
Aisyah mengerjakan sholat toubat serta istikharah memohon ampun dan petunjuk pada yang maha kuasa.
'Aisyah gagal naik tingkatan lagi yaa Allah.'
Aisyah bersujud begitu lama mencurahkan segalanya padab ilahi.
Aisyah mengambil sebuah Al-qur'an lalu membuka surah al-zalzalah, membacanya sebanyak sebelas kali. Memohon kepada yang maha kuasa segala urusannya dimudahkan.
Aisyah membuka surah yasin membacanya dengan pelan-pelan, meminta agar hatinya dilapangkan.
Lantaran Aisyah membuka surah ar-Rahman, surah yang memiliki ayat berulang-ulang. Aisyah meneteskan air mata saat membaca ayat tersebut, dirinya harap ia akan lebih bersyukur kedepannya meski dalam kepahitan, berusaha mengikhlaskan segalanya.
Aisyah menutup dengan membaca al-fatihah obat penyebuh, agar hatinya yang terluka disembuhkan oleh yang maha kuasa.
...----------------...
''Mamah!''
Aisyah yang menyiapkan makanan berbalik menyambut putrinya.
''Fatimah ... Kenapa sayang?''
Putrinya menunduk agak takut, ia menggelengkan kepalanya pelan lalu menatap mata ibunya dengan sedih.
''Mama ... hari ini ada pertemuan orang tua.''
''Baiklah nanti mama datang.''
''Hore!! Timah paling sayang Mamah!''
Fatimah memeluk Aisyah dengan erat, namun tatapannya tiba-tiba berubah sendu.
''Mah, Kenapa cuma Timah yang tidak punya ayah? Semua teman timah punya ayah. Mereka dijemput dan diantara oleh ibu dan ayahnya ... Timah bahkan pergi sekolah sendiri.''
Tes.
Aisyah menelan salivanya melihat putrinya yang menangis didepannya.
Aisyah memeluk putrinya erat berharap dapat meredakan rasa sedih dihatinya.
...
''Ali juga mau bunda!''
Kenan menatap putranya yang terlihat marah. Kenan diam cukup lama lalu menghela napas berat.
''Nanti papah carikan bunda.''
Prak!
Ali menghentak-hentakkan kakinya dan memecahkan barang disekitarnya.
''Ali mau bunda ALI!!! ALI BENCI PAPA!!!''
Ali menarik tasnya keluar dari ruang kerja Kenan. Hari ini ia ada pertemuan orang tua, tapi ia tau papahnya tak akan datang.
Shut.
Ali menendang batu yang ada disekitar pohon. Saat para anak-anak berkumpul dengan orang tuanya, hanya ia yang sendirian.
''Kamu kenapa sendiri?''
Ali menengok melihat gadis kecil yang agak mirip dengannya menghampirinya.
''kau sendiri sedang apa?''
Gadis itu mengidikkan bahunya.
''Tunggu tante ... Mama pasti sibuk.''
''Papaku juga sibuk, tapi aku sengaja tidak mengatakannya karna yang datang pasti paman.''
''Kita sama ... Namaku Fatimah, panggil saja timah.''
''Ali ....''
''Mamamu kemana? Apa ia juga sibuk?''
''Aku tidak punya bunda.''
__ADS_1
''Aku juga tidak punya ayah.''
Mereka saling memandang lalu tersenyum.
''Kalau begitu kita adalah saudara.''
...----------------...
Dhuk.
Aisyah terbangun saat kepalanya terjatuh. Ia tertidur disudut masjid setelah selesai membaca Al-qur'an.
'M-mimpi?'
Aisyah membuka kerudung sholatnya lalu menaruh kembali al-qur'an yang ia ambil.
'Yang mana yang akan kupilih ... Berpisah akan membuat anakku seperti dalam mimpi, tapi bersama akankah aku bahagia.'
Aisyah keluar dari masjid lalu menanyakan pada orang-orang pondok pesantren al-Hasan.
Ternyata ia berlari kedalam pedalaman sekali dan begitu jauh. Aisyah tersenyum pilu lalu melangkah pelan.
Perutnya terasa nyeri, tapi langit sudah menggelap semantara ia berada ditengah-tengah kawasan tak berpenghuni. Aisyah memaksakan dirinya berjalan.
'Setidaknya tidak ditempat tak ada siapapun Ais istirahat.'
Langit semakin gelap tapi tak ada tanda ia akan sampai pada permukiman warga.
'Ya Allah Ais takut.'
Sebuah mobil dengan sinar menyilaukan menghalangi pandangan Aisyah. Ia refleks menutup matanya dan menyingkir ketepi.
Mobil itu berhenti didepan Aisyah.
''Aisyah!''
Kenan menghampiri Aisyah. Matahari telah tenggelam hingga Aisyah tak dapat melihat wajah Kenan dengan jelas, tapi ia dapat mengenali siapa yang ada didepannya.
''Ayok kita pulang.''
Kenan menarik tangan Aisyah lalu masuk kedalam mobil. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai di Al-Hasan.
