
Suasana ruang makan terasa runyam, tak ada yang berbicara diantara mereka.
''Kenan mana?'' tanya Papahnya.
''Kenan sibuk Papah ....''
''Oh.''
''Aisyah kapan pulang?''
Aisyah tersenyum masam lalu mengatakan, ''Aisyah pulangnya masih lama.''
''Aisyah ... Maksud Papah bukan pengen ngusir Aisyah, tapi ia kangen sama Aisyah.''
Degh.
''Ekhm.''
Wajah Chandra sedikit memerah.
''Papah kangen Aisyah? Kenapa?''
''Pfftt, tentu saja kangen. Anak perempuan satu-satunya tak pernah menelponnya.''
Tuk.
Aisyah menyodorkan sendoknya pada Papahnya untuk pertama kalinya.
''Aisyah ngapain?''
''Karna Aisyah nanti jarang pulang ... Aisyah mau manja-manja sama Papah dan Mama.''
Tuk.
Mereka terngangga mendengarnya, biasanya Aisyah cuek dan jarang bersikap manja didepan mereka.
Mereka tidak tau anaknya sedang ngidam.
Tuk.
Mama Aisyah menyodorkan sendoknya pada Aisyah yang berisi nasi juga potongan ayam.
Keduanya menyuapi putri mereka yang tak lagi kecil.
''Pfft ... Aisyah udah gede loh,'' kata Papahnya meledak.
''Aisyah sayang Papah ... Sayang banget.''
Chandra tertekun, ia tau Aisyah membencinya sejak kakaknya pergi. Rasanya ia akan segera menangis, sudah belasan tahun ia tak akran dengan putrinya.
''Maafkan Papah ... Aisyah pasti benci sama Papah.''
''Apa yang Papah katakan.''
Aisyah tersenyum lebar menampilkan giginya yang putih.
''Sebenarnya saat itu Papah memukul Aisyah bukan karna menyalahkan Aisyah ... Papah hanya tidak ingin Aisyah dituding anak manja yang suka membuat keonaran ... Maafkan Papah menampar Aisyah dan tidak membela Aisyah saat dikantor polisi ... Papah tidak ingin putri Papah dibakar tangannya diakhirat.''
Degh.
''K-kenapa ... Papah mengatakannya?''
Tes.
Air mata Aisyah jatuh. Ia kira Papahnya menyalahkannya, ternyata tidak. Papahnya tau ia tak bersalah.
__ADS_1
''Maaf, Nak. Papah bertindak tanpa memikirkan hatimu ... Papah tau kamu terluka saat Papah meminta maaf seolah tak memepercayaimu bahwa Aisyah benar-benar tak sengaja ... Tapi Nak. Meski kita tak sengaja, kita tetap melukainya. Maka Papah meminta maaf.''
Kejadian saat ia kecil dulu ... Saat ia merasa Papahnya tak dipihaknya ternyata salah. Papahnya selalu mendukungnya.
''Maaf. Mama terlalu sibuk saat Aisyah kecil hingga Aisyah mengalami hal buruk.''
Aisyah menggeleng pelan lalu berdiri memeluk kedua orang tuanya.
''Aisyah gak apa-apa sekarang ... Mah, Papah ... Apa kalian akan terus mendukung Aisyah?''
''Tentu saja, Nak. Kamu itu putriku,'' ucap Hamara mengucup pipi putrinya.
''Bahkan jika Mama dan Papah akan kecewa dengan pilihan Aisyah?''
''Apapun pilihan Aisyah ... Papah akan mendukungnya.''
Aisyah tersenyum haru lalu mencium kedua pipi orang tuanya.
...
''Aisyah sudah mencari kemana-mana tapi tak ada yang cocok dengan Aisyah.''
Aisyah menghela napas lalu menyandarkan kepalanya dikursi taman. Aisyah melihat langit biru yang indah, ia sudah keliling mencari pekerjaan tapi tidak menghasilkan apapun.
''Tidak berat juga melelahkan, dilakukan dengan santai tanpa terburu-buru ... Sepertinya cari keujing dunia juga gak bakak ketemu.'' Aisyah menghela napas berat, ia juga sudah mencari pekerjaan apa yang bisa ia lakukan tanpa membuatnya kesulitan.
Aisyah tidak mencari lowongan pekerjaan, ia hanya melihat usaha apa yang bisa ia bangun dengan waktu luang yang banyak tanpa kerepotan.
Semolir angin menyapu wajah Aisyah, matanya tertuju pada sekuncup bunga yang indah.
''Sepertinya Aisyah bisa buka toko bunga ... Aisyah hanya perlu merawatnya dengan baik.''
Aisyah mengusap perutnya pelan.
''Nak ... Mama akan jadi penjual bunga kalau Mama dan Papahmu bercerai ... Tapi bukan berarti Mama mau bercerai.''
Tuk.
Sebuah benda dingin tiba-tiba menempel diwajah Aisyah.
''Makasih, Kak.''
Aisyah pergi dengan Muslim untuk jalan-jalan. Alasannya cukup sederhana, ia bosan dan tidak mau menambah stress juga tak ingin pergi sendiri, lalu Aisyah menggunakan kesempatan tersebut untuk memikirkan dirinya kedepannya. Lantaran bila ia pisah dengan Kenan, Aisyah tak mau jadi beban dikeluarganya.
Aisyah menerima bungkus es krim lalu membukanya.
''Aisyah mau kemana lagi,'' tanya Muslim. Mereka tadi mengelilingi jalanan setempat sambil jajan. Lebih tepatnya Aisyah, ia melihat penjual bakso lewat ia beli, penjual gulali lewat ia beli, penjual gorengan lewat ia beli, penjual siomay lewatpun ia beli, mungkin kalau penjual ikan lewat juga akan Aisyah beli.
''Aisyah masih mau makan siang?''
Aisyah menatap Muslim keheranan.
''Tentu saja ... Aisyah-kan belum makan.''
''Hukh!!''
'Belum makan? Lalu yang ia lakukan tadi apa? Nyemil gitu? Bakso 20 ribu, siomay 30 ribu, gorengan 25 ribu ... Perutnya itu gentong kali.' Muslim tak menghitung gulali karna Aisyah hanya makan beberapa buah yang tak akan membuatnya kenyang.
''Waktu pulang sudah dekat ... Aisyah mau ikut pulang?''
Aisyah menengok lalu mengangguk.
''Perusahaan cabang yang kakak urus sudah selesai?''
''Sudah.''
__ADS_1
'Bohong ... Aku hanya menggunakan kesempatan ini untuk bersama Aisyah.'
Sebenarnya Muslim tidak memiliki pekerjaan disana, ia membuat pekerjaan untuk dirinya sendiri agar bisa bersama Aisyah.
''Ayuk Kak pergi makan.''
Muslim menghela napas lalu mengejar Aisyah yang sepertinya tak sabar untuk makan.
''Tunggu Tuan Putri!!!''
''Heheh.'' Aisyah tertawa ringan sambil mengejek dengan menjulurkan lidahnya.
...
''Aisyah beneran udah mau pulang?'' tanya Mamanya.
''Iya Aisyah udah mau pulang.''
''Samperin Ayah dulu gih.''
Aisyah melirik ayahnya yang berdiri tegak dengan wajah dingin.
Set.
Ayah Aisyah tiba-tiba merentangkan tangannya lalu memalingkan wajahnya yang terlihat memerah.
Kedua perempuan itu terkekeh geli melihat tingkah laki-laki yang sudah berumur itu.
Aisyah memeluk Ayahnya erat.
Puk.
Mama Aisyah ikut memeluk mereka. Hati Aisyah terasa hangat, ia masih ingin disana rasanya tapi ia harus segera pulang untuk memperbaiki rumah tangganya. Aisyah telah memantapkan hatinya untuk bertahan.
...
Degh!
Aisyah menatap rumah yang berdebu, seperti tak pernah ditinggali. Aisyah pergi kearah kamarnya yang juga berdebu, Aisyah berlari kearah kamar mandi.
Kamar mandinya bahkan tak basah dan terlihat lantai yang lama tak disniram air.
Tangan Aisyah gemetaran. Ia berusaha menelpon Kenan namun tak kunjung tersambung.
'Yaa Allah apa yang harus Aisyah lakukan.'
Tes.
'Kak ... Kemana kamu pergi.'
Aisyah menelpon Azka tapi tak ada balasan. Aisyah bergegas keluar rumah memanggil taksi.
Saat ia sampai di HK groub untuk mencari Kenan. Aisyah merasa pondasi pertahanannya akan pecah.
''Maaf Nona ... Presdir sudah pergi keluar negri tiga minggu lalu.''
Aisyah pulang dengan perasaan kesal juga kecewa. Tak bisakah Kenan menelponnya, panggilannya tak terhubung, tak ada yang bisa ia hubungi.
'Apa Kenan pergi dengan hadijah?'
''Hahahah ... Apa lagi yang kau harapkan Aisyah ... Jadilah istri yang baik yang tidak peduli akan suami melakukan apa diluar sana ... Jadilah Istri yang diam patuh melayani suami dirumah ... Hiks.''
Aisyah tersungkur didekat sofa, ia masih tak bisa menerimanya. Melarikan diri bukan jawabannya, ia menenangkan diri benar-benar hanya menenangkan diri.
Aisyah melihat remot TV yang ada didekatnya. Ia mengambilnya lalu menyalakannya.
__ADS_1
Presdir dari Hk groub terlihat dibandara beberapa hari yang lalu dengan seorang perempuan, apakah ia istri yang tak pernah diperlihatkan? Didalam kamar terlihat istrinya dengan jelas memakai gamis biru dengan kerudung biru navy. Siaran gosip terhangat.