kau mencintainya?''tanya Muslim dengan sedih.
''Kakak sudah tahukan, dia bagai cahaya untukku!!!'' suara aisyah semakin merendah, bahkan hampir tidak terdengar.
''Apa kakak bawa kau pergi saja?''tanya Muslim pelan.
Deg.
Jantung Aisyah berpacu dengan cepat, air matanya berhenti, bayangan kehidupannya bersama kakaknya terbayang begitu cepat dikepalanya. Namun juga menjadi bumerang untuknya.
Nyittt.
Dadanya terasa sesak, ketika bayangan seseorang yang tidak tau apa-apa terluka karna kepergiaanya, kenan yang memohon untuknya agar kembali bersamanya. Sosok ibu yang terlihat pucat, sakit karnanya. Orang yang menyayanginya bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa, itu malah membuatnya semakin sakit, orang itu adalah Umi fatimah. Aisyah menyayangi mereka semua.
''Ma ... maaf,'' ucap Aisyah pelan, air matanya turun semakin deras.
''Lakukanlah apapun yang kau suka Aisyah,''ucap Muslim tersenyum.
''Iya.''
''Hadiah pernikahanmu akan datang pas hari itu, Shubuh hari mungkin sudah sampai,''ucap Muslim mengubah arah topiknya.
''Wah benarkah!!! Kakak kasih apa? Apa karya sastra bintang ternama? Parfum limit edition? Atau sebuah permata legenda? Kue limit editio? Atau ... Benoka terbesar sedunia!!!'' Aisyah sangat antusias menanti hadiah dari kakaknya.
''Pffft, tenanglah ... kau akan tau saat itu juga,''ucap Muslim tertawa geli mendengar Aisyah sangat menanti hadiahnya.
''Apa kakak akan datang?!!''tanya Aisyah pelan. Kakaknya bilang hadiahnya akan datang, apa itu artinya dia tidak bisa memberikannya secara langsung.
Muslim terdiam, dia tidak ingin mengecewakan adiknya, tapi juga tidak siap hadir disana. Aisyah terus menunggu jawaban hingga waktu berlalu terasa begitu lambat.
''M-maaf,''ucap Muslim pelan, matanya mulai terlihat kilatan. Rasanya air matanya akan menetes, dia tidak bisa hadir dipernikahan adiknya.
''Iya tidak apa kak,''ucap Aisyah pelan. Namun suaranya terdengar sedih dan kecewa.
''Baiklah, Aisyah tutup teleponnya. Assalamualaikum,''ucap Aisyah mematikan telponnya.
''Waalaikumussalam.''
Tutt.
Aisyah menatap handphonenya dalam-dalam, dia merebahkan tubuhnya dan menatap keluar jendela.
__ADS_1
Kakak jika saja waktu itu kau datang lebih cepat, mungkin aku tidak akan bertemu dengannya ... dan selalu terbayang-bayang akan sosoknya. Mungkin aku akan lebih mudah membuka hati dengan orang yang dijodohkan denganku itu. Kakak, kau pahlawan dalam gelapku dan juga cinta pertama dari seorang adik. Tapi kau bukan cinta pertamaku untuk seorang wanita. Ayah adalah cinta pertama seorang anak dalam hidupnya, tapi hanya sebatas itu dari kehidupan setiap anak.
Apa itu cinta? Aku pun tidak mengerti.