''Aish ... S-''
Nyutt.
Kenan mengenggam kemudi mobil dengan kuat.
''Ais-''
''Saya capek, Kak. Ais mau pulang.''
Kenan tidak mengatakan apapun lagi fokus menyetir mobil.
...
''Tante maaf sudah menyusahkan.''
Jumiah melihat keponakannya, ia terseyum namun senyumnya malah menyayat hatinya.
''Aisyah gak apa-apa ....''
Aisyah melirik Kenan lalu mengenggam tangannya untuk meperlihatkan mereka beneran sudah tidak apa-apa.
''Huft ... Baiklah, tapi Aisyah beneran mau pulang ini malam? Gak pengen menginap dulu sehari aja.''
Aisyah menggeleng lalu menyalami tangan Tantenya. Aisyah menarik koper lalu menaruhnya dibagasi.
Aisyah melambaikan tangan saat mobil sudah mulai berjalan.
Diperjalanan Aisyah tidak banyak bicara. Ia larut dalam pikirannya, sesekali ia akan mengusap perutnya.
''Aisyah lapar?''
Aisyah yang menyandar duduk tegak lalu melihat Kenan.
Aisyah tersenyum lalu mengangguk. Dimata Aisyah masih terlihat bekas tangisnya yang membuat hati Kenan tersayat-sayat terlebih saat ini Aisyah tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
''Kita pergi makan dulu.''
__ADS_1
''Gak usah, Ais makan dimobil saja.''
Kenan melirik Aisyah sejenak lalu mengangguk.
Aisyah menghela napas lega, ia tidak ingin Kenan curiga ataupun tau dalam waktu dekat dan ia akan berusaha mengulur waktu hingga Kenan sendiri yang menyadari-nya. Hubungan mereka yang renggang tak ingin membuat Aisyah melibatkan anaknya, ia akan berusaha sekuat mengkin agar tak ada yang tau meski beberapa orang telah mengtahuinya. Tapi dalam permasalahannya yang mungkin akan berujung bersidangan harus Aisyah jauhkan.
Bila nanti keputusannya berpisah, anak yang ia kandung adalah miliknya sendiri.
Tanpa Aisyah sadari ia menatap Kenan dengan dingin.
Kenan berhenti ditempat makan lalu memberikan sekantong penuh pada Aisyah.
''Makanannya aman.''
Aisyah menelan salivanya, tidak ada yang berubah dari suaminya. Kenan tetap perhatian dan menyayanginya, tapi fakta itu juga menyakitinya karna ia jadi tidak bisa membencinya sepenuhnya.
Aisyah makan secara perlahan, rasa makanannya menjadi tidak enak karna hatinya kacau.
''Aisyah yang kamu lih-''
''Kak, Aisyah capek.''
Degh.
Kenan memejamkan matanya menahan gejolak hati yang kian diluluh lantahkan hanya dengan beberapa kata yang telah Aisyah ucapkan.
Aisyah menyudahi makannya lalu membaringkan tubuhnya memunggungi Kenan.
...-------...
Drtt, Drtt.
''Sayang kamu kenapa?''
''Aku khawatir dengan anakku ....''
''Aisyah kenapa?''
Hamara menggeleng pelan. Sudah beberapa hari sejak terakhir menelpon Aisyah tapi tak ada balasan sama sekali.
''Telpon saja bila khawatir.''
Hamara mengangguk lalu menelpon anaknya. Panggilan pertama tidak diangkat lalu panggilan selanjutnya nomor Aisyah dalam keadaan sibuk.
''Biar saya telpon.''
Drt, drrt.
Aisyah melihat panggilan dari ayahnya. Ia menelan ludahnya berat, bila mamanya ia masih bisa tangani berbeda halnya dengan ayahnya.
''Assalamualaikum.''
''Tersambung,'' bisiknya pada istrinya.
''Waalaikumussalam,'' ucap kedua orang tuanya.
''Aisyah ada dimana?'' tanya ayahnya.
''Dijalan.''
''Ho'oh.''
Chandra menyerahkan handphonenya pada istrinya. Hamara menerimanya lalu pergi agak jauh.
''Aisyah kenapa kerumah ibu sama ayah?''
''Ais lagi kangen aja sama nenek dan kakek.''
''Tapi Kenapa handphonenya gak diangkat, Aisyah juga gak telpon balik.''
Aisyah dian sejenak menarik napas lalu membuangnya secara perlahan.
''Aisyah sibuk, Mah.''
''Aisyah bertengkar dengan Kenan?''
''Tidak, Mah. Kalau gitu apa menantu juga ikut kesana?''
Aisyah melirik Kenan lalu memberikan handphonenya agar Kenan yang berbicara langsung. Solusi terbaik adalah memperlihatkan mereka baik-baik saja.
__ADS_1
''Tidak, Umi. Aisyah pergi sendiri ....''
Aisyah menutup kupingnya lalu melanjutkan tidurnya. Perjalanan masih panjang untuk sampai bandara